Jumat, 19 Juni 2026

 

https://www.tempo.co/lingkungan/ikan-napoleon-di-hari-laut-sedunia-2269099

Kabar dari Anambas dan Bitung Ihwal Ikan Napoleon

Agoeng Wijaya :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Kasus perdagangan ilegal ikan napoleon terkuak di tengah penyiapan laporan Tempo menyambut Hari Laut Sedunia.

 

·      Wartawan Tempo pergi ke Anambas, Kepulauan Riau; dan Bitung, Sulawesi Utara, untuk menyiapkan laporan tentang nasib ikan napoleon.

 

·      Peringatan Hari Laut Sedunia dibarengi dengan “Laporan Penilaian Laut Dunia” terbaru yang menunjukkan kondisi lautan yang makin mengkhawatirkan.

 

BAK pucuk dicita ulam tiba, kabar penangkapan MV Silver Island di Laut Sulawesi pada 29 Mei 2026 seakan-akan menggenapi rencana Desk Sains dan Lingkungan menurunkan laporan untuk menyambut Hari Laut Sedunia.

 

Di tengah tugas dari Tempo untuk memberikan pelatihan kepada komunitas di Kabupaten Kepulauan Anambas sepekan sebelum peristiwa itu, wartawan Tempo, Irsyan Hasyim, menengok Desa Air Sena, yang kondang sebagai salah satu sentra budi daya ikan napoleon di Kepulauan Riau. Ikan napoleon atau Cheilinus undulatus sudah lama menjadi perhatian global karena populasinya terus menyusut drastis dalam tiga dekade terakhir.

 

Semula, karena tujuan utama ke Anambas bukan untuk peliputan, Irsyan hanya membawa “oleh-oleh” reportase tentang nasib para nelayan di Air Sena. Di sana, bisnis budi daya pembesaran ikan napoleon dikabarkan meredup. Pebisnis mengeluhkan pembatasan penangkapan dan ekspor ikan napoleon menggerus ekonomi mereka.

 

Sementara itu, penjualan komoditas pengganti, seperti ikan kerapu, dianggap belum bisa menutup hilangnya potensi pendapatan mereka.

 

Namun kabar penangkapan MV Silver Island oleh armada Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Bitung menambah kedalaman isu ini. Hasil penggeledahan mendapati ratusan ikan napoleon hidup disembunyikan dalam palka rahasia di lambung kapal penangkap ikan berbendera Republik Demokratik Santo Tomas dan Principe, Afrika Tengah, tersebut. Ikan karang berstatus dilindungi itu ditengarai akan diselundupkan ke Hong Kong, salah satu pasar utama ikan napoleon.

 

Sepulang dari Anambas, Irsyan berangkat ke Bitung, Sulawesi Utara, untuk mendalami kasus MV Silver Island. Di sana, selain mewawancarai tim penyidik, dia menemui awak kapal yang disebut-sebut sebagai “target lama” Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Terungkapnya kasus dugaan perdagangan ilegal ini seakan-akan menjawab pentingnya pelindungan ikan ilegal. Adapun kabar dampak ekonomi yang dihadapi nelayan di Anambas menjadi aspek lain yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah.

 

Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, menyepakati pengaturan perdagangan ikan napoleon secara ketat. Namun ikan karang itu tetap menghadapi ancaman kepunahan yang tinggi.

 

Hasil pengukuran terakhir Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pada 2024 mendapati populasi ikan napoleon setidaknya telah berkurang 50 persen dibanding pengukuran pada tiga dekade sebelumnya.

 

Hasil pengukuran tersebut juga menyatakan populasi ikan napoleon di wilayah perairan Indonesia termasuk yang paling mengkhawatirkan. Di Indonesia, populasi ikan napoleon diperkirakan menyusut hingga 80 persen sepanjang 1990-2015. Kondisinya diperkirakan tidak berubah saat ini.

 

Hari Laut Sedunia tahun ini mengusung tema “Reimagine”. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres berharap laut mengingatkan semua orang bahwa setiap manusia saling terhubung. Laut tidak hanya menjaga kelestarian alam dan menentukan iklim global, tapi juga menjadi sumber ekonomi dan pangan bagi miliaran orang.

 

“Namun laut kita saat ini sedang dalam kondisi yang memprihatinkan—dan kita telah membebaninya melewati batas kemampuan,” tutur Guterres dalam pesannya dalam peringatan Hari Laut Sedunia pada Senin, 8 Juni 2026. 

 

Pada hari yang sama, PBB meluncurkan “Laporan Penilaian Laut Dunia Ke-3”. Laporan itu mencatat adanya krisis yang makin parah akibat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan, hilangnya biodiversitas, dan pencemaran laut. “Kita tidak boleh lagi memperlakukan laut seolah-olah kekayaannya tidak akan pernah habis,” kata Guterres.

 

Ikan napoleon, yang menjadi fokus laporan bertajuk “Dua Sisi Pelindungan Napoleon”, merupakan secuil contohnya. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/lingkungan/ikan-napoleon-di-hari-laut-sedunia-2269099

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar