Senin, 29 Juni 2026

 

Bahasa Canda

Haryo Sutanto  :  Penyunting dan penerjemah. Mengelola jurnal Humaniora Binus University

TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Potongan video seorang komedian viral yang memicu tawa sekaligus kemarahan.

 

·      Di era media sosial, humor yang terlepas dari konteks dan situasi akan memicu tafsir yang berbeda dari audiens.

 

·      Humor selalu mengandung relasi kuasa yang tak netral karena makna bahasa.

 

SEBUAH potongan video kembali viral di media sosial. Seorang komedian melontarkan canda yang mengundang tawa di satu ruang dan kemarahan di ruang lain. Dalam hitungan jam, pengguna media sosial terbelah. Ada membela komedian itu dengan kalimat yang kini terasa akrab: “Itu hanya bercanda.”

 

Pernyataan itu seolah-olah menempatkan humor di luar tanggung jawab bahasa. Seakan-akan lelucon berhenti menjadi serius begitu orang tertawa. Padahal, dalam kajian bahasa, setiap ujaran selalu melakukan sesuatu. Bahasa tidak sekadar menyampaikan makna, juga bertindak (illocutionary act). Ia dapat mengejek, merendahkan, menguatkan, atau menormalkan cara pandang tertentu terhadap orang lain.

 

Menyebut sesuatu sebagai humor tidak menghapus daya kerja bahasa tersebut. Tawa tidak membatalkan makna.

 

Dalam teori tindak tutur (speech act), ujaran memiliki dampak sosial terhadap pendengarnya. Lelucon dapat membangun solidaritas, tapi juga dapat memperkuat stereotipe (perlocutionary act). Ia menentukan siapa yang tampak kuat, siapa yang terlihat konyol, dan siapa yang layak dijadikan obyek hiburan. Dalam arti ini, komedi bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari wacana publik.

 

Perubahan terbesar terjadi ketika humor memasuki ruang digital. Dahulu pertunjukan komedi berlangsung dalam konteks terbatas: panggung, audiens, dan situasi yang sama-sama dipahami. Kini potongan singkat dapat beredar tanpa konteks, melintasi kelompok sosial yang berbeda dalam waktu singkat. Canda yang berhasil di satu komunitas dapat menimbulkan kemarahan di komunitas lain. Konteks runtuh dan tafsir berkembang liar.

 

Di Indonesia yang majemuk, sensitivitas terhadap identitas, seperti agama, etnisitas, dan kelas sosial, masih sangat kuat. Karena itu, humor jarang berhenti sebagai hiburan semata. Ia segera berubah menjadi perdebatan tentang martabat, representasi, dan kekuasaan simbolik.

 

Ini bukan berarti humor harus disterilkan. Sepanjang sejarah demokrasi, satire justru berfungsi mengkritik kekuasaan. Ketika lelucon diarahkan kepada institusi atau kelompok dominan, ketidaknyamanan sering kali produktif. Ia membuka ruang refleksi yang tidak selalu bisa dicapai oleh bahasa formal.

 

Masalah muncul ketika humor bergerak ke arah sebaliknya, ketika ia menertawakan kelompok yang sudah berada dalam posisi rentan. Dalam situasi seperti itu, tawa dapat memperkuat hierarki sosial alih-alih menantangnya. Persoalannya bukan semata soal tersinggung atau tidak, melainkan juga tentang relasi kuasa, siapa yang diberi kompleksitas sebagai manusia dan siapa yang direduksi menjadi stereotipe.

 

Perdebatan yang terus berulang menunjukkan bahwa batas-batas ini belum pernah benar-benar disepakati. Sebagian pihak menuntut kebebasan absolut atas nama humor. Pihak lain menuntut pembatasan ketat demi melindungi sensitivitas publik. Keduanya menyederhanakan persoalan bahasa menjadi pilihan biner.

 

Yang lebih dibutuhkan adalah literasi wacana, yaitu kesadaran bahwa humor tetap merupakan praktik berbahasa yang beroperasi dalam struktur sosial. Kreator perlu memahami bahwa tawa selalu beredar dalam relasi kekuasaan. Sementara itu, publik perlu belajar membedakan antara satire yang mengkritik kekuasaan dan candaan yang sekadar mereproduksi bias sosial.

 

Di era algoritma, kemarahan bergerak lebih cepat daripada pemahaman. Potongan ujaran terlepas dari konteks dan memicu reaksi instan. Siklusnya berulang: viral, marah, polarisasi, lalu lupa.

 

Mungkin pertanyaan penting hari ini bukan lagi apakah kita bebas untuk bercanda. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup dewasa untuk memahami apa yang dilakukan bahasa ketika kita tertawa. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/kuasa-bahasa-canda-2271942

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar