|
Kerugian Ekonomi Berlipat-lipat
Akibat Pemadaman Listrik Keuangan Caesar Akbar : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 April 2026
|
· Pemadaman listrik menghentikan produksi
usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah. · Sejumlah lembaga menghitung kerugian
ekonomi akibat pemadaman listrik dengan metode berbeda. · Pemerintah dan PLN perlu membuka data
teknis secara transparan, dari wilayah terdampak, jumlah pelanggan, durasi
padam, beban yang dipadamkan, kWh yang tidak tersalurkan, hingga kompensasi
pelanggan. EMPAT
puluh bungkus makanan olahan beku milik Faza Shamlan mesti masuk tempat
sampah. Pada Sabtu pagi, 20 Juni 2026, pengusaha makanan olahan beku atau
frozen food di Surabaya itu terpaksa membuang produk yang sedianya ia kirim
ke beberapa pelanggan. Pemadaman
listrik selama tiga jam, sejak pukul 09.30 hingga 12.30, sehari sebelumnya,
membuat lemari pendingin Faza tak berfungsi dan produknya rusak. "Semua
harus saya buang," katanya pada Kamis, 25 Juni 2026. Setelah
menghitung-hitung, Faza mengaku rugi Rp 2 juta. Angka itu muncul dari harga
jual frozen food yang mesti ia buang sekaligus biaya penambalan stok dengan
barang baru. Faza pun misuh-misuh. "Ketika semua orang sedang berhemat
dan sulit cari pelanggan, saya malah rugi," ujarnya. Tak jauh
dari tempat tinggal Faza, saudaranya yang mengelola bisnis roti mengalami
kejadian serupa. Adonan yang sedang dipanggang di dalam oven elektrik rusak
seketika. Pabrik roti itu pun amsyong lantaran tegangan setrum kosong. Kasus
semacam ini menjadi perhatian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya.
Ketua Kadin Surabaya Ali Affandi La Nyalla Mahmud Mattalitti mengatakan
pemadaman listrik berdampak pada bisnis kuliner, retail, manufaktur skala
kecil, percetakan, penatu, dan bengkel hingga usaha berbasis digital.
"Pemadaman listrik dua-empat jam saja sama dengan hilangnya omzet,
terganggunya produksi, rusaknya bahan baku, hingga pembatalan pesanan
pelanggan," tutur pria yang akrab disapa Andi ini. Kadin
Surabaya pun membuka pos pengaduan bagi pengusaha yang terkena masalah ini
sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan. Gangguan
serupa dirasakan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Mie dan
Bakso Indonesia (Apmiso). Ketua Umum Apmiso Lasiman mengatakan hampir seluruh
proses produksi bakso bergantung pada perangkat elektrik, dari penggilingan
daging hingga pencetakan adonan. Menurut
dia, pemadaman listrik tiga jam saja sudah mengganggu kegiatan produksi.
Adonan daging dan tepung yang telah dicampur bumbu bisa rusak apabila tidak
segera diproses. "Tapi, meski produksi berhenti, kami tetap harus
menanggung biaya tenaga kerja," katanya. Sedangkan
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia
Fajar Budiono mengatakan dampak pemadaman listrik paling besar dirasakan oleh
industri yang menggunakan sambungan bertegangan rendah dan menengah, yaitu
produsen skala kecil dan menengah. Menurut
dia, produksi tidak langsung pulih ketika listrik kembali menyala karena
mesin memerlukan waktu untuk kembali beroperasi. "Kami rugi karena
kehilangan waktu produksi," ujarnya. Sejumlah
lembaga riset pun menghitung kerugian akibat pemadaman listrik. Menurut
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa,
metodologi yang lazim digunakan untuk menghitung kerugian ekonomi akibat
pemadaman listrik adalah jumlah energi yang hilang dikalikan dengan nilai
kehilangan beban listrik atau value of lost load (VOLL). Nilai VOLL berbeda
untuk setiap kelompok pelanggan, bergantung pada aktivitas ekonomi
masing-masing. Dengan
menggunakan sejumlah asumsi, Fabby memperkirakan kerugian ekonomi akibat
pemadaman listrik mencapai Rp 6 triliun. Menurut dia, nilainya bisa lebih
besar apabila memperhitungkan penurunan daya pembangkit listrik akibat
seretnya pasokan batu bara yang menyebabkan pemadaman sejak awal Juni 2026. Fabby
mengatakan pendekatan VOLL lebih mudah diterapkan pada kasus pemadaman total
karena cakupan wilayah dan durasinya jelas. Adapun pada pemadaman bergilir
seperti yang terjadi di Pulau Jawa, penghitungan kerugian lebih rumit karena
durasi gangguan berbeda-beda di setiap wilayah. Formula
berbeda digunakan oleh Center of Economic and Law Studies (Celios). Direktur
Ekonomi Digital Celios Nailul Huda memperkirakan pemadaman listrik di Jawa
Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sejak awal Juni hingga 20 Juni 2026
menurunkan output ekonomi Rp 1,89 triliun dan mengakibatkan susut nilai
tambah bruto Rp 1,19 triliun. Estimasi
tersebut disusun menggunakan data Badan Pusat Statistik berupa Interregional
Input Output (IRIO). Perhitungan ini menggunakan asumsi konsumsi listrik
sektoral dan akhir (konsumen akhir) serta durasi dan frekuensi pemadaman di
wilayah terdampak. Menurut
Huda, dampak yang dirasakan ketika pemadaman listrik ini tidak hanya
dirasakan oleh sektor konsumen akhir, namun juga industri. Industri yang
terdampak akan kehilangan kesempatan memproduksi sehingga output usahanya
tidak optimal. Angka
tersebut mempunyai multiplier terhadap sektor lainnya yang berkaitan.
"Atas dasar inilah, muncul penghitungan kerugian perekonomian negara
dari pemadaman listrik di pulau Jawa." Adapun
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kerugian ekonomi akibat
pemadaman listrik sebaiknya dihitung berdasarkan besarnya energi listrik yang
tidak tersalurkan, bukan semata-mata jumlah pelanggan yang terkena dampak.
Menurut dia, angka tersebut kemudian dipilah berdasarkan jenis pelanggan,
seperti industri, usaha, rumah tangga, layanan publik, dan wilayah terdampak. Di
sektor industri, Josua menambahkan, kerugian tidak hanya berasal dari
hilangnya produksi selama listrik padam. Pelaku usaha juga menanggung biaya
tambahan untuk menjaga operasi seperti penggunaan generator set, pemborosan
bahan baku, keterlambatan pengiriman, hingga pemulihan kepercayaan dari
pemasok dan pelanggan. Adapun
pada pelanggan rumah tangga, yang perlu diperhitungkan adalah nilai waktu
yang hilang hingga dampak material seperti makanan yang rusak, terganggunya
kegiatan belajar atau bekerja dari rumah, serta kerusakan peralatan
elektronik. Sebagai
acuan, Josua memperkirakan setiap 1 juta kilowatt-jam (kWh) listrik yang
tidak tersalurkan dapat menimbulkan kerugian langsung Rp 30-150 miliar,
bergantung pada komposisi pelanggan yang terkena dampak. Jika pemadaman
listrik menyebabkan 20-50 juta kWh listrik tidak tersalurkan, kerugian
ekonominya mencapai Rp 600 miliar-7,5 triliun. Jika
dampak rambatan diperhitungkan, nilainya bisa mencapai Rp 10 triliun.
"Pemerintah dan PLN perlu membuka data teknis secara transparan, dari
wilayah terdampak, jumlah pelanggan, durasi padam, beban yang dipadamkan, kWh
yang tidak tersalurkan, hingga kompensasi pelanggan," tutur Josua. Menteri
Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui pemadaman listrik
berdampak terhadap kegiatan ekonomi. Ia mengatakan pemerintah telah meminta
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) serta Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral menyelesaikan persoalan tersebut pada Juni ini. Namun
Airlangga tidak menjawab ketika ditanyai mengenai besarnya kerugian ekonomi
akibat pemadaman listrik. Ketika ditanyai tentang kemungkinan pemberian
kompensasi seperti diskon tarif listrik kepada pelanggan terdampak, ia
menjawab, "Sudah diskon, sudah barang subsidi, ya enggak ada diskon
lagi." ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/kerugian-ekonomi-pemadaman-listrik-2272048 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar