|
KPK: Ada Permintaan Jatah dari
Wakil Menteri Imigrasi Riani Sanusi Putri : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Kasus pemerasan pegawai Imigrasi
terungkap dari penyidikan korupsi di Kementerian Ketenagakerjaan. · Penyidik menuduh Silmy Karim menerima
setoran Rp 100 juta per pekan dari uang pemerasan kepada WNA. · Tim KPK sempat mengejar Silmy Karim
sebelum akhirnya ia menyerahkan diri malam-malam. SETELAH
melewati proses berjam-jam, Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy
Karim akhirnya mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi pada Rabu
malam, 3 Juni 2026. Esoknya,
KPK menetapkan Silmy bersama tujuh pegawai Imigrasi lain sebagai tersangka
pemerasan warga negara asing. Silmy diduga menerima setoran Rp 100 juta per
pekan sejak menjabat Direktur Jenderal Imigrasi pada 2023 hingga sekarang. KPK
menemukan peran Silmy Karim dan timnya saat menyidik kasus rencana penggunaan
tenaga kerja asing (RPTKA) di Kementerian Ketenagakerjaan. Pelaksana Tugas
Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein mengatakan para tersangka diduga
melakukan pemerasan lewat biro jasa yang mengurus visa, paspor, serta izin
kerja dan tinggal WNA. Berikut
ini petikan wawancara Taufik dengan wartawan Tempo, Febriyan, Riani Sanusi
Putri, dan Ade Ridwan, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, pada
Kamis, 11 Juni 2026. Apa
hubungan kasus ini dengan kasus korupsi di Kementerian Ketenagakerjaan? Dalam
penyidikan perkara RPTKA, kami menemukan irisan dengan proses keimigrasian,
khususnya pengurusan izin tinggal WNA. Kami menangkap ada indikasi pemerasan
di lingkungan Imigrasi. Bagaimana
KPK menemukan peran Silmy Karim dalam kasus ini? Pengajuan
permohonan izin tinggal WNA sebenarnya dilakukan online. Biro jasa membantu
menyiapkan dokumen dan mengunggahnya ke sistem. Tapi sistem online tetap
butuh otorisasi agar izin bisa terbit. Ini yang diduga dikondisikan oleh SK
(Silmy Karim). Namanya “uang acc klik”. Kalau tidak ada acc dari otorisasi
dengan mengklik di sistem, permohonan akan diperlambat. (Pengacara Silmy
Karim, T.M. Achram Taruna, mengatakan belum bisa memberi komentar mengenai
kasus kliennya. Mereka lebih berfokus menjalani pemeriksaan di KPK.) Berapa
nilai pemerasannya? Informasi
awal yang diperoleh penyidik berkisar Rp 1-2 juta per dokumen. Nilainya
memang bervariasi. Lalu kalikan saja dengan berapa ribu WNA yang mengurus
semua izin. Apalagi dilakukan bertahun-tahun. Mengapa
KPK hanya menyasar Kantor Imigrasi Jakarta Barat? Jakarta
Barat sebenarnya bukan target. Penyidikan berkembang dari temuan awal
tangkapan pertama, RAA, yang menjabat Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat.
Dari sana, penyidik menemukan keterkaitan dengan pejabat lain yang sudah
dimutasi ke daerah lain. Apakah
ada bukti langsung peran Silmy dengan pegawai Imigrasi yang menjadi
tersangka? Ada.
Penyidik menemukan percakapan tersebut terjadi saat SK sudah menjabat wakil
menteri. Dalam percakapan itu, dia menanyakan sisa “kas kita” dan jatahnya.
Artinya, dia diduga mengetahui modus dan praktik yang sedang berjalan. Mereka
menggunakan kode khusus? Kode
ditemukan dalam dokumen tulisan tangan ataupun percakapan antarstaf. Mereka
membuat kode masing-masing. Ada satu grup yang menggunakan kode “malaikat”,
ada juga yang menggunakan “vokalis” dan “gitaris”. Sebagian identitas di
balik kode sudah diketahui, tapi belum bisa kami ungkap. Bagaimana
Silmy Karim menerima dugaan setoran Rp 100 juta per pekan? Para
pelaku mengumpulkan uang setoran biro jasa di kas. Jumlah masuknya tidak
tetap, bergantung pada jumlah WNA yang mengurus izin. Misalnya dalam satu
pekan terkumpul Rp 2 miliar, itu dibagi-bagi jatah berkalanya per minggu.
Lalu SK bertanya sisa di kas ada berapa? Dia menanyakan jatahnya juga. Benarkah
rencana penangkapan Silmy Karim bocor? Sebenarnya
bukan bocor. Informasi menyebar setelah proses pengamanan berlangsung dan
diketahui banyak pihak. Kabar itu kemudian terdengar oleh yang bersangkutan. Apa
benar KPK sempat mengejar Silmy? Kami
memang sempat mengejar dia. Awalnya kami memantau di kantornya, tapi yang
bersangkutan sudah tidak ada di lokasi. Kami kemudian mengetahui dia berada
di kawasan Cibubur (Depok, Jawa Barat), lalu sempat ke salah satu kantor
kementerian di depan Monumen Nasional, Jakarta. ● Sumber : https://www.tempo.co/hukum/penyidikan-kpk-pemerasan-silmy-karim-2269024 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar