Jumat, 19 Juni 2026

 

Asrul Sani Pelopor Menulis Esai dalam Sastra Indonesia

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Bagi sastrawan Angkatan 45, termasuk Asrul Sani, keberanian berpikir berbeda adalah modal menciptakan perubahan.

 

·      Sumbangan Asrul Sani dalam dunia sastra Indonesia lebih banyak berbentuk esai alih-alih sajak dan cerita pendek.

 

·      Kedekatan Asrul Sani dengan NU mengantarkannya menjadi anggota DPR pada masa Orde Baru.

 

AWAL Oktober 1999 di Pejaten, Jakarta Selatan. Pada usia 72 tahun, Asrul Sani tampak segar dengan rambut dan brewok putihnya. Ingatannya masih tajam, menembus setengah abad ke belakang.

 

Wartawan Tempo, Hermien Y. Kleden dan Dwi Arjanto, sampai tiga kali menemuinya untuk membicarakan banyak hal, termasuk Surat Kepercayaan Gelanggang.

 

Asrul berseloroh bahwa ada nuansa kesombongan pada saat penyusunan manifesto yang diprakarsai sejumlah seniman itu. “Kami merasa tidak perlu dibatasi dengan kebanggaan tentang Borobudur atau Shakespeare, misalnya. Apa yang ada di dunia adalah milik kita semua,” kata Asrul. Naskah itu kemudian terbit di majalah Siasat edisi 22 Oktober 1950.

 

Kesombongan yang dimaksud Asrul bukan sesuatu yang kosong, melainkan didasari keyakinan akan apa yang mereka perjuangkan. Bagi Angkatan 45, keberanian berpikir berbeda menjadi modal untuk menciptakan perubahan dan membuka jalan baru dalam sastra dan kebudayaan Indonesia. Mereka berupaya menghadirkan cara pandang yang lebih segar, lebih bebas, dan lebih dekat dengan kenyataan.

 

Asrul mengatakan satu hal yang menyatukan para seniman saat itu adalah kesamaan tanggapan terhadap penggunaan bahasa Pujangga Baru. “Kami menganggap bahasa Pujangga Baru tidak mengutarakan apa yang hendak diutarakan, tapi lebih mementingkan penyesuaian diri dengan kaidah-kaidah tata bahasa,” ujarnya.

 

Kritik itu juga pernah Asrul curahkan dalam esai berjudul “Deadlock pada Puisi Emosi Semata” yang ia tulis pada 1948. Menurut dia, saat itu kesusastraan Indonesia menghadapi jalan buntu. Angkatan Pujangga Baru cenderung terjebak dalam pemujaan terhadap keindahan. Sedangkan Angkatan 45—termasuk Asrul—yang muncul setelahnya, terlalu memuja emosi.

 

Menurut Asrul, puisi harus menjangkau pengalaman manusia secara lebih luas dan dekat dengan kenyataan sosial. “Pandangan ini berkaitan dengan konteks suasana revolusi,” tutur penyair Esha Tegar Putra. “Mereka ingin puisi bisa menyerap dan merekam peristiwa-peristiwa pada masa itu,” dia menambahkan.

 

Pada usia Republik yang baru seumur jagung dan di Jakarta masih berhamburan debu-debu sisa revolusi, sekelompok seniman muda berkumpul dan berdiskusi. Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simanjuntak, Baharuddin M.S., Henk Ngantung, juga Asrul punya kegelisahan yang sama: setelah Indonesia merdeka, siapa yang berhak menentukan arah kebudayaan dan seperti apa kebudayaan harus dibangun? Kegelisahan ini akhirnya menemukan wadah dalam kelompok Gelanggang Seniman Merdeka yang terbentuk pada November 1946.

 

Sastrawan Goenawan Mohamad menyebutkan suasana revolusi nasional saat itu masih kuat. “Dan kadang-kadang berlebihan,” katanya. Nasionalisme berlimpah-limpah itu membuat pikiran tertutup dari kepentingan lebih luas. Dalam pandangan Goenawan, inilah yang ditentang kelompok Gelanggang.

 

Peran Asrul dalam kelompok itu cukup menonjol. Banyak pihak menunjuk dia sebagai konseptor utama Surat Kepercayaan Gelanggang walau, pada masanya, Angkatan 45 melekat dengan ketokohan Chairil Anwar.

 

Indikatornya antara lain terlihat pada editorial Surat Kepercayaan di majalah Kebudayaan nomor 1 pada Desember 1966. Ajip Rosidi dalam pengantar “Surat-Surat Kepercayaan” menegaskan hal itu: “Meskipun keduanya diumumkan anonim, tapi keduanya ditulis oleh Asrul. Dan keduanya boleh dikatakan menjadi dasar pandangan Asrul dalam melihat segala sesuatu.”

 

Pengamat budaya Hikmat Darmawan menilai Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai suara penting yang berupaya memberi corak pada Indonesia modern lewat kebudayaan.

 

Terlepas dari anggapan Asrul bahwa surat itu adalah bentuk kesombongan para seniman pada masa muda, dokumen tersebut menjadi representasi semangat zamannya. “Di situ ada kepercayaan bahwa bangsa bergerak maju, pada linearitas sejarah, tidak siklikal,” ujar Hikmat.

 

Sebetulnya, saat Surat Kepercayaan Gelanggang dipublikasikan pada 1950, situasinya sudah cukup berbeda ketimbang saat Gelanggang Seniman Merdeka terbentuk empat tahun sebelumnya.

 

Chairil Anwar wafat pada April 1949, sementara Rivai Apin melangkah untuk bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Dalam kondisi tersebut, Asrul menjadi figur sentral yang mempertahankan gagasan Gelanggang.

 

Menurut Ajip, kekuatan Asrul adalah gagasannya. Itu sebabnya sumbangan Asrul dalam dunia sastra lebih banyak berbentuk esai alih-alih sajak dan cerita pendek. Memang, pada mulanya Asrul menulis sejumlah puisi dan cerpen. Ia bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin juga menerbitkan kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir pada 1950.

 

Ajip mengkompilasi sajak Asrul dalam Mantera terbitan Budaya Jaya pada 1975. Sedangkan cerita pendeknya ia kumpulkan dalam Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat terbitan Pustaka Jaya pada 1972.

 

“Sumbangan Asrul dalam dunia esai mungkin tidak diketahui banyak orang, karena pada 1950-an—dasawarsa paling subur ia menulis esai—dia banyak mempergunakan nama samaran,” tutur Ajip. “Begitu banyak yang pernah dipakainya sehingga ia sendiri lupa apakah suatu nama itu nama samarannya atau bukan,” dia menambahkan.

 

Ajip pernah meminta konfirmasi mengenai sejumlah nama samaran itu kepada Asrul. Di antaranya Ida Anwar, Idham Mahmud, Ali Akbar, Ali Emran, Fadjria Novari, dan F. Annur. “Alasan dia, agar tidak terkesan penulis di Indonesia orangnya itu-itu saja,” ujarnya.

 

Menurut Goenawan Mohamad, pada zaman itu, esai merupakan sesuatu yang baru dalam khazanah sastra Indonesia. Lain dengan kritik, esai dipahami sebagai tulisan berisi perenungan. Adapun Asrul menyampaikan gagasan lewat bahasa dengan tepat dan efektif dalam esainya. “Bahasanya memang bagus sekali,” kata Goenawan.

 

Pemikiran Asrul makin penting saat Lekra mengumumkan mukadimah organisasinya pada Agustus 1950. Berbeda dengan Gelanggang yang menekankan kebebasan kreativitas dan humanisme universal, Lekra mengembangkan pandangan bahwa seni harus berpihak kepada rakyat dan menempatkan politik sebagai panglima. Pertarungan ideologi tersebut meruncing pada awal 1960-an.

 

Sementara sejumlah alumnus Gelanggang bergabung dengan Lekra, Asrul mengambil jalan berbeda. Bersama Usmar Ismail dan Djamaludin Malik, dia menggagas pendirian Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) di bawah Nahdlatul Ulama. Di tengah konflik sosial yang kian menegang, Lesbumi menjadi tempat bernaung yang relatif aman bagi sejumlah seniman yang mendapat tekanan politik.

 

Seiring dengan waktu, kedekatan Asrul dengan NU mengantarkannya menjadi anggota parlemen pada masa Orde Baru. Dia menjadi bagian dari Fraksi NU di Dewan Perwakilan Rakyat pada 1971 karena menilai kelompok itu mempertahankan idealisme dan menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

 

Asrul keluar dari Senayan pada 1982 setelah merasa ruang untuk perkembangan pemikiran kritis kian menyempit. “Saat itu semua sarana untuk mengembangkan pemikiran dibunuh karena dianggap sebagai polemik. Lalu semuanya bergulir seperti yang sudah kita saksikan: selama 32 tahun, tidak ada pemikiran baru. Tidak ada pemimpin masyarakat yang bisa tumbuh tanpa legalisasi kekuatan militer,” tuturnya. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/arsip/asrul-sani-pionir-esai-sastra-indonesia-2269002

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar