|
Di
Ambang Kepunahan Orang Utan Editorial 4
: Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Ekspansi kebun sawit merambah hutan
Kapuas Hulu yang menjadi kantong habitat terbaik orang utan kalimantan. · Strategi yang disiapkan jauh-jauh hari
untuk melindungi habitat orang utan kalimantan sia-sia. · Kepunahan orang utan kalimantan di
depan mata. Efek dominonya bakal menimpa bumi dan segala isinya. BIANG
bencana yang sedang terjadi di hutan alam Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan
Barat, sungguh memalukan. Kita, manusia, selama lebih dari dua abad
mempelajari kepunahan spesies di masa lalu dan beraneka ragam penyebabnya
dengan harapan tak terulang di masa depan. Namun kita tetap tidak bisa
berbuat apa-apa, bahkan abai, ketika ancaman kepunahan itu sekarang makin
nyata bagi salah satu kerabat terdekat manusia: orang utan. Dua
tahun terakhir, aktivitas penggundulan hutan meningkat di Kapuas Hulu.
Setidaknya 13 ribu hektare hutan alam hilang, mengakhiri tren penurunan
deforestasi sejak kabupaten itu ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(UNESCO) pada 2018. Tiga dari setiap empat hektare hutan yang lenyap itu
terjadi di area konsesi perkebunan sawit. Dan itu
bukan kabar terburuknya. Tahun lalu, lebih dari separuh luas pembukaan lahan
untuk ekspansi sawit tersebut merambah hutan primer di kantong habitat orang
utan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang membentang dari Taman Nasional Danau
Sentarum hingga Taman Nasional Betung Kerihun. Ketika Tempo mengunjungi
lokasi itu pada Mei 2026, pembangunan perkebunan di salah satu konsesi
perusahaan masih berlanjut, dengan target belasan ribu hektare hutan lagi
yang bakal dibabat. Menyusutnya
habitat dan populasi orang utan kalimantan akibat pembangunan industri
perkebunan memang bukan cerita baru. Hal serupa yang menyebabkan status
ancaman kepunahan spesies ini, bersama orang utan tapanuli (Pongo
tapanuliensis) dan orang utan sumatera (Pongo abelii), memburuk, dari genting
menjadi kritis—selangkah lagi menuju musnah. Hasil penilaian terakhir Uni
Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pada 2016 memperkirakan populasi
orang utan kalimantan tersisa 47 ribu individu. Sebagian populasinya berisiko
punah di alam liar dalam kurun 50 tahun.
Tapi
rusaknya kantong habitat orang utan di Kapuas Hulu sungguh memprihatinkan.
Semuanya terjadi ketika kita sebenarnya paham betul cara mencegahnya. Satu
dekade lalu, pemerintah mengumpulkan pakar konservasi primata dari dalam dan
luar negeri untuk menyusun strategi mencegah kepunahan orang utan. Hasil
lokakarya itu menilai lanskap Danau Sentarum dan Betung Kerihun sebagai
kantong habitat dengan kondisi “terbaik” bagi kelangsungan hidup mawas.
Sebagian besar dari 42 kantong habitat orang utan kalimantan dinilai buruk. Penilaian
itu juga mendeteksi terjadinya kepunahan lokal subspesies di beberapa area
kantong habitat yang dibelah konsesi perkebunan dan kehutanan. Agar hal
serupa tidak terjadi di Kapuas Hulu, para pakar merekomendasikan pemerintah
memprioritaskan pelindungan kantong habitat di lanskap Danau Sentarum dan
Betung Kerihun. Caranya, pemerintah perlu menyetop pemberian izin baru dan
melarang pembongkaran hutan di dalam area konsesi lama. Apa yang
sedang terjadi di rimba Kapuas Hulu menunjukkan rekomendasi itu sia-sia. Di
lapangan, Kementerian Kehutanan tidak mampu mencegah berlanjutnya deforestasi
dengan dalih pembangunan kebun berada di luar kawasan hutan. Karena bukan
kawasan hutan pula, pemerintah daerah menerbitkan perizinan perkebunan baru
di atas lanskap Danau Sentarum dan Betung Kerihun. Jika
kondisi itu berlanjut, bukan tidak mungkin manusia generasi saat ini bakal
menyaksikan langsung kepunahan orang utan kalimantan. Musnahnya spesies kunci
hutan tropis ini sudah pasti menimbulkan efek domino luar biasa bagi bumi dan
segala isinya. Ini pula yang memalukan: kitalah penyebabnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/orang-utan-kalimantan-punah-sawit-2272003 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar