Jumat, 19 Juni 2026

 

Dampak Intervensi Sufmi Dasco Terhadap Pasar Saham

Praga Utama :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 Juni 2026

 

 

 

·      Imbauan buyback saham bank Himbara memicu aksi profit taking investor domestik yang mendongkrak IHSG.

 

·      Pembalikan arah IHSG baru bisa dilihat setelah adanya sejumlah pengumuman krusial lembaga investasi global.

 

·      Aksi jual oleh investor asing masih mendominasi transaksi di pasar modal.

 

BUKAN dari kantor otoritas bursa atau lantai perdagangan, pil anti-lesu darah bagi pasar modal datang dari Kompleks Parlemen di Senayan, Jakarta Pusat. Di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tertekan sejak akhir Mei hingga pekan pertama Juni 2026, sebuah pertemuan tertutup yang digelar pada Selasa pagi, 9 Juni 2026, mengubah arah sentimen pasar.

 

Di ruangan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad—yang lazimnya mengurusi bidang politik dan keamanan—sejumlah petinggi bank pelat merah dan perusahaan pengelola dana hadir. Di antaranya Direktur Utama Bank Negara Indonesia Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Hery Gunardi, Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority Oki Ramadhana, serta petinggi PT Taspen dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

 

Didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara Dony Oskaria, Dasco melempar sinyal “penyelamatan pasar”. “Mungkin saham-saham yang saat ini bagus bisa dibeli kembali,” katanya, menyiratkan rencana buyback atau pembelian kembali saham bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

 

Sejumlah analis dan pelaku pasar bercerita bahwa pertemuan itu dipicu menguatnya keluhan investor besar yang bertransaksi melalui sekuritas-sekuritas pelat merah. Pelemahan IHSG membuat nilai investasi mereka menurun. Keluhan itu kabarnya sampai ke Istana. Pertemuan dan imbauan buyback tersebut diharapkan bisa meredakan kegelisahan investor. Dimintai konfirmasi melalui pesan pendek pada Jumat, 12 Juni 2026, Dasco menolak membenarkan informasi tersebut.

 

Seusai pertemuan tertutup itu, Dony Oskaria mengatakan imbauan membeli kembali saham didasarkan pada kuatnya kondisi fundamental perusahaan bank Himbara yang belum tecermin pada harga saham. Menurut dia, buyback merupakan langkah yang lazim dilakukan pemilik perusahaan ketika harga saham berada di bawah nilai wajar.

 

Ketua Himbara yang juga Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, memperkuat pernyataan tersebut. Ia menyebutkan pertumbuhan kredit rata-rata masih berada di kisaran 20 persen, pertumbuhan dana pihak ketiga sekitar 30 persen, likuiditas terjaga, dan rasio likuiditas terhadap kewajiban berada pada level 88-90 persen. “Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran dan keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa,” tutur Putrama.

 

Pasar langsung merespons. Pada hari yang sama Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen. Selasa sore itu, IHSG ditutup melonjak 7,57 persen ke level 5.746. Keesokannya, indeks kembali menguat ke level 5.900,27 sebelum terkoreksi tipis ke 5.880,27 pada Kamis, 11 Juni 2026.

 

Namun penguatan IHSG—yang sempat mencapai titik terendah 5.342,14 pada Senin, 8 Juni 2026—tidak semata dipicu pernyataan Dasco. Analis pasar modal sekaligus co-founder PasarDana, Hans Kwee, menilai rencana buyback memang menghidupkan kembali minat investor retail domestik. “Rencana buyback itu sentimen positif,” ujarnya pada Jumat, 12 Juni 2026. Pada dasarnya investor masih menilai kondisi fundamental sejumlah emiten tidak seburuk persepsi banyak orang.

 

Persoalannya, pergerakan IHSG masih dibayangi aksi jual investor asing. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, net sell asing masih terjadi pada Rabu dan Kamis, 10 dan 11 Juni 2026. Pada 10 Juni, nilai jual bersih asing mencapai Rp 3,13 triliun, sementara sehari kemudian tercatat Rp 252,65 miliar. Hingga penutupan perdagangan tengah hari pada Jumat, 12 Juni 2026, investor asing mulai membukukan net buy Rp 492,48 miliar.

 

Menurut Hans, data tersebut menunjukkan investor asing masih menyimpan keraguan terhadap prospek pasar Indonesia. Salah satu pemicunya adalah menyusutnya surplus neraca perdagangan menjadi hanya US$ 90 juta pada April 2026, dari US$ 3,32 miliar pada Maret. “Salah satunya dipicu kenaikan ongkos impor migas akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel,” kata Hans.

 

Kekhawatiran lain datang dari rencana penerapan ekspor satu pintu komoditas sumber daya alam—batu bara, bijih besi, dan minyak sawit mentah—melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Hingga kini, Hans menambahkan, pelaku pasar masih menunggu kejelasan konsep kebijakan yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026 itu. “Implementasi penuh kan baru tahun depan, bisa saja dibatalkan. Jadi pasar tidak perlu terlalu khawatir,” ujarnya.

 

Faktor lain yang membuat investor belum sepenuhnya percaya diri adalah dua pengumuman penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI): Global Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026. Kedua agenda ini akan menjadi tindak lanjut atas pembekuan sementara indeks-indeks saham Indonesia oleh MSCI pada akhir Januari 2026.

 

Dalam pengumuman pertama, MSCI akan memaparkan hasil evaluasi aksesibilitas dan infrastruktur pasar modal Indonesia, termasuk reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Sedangkan pada pengumuman kedua, MSCI akan menentukan apakah Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market atau berpotensi turun menjadi frontier market.

 

Hans memperkirakan sentimen pasar membaik setelah dua pengumuman tersebut. Berdasarkan informasi yang ia peroleh, MSCI cukup puas terhadap reformasi yang dilakukan Indonesia. “Secara ukuran, pasar kita juga besar. Jadi semestinya investor tidak perlu khawatir,” tuturnya.

 

Meski begitu, ia mengakui masih ada sejumlah isu yang membuat investor, terutama asing, bersikap hati-hati. Salah satunya program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar dengan tata kelola yang dipandang belum meyakinkan, seperti makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih. “Pasar khawatir bank-bank Himbara digunakan untuk membiayai program konsumtif dengan anggaran jumbo,” katanya. Hans menerangkan, pasar justru akan menyambut positif jika pemerintah bersedia memangkas belanja sejumlah program besar untuk menjaga kesehatan fiskal.

 

Untuk memulihkan kepercayaan investor, Hans menyarankan pemerintah memperbaiki tata kelola sekaligus cara mengkomunikasikan kebijakan kepada publik. “Sejak pergantian presiden pada 2024, banyak sekali perubahan arah kebijakan, pasar sulit melakukan prediksi,” tutur Hans.

 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama juga menilai wajar jika IHSG berbalik menguat setelah adanya pernyataan Sufmi Dasco Ahmad mengenai buyback saham. “Setidaknya ini menunjukkan komitmen para pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar modal,” katanya. Namun, dia menambahkan, penguatan tanpa dukungan arus modal asing yang kuat cenderung mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek.

 

Saat ini, menurut Nafan, yang terjadi adalah aksi bargain hunting. Investor domestik memanfaatkan harga saham yang telah tertekan akibat penjualan besar-besaran dengan harapan memperoleh keuntungan ketika pasar berbalik arah. “Untuk mengetahui dampaknya, kita bisa melihat ketika dana asing kembali masuk ke saham-saham blue chip,” ujarnya.

 

Penentu utama arah pasar ke depan, kata Nafan, adalah hasil asesmen lembaga-lembaga investasi global seperti MSCI. Jika hasil penilaian positif, investor asing berpotensi menyesuaikan portofolionya (rebalancing) dan kembali masuk ke Indonesia. “Tapi, kalau ternyata masih ada catatan kritis dari MSCI, tekanan jual bisa berlanjut,” katanya.

 

Pandangan serupa disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata. Dia memaparkan, modal asing belum kembali karena investor masih memandang premi risiko Indonesia relatif tinggi. “Masalah utamanya belum berubah secara fundamental,” ujarnya pada Jumat, 12 Juni 2026.

 

Tingginya premi risiko tersebut dipicu kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta persoalan tata kelola dan kredibilitas pasar modal. “Meskipun beberapa kekhawatiran ini mulai membaik, pasar masih menunggu bukti yang jelas bahwa risiko-risiko tersebut benar-benar mereda,” tutur Liza.

 

Liza menilai penguatan rupiah ke bawah 18 ribu per dolar Amerika Serikat pada 10-12 Juni 2026, bila disertai perbaikan risiko fiskal dan konsistensi kebijakan, dapat mengakhiri fase jual bersih investor asing dan membuka jalan bagi akumulasi kembali. Selain itu, hasil pengumuman MSCI dan FTSE Russell mengenai rebalancing indeks Indonesia berpotensi menjadi katalis kembalinya modal asing ke pasar domestik. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/sufmi-dasco-intervensi-pasar-saham-2269045

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar