|
Rico Sirait: Pengadaan Pertahanan
Sesuai dengan Aturan Adil Al Hasan : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Perusahaan-perusahaan Gaurav Srivastava
mendapat surat pernyataan niat (LOI) untuk pengadaan alat pertahanan. · Perusahaan tersebut nihil pengalaman
dalam menggarap proyek pertahanan berteknologi tinggi. · Kementerian Pertahanan memastikan surat
pernyataan niat tersebut tidak terealisasi. KETIKA
hendak meladeni wawancara Tempo perihal kerja sama Kementerian Pertahanan
dengan perusahaan Gaurav Srivastava, Kepala Biro Informasi Pertahanan
Kementerian Pertahanan Rico Sirait masih berada di Bandar Udara Sam
Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Itu sebabnya, sore itu, Jumat, 8 Mei 2026,
Rico menjanjikan wawancara lima hari kemudian. “Silakan ke kantor menemui
saya jika masih merasa belum terjawab,” ujarnya. Pada
Rabu, 13 Mei 2026, Rico akhirnya menjelaskan perkembangan kerja sama antara
Kementerian Pertahanan dan perusahaan Srivastava. Didampingi tiga stafnya, ia
menjawab pelbagai temuan Tempo. Tapi Rico meminta isi pertemuan tersebut off
the record alias tidak dikutip. Menurut
penelusuran tim Tempo, kerja sama itu bermula ketika pada Desember 2020
Srivastava ikut dalam rombongan Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika
Serikat Christopher Miller bersama Kash Patel yang saat ini menjadi Direktur
Biro Investigasi Federal (FBI). Dalam
foto yang diperoleh Tempo, Miller dan Srivastava bertemu dengan Prabowo
Subianto—ketika itu Menteri Pertahanan—di rumah Ketua Umum Partai Gerindra
tersebut di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Pertemuan itu antara lain
membahas penjualan jet tempur Amerika Serikat ke Indonesia. Dari
Kementerian Pertahanan, Srivastava setidaknya mendapat surat pernyataan niat
untuk pengadaan alat pertahanan yang meliputi 30 helikopter UH-60 Black Hawk,
36 pesawat F-15EX, pembangunan pusat komando dan kendali operasi gabungan,
puluhan helikopter senilai US$ 480 juta, serta jasa perawatan, perbaikan, dan
perombakan (MRO) pesawat C-130 atau Hercules senilai US$ 150 juta dari PT
Dirgantara Indonesia kepada Unity Accipiter Corporation. Penelusuran
Tempo menunjukkan tiga perusahaan Srivastava, yakni Orbimo Corporation,
Zegasus Corporation, dan Constentis Corporation, nihil pengalaman dalam
menggarap proyek pertahanan berteknologi tinggi. Keanehan
lain: Orbimo dan Zegasus, perusahaan yang terdaftar di Negara Bagian Wyoming,
Amerika Serikat, menerima surat pernyataan niat dari Kementerian Pertahanan
pada hari yang sama saat perusahaan didirikan, yakni 22 Desember 2020. Adapun
Constentis menerima surat pernyataan niat untuk memasok pusat operasi dan
komando gabungan hanya dua hari setelah berdiri pada 18 Desember 2020. Selama
dua bulan Tempo meminta konfirmasi atas kabar kerja sama tersebut. Pada
Senin, 25 Mei 2026, Tempo menghubungi Rico kembali untuk meminta jawaban on
the record sembari menyertakan lampiran dokumen perjanjian Kementerian
Pertahanan dengan perusahaan Srivastava. Pada hari yang sama, Rico menjawab
melalui keterangan tertulis. Berikut ini petikannya. Apa
penjelasan Kementerian Pertahanan atas munculnya surat pernyataan niat kepada
perusahaan Srivastava? Kementerian
Pertahanan memandang setiap komunikasi awal, termasuk surat niat atau letter
of intent (LOI), merupakan bagian dari dinamika komunikasi dan penjajakan
yang lazim terjadi dalam hubungan antarpihak di bidang pertahanan. Bagaimana
status dokumen pernyataan niat tersebut? Dokumen
semacam itu bukan merupakan keputusan final ataupun dokumen yang mengikat
secara hukum. Setiap usulan ataupun komunikasi tetap harus melalui mekanisme
evaluasi, kajian teknis, hukum, anggaran, serta prosedur pemerintah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Srivastava
masuk rombongan pejabat Pentagon saat berkunjung ke Indonesia. Apa peran dan
posisinya saat itu? Ihwal
berbagai informasi mengenai kunjungan, penyampaian undangan, ataupun
kehadiran pihak tertentu dalam delegasi pertemuan pada periode tersebut, itu
merupakan bagian dari komunikasi dan interaksi yang lazim dalam diplomasi
pertahanan internasional. Kehadiran individu tertentu dalam suatu rombongan
juga merupakan bagian dari pengaturan internal delegasi negara mitra dan
tidak dapat langsung diartikan sebagai bentuk persetujuan ataupun komitmen
terhadap suatu kerja sama tertentu. Bagaimana
perkembangan surat-surat yang telah dikeluarkan Kementerian Pertahanan kepada
perusahaan-perusahaan Srivastava? Yang
perlu ditegaskan, sampai saat ini tidak ada realisasi ataupun tindak lanjut
konkret atas LOI yang dimaksud. Seluruh proses kerja sama dan pengadaan pertahanan
Indonesia selalu dilaksanakan secara hati-hati; mengedepankan prinsip tata
kelola yang baik, kepentingan nasional; serta sesuai dengan mekanisme dan
aturan. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/kementerian-pertahanan-gaurav-srivastava-2272109 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar