Senin, 29 Juni 2026

 

Di Ambang Kepunahan Orang Utan

Editorial 4 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Ekspansi kebun sawit merambah hutan Kapuas Hulu yang menjadi kantong habitat terbaik orang utan kalimantan.

 

·      Strategi yang disiapkan jauh-jauh hari untuk melindungi habitat orang utan kalimantan sia-sia.

 

·      Kepunahan orang utan kalimantan di depan mata. Efek dominonya bakal menimpa bumi dan segala isinya.

 

BIANG bencana yang sedang terjadi di hutan alam Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sungguh memalukan. Kita, manusia, selama lebih dari dua abad mempelajari kepunahan spesies di masa lalu dan beraneka ragam penyebabnya dengan harapan tak terulang di masa depan. Namun kita tetap tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan abai, ketika ancaman kepunahan itu sekarang makin nyata bagi salah satu kerabat terdekat manusia: orang utan.

 

Dua tahun terakhir, aktivitas penggundulan hutan meningkat di Kapuas Hulu. Setidaknya 13 ribu hektare hutan alam hilang, mengakhiri tren penurunan deforestasi sejak kabupaten itu ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 2018. Tiga dari setiap empat hektare hutan yang lenyap itu terjadi di area konsesi perkebunan sawit.

 

Dan itu bukan kabar terburuknya. Tahun lalu, lebih dari separuh luas pembukaan lahan untuk ekspansi sawit tersebut merambah hutan primer di kantong habitat orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang membentang dari Taman Nasional Danau Sentarum hingga Taman Nasional Betung Kerihun. Ketika Tempo mengunjungi lokasi itu pada Mei 2026, pembangunan perkebunan di salah satu konsesi perusahaan masih berlanjut, dengan target belasan ribu hektare hutan lagi yang bakal dibabat.

 

Menyusutnya habitat dan populasi orang utan kalimantan akibat pembangunan industri perkebunan memang bukan cerita baru. Hal serupa yang menyebabkan status ancaman kepunahan spesies ini, bersama orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan orang utan sumatera (Pongo abelii), memburuk, dari genting menjadi kritis—selangkah lagi menuju musnah. Hasil penilaian terakhir Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) pada 2016 memperkirakan populasi orang utan kalimantan tersisa 47 ribu individu. Sebagian populasinya berisiko punah di alam liar dalam kurun 50 tahun.   

 

Tapi rusaknya kantong habitat orang utan di Kapuas Hulu sungguh memprihatinkan. Semuanya terjadi ketika kita sebenarnya paham betul cara mencegahnya.

 

Satu dekade lalu, pemerintah mengumpulkan pakar konservasi primata dari dalam dan luar negeri untuk menyusun strategi mencegah kepunahan orang utan. Hasil lokakarya itu menilai lanskap Danau Sentarum dan Betung Kerihun sebagai kantong habitat dengan kondisi “terbaik” bagi kelangsungan hidup mawas. Sebagian besar dari 42 kantong habitat orang utan kalimantan dinilai buruk.

 

Penilaian itu juga mendeteksi terjadinya kepunahan lokal subspesies di beberapa area kantong habitat yang dibelah konsesi perkebunan dan kehutanan. Agar hal serupa tidak terjadi di Kapuas Hulu, para pakar merekomendasikan pemerintah memprioritaskan pelindungan kantong habitat di lanskap Danau Sentarum dan Betung Kerihun. Caranya, pemerintah perlu menyetop pemberian izin baru dan melarang pembongkaran hutan di dalam area konsesi lama.

 

Apa yang sedang terjadi di rimba Kapuas Hulu menunjukkan rekomendasi itu sia-sia. Di lapangan, Kementerian Kehutanan tidak mampu mencegah berlanjutnya deforestasi dengan dalih pembangunan kebun berada di luar kawasan hutan. Karena bukan kawasan hutan pula, pemerintah daerah menerbitkan perizinan perkebunan baru di atas lanskap Danau Sentarum dan Betung Kerihun.

 

Jika kondisi itu berlanjut, bukan tidak mungkin manusia generasi saat ini bakal menyaksikan langsung kepunahan orang utan kalimantan. Musnahnya spesies kunci hutan tropis ini sudah pasti menimbulkan efek domino luar biasa bagi bumi dan segala isinya. Ini pula yang memalukan: kitalah penyebabnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/orang-utan-kalimantan-punah-sawit-2272003

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar