|
Intrik di Balik Pemadaman Listrik
Bergilir Fery Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· PLN menyatakan pemadaman listrik
bergilir dipicu kerusakan pembangkit listrik besar. · Pengguna listrik di sejumlah daerah
mengaku mengalami kerugian material akibat pemadaman listrik. · Menteri Energi Bahlil Lahadalia mengaku
heran jika PLN disebut kekurangan stok batu bara untuk PLTU. BAGI
saudara kita di kawasan Indonesia timur, istilah abuleke barangkali sudah
lama populer sebagai bahasa slang. Arti abuleke, menurut seorang kawan dari
Ambon, Maluku, kurang-lebih “omong kosong”, “bohong”, atau bahkan “tukang
tipu”. Saya
pribadi terus terang baru mendengar istilah ini setelah “dipopulerkan”
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, yang memang berasal
dari Indonesia timur. Bahlil dalam beberapa kali wawancara doorstop dengan
jurnalis menyebut kata abuleke dalam berbagai konteks persoalan. Ini yang
terjadi ketika Bahlil diwawancarai sejumlah jurnalis, termasuk jurnalis
Tempo, Nandito Putra, selepas menghadiri Energy Forum CNBC di Hotel
Borobudur, Jakarta Pusat, pada Kamis, 25 Juni 2026. Dia
mengeluarkan kembali kata abuleke untuk menjawab pertanyaan soal tipisnya
stok batu bara PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), yang digunakan sebagai
energi primer pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU. Menurut
Bahlil, hingga bulan ini PLN telah meneken kontrak untuk pengadaan 141 juta
ton batu bara dari total kebutuhan tahunan sebanyak 154 juta ton. Artinya,
kata dia, sisa kebutuhan hanya 13 juta ton alias tak signifikan jika disebut
kekurangan. Karena
itu, Bahlil heran jika ada yang mengatakan PLN kehabisan atau kekurangan stok
batu bara. “Masak, batu bara habis di bulan enam? Ini ilmu abuleke apa lagi?
Aku jujur-jujur saja, nih. Berarti kan ada sesuatu,” ujarnya. Entah siapa
yang disebut abuleke oleh Bahlil dalam pernyataan itu. Aneh
atau tidak menurut Bahlil, cekaknya stok batu bara PLN menjadi salah satu
“tertuduh” biang kerok pemadaman listrik bergilir yang menimpa sejumlah
wilayah di Jawa. Di media sosial dan sejumlah forum percakapan, ramai
spekulasi soal sebab musabab mati lampu selama tiga-empat jam, beberapa kali,
yang membuat mereka resah. Selain
tipisnya stok batu bara PLTU, ada yang menduga PLN kehabisan dana lantaran
pemerintah belum memberikan kompensasi biaya listrik murah. Muncul pula
dugaan kerusakan pembangkit listrik. Yang
jelas, pemadaman listrik ini mengganggu semua kalangan, dari rumah tangga
hingga pengusaha, terutama pemilik industri rumahan. Jurnalis Tempo di
Bandung, Aminuddin, mendapat pengakuan soal pemilik kedai fotokopi yang
omzetnya turun separuh karena mati lampu. Ada juga
pemilik kedai kopi yang berakrobat membuat kemasan dengan tangan lantaran
mesin pres plastiknya tak menyala. Di Surabaya, Jawa Timur, jurnalis Tempo,
Hanaa Septiana, mendapat keluhan dari pengusaha frozen food yang merugi
lantaran kulkasnya mati. Pada
pekan-pekan pertama pemadaman bergilir, PLN dan pemerintah tak secara
gamblang memberikan penjelasan soal sebab musabab pemadaman listrik. Akhirnya,
pada 19 Juni 2026, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Program
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan ada
gangguan pada dua unit pembangkit listrik besar. Gangguan itu menyebabkan
kemampuan pasokan pada sistem kelistrikan Jawa menurun. “PLN memohon maaf
atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan,” tutur Gregorius. Namun
tim redaksi Ekonomi dan Bisnis Tempo mendapat informasi lain, termasuk soal
cekaknya stok batu bara untuk PLTU sebagai penyebab pemadaman bergilir.
Sejumlah narasumber di kalangan pemerintahan, pengusaha, hingga PLN
bercerita, awal mula menipisnya stok batu bara adalah kebijakan pemerintah
yang memangkas kuota produksi, dari 790 juta ton tahun lalu menjadi 600 juta
ton. Penerbitan rencana kerja dan anggaran biaya atau RKAB yang diajukan
perusahaan batu bara pun telat. Ada pula
cerita kontrak pengadaan batu bara oleh PLN hingga drama seputar rapat
pemegang saham perusahaan setrum pelat merah itu, yang mengagendakan
perombakan direksi. Tentu saja, kami melakukan cross check
informasi-informasi itu kepada narasumber lain yang memiliki kompetensi.
Termasuk dengan meminta tanggapan kepada pihak-pihak terkait, seperti
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PLN. Tak
lupa, liputan kali ini kami lengkapi dengan artikel kolom dari Mohamad
Ikhsan, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga pernah
menjadi komisaris di PLN. Itu
semua kami sertakan agar informasi yang kami suguhkan tidak disebut sebagai
cerita abuleke. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/pemadaman-listrik-pln-esdm-2272110 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar