Jumat, 19 Juni 2026

 

Koreksi tanpa Perubahan Fundamental

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sempat membuat rupiah menguat.

 

·      Pemerintah akan mengevaluasi program makan bergizi gratis.

 

·      Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa badai di pasar keuangan Indonesia telah berlalu.

 

RUPIAH dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia akhirnya mendapat sedikit ruang bernapas pada pekan lalu. Di akhir pekan, kurs rupiah menguat ke level 17.800 per dolar Amerika Serikat, sementara IHSG membal melewati 6.000. Ada faktor domestik ataupun eksternal yang melegakan.

 

Di sisi domestik, ada koreksi berbagai kebijakan bank sentral ataupun pemerintah. Misalnya Bank Indonesia akhirnya berani menaikkan suku bunga lebih agresif. Setelah Mei 2026, ada kenaikan BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Pada Selasa, 9 Juni 2026, di luar jadwal normal Rapat Dewan Gubernur Bulanan, BI menaikkan bunga lagi sebanyak 25 basis point menjadi 5,5 persen. BI kini terlihat memprioritaskan mandat menjaga nilai rupiah, tak lagi mendorong pertumbuhan.

 

Di sisi fiskal, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengirim isyarat bahwa pemerintah akan mengevaluasi program makan bergizi gratis (MBG). Ini baru rencana evaluasi, bukan pemangkasan. Namun ini pertanda awal perubahan sikap pemerintah yang cukup melegakan investor.

 

Problem MBG adalah beratnya beban anggaran pemerintah untuk membiayainya. Tanpa koreksi, MBG bakal memperlebar defisit dan menambah kebutuhan utang secara agresif.

 

Kabar berikutnya datang dari program koperasi desa merah putih. Setelah sempat menargetkan pembangunan sekitar 80 ribu koperasi dalam waktu setahun, Menteri Koperasi Ferry Juliantono kini mengakui pendekatan itu tak realistis. Pemerintah akan membangun 40 ribu titik lebih dulu dan mengalihkan perhatian dari mengejar angka menjadi memastikan koperasi benar-benar beroperasi.

 

Itu perubahan penting. Pendirian koperasi desa secara masif berisiko menimbulkan disrupsi pada sistem logistik nasional, terutama jika pemerintah kemudian menutup jaringan gerai retail swasta di desa, sebagaimana keinginan Ferry. Program ini juga membebani bank milik negara yang harus memberi pinjaman. Kinerja bank-bank itu terancam memburuk karena naiknya risiko kredit macet.

 

Yang paling signifikan adalah berubahnya peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Alih-alih memonopoli ekspor komoditas sumber daya alam, perannya akan lebih berfokus pada pemantauan data dan pengawasan untuk mencegah kebocoran devisa hasil ekspor.

 

Pasar tak menyukai sentralisasi ekspor karena justru berisiko mengganggu dan aliran dolar masuk bakal menyusut. Itu sebabnya, sejak Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana kontroversial sentralisasi ekspor, rupiah terus tertekan.

 

Sedangkan faktor eksternal yang turut mendorong penguatan rupiah adalah turunnya harga minyak. Dalam tempo lima hari, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan utama dunia turun dari sekitar US$ 98 per barel menjadi sekitar US$ 86 pada akhir pekan.

 

Harga minyak dunia selalu menjadi faktor penting dalam pergerakan rupiah. Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar. Ketika harga minyak turun, kebutuhan dolar untuk impor energi ikut berkurang. Kurs rupiah pun menguat.

 

Meski demikian, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa badai di pasar keuangan Indonesia telah berlalu. Penguatan rupiah dan kenaikan harga saham pada pekan lalu masih cenderung mencerminkan perbaikan sentimen ketimbang perubahan fundamental yang kukuh. Lagi pula sebagian koreksi kebijakan itu masih rencana, belum konkret.

 

Untuk pasar saham, ujian sesungguhnya juga baru datang pada 23 Juni 2026 ketika Morgan Stanley Capital International atau MSCI mengumumkan hasil Annual Market Classification Review. Jika status bursa Indonesia turun menjadi frontier market dari posisi saat ini sebagai emerging market, modal asing bakal kabur lebih deras dan harga saham ambrol.

 

Sekadar catatan, modal asing sudah kabur dari bursa senilai Rp 67,63 triliun sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu. Sedangkan IHSG sudah anjlok 30,52 persen.

 

Setelah ujian MSCI, perhatian pasar akan beralih ke peringkat kredit dari S&P Global Ratings. Tak ada tanggal pasti, tapi S&P akan mengumumkan hasil peninjauan terhadap peringkat kredit Indonesia. Jika hasilnya penurunan outlook atau anjloknya peringkat kredit, ekonomi Indonesia bakal menghadapi masalah besar. Pasar obligasi, nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah mencari utang di pasar bakal terpukul hebat. ●

 

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/kurs-rupiah-ihsg-pasar-keuangan-2268930

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar