|
Koreksi tanpa
Perubahan Fundamental Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Kenaikan suku bunga acuan Bank
Indonesia sempat membuat rupiah menguat. · Pemerintah akan mengevaluasi program
makan bergizi gratis. · Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa
badai di pasar keuangan Indonesia telah berlalu. RUPIAH dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) Bursa Efek Indonesia akhirnya mendapat sedikit ruang bernapas pada
pekan lalu. Di akhir pekan, kurs rupiah menguat ke level 17.800 per dolar
Amerika Serikat, sementara IHSG membal melewati 6.000. Ada faktor domestik
ataupun eksternal yang melegakan. Di sisi domestik, ada koreksi berbagai
kebijakan bank sentral ataupun pemerintah. Misalnya Bank Indonesia akhirnya
berani menaikkan suku bunga lebih agresif. Setelah Mei 2026, ada kenaikan
BI-Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Pada Selasa, 9 Juni 2026, di
luar jadwal normal Rapat Dewan Gubernur Bulanan, BI menaikkan bunga lagi
sebanyak 25 basis point menjadi 5,5 persen. BI kini terlihat memprioritaskan
mandat menjaga nilai rupiah, tak lagi mendorong pertumbuhan. Di sisi fiskal, Menteri Sekretaris
Negara Prasetyo Hadi mengirim isyarat bahwa pemerintah akan mengevaluasi
program makan bergizi gratis (MBG). Ini baru rencana evaluasi, bukan
pemangkasan. Namun ini pertanda awal perubahan sikap pemerintah yang cukup melegakan
investor. Problem MBG adalah beratnya beban
anggaran pemerintah untuk membiayainya. Tanpa koreksi, MBG bakal memperlebar
defisit dan menambah kebutuhan utang secara agresif. Kabar berikutnya datang dari program
koperasi desa merah putih. Setelah sempat menargetkan pembangunan sekitar 80
ribu koperasi dalam waktu setahun, Menteri Koperasi Ferry Juliantono kini
mengakui pendekatan itu tak realistis. Pemerintah akan membangun 40 ribu
titik lebih dulu dan mengalihkan perhatian dari mengejar angka menjadi
memastikan koperasi benar-benar beroperasi. Itu perubahan penting. Pendirian
koperasi desa secara masif berisiko menimbulkan disrupsi pada sistem logistik
nasional, terutama jika pemerintah kemudian menutup jaringan gerai retail
swasta di desa, sebagaimana keinginan Ferry. Program ini juga membebani bank
milik negara yang harus memberi pinjaman. Kinerja bank-bank itu terancam
memburuk karena naiknya risiko kredit macet. Yang paling signifikan adalah
berubahnya peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Alih-alih memonopoli
ekspor komoditas sumber daya alam, perannya akan lebih berfokus pada
pemantauan data dan pengawasan untuk mencegah kebocoran devisa hasil ekspor. Pasar tak menyukai sentralisasi ekspor
karena justru berisiko mengganggu dan aliran dolar masuk bakal menyusut. Itu
sebabnya, sejak Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana kontroversial
sentralisasi ekspor, rupiah terus tertekan. Sedangkan faktor eksternal yang turut
mendorong penguatan rupiah adalah turunnya harga minyak. Dalam tempo lima
hari, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan utama dunia turun dari
sekitar US$ 98 per barel menjadi sekitar US$ 86 pada akhir pekan. Harga minyak dunia selalu menjadi
faktor penting dalam pergerakan rupiah. Indonesia masih bergantung pada impor
minyak mentah dan bahan bakar. Ketika harga minyak turun, kebutuhan dolar
untuk impor energi ikut berkurang. Kurs rupiah pun menguat. Meski demikian, terlalu dini untuk
menyimpulkan bahwa badai di pasar keuangan Indonesia telah berlalu. Penguatan
rupiah dan kenaikan harga saham pada pekan lalu masih cenderung mencerminkan
perbaikan sentimen ketimbang perubahan fundamental yang kukuh. Lagi pula
sebagian koreksi kebijakan itu masih rencana, belum konkret. Untuk pasar saham, ujian sesungguhnya
juga baru datang pada 23 Juni 2026 ketika Morgan Stanley Capital
International atau MSCI mengumumkan hasil Annual Market Classification
Review. Jika status bursa Indonesia turun menjadi frontier market dari posisi
saat ini sebagai emerging market, modal asing bakal kabur lebih deras dan
harga saham ambrol. Sekadar catatan, modal asing sudah
kabur dari bursa senilai Rp 67,63 triliun sejak awal tahun hingga akhir pekan
lalu. Sedangkan IHSG sudah anjlok 30,52 persen. Setelah ujian MSCI, perhatian pasar
akan beralih ke peringkat kredit dari S&P Global Ratings. Tak ada tanggal
pasti, tapi S&P akan mengumumkan hasil peninjauan terhadap peringkat
kredit Indonesia. Jika hasilnya penurunan outlook atau anjloknya peringkat
kredit, ekonomi Indonesia bakal menghadapi masalah besar. Pasar obligasi,
nilai tukar rupiah, dan kemampuan pemerintah mencari utang di pasar bakal
terpukul hebat. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/kurs-rupiah-ihsg-pasar-keuangan-2268930 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar