https://www.tempo.co/lingkungan/ikan-napoleon-di-hari-laut-sedunia-2269099
|
Kabar dari Anambas dan Bitung
Ihwal Ikan Napoleon Agoeng Wijaya : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Kasus perdagangan ilegal ikan napoleon
terkuak di tengah penyiapan laporan Tempo menyambut Hari Laut Sedunia. · Wartawan Tempo pergi ke Anambas,
Kepulauan Riau; dan Bitung, Sulawesi Utara, untuk menyiapkan laporan tentang
nasib ikan napoleon. · Peringatan Hari Laut Sedunia dibarengi
dengan “Laporan Penilaian Laut Dunia” terbaru yang menunjukkan kondisi lautan
yang makin mengkhawatirkan. BAK
pucuk dicita ulam tiba, kabar penangkapan MV Silver Island di Laut Sulawesi
pada 29 Mei 2026 seakan-akan menggenapi rencana Desk Sains dan Lingkungan
menurunkan laporan untuk menyambut Hari Laut Sedunia. Di
tengah tugas dari Tempo untuk memberikan pelatihan kepada komunitas di
Kabupaten Kepulauan Anambas sepekan sebelum peristiwa itu, wartawan Tempo,
Irsyan Hasyim, menengok Desa Air Sena, yang kondang sebagai salah satu sentra
budi daya ikan napoleon di Kepulauan Riau. Ikan napoleon atau Cheilinus
undulatus sudah lama menjadi perhatian global karena populasinya terus
menyusut drastis dalam tiga dekade terakhir. Semula,
karena tujuan utama ke Anambas bukan untuk peliputan, Irsyan hanya membawa
“oleh-oleh” reportase tentang nasib para nelayan di Air Sena. Di sana, bisnis
budi daya pembesaran ikan napoleon dikabarkan meredup. Pebisnis mengeluhkan
pembatasan penangkapan dan ekspor ikan napoleon menggerus ekonomi mereka. Sementara
itu, penjualan komoditas pengganti, seperti ikan kerapu, dianggap belum bisa
menutup hilangnya potensi pendapatan mereka. Namun
kabar penangkapan MV Silver Island oleh armada Pangkalan Pengawasan Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan Bitung menambah kedalaman isu ini. Hasil
penggeledahan mendapati ratusan ikan napoleon hidup disembunyikan dalam palka
rahasia di lambung kapal penangkap ikan berbendera Republik Demokratik Santo
Tomas dan Principe, Afrika Tengah, tersebut. Ikan karang berstatus dilindungi
itu ditengarai akan diselundupkan ke Hong Kong, salah satu pasar utama ikan
napoleon. Sepulang
dari Anambas, Irsyan berangkat ke Bitung, Sulawesi Utara, untuk mendalami
kasus MV Silver Island. Di sana, selain mewawancarai tim penyidik, dia
menemui awak kapal yang disebut-sebut sebagai “target lama” Kementerian
Kelautan dan Perikanan. Terungkapnya
kasus dugaan perdagangan ilegal ini seakan-akan menjawab pentingnya
pelindungan ikan ilegal. Adapun kabar dampak ekonomi yang dihadapi nelayan di
Anambas menjadi aspek lain yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah. Negara-negara
di dunia, termasuk Indonesia, menyepakati pengaturan perdagangan ikan
napoleon secara ketat. Namun ikan karang itu tetap menghadapi ancaman
kepunahan yang tinggi. Hasil
pengukuran terakhir Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pada 2024
mendapati populasi ikan napoleon setidaknya telah berkurang 50 persen
dibanding pengukuran pada tiga dekade sebelumnya. Hasil
pengukuran tersebut juga menyatakan populasi ikan napoleon di wilayah
perairan Indonesia termasuk yang paling mengkhawatirkan. Di Indonesia,
populasi ikan napoleon diperkirakan menyusut hingga 80 persen sepanjang
1990-2015. Kondisinya diperkirakan tidak berubah saat ini. Hari
Laut Sedunia tahun ini mengusung tema “Reimagine”. Sekretaris Jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres berharap laut mengingatkan semua
orang bahwa setiap manusia saling terhubung. Laut tidak hanya menjaga
kelestarian alam dan menentukan iklim global, tapi juga menjadi sumber
ekonomi dan pangan bagi miliaran orang. “Namun
laut kita saat ini sedang dalam kondisi yang memprihatinkan—dan kita telah
membebaninya melewati batas kemampuan,” tutur Guterres dalam pesannya dalam
peringatan Hari Laut Sedunia pada Senin, 8 Juni 2026. Pada
hari yang sama, PBB meluncurkan “Laporan Penilaian Laut Dunia Ke-3”. Laporan
itu mencatat adanya krisis yang makin parah akibat perubahan iklim,
penangkapan ikan berlebihan, hilangnya biodiversitas, dan pencemaran laut.
“Kita tidak boleh lagi memperlakukan laut seolah-olah kekayaannya tidak akan
pernah habis,” kata Guterres. Ikan
napoleon, yang menjadi fokus laporan bertajuk “Dua Sisi Pelindungan
Napoleon”, merupakan secuil contohnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/lingkungan/ikan-napoleon-di-hari-laut-sedunia-2269099 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar