|
Bahasa Canda Haryo Sutanto :
Penyunting dan penerjemah. Mengelola jurnal
Humaniora Binus University |
TEMPO MINGGUAN, 28
Juni 2026
|
· Potongan video seorang komedian viral
yang memicu tawa sekaligus kemarahan. · Di era media sosial, humor yang
terlepas dari konteks dan situasi akan memicu tafsir yang berbeda dari
audiens. · Humor selalu mengandung relasi kuasa
yang tak netral karena makna bahasa. SEBUAH
potongan video kembali viral di media sosial. Seorang komedian melontarkan
canda yang mengundang tawa di satu ruang dan kemarahan di ruang lain. Dalam
hitungan jam, pengguna media sosial terbelah. Ada membela komedian itu dengan
kalimat yang kini terasa akrab: “Itu hanya bercanda.” Pernyataan
itu seolah-olah menempatkan humor di luar tanggung jawab bahasa. Seakan-akan
lelucon berhenti menjadi serius begitu orang tertawa. Padahal, dalam kajian
bahasa, setiap ujaran selalu melakukan sesuatu. Bahasa tidak sekadar
menyampaikan makna, juga bertindak (illocutionary act). Ia dapat mengejek,
merendahkan, menguatkan, atau menormalkan cara pandang tertentu terhadap
orang lain. Menyebut
sesuatu sebagai humor tidak menghapus daya kerja bahasa tersebut. Tawa tidak
membatalkan makna. Dalam
teori tindak tutur (speech act), ujaran memiliki dampak sosial terhadap
pendengarnya. Lelucon dapat membangun solidaritas, tapi juga dapat memperkuat
stereotipe (perlocutionary act). Ia menentukan siapa yang tampak kuat, siapa
yang terlihat konyol, dan siapa yang layak dijadikan obyek hiburan. Dalam
arti ini, komedi bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari wacana
publik. Perubahan
terbesar terjadi ketika humor memasuki ruang digital. Dahulu pertunjukan
komedi berlangsung dalam konteks terbatas: panggung, audiens, dan situasi
yang sama-sama dipahami. Kini potongan singkat dapat beredar tanpa konteks,
melintasi kelompok sosial yang berbeda dalam waktu singkat. Canda yang
berhasil di satu komunitas dapat menimbulkan kemarahan di komunitas lain.
Konteks runtuh dan tafsir berkembang liar. Di
Indonesia yang majemuk, sensitivitas terhadap identitas, seperti agama,
etnisitas, dan kelas sosial, masih sangat kuat. Karena itu, humor jarang
berhenti sebagai hiburan semata. Ia segera berubah menjadi perdebatan tentang
martabat, representasi, dan kekuasaan simbolik. Ini
bukan berarti humor harus disterilkan. Sepanjang sejarah demokrasi, satire
justru berfungsi mengkritik kekuasaan. Ketika lelucon diarahkan kepada
institusi atau kelompok dominan, ketidaknyamanan sering kali produktif. Ia
membuka ruang refleksi yang tidak selalu bisa dicapai oleh bahasa formal. Masalah
muncul ketika humor bergerak ke arah sebaliknya, ketika ia menertawakan
kelompok yang sudah berada dalam posisi rentan. Dalam situasi seperti itu,
tawa dapat memperkuat hierarki sosial alih-alih menantangnya. Persoalannya
bukan semata soal tersinggung atau tidak, melainkan juga tentang relasi
kuasa, siapa yang diberi kompleksitas sebagai manusia dan siapa yang
direduksi menjadi stereotipe. Perdebatan
yang terus berulang menunjukkan bahwa batas-batas ini belum pernah
benar-benar disepakati. Sebagian pihak menuntut kebebasan absolut atas nama
humor. Pihak lain menuntut pembatasan ketat demi melindungi sensitivitas
publik. Keduanya menyederhanakan persoalan bahasa menjadi pilihan biner. Yang
lebih dibutuhkan adalah literasi wacana, yaitu kesadaran bahwa humor tetap
merupakan praktik berbahasa yang beroperasi dalam struktur sosial. Kreator
perlu memahami bahwa tawa selalu beredar dalam relasi kekuasaan. Sementara
itu, publik perlu belajar membedakan antara satire yang mengkritik kekuasaan
dan candaan yang sekadar mereproduksi bias sosial. Di era
algoritma, kemarahan bergerak lebih cepat daripada pemahaman. Potongan ujaran
terlepas dari konteks dan memicu reaksi instan. Siklusnya berulang: viral,
marah, polarisasi, lalu lupa. Mungkin
pertanyaan penting hari ini bukan lagi apakah kita bebas untuk bercanda.
Pertanyaannya adalah apakah kita cukup dewasa untuk memahami apa yang
dilakukan bahasa ketika kita tertawa. ● Sumber : https://www.tempo.co/kolom/kuasa-bahasa-canda-2271942 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar