|
Sengkarut Siaran Berbayar Piala
Dunia Rusman Paraqbueq : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· TVRI berusaha mendapatkan hak siar
Piala Dunia 2026 atas penugasan dari Presiden Prabowo. · Setelah mendapatkan hak siar, TVRI
menyerahkan siaran Piala Dunia lewat layanan streaming kepada pihak ketiga. · Perusahaan adik Prabowo, Hashim
Djojohadikusumo, ikut terlibat dalam siaran Piala Dunia. HIRUK-PIKUK
selama putaran final pertandingan sepak bola Piala Dunia 2026 bukan hanya
urusan tim-tim favorit yang berhasil memenangi pertandingan. Ada percakapan
yang jauh lebih riuh di berbagai platform media sosial. Topiknya tak lain
adalah kualitas siaran bola melalui layanan streaming yang buruk, dari
videonya yang tidak jernih, munculnya iklan di tengah pertandingan, hingga
aplikasi layanan yang berkali-kali minta diperbarui. Berbagai
persoalan itu lantas dikontraskan dengan anggaran negara yang harus
dikeluarkan Televisi Republik Indonesia (TVRI), pemegang lisensi hak siar
Piala Dunia 2026 dari Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) di
Indonesia, yang mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Di
beberapa negara lain yang jumlah penduduknya lebih besar dari Indonesia,
seperti Cina dan India, justru nilai kontrak hak siar mereka lebih rendah
dibanding di sini. Obrolan
tentang berbagai masalah itu saling berkelindan dengan informasi adanya nama
adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, di balik siaran Piala
Dunia. Anggota Desk Nasional, Egi Adyatama, Francisca Christy Rosana, dan
Hussein Abri Dongoran, menelusuri satu per satu informasi yang terserak di
media sosial tersebut. Dari
pertemuan dengan beberapa orang yang ikut terlibat dalam urusan perolehan
lisensi hak siar itu, didapatkan lebih banyak informasi mengenai cerita TVRI
yang ikut mengincar lisensi hak siar Piala Dunia. Di situ terungkap adanya
penugasan dari Presiden Prabowo kepada stasiun televisi pelat merah tersebut. Penugasan
Presiden ini tak dapat dipisahkan dari euforia masyarakat Indonesia terhadap
Piala Dunia. Saat itu tim nasional sepak bola Indonesia baru saja lolos ke
babak ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Artinya, peluang Indonesia
berlaga dalam hajatan empat tahunan ini makin terbuka. Desk
Nasional juga menelusuri informasi tentang nama-nama perusahaan yang terlibat
dalam siaran Piala Dunia, seperti PT Citra Surya Indonesia, PT Folago Global
Nusantara Tbk, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau Surge—pemilik layanan
Internet rumah bernama Internet Rakyat. Keterangan
dari sejumlah narasumber memperjelas peran setiap perusahaan. Penjelasan dari
Fadel Muhammad, yang menjadi pemilik saham di Folago, makin membuat terang
urusan bisnis siaran Piala Dunia ini. Fadel bersama Hashim juga menjadi
pemilik Surge. Pada
saat Egi, Francisca, dan Hussein bertemu dengan Fadel di kediamannya di
Jakarta Selatan, politikus Partai Golkar itu mendapat panggilan telepon dari
Hashim. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi tersebut
mempertanyakan namanya yang ikut terseret dalam urusan siaran Piala Dunia.
Liputan itu dapat dibaca dalam artikel “Jejak Perusahaan Adik Prabowo dalam
Heboh Siaran Piala Dunia”. Selain
itu, kami menulis perkembangan bisnis Folago, baik sebelum maupun setelah
ikut menyiarkan Piala Dunia. Siaran bola ini memberikan efek ganda terhadap
perusahaan teknologi digital itu. Saham perusahaan terdongkrak. Cerita ini
tersaji dalam artikel “Asal-usul Folago Jadi Mitra Siaran Piala Dunia”. Satu
artikel lagi menjadi pelengkap mengenai ingar-bingar siaran Piala Dunia ini.
Jurnalis Hussein Abri mewawancarai beberapa pelanggan FolaPlay dan MAXStream
yang mengeluhkan kualitas kedua layanan streaming Piala Dunia tersebut.
Cerita mereka dibeberkan dalam artikel “Kendala Menonton Piala Dunia lewat
Layanan Berbayar”. ● Sumber : https://www.tempo.co/politik/piala-dunia-2026-hashim-djojohadikusumo-2272112 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar