|
Asrul Sani Pelopor Menulis Esai
dalam Sastra Indonesia Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Bagi sastrawan Angkatan 45, termasuk
Asrul Sani, keberanian berpikir berbeda adalah modal menciptakan perubahan. · Sumbangan Asrul Sani dalam dunia sastra
Indonesia lebih banyak berbentuk esai alih-alih sajak dan cerita pendek. · Kedekatan Asrul Sani dengan NU
mengantarkannya menjadi anggota DPR pada masa Orde Baru. AWAL
Oktober 1999 di Pejaten, Jakarta Selatan. Pada usia 72 tahun, Asrul Sani
tampak segar dengan rambut dan brewok putihnya. Ingatannya masih tajam,
menembus setengah abad ke belakang. Wartawan
Tempo, Hermien Y. Kleden dan Dwi Arjanto, sampai tiga kali menemuinya untuk
membicarakan banyak hal, termasuk Surat Kepercayaan Gelanggang. Asrul
berseloroh bahwa ada nuansa kesombongan pada saat penyusunan manifesto yang
diprakarsai sejumlah seniman itu. “Kami merasa tidak perlu dibatasi dengan
kebanggaan tentang Borobudur atau Shakespeare, misalnya. Apa yang ada di
dunia adalah milik kita semua,” kata Asrul. Naskah itu kemudian terbit di
majalah Siasat edisi 22 Oktober 1950. Kesombongan
yang dimaksud Asrul bukan sesuatu yang kosong, melainkan didasari keyakinan
akan apa yang mereka perjuangkan. Bagi Angkatan 45, keberanian berpikir
berbeda menjadi modal untuk menciptakan perubahan dan membuka jalan baru
dalam sastra dan kebudayaan Indonesia. Mereka berupaya menghadirkan cara
pandang yang lebih segar, lebih bebas, dan lebih dekat dengan kenyataan. Asrul
mengatakan satu hal yang menyatukan para seniman saat itu adalah kesamaan
tanggapan terhadap penggunaan bahasa Pujangga Baru. “Kami menganggap bahasa
Pujangga Baru tidak mengutarakan apa yang hendak diutarakan, tapi lebih
mementingkan penyesuaian diri dengan kaidah-kaidah tata bahasa,” ujarnya. Kritik
itu juga pernah Asrul curahkan dalam esai berjudul “Deadlock pada Puisi Emosi
Semata” yang ia tulis pada 1948. Menurut dia, saat itu kesusastraan Indonesia
menghadapi jalan buntu. Angkatan Pujangga Baru cenderung terjebak dalam
pemujaan terhadap keindahan. Sedangkan Angkatan 45—termasuk Asrul—yang muncul
setelahnya, terlalu memuja emosi. Menurut
Asrul, puisi harus menjangkau pengalaman manusia secara lebih luas dan dekat
dengan kenyataan sosial. “Pandangan ini berkaitan dengan konteks suasana
revolusi,” tutur penyair Esha Tegar Putra. “Mereka ingin puisi bisa menyerap
dan merekam peristiwa-peristiwa pada masa itu,” dia menambahkan. Pada
usia Republik yang baru seumur jagung dan di Jakarta masih berhamburan
debu-debu sisa revolusi, sekelompok seniman muda berkumpul dan berdiskusi.
Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simanjuntak, Baharuddin M.S., Henk
Ngantung, juga Asrul punya kegelisahan yang sama: setelah Indonesia merdeka,
siapa yang berhak menentukan arah kebudayaan dan seperti apa kebudayaan harus
dibangun? Kegelisahan ini akhirnya menemukan wadah dalam kelompok Gelanggang
Seniman Merdeka yang terbentuk pada November 1946. Sastrawan
Goenawan Mohamad menyebutkan suasana revolusi nasional saat itu masih kuat.
“Dan kadang-kadang berlebihan,” katanya. Nasionalisme berlimpah-limpah itu
membuat pikiran tertutup dari kepentingan lebih luas. Dalam pandangan
Goenawan, inilah yang ditentang kelompok Gelanggang. Peran
Asrul dalam kelompok itu cukup menonjol. Banyak pihak menunjuk dia sebagai
konseptor utama Surat Kepercayaan Gelanggang walau, pada masanya, Angkatan 45
melekat dengan ketokohan Chairil Anwar. Indikatornya
antara lain terlihat pada editorial Surat Kepercayaan di majalah Kebudayaan
nomor 1 pada Desember 1966. Ajip Rosidi dalam pengantar “Surat-Surat
Kepercayaan” menegaskan hal itu: “Meskipun keduanya diumumkan anonim, tapi
keduanya ditulis oleh Asrul. Dan keduanya boleh dikatakan menjadi dasar
pandangan Asrul dalam melihat segala sesuatu.” Pengamat
budaya Hikmat Darmawan menilai Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai suara
penting yang berupaya memberi corak pada Indonesia modern lewat kebudayaan. Terlepas
dari anggapan Asrul bahwa surat itu adalah bentuk kesombongan para seniman
pada masa muda, dokumen tersebut menjadi representasi semangat zamannya. “Di
situ ada kepercayaan bahwa bangsa bergerak maju, pada linearitas sejarah,
tidak siklikal,” ujar Hikmat. Sebetulnya,
saat Surat Kepercayaan Gelanggang dipublikasikan pada 1950, situasinya sudah
cukup berbeda ketimbang saat Gelanggang Seniman Merdeka terbentuk empat tahun
sebelumnya. Chairil
Anwar wafat pada April 1949, sementara Rivai Apin melangkah untuk bergabung
dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai
Komunis Indonesia. Dalam kondisi tersebut, Asrul menjadi figur sentral yang
mempertahankan gagasan Gelanggang. Menurut
Ajip, kekuatan Asrul adalah gagasannya. Itu sebabnya sumbangan Asrul dalam
dunia sastra lebih banyak berbentuk esai alih-alih sajak dan cerita pendek.
Memang, pada mulanya Asrul menulis sejumlah puisi dan cerpen. Ia bersama
Chairil Anwar dan Rivai Apin juga menerbitkan kumpulan puisi Tiga Menguak
Takdir pada 1950. Ajip
mengkompilasi sajak Asrul dalam Mantera terbitan Budaya Jaya pada 1975.
Sedangkan cerita pendeknya ia kumpulkan dalam Dari Suatu Masa, Dari Suatu
Tempat terbitan Pustaka Jaya pada 1972. “Sumbangan
Asrul dalam dunia esai mungkin tidak diketahui banyak orang, karena pada
1950-an—dasawarsa paling subur ia menulis esai—dia banyak mempergunakan nama
samaran,” tutur Ajip. “Begitu banyak yang pernah dipakainya sehingga ia
sendiri lupa apakah suatu nama itu nama samarannya atau bukan,” dia
menambahkan. Ajip
pernah meminta konfirmasi mengenai sejumlah nama samaran itu kepada Asrul. Di
antaranya Ida Anwar, Idham Mahmud, Ali Akbar, Ali Emran, Fadjria Novari, dan
F. Annur. “Alasan dia, agar tidak terkesan penulis di Indonesia orangnya
itu-itu saja,” ujarnya. Menurut
Goenawan Mohamad, pada zaman itu, esai merupakan sesuatu yang baru dalam
khazanah sastra Indonesia. Lain dengan kritik, esai dipahami sebagai tulisan
berisi perenungan. Adapun Asrul menyampaikan gagasan lewat bahasa dengan
tepat dan efektif dalam esainya. “Bahasanya memang bagus sekali,” kata
Goenawan. Pemikiran
Asrul makin penting saat Lekra mengumumkan mukadimah organisasinya pada
Agustus 1950. Berbeda dengan Gelanggang yang menekankan kebebasan kreativitas
dan humanisme universal, Lekra mengembangkan pandangan bahwa seni harus
berpihak kepada rakyat dan menempatkan politik sebagai panglima. Pertarungan
ideologi tersebut meruncing pada awal 1960-an. Sementara
sejumlah alumnus Gelanggang bergabung dengan Lekra, Asrul mengambil jalan
berbeda. Bersama Usmar Ismail dan Djamaludin Malik, dia menggagas pendirian
Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) di bawah Nahdlatul
Ulama. Di tengah konflik sosial yang kian menegang, Lesbumi menjadi tempat
bernaung yang relatif aman bagi sejumlah seniman yang mendapat tekanan
politik. Seiring
dengan waktu, kedekatan Asrul dengan NU mengantarkannya menjadi anggota
parlemen pada masa Orde Baru. Dia menjadi bagian dari Fraksi NU di Dewan
Perwakilan Rakyat pada 1971 karena menilai kelompok itu mempertahankan
idealisme dan menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Asrul
keluar dari Senayan pada 1982 setelah merasa ruang untuk perkembangan
pemikiran kritis kian menyempit. “Saat itu semua sarana untuk mengembangkan
pemikiran dibunuh karena dianggap sebagai polemik. Lalu semuanya bergulir
seperti yang sudah kita saksikan: selama 32 tahun, tidak ada pemikiran baru.
Tidak ada pemimpin masyarakat yang bisa tumbuh tanpa legalisasi kekuatan
militer,” tuturnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/asrul-sani-pionir-esai-sastra-indonesia-2269002 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar