|
Asrul Sani: Sang Modernis Totok Hikmat Darmawan : Pengamat film
dan komik |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Asrul Sani adalah salah satu tokoh
intelektual dan seniman paling berpengaruh dalam sejarah modernisme
Indonesia. · Karakteristik pemikiran Asrul juga
berlandaskan humanisme universal dan teknikalisme, bukan semata intuisi. · Asrul konsisten mengeksplorasi
pergulatan individu serta isu sosial dengan landasan ideologi yang kokoh dan
rapi. PROYEK
"menjadi Indonesia" pada dasarnya adalah upaya modernisasi
Nusantara yang terkolonisasi secara khas. Penjajahan Belanda via perdagangan
dan kemudian militer serta politik—dengan Portugis, Inggris, dan Jepang di
sela-selanya—menghasilkan wilayah yang kemudian bernama Indonesia. Meneroka
kiprah seniman-pemikir seperti Asrul Sani (10 Juni 1926-11 Januari 2004)
adalah menyusun satu segi kejiwaan modernisasi tersebut. Di
antara para seniman-pemikir segenerasi, Asrul Sani boleh dibilang sebagai
modernis yang konsisten dengan gagasan modernisme abad ke-20 dalam
membayangkan Indonesia di antara negara-bangsa lain, baik yang telah agak
lama ada, seperti Prancis atau Amerika Serikat, maupun yang baru lahir seusai
Perang Dunia II. Revolusi Indonesia merupakan salah satu katalisator
gelombang kemunculan negara-bangsa baru di wilayah bekas jajahan Eropa dan
Jepang, setidaknya menurut David van Reybrouck dalam Revolusi: Indonesia and
the Birth of the Modern World (2024). Chairil
Anwar—sesama penyair dalam lingkar sastrawan Gelanggang dan Tiga Menguak
Takdir (1945) bersama Asrul dan Rivai Apin—mungkin sosok yang berkembang
menjadi mitos tentang apa itu "manusia modern". Dalam sejarah
sastra modern Indonesia, Chairil tumbuh menjadi personifikasi individualisme
"murni": bohemian, urakan, cinta yang berapi-api, dan abstraksi
liris tentang hidup yang ia jalani sepenuh diri. Pramoedya
Ananta Toer, di sisi lain, adalah modernis yang percaya penuh pada Revolusi
dan gentingnya kemanusiaan melawan kezaliman struktural dalam berbagai
bentuknya. Dalam sastra, Pram mengambil jalur modernis-historis. Ia meyakini
bahwa kekuatan sejarah membentuk manusia Indonesia. Sementara itu, ada Hamka
sebagai representasi modernis-religius dan Sutan Takdir Alisjahbana sebagai
modernis-sekuler yang meyakini bahwa "menjadi (setotal mungkin seperti)
Eropa/Barat" yang ilmiah merupakan jalan terbaik bagi modernisasi
Indonesia. Asrul
Sani, dalam kancah kompetisi ideologi dan corak kemodernan tersebut,
mengambil posisi yang individualis, percaya penuh pada teknikalisme, dan
menganut "humanisme-universal". Individualisme yang dilakoni Asrul
tidaklah urakan seperti Chairil. Ia lebih tertib dan rapi, tapi tak pelak
selalu mewujud dalam karya-karyanya. Cerita
pendek "Bola Lampu" dan "Sahabat Saya Cordiaz" serta film
Lewat Djam Malam (1954), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa jang Kau Tjari,
Palupi? (1969), Al Kautsar (1977), Para Perintis Kemerdekaan (1977), atau
Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) mengisahkan ragam pergulatan individu
dengan masyarakat serta perubahan sosial di Indonesia. Teknikalisme
adalah salah satu watak modernisme versi Marshall Hodgson yang diurai
Nurcholish Madjid dalam pengantar panjang buku Khazanah Intelektual Islam
(1982). Ini adalah keyakinan bahwa modernisme adalah "Abad Teknik",
yang mengelola hidup dengan asumsi bahwa manusia bisa memanipulasi alam
melalui teknologi. Dalam sastra, teater, ataupun film, Asrul melakoni
penciptaan yang berdisiplin mengonkretkan gagasan melalui teknik dan kriya
yang cocok dalam setiap medium. Ia bukan seniman yang hanya mengandalkan
intuisi. Konstruksi
"humanisme universal" mungkin bisa kita korek dari kritiknya
terhadap puisi-puisi penyair Angkatan 45. Eka Kurniawan pernah menulis esai
tentang gagasan Asrul Sani mengenai "puisi gigantis". Dalam
ungkapan Asrul sendiri, "Kita harus sampai pada puisi 'gigantis' yang
menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberi
emosi...." Eka menafsirkan bahwa kritik dan konsepsi Asrul tentang puisi
gigantis itu adalah kecenderungan membebani puisi dan prosa dengan ide. Memang,
Asrul melontarkan konsep itu untuk menanggapi para penyair semasa yang
menurut dia lebih banyak berangkat dari perasaan belaka. Tapi, saya kira,
perwatakan "gigantis" dari Asrul itu condong pada kehendak
menjadikan sastra sebagai wahana gagasan besar, narasi agung tentang hidup
dan manusia yang bersifat universal. "Humanisme" adalah gagasan
besar, sementara "universal" adalah bentuk keluasan, melintasi
waktu dan tempat. Gigantis adalah abstraksi Asrul terhadap kedua hal
tersebut. Yang
menjadi pakem Asrul dalam berbagai medium penciptaan yang ia pilih adalah
komitmennya selalu berangkat dari suatu gagasan atau abstraksi persoalan
kemanusiaan dan sosial. Dia merenungi permasalahan tersebut, lalu
mewujudkannya dalam bentuk serta naratif yang konkret dan spesifik. Film
Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap yang digarap sutradara Chaerul Umam pada 1986
ditulis Asrul sebagai kisah cinta dan rumah tangga orang biasa di Jakarta.
Tapi gagasan utamanya gamblang pula: pertentangan filosofis kelamin/gender
atau battle of sexes. Nagabonar besutan sutradara M.T. Risyaf pada 1987
ditulis Asrul sebagai demitologisasi militerisme yang jenaka. Konsistensi
pada ide sebagai fondasi utama inilah yang membuat saya memandang Asrul
sebagai modernis tulen atau totok. Murni, bukan campuran seperti bensin
oplosan atau para pemikir pascamodern yang sempat trendi di Indonesia pada
1990-an hingga awal 2000-an. Dia tidak sinkretik, seperti Hamka yang mencari
titik temu antara Islam dan modernisme. Ketika Asrul mencipta kisah-kisah
religius, posisinya adalah interogasi modernisme terhadap gagasan dasar
Islam. Sedangkan Hamka menuturkan interogasi Islam terhadap modernitas. Dari
segi ide-ide yang diemban, karya-karya Asrul Sani bagaikan suvenir abad ke-20
dalam kebudayaan Indonesia. Relevansinya setidaknya ada pada kepercayaan
bahwa ide bisa ditiupkan menjadi realitas yang konkret. Beberapa karyanya
mengemban konsep yang masih memikat bagi khalayak masa kini—beberapa lainnya
mungkin terasa usang. Namun kedisiplinan mengonkretkan gagasan sebesar apa
pun menjadi kisah yang dekat dengan keseharian kita, tak pelak, adalah sebuah
"jalan ninja" yang amat relevan pada zaman kibal-kibul digital
kini. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/pemikiran-asrul-sani-modernis-2269004 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar