|
Dampak Intervensi Sufmi Dasco
Terhadap Pasar Saham Praga Utama : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Imbauan buyback saham bank Himbara
memicu aksi profit taking investor domestik yang mendongkrak IHSG. · Pembalikan arah IHSG baru bisa dilihat
setelah adanya sejumlah pengumuman krusial lembaga investasi global. · Aksi jual oleh investor asing masih
mendominasi transaksi di pasar modal. BUKAN
dari kantor otoritas bursa atau lantai perdagangan, pil anti-lesu darah bagi
pasar modal datang dari Kompleks Parlemen di Senayan, Jakarta Pusat. Di
tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan sejak akhir Mei
hingga pekan pertama Juni 2026, sebuah pertemuan tertutup yang digelar pada
Selasa pagi, 9 Juni 2026, mengubah arah sentimen pasar. Di
ruangan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad—yang lazimnya
mengurusi bidang politik dan keamanan—sejumlah petinggi bank pelat merah dan
perusahaan pengelola dana hadir. Di antaranya Direktur Utama Bank Negara
Indonesia Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan,
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Hery Gunardi, Ketua Dewan Direktur
Indonesia Investment Authority Oki Ramadhana, serta petinggi PT Taspen dan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Didampingi
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Chief Operating Officer Badan
Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Dony Oskaria, Dasco melempar
sinyal “penyelamatan pasar”. “Mungkin saham-saham yang saat ini bagus bisa
dibeli kembali,” katanya, menyiratkan rencana buyback atau pembelian kembali
saham bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Sejumlah
analis dan pelaku pasar bercerita bahwa pertemuan itu dipicu menguatnya
keluhan investor besar yang bertransaksi melalui sekuritas-sekuritas pelat
merah. Pelemahan IHSG membuat nilai investasi mereka menurun. Keluhan itu
kabarnya sampai ke Istana. Pertemuan dan imbauan buyback tersebut diharapkan
bisa meredakan kegelisahan investor. Dimintai konfirmasi melalui pesan pendek
pada Jumat, 12 Juni 2026, Dasco menolak membenarkan informasi tersebut. Seusai
pertemuan tertutup itu, Dony Oskaria mengatakan imbauan membeli kembali saham
didasarkan pada kuatnya kondisi fundamental perusahaan bank Himbara yang
belum tecermin pada harga saham. Menurut dia, buyback merupakan langkah yang
lazim dilakukan pemilik perusahaan ketika harga saham berada di bawah nilai
wajar. Ketua
Himbara yang juga Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, memperkuat
pernyataan tersebut. Ia menyebutkan pertumbuhan kredit rata-rata masih berada
di kisaran 20 persen, pertumbuhan dana pihak ketiga sekitar 30 persen,
likuiditas terjaga, dan rasio likuiditas terhadap kewajiban berada pada level
88-90 persen. “Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran dan keraguan terhadap
kondisi fundamental di bursa,” tutur Putrama. Pasar
langsung merespons. Pada hari yang sama Bank Indonesia menaikkan suku bunga
acuan menjadi 5,5 persen. Selasa sore itu, IHSG ditutup melonjak 7,57 persen
ke level 5.746. Keesokannya, indeks kembali menguat ke level 5.900,27 sebelum
terkoreksi tipis ke 5.880,27 pada Kamis, 11 Juni 2026. Namun
penguatan IHSG—yang sempat mencapai titik terendah 5.342,14 pada Senin, 8
Juni 2026—tidak semata dipicu pernyataan Dasco. Analis pasar modal sekaligus
co-founder PasarDana, Hans Kwee, menilai rencana buyback memang menghidupkan
kembali minat investor retail domestik. “Rencana buyback itu sentimen
positif,” ujarnya pada Jumat, 12 Juni 2026. Pada dasarnya investor masih
menilai kondisi fundamental sejumlah emiten tidak seburuk persepsi banyak
orang. Persoalannya,
pergerakan IHSG masih dibayangi aksi jual investor asing. Berdasarkan data
Bursa Efek Indonesia, net sell asing masih terjadi pada Rabu dan Kamis, 10
dan 11 Juni 2026. Pada 10 Juni, nilai jual bersih asing mencapai Rp 3,13
triliun, sementara sehari kemudian tercatat Rp 252,65 miliar. Hingga
penutupan perdagangan tengah hari pada Jumat, 12 Juni 2026, investor asing
mulai membukukan net buy Rp 492,48 miliar. Menurut
Hans, data tersebut menunjukkan investor asing masih menyimpan keraguan
terhadap prospek pasar Indonesia. Salah satu pemicunya adalah menyusutnya
surplus neraca perdagangan menjadi hanya US$ 90 juta pada April 2026, dari
US$ 3,32 miliar pada Maret. “Salah satunya dipicu kenaikan ongkos impor migas
akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel,” kata Hans. Kekhawatiran
lain datang dari rencana penerapan ekspor satu pintu komoditas sumber daya
alam—batu bara, bijih besi, dan minyak sawit mentah—melalui PT Danantara
Sumberdaya Indonesia. Hingga kini, Hans menambahkan, pelaku pasar masih
menunggu kejelasan konsep kebijakan yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto
pada 20 Mei 2026 itu. “Implementasi penuh kan baru tahun depan, bisa saja
dibatalkan. Jadi pasar tidak perlu terlalu khawatir,” ujarnya. Faktor
lain yang membuat investor belum sepenuhnya percaya diri adalah dua
pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI): Global
Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026 dan Annual Market
Classification Review pada 23 Juni 2026. Kedua agenda ini akan menjadi tindak
lanjut atas pembekuan sementara indeks-indeks saham Indonesia oleh MSCI pada
akhir Januari 2026. Dalam
pengumuman pertama, MSCI akan memaparkan hasil evaluasi aksesibilitas dan
infrastruktur pasar modal Indonesia, termasuk reformasi yang dilakukan
Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Sedangkan pada pengumuman
kedua, MSCI akan menentukan apakah Indonesia tetap berada dalam kategori
emerging market atau berpotensi turun menjadi frontier market. Hans
memperkirakan sentimen pasar membaik setelah dua pengumuman tersebut.
Berdasarkan informasi yang ia peroleh, MSCI cukup puas terhadap reformasi
yang dilakukan Indonesia. “Secara ukuran, pasar kita juga besar. Jadi
semestinya investor tidak perlu khawatir,” tuturnya. Meski
begitu, ia mengakui masih ada sejumlah isu yang membuat investor, terutama
asing, bersikap hati-hati. Salah satunya program pemerintah yang membutuhkan
anggaran besar dengan tata kelola yang dipandang belum meyakinkan, seperti
makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. “Pasar khawatir bank-bank
Himbara digunakan untuk membiayai program konsumtif dengan anggaran jumbo,”
katanya. Hans menerangkan, pasar justru akan menyambut positif jika
pemerintah bersedia memangkas belanja sejumlah program besar untuk menjaga
kesehatan fiskal. Untuk
memulihkan kepercayaan investor, Hans menyarankan pemerintah memperbaiki tata
kelola sekaligus cara mengkomunikasikan kebijakan kepada publik. “Sejak
pergantian presiden pada 2024, banyak sekali perubahan arah kebijakan, pasar
sulit melakukan prediksi,” tutur Hans. Senior
Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama
juga menilai wajar jika IHSG berbalik menguat setelah adanya pernyataan Sufmi
Dasco Ahmad mengenai buyback saham. “Setidaknya ini menunjukkan komitmen para
pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar modal,” katanya. Namun, dia
menambahkan, penguatan tanpa dukungan arus modal asing yang kuat cenderung
mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek. Saat
ini, menurut Nafan, yang terjadi adalah aksi bargain hunting. Investor
domestik memanfaatkan harga saham yang telah tertekan akibat penjualan
besar-besaran dengan harapan memperoleh keuntungan ketika pasar berbalik
arah. “Untuk mengetahui dampaknya, kita bisa melihat ketika dana asing
kembali masuk ke saham-saham blue chip,” ujarnya. Penentu
utama arah pasar ke depan, kata Nafan, adalah hasil asesmen lembaga-lembaga
investasi global seperti MSCI. Jika hasil penilaian positif, investor asing
berpotensi menyesuaikan portofolionya (rebalancing) dan kembali masuk ke
Indonesia. “Tapi, kalau ternyata masih ada catatan kritis dari MSCI, tekanan
jual bisa berlanjut,” katanya. Pandangan
serupa disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia
Suryanata. Dia memaparkan, modal asing belum kembali karena investor masih
memandang premi risiko Indonesia relatif tinggi. “Masalah utamanya belum
berubah secara fundamental,” ujarnya pada Jumat, 12 Juni 2026. Tingginya
premi risiko tersebut dipicu kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal,
ketidakpastian kebijakan, serta persoalan tata kelola dan kredibilitas pasar
modal. “Meskipun beberapa kekhawatiran ini mulai membaik, pasar masih
menunggu bukti yang jelas bahwa risiko-risiko tersebut benar-benar mereda,”
tutur Liza. Liza
menilai penguatan rupiah ke bawah 18 ribu per dolar Amerika Serikat pada
10-12 Juni 2026, bila disertai perbaikan risiko fiskal dan konsistensi
kebijakan, dapat mengakhiri fase jual bersih investor asing dan membuka jalan
bagi akumulasi kembali. Selain itu, hasil pengumuman MSCI dan FTSE Russell
mengenai rebalancing indeks Indonesia berpotensi menjadi katalis kembalinya
modal asing ke pasar domestik. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/sufmi-dasco-intervensi-pasar-saham-2269045 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar