|
Lesbumi: Tameng Asrul Sani
Menangkis Serangan Keras Lekra Rina Widiastuti : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Asrul Sani bersama Usmar Ismail dan
Djamaludin Malik mendirikan Lesbumi di bawah NU pada 1962. · Lesbumi dibangun untuk menghadapi
kekuatan Lekra yang makin mendominasi pada era Nasakom. · Pemikiran Asrul tetap independen meski
dia bernaung di bawah organisasi keagamaan terbesar Indonesia tersebut. DI
tengah konfrontasi ideologi yang memanas pada awal 1960-an, seni bukan
sekadar urusan estetika, melainkan juga pertaruhan eksistensi. Ketika seniman
yang tak sejalan dengan garis kiri mulai tersudut oleh dominasi Lembaga
Kebudayaan Rakyat (Lekra), Asrul Sani mengambil langkah tak terduga: merapat
ke pangkuan ulama dan menancapkan fondasi Lembaga Seniman dan Budayawan
Muslimin Indonesia (Lesbumi). Lebih
dari enam dekade berlalu, lembaga yang didirikan Asrul bersama Djamaludin
Malik dan Usmar Ismail di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini masih tegak
berdiri. Pada momen Idul Fitri, 21 Syawal 1381 Hijriah atau 28 Maret 1962,
Lesbumi resmi terbentuk. Kelahirannya
dipicu kegalauan mendalam para seniman atas menguatnya pengaruh Lekra yang
berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia, terutama setelah Presiden
Sukarno menerapkan konsep Nasionalisme, Agama, dan Komunisme atau Nasakom
dalam Demokrasi Terpimpin sejak 1959. Bagi
para anggotanya, Lesbumi terbukti menjadi benteng pertahanan yang kokoh,
setidaknya hingga serangan mereda tergulung badai politik 1966. Pada masa
Orde Baru yang mengagungkan stabilitas politik, lembaga ini mati suri. Lesbumi
baru dibangunkan kembali dari tidur panjangnya saat Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden RI
pada 1999—meski peresmian formalnya baru terwujud melalui penegasan dalam
Muktamar NU 2004. Bulan
ini, denyut nadi lembaga tersebut kembali mengencang. Mereka bersiap
menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU 2026 dengan tema
“Kembali ke Akar” yang diikuti rapat koordinasi pada 12-14 Juni mendatang di
Jombang, Jawa Timur. “Spirit Asrul Sani menjadi salah satu dasar pemikiran
utama dalam muktamar ini,” ujar Ketua Umum Lesbumi Jadul Maula kepada Tempo
pada Senin, 8 Juni 2026. Sebagai
sastrawan multitalenta—penulis esai, cerita pendek, naskah teater, dan
skenario hingga sutradara film—Asrul adalah otak dan konseptor utama pada
masa-masa awal Lesbumi. Ia memegang kendali pemikiran yang lebih besar
dibanding Usmar dan Djamaludin, yang kala itu sibuk mengurus perusahaan
masing-masing, Perusahaan Film Nasional Indonesia dan Perseroan Artis
Indonesia (Persari). Di
tengah polarisasi politik yang meruncing, posisi seniman yang lahir di Rao,
Pasaman, Sumatera Barat, pada 10 Juni 1926 itu menjadi titik temu yang
krusial. Asrul mampu menjembatani jurang pemisah antara ideologi nasionalisme
dan komunisme. “Dia adalah konseptor, intelektual yang merumuskan dasar-dasar
pemikiran kebudayaan kita pada kongres pertama Lesbumi di Bandung,” kata
Jadul Maula, budayawan dan cendekiawan NU. Bagi
Asrul, merapat ke NU dan mendirikan Lesbumi adalah pilihan rasional demi
keselamatan kreatif. Goenawan Mohamad, salah satu tokoh di balik Manifes
Kebudayaan 1963, mengenang betapa mengerikannya tekanan kala itu. “Kalau
menyerang, PKI melakukan intimidasi. Saat itu pressure-nya luar biasa,” tutur
budayawan ini di Jakarta Selatan pada Senin, 8 Juni 2026. Sebelum
membentengi diri di Lesbumi, Asrul pernah “digebuki” secara literer oleh
Pramoedya Ananta Toer melalui kritik tajam dalam rubrik kebudayaan Lentera
pada Harian Bintang Timur, media yang condong ke Lekra. Pramoedya
mengencangkan serangan terhadap film karya Asrul keluaran 1961, Pagar Kawat
Berduri, yang mengisahkan persahabatan perwira Tentara Nasional Indonesia
tawanan perang dengan tentara Belanda. “Bagi Pramoedya, itu humanisme
universal. Kok, ada orang Belanda yang digambarkan baik,” ujar Goenawan. Kontroversi
film itu bahkan menggelinding menjadi urusan nasional hingga sinema tersebut
diboikot PKI. Sampai-sampai Presiden Sukarno turun tangan. Setelah menonton,
Bung Karno menyatakan film tersebut tidak bermasalah dan mengizinkan
penayangannya. Menurut
Goenawan, intimidasi PKI terhadap Asrul langsung surut begitu ia berbaju
Lesbumi. Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa partai tidak boleh
frontal berbenturan dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan terbesar itu. Berkat
tameng ini pula, salah satu penggagas Surat Kepercayaan Gelanggang tersebut
bisa tetap leluasa berkarya menggunakan nama aslinya tatkala seniman lain
terpaksa bersembunyi di balik nama samaran. Kritikus
film Eric Sasono melihat keputusan Asrul tersebut memiliki dimensi pragmatis
yang kuat. Secara politik, posisi NU kala itu dekat dengan Bung Karno
sehingga bisa mendapatkan payung perlindungan yang kokoh. Di sisi
lain, NU membutuhkan sayap kebudayaan yang berbobot. Nama besar dan kapasitas
intelektual trio Asrul, Djamaludin Malik, dan Usmar Ismail menjadi angin
segar. “Ini menjadi pertemuan pragmatis alih-alih murni religius,” kata Eric
pada Sabtu, 6 Juni 2026. Tak lama
setelah bendera Lesbumi berkibar, Asrul bersama dua rekannya itu langsung
menggarap film Tauhid. Proyek yang didanai lewat kolaborasi Departemen Agama,
Departemen Penerangan, dan Persari milik Djamaludin ini sebenarnya sudah lama
disetujui Bung Karno, tapi penggarapannya sempat mandek. Lewat
film ini, Asrul berkesempatan menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Tanah
Suci, ia menepis tudingan bahwa dirinya seorang sekuler lewat tulisan
pembelaan iman yang dimuat dalam majalah Intisari pada 1963. Uniknya,
bergabungnya Asrul dengan NU tidak lantas mendikte gayanya dalam berkarya.
Jejak pemikirannya yang independen tetap terekam jelas dalam sinema
buatannya. Eric
Sasono menilai pemahaman Islam Asrul sejatinya tidak selalu sejalan dengan
tradisi fikih konvensional NU. “Dia lebih berfokus pada pembaruan pemikiran
dalam konteks modernitas dan justru menolak pengajaran agama yang dogmatis
yang saat itu lekat dengan citra NU,” tutur Eric, yang sedang meriset sinema
Islam di Indonesia pada periode 1960-2018. Penulis
naskah dan produser film Hikmat Darmawan mengamini analisis tersebut. Bagi
Asrul, Islam diletakkan dalam wilayah kreatif tempat seni film berfungsi
sebagai medium penjelas agama di ruang modernitas. Hikmat
mencatat watak kritik Asrul sangat lentur. Ia bukan tipe pemikir yang suka
“menonjok langsung”, tapi lihai menyelipkan gugatan gagasan lewat ketajaman
dialog karakter-karakternya. Sisi
modernitas ini juga dibenarkan Syauqi Sani, putra Asrul. Dalam film Titian
Serambut Dibelah Tujuh, Syauqi melihat adanya perkawinan pemikiran berupa
sikap kritis terhadap fenomena beragama yang dibungkus dengan gaya tutur
sinematik Barat. “Dengan cara itulah dia menyampaikan otokritik terhadap
agamanya,” ujar Syauqi pada Ahad, 31 Mei 2026. Menurut
dia, religiositas ayahnya bersifat subtil dan bergerak ke dalam sehingga
jarang menonjolkan simbol-simbol keagamaan yang artifisial. Ihwal alasan
kedekatan Asrul dengan NU, Syauqi menduga kuat ada peran kedekatan personal.
“Pak Asrul pernah bercerita bahwa Pak Djamaludin Malik adalah salah satu
pendana utama NU kala itu,” kata Syauqi. Dipicu
keinginan melanjutkan warisan intelektual sang ayah, Syauqi menerima pinangan
Ketua Lesbumi NU DKI Jakarta Ahmad Yusuf. Kini ia resmi terlibat aktif
sebagai pengurus Lesbumi di Ibu Kota. Keputusan
Syauqi mendapat restu penuh dari ibunya, Mutiara Sani. Dia tahu betul
bagaimana sang suami membangun kesenian lewat Lesbumi. “Saya bilang kepada
Syauqi, perjuangan itu sekarang harus dilanjutkan. Api itu harus tetap dijaga
agar hidup,” tutur Mutiara saat ditemui di Pondok Indah Mall, Jakarta
Selatan, pada Jumat, 5 Juni 2026. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/asrul-sani-lesbumi-nu-lekra-pramoedya-2269006 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar