|
Warisan Arsitek Jiwa Asrul Sani
dalam Film Indonesia Fauzan Zidni : Ketua Umum Badan
Perfilman Indonesia |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Asrul Sani merupakan pembentuk
identitas dan fondasi sinema Indonesia melalui peran gandanya sebagai seniman
intelektual dan arsitek kelembagaan. · Lewat Djam Malam menggabungkan
kedalaman kritik sosial dengan estetika puitis yang Asrul Sani sebut sebagai
konsep insinyur jiwa. · Diperlukan penguatan infrastruktur
hukum untuk melindungi warisan sinematik agar tidak hilang ditelan zaman. DALAM
Festival de Cannes 2012, sebuah film terbaik Indonesia keluaran 1954 dipilih
menjadi pembuka Cannes Classic sebagai bagian dari warisan sinema dunia. Di
situlah saya berkenalan dengan karya Asrul Sani, Lewat Djam Malam. Ini
merupakan hasil kolaborasi paling matang Asrul Sani sebagai penulis skenario
dengan Usmar Ismail sebagai sutradara. Selama
beberapa dekade, film ini nyaris tak bisa dilihat karena salinannya langka.
Lisabona Rahman, Lintang Gitomartoyo, J.B. Kristanto, dan Philip Ceah
merestorasinya di Laboratorium L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italia, bekerja
sama dengan National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation yang
didirikan sutradara Amerika Serikat, Martin Scorsese. Penayangan di Cannes
pada 17 Mei 2012 menjadi pemutaran ulang perdananya. Menonton
Lewat Djam Malam saat itu, saya merasakan sesuatu yang sulit saya rumuskan
dengan tepat: rasa kagum bercampur dengan rasa malu. Kagum karena film itu
terasa sangat hidup, dialognya tajam, karakternya kompleks, kritik sosialnya
tidak pernah basi. Malu karena saya hampir tidak mengenalnya, begitu juga
jutaan orang Indonesia satu generasi sebelum saya. Bukan karena
ketidakpedulian, melainkan akibat tidak ada sistem yang cukup serius untuk
menjaga karya itu tetap bisa dilihat. Insinyur
Jiwa Asrul
Sani masuk dunia film sebagai penyair Angkatan 45, penulis Surat Kepercayaan
Gelanggang pada 1950 yang menyatakan seniman Indonesia sebagai pewaris
kebudayaan dunia, serta penerjemah lebih dari 80 naskah asing untuk panggung
Indonesia. Usmar
Ismail harus membujuknya berkali-kali sebelum ia mau menulis skenario. Begitu
luluh, Sani membawa serta semua perlengkapan intelektualnya: hasil pertukaran
pendidikan drama di Amsterdam, Belanda; dan studi film di University of
Southern California, Amerika Serikat. Dia turut memboyong penguasaan mendalam
atas Sartre hasil dari diskusi dan pentas karya Strindberg, Ibsen, dan
Pirandello bersama grup Sandiwara Penggemar Maya—beranggotakan H.B. Jassin,
Cornel Simanjuntak, Abu Hanifah, Usmar Ismail, dan Rosihan Anwar. Dari
semua itu, Asrul menarik dua prinsip. Pertama, film bekerja melalui pilihan
teknik untuk menyampaikan makna berlapis—gambar, suara, ritme,
keheningan—yang semua argumen moralnya setara dengan baris puisi. Dialog
hanyalah cetak biru. Kedua, film harus menjadi cermin bagi masyarakat yang
berani menampilkan bukan hanya harapan, melainkan juga kecenderungan aktual
dan gagalnya bangsa ini. Asrul
menyebut tugas seni dengan satu frasa: insinyur jiwa. Bukan propaganda dan
bukan hiburan kosong, melainkan medium yang mengubah cara orang melihat diri
dan dunianya, perlahan, melalui narasi, melalui gambar, melalui emosi yang
diperhalus oleh keindahan. Film
yang Tidak Berpura-pura Dalam
Lewat Djam Malam, prinsip itu bekerja penuh. Film ini bercerita tentang
veteran revolusi yang tak bisa menemukan tempatnya di Indonesia merdeka. Ini
bukan film tentang pahlawan, melainkan orang biasa yang kalah oleh kenyataan.
Di era ketika sinema nasional lebih sering merayakan kemerdekaan, Asrul dan
Usmar memilih mempertanyakannya. Lima
belas tahun kemudian, pada 1969, lahir Apa jang Kau Tjari, Palupi?. Asrul
mendiagnosis moral atas masyarakat perkotaan yang mengalami modernisasi tanpa
akar. Palupi meninggalkan suaminya yang idealis untuk mengejar karier aktris
dan gaya hidup Barat. Perjalanannya berupa dekadensi, dari delusi romantis ke
perzinaan dan penghinaan publik. Selanjutnya,
lahir Ateng Mata Keranjang (1975) yang menjadi eksperimen yang disengaja. Di
balik humor fisik Kwartet Jaya, Asrul menyelipkan kritik tentang
neokolonialisme, imperialisme, dan aspek merusak pembangunan Orde Baru.
Sementara itu, Para Perintis Kemerdekaan (1977), film terakhir yang ia
sutradarai sendiri, membuktikan keyakinannya bahwa dakwah dan estetika tidak
harus bertentangan. Film bisa mengajarkan nilai Islam melalui narasi yang
dramatis dan manusiawi, bukan melalui slogan. Perlu
diakui bahwa perfilman Indonesia pada dasarnya lebih banyak berorientasi pada
sutradara sebagai figur utama kreatif. Dalam konteks itu, kontribusi Asrul
Sani justru paling kuat terasa dan paling banyak dalam aspek penulisan
skenario. Titian
Serambut Dibelah Tujuh hadir dua kali dalam perjalanan Asrul. Pertama, ia
sutradarai pada 1959, yang kopinya belum pernah ditemukan lagi. Kemudian
karya itu dihidupkan kembali oleh Chairul Umam pada 1982 dari naskah Asrul.
Dalam film ini, ada pernyataan tegas bahwa beragama adalah panutan moral yang
harus diterapkan secara kritis dan memihak kemanusiaan. Pada
1986, Asrul menghasilkan dua naskah tonggak penting: Kejarlah Daku... Kau Ku
Tangkap dan Naga Bonar. Satu berupa komedi yang mendefinisikan humor
Indonesia selama satu generasi, satu lagi mengangkat semangat kebangsaan
melalui tawa. Arsitek
yang Tidak Berhenti Membangun Kesalahan
umum dalam membaca Asrul adalah melihatnya hanya sebagai seniman. Sebab, ia
juga arsitek utama infrastruktur kelembagaan yang selama beberapa dekade
menentukan wajah perfilman nasional. Melihatnya sebatas seniman berarti
kehilangan separuh hidupnya, sementara melihatnya semata birokrat berarti
kehilangan separuh yang lain. Akademi
Teater Nasional Indonesia ia dirikan bersama Usmar Ismail dan Djadug
Djajakusuma pada 1954 sebagai kawah Candradimuka seniman intelektual
Indonesia baru. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia atau Lesbumi ia bangun
bersama Usmar sebagai sayap kultural Nahdlatul Ulama sebagai garis pertahanan
terhadap Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra yang berafiliasi dengan Partai
Komunis Indonesia, sekaligus bukti bahwa Islam mampu memimpin kebudayaan
nasional yang inklusif. Karyawan
Film dan Televisi Asrul dirikan pada 1964 bersama Usmar dan Misbach Yusa
Biran untuk menempatkan kelas kreatif film dalam arsitektur Golongan Karya,
melindungi industri dari penetrasi komunis sambil memberi sineas kedudukan
kelembagaan untuk membentuk kebijakan. Sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta
(DKJ) 1976-1979, dia menjadikan DKJ simpul intelektual antara seniman dan
pembuat kebijakan. Ketika
menjadi Ketua Dewan Film Nasional, Asrul menerbitkan Pola Dasar Pembinaan dan
Pengembangan Perfilman Nasional pada 1980 dan Kode Etik Produksi Film
Nasional pada 1981. Keduanya sering dibaca semata sebagai instrumen Orde
Baru—dalam batas tertentu memang begitu. Namun
pandangan itu melewatkan apa yang sesungguhnya Asrul lakukan: mengukir visi
ke dalam struktur publik yang tahan lama. Menurut dia, sinema harus melayani
fungsi humanis dan spiritual, bukan sekadar hiburan komersial. Istilah “film
pendidikan-kultural” yang memenuhi kedua dokumen itu adalah bahasa Asrul,
dipinjam dari manifesto yang ia tulis tiga dekade sebelumnya. Ia menjadi
kritikus dari dalam dengan menulis bahaya patronase pemerintah yang mencekik
kreativitas. Warisan
yang Masih Menuntut Saya
menjadi Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia 14 tahun setelah menyaksikan
Lewat Djam Malam di Cannes. Kenangan menjadi pengingat soal apa yang bisa
hilang tanpa sistem. Ironinya menyakitkan: sebagian besar film Asrul hampir
tak bisa diakses oleh publik hari ini. Sepanjang
hidupnya, Asrul membangun karena percaya bahwa karya individual tak bisa
bertahan tanpa infrastruktur. Ia mendirikan rumah untuk film Indonesia. Di
dalamnya, kita tidak boleh membiarkan karya-karyanya hilang tanpa
dilestarikan. Lemahnya
pengaturan teknis dan kejelasan tanggung jawab institusional menyebabkan
preservasi belum menjadi prioritas kebijakan. Kita perlu membentuk lembaga
pelestarian film nasional dengan mandat, kewenangan, dan anggaran yang jelas
dalam revisi Undang-Undang Perfilman yang sedang disusun. Meminjam prinsip
Asrul: lembaga film ada bukan untuk merayakan yang sudah ada, melainkan
menjaga ambang batas dari apa yang seharusnya bisa ada. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/warisan-asrul-sani-film-indonesia-2269012 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar