Jumat, 19 Juni 2026

 

Asrul Sani: Sang Modernis Totok

Hikmat Darmawan :  Pengamat film dan komik

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Asrul Sani adalah salah satu tokoh intelektual dan seniman paling berpengaruh dalam sejarah modernisme Indonesia.

 

·      Karakteristik pemikiran Asrul juga berlandaskan humanisme universal dan teknikalisme, bukan semata intuisi.

 

·      Asrul konsisten mengeksplorasi pergulatan individu serta isu sosial dengan landasan ideologi yang kokoh dan rapi.

 

PROYEK "menjadi Indonesia" pada dasarnya adalah upaya modernisasi Nusantara yang terkolonisasi secara khas. Penjajahan Belanda via perdagangan dan kemudian militer serta politik—dengan Portugis, Inggris, dan Jepang di sela-selanya—menghasilkan wilayah yang kemudian bernama Indonesia. Meneroka kiprah seniman-pemikir seperti Asrul Sani (10 Juni 1926-11 Januari 2004) adalah menyusun satu segi kejiwaan modernisasi tersebut.

 

Di antara para seniman-pemikir segenerasi, Asrul Sani boleh dibilang sebagai modernis yang konsisten dengan gagasan modernisme abad ke-20 dalam membayangkan Indonesia di antara negara-bangsa lain, baik yang telah agak lama ada, seperti Prancis atau Amerika Serikat, maupun yang baru lahir seusai Perang Dunia II. Revolusi Indonesia merupakan salah satu katalisator gelombang kemunculan negara-bangsa baru di wilayah bekas jajahan Eropa dan Jepang, setidaknya menurut David van Reybrouck dalam Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World (2024).

 

Chairil Anwar—sesama penyair dalam lingkar sastrawan Gelanggang dan Tiga Menguak Takdir (1945) bersama Asrul dan Rivai Apin—mungkin sosok yang berkembang menjadi mitos tentang apa itu "manusia modern". Dalam sejarah sastra modern Indonesia, Chairil tumbuh menjadi personifikasi individualisme "murni": bohemian, urakan, cinta yang berapi-api, dan abstraksi liris tentang hidup yang ia jalani sepenuh diri.

 

Pramoedya Ananta Toer, di sisi lain, adalah modernis yang percaya penuh pada Revolusi dan gentingnya kemanusiaan melawan kezaliman struktural dalam berbagai bentuknya. Dalam sastra, Pram mengambil jalur modernis-historis. Ia meyakini bahwa kekuatan sejarah membentuk manusia Indonesia. Sementara itu, ada Hamka sebagai representasi modernis-religius dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai modernis-sekuler yang meyakini bahwa "menjadi (setotal mungkin seperti) Eropa/Barat" yang ilmiah merupakan jalan terbaik bagi modernisasi Indonesia.

 

Asrul Sani, dalam kancah kompetisi ideologi dan corak kemodernan tersebut, mengambil posisi yang individualis, percaya penuh pada teknikalisme, dan menganut "humanisme-universal". Individualisme yang dilakoni Asrul tidaklah urakan seperti Chairil. Ia lebih tertib dan rapi, tapi tak pelak selalu mewujud dalam karya-karyanya.

 

Cerita pendek "Bola Lampu" dan "Sahabat Saya Cordiaz" serta film Lewat Djam Malam (1954), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Al Kautsar (1977), Para Perintis Kemerdekaan (1977), atau Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) mengisahkan ragam pergulatan individu dengan masyarakat serta perubahan sosial di Indonesia.

 

Teknikalisme adalah salah satu watak modernisme versi Marshall Hodgson yang diurai Nurcholish Madjid dalam pengantar panjang buku Khazanah Intelektual Islam (1982). Ini adalah keyakinan bahwa modernisme adalah "Abad Teknik", yang mengelola hidup dengan asumsi bahwa manusia bisa memanipulasi alam melalui teknologi. Dalam sastra, teater, ataupun film, Asrul melakoni penciptaan yang berdisiplin mengonkretkan gagasan melalui teknik dan kriya yang cocok dalam setiap medium. Ia bukan seniman yang hanya mengandalkan intuisi.

 

Konstruksi "humanisme universal" mungkin bisa kita korek dari kritiknya terhadap puisi-puisi penyair Angkatan 45. Eka Kurniawan pernah menulis esai tentang gagasan Asrul Sani mengenai "puisi gigantis". Dalam ungkapan Asrul sendiri, "Kita harus sampai pada puisi 'gigantis' yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberi emosi...." Eka menafsirkan bahwa kritik dan konsepsi Asrul tentang puisi gigantis itu adalah kecenderungan membebani puisi dan prosa dengan ide.

 

Memang, Asrul melontarkan konsep itu untuk menanggapi para penyair semasa yang menurut dia lebih banyak berangkat dari perasaan belaka. Tapi, saya kira, perwatakan "gigantis" dari Asrul itu condong pada kehendak menjadikan sastra sebagai wahana gagasan besar, narasi agung tentang hidup dan manusia yang bersifat universal. "Humanisme" adalah gagasan besar, sementara "universal" adalah bentuk keluasan, melintasi waktu dan tempat. Gigantis adalah abstraksi Asrul terhadap kedua hal tersebut.

 

Yang menjadi pakem Asrul dalam berbagai medium penciptaan yang ia pilih adalah komitmennya selalu berangkat dari suatu gagasan atau abstraksi persoalan kemanusiaan dan sosial. Dia merenungi permasalahan tersebut, lalu mewujudkannya dalam bentuk serta naratif yang konkret dan spesifik.

 

Film Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap yang digarap sutradara Chaerul Umam pada 1986 ditulis Asrul sebagai kisah cinta dan rumah tangga orang biasa di Jakarta. Tapi gagasan utamanya gamblang pula: pertentangan filosofis kelamin/gender atau battle of sexes. Nagabonar besutan sutradara M.T. Risyaf pada 1987 ditulis Asrul sebagai demitologisasi militerisme yang jenaka.

 

Konsistensi pada ide sebagai fondasi utama inilah yang membuat saya memandang Asrul sebagai modernis tulen atau totok. Murni, bukan campuran seperti bensin oplosan atau para pemikir pascamodern yang sempat trendi di Indonesia pada 1990-an hingga awal 2000-an. Dia tidak sinkretik, seperti Hamka yang mencari titik temu antara Islam dan modernisme. Ketika Asrul mencipta kisah-kisah religius, posisinya adalah interogasi modernisme terhadap gagasan dasar Islam. Sedangkan Hamka menuturkan interogasi Islam terhadap modernitas.

 

Dari segi ide-ide yang diemban, karya-karya Asrul Sani bagaikan suvenir abad ke-20 dalam kebudayaan Indonesia. Relevansinya setidaknya ada pada kepercayaan bahwa ide bisa ditiupkan menjadi realitas yang konkret. Beberapa karyanya mengemban konsep yang masih memikat bagi khalayak masa kini—beberapa lainnya mungkin terasa usang. Namun kedisiplinan mengonkretkan gagasan sebesar apa pun menjadi kisah yang dekat dengan keseharian kita, tak pelak, adalah sebuah "jalan ninja" yang amat relevan pada zaman kibal-kibul digital kini. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/arsip/pemikiran-asrul-sani-modernis-2269004

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar