Jumat, 19 Juni 2026

 

Sentimen Negatif Manuver Dasco

Editorial4 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Sufmi Dasco Ahmad memanggil mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi di tengah melemahnya rupiah dan IHSG.

 

·      Dasco meminta bank-bank negara membeli kembali saham mereka untuk menaikkan IHSG.

 

·      Intervensi politik dan solusi temporer makin membuat kepercayaan investor merosot.

 

LANGKAH Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad memanggil pimpinan sejumlah lembaga negara sektor keuangan makin mempertontonkan buruknya tata kelola di era pemerintahan Prabowo Subianto. Selain mengintervensi kewenangan lembaga eksekutif, tindakan tersebut bisa makin menggerus kepercayaan pasar terhadap pengelolaan perekonomian Indonesia.

 

Dasco mempertemukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo guna membahas kondisi fiskal dan moneter yang membuat nilai tukar rupiah ambruk pada Sabtu dua pekan lalu. Berdalih sekadar memfasilitasi, tapi langkah tersebut melenceng karena posisi Dasco adalah Wakil Ketua DPR bidang politik dan keamanan.

 

Selain itu, pemanggilan Gubernur Bank Indonesia bisa dianggap sebagai intervensi terhadap bank sentral. Apalagi konstitusi menegaskan Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen dan bebas dari campur tangan pemerintah ataupun pihak lain.

 

Pelbagai upaya yang dapat dinilai mengintervensi Bank Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Jika independensi bank sentral diganggu, kredibilitas perekonomian Indonesia bisa remuk. Selama ini independensi bank sentral menjadi jangkar kepercayaan investor terhadap Indonesia. Investor bisa tak lagi percaya Bank Indonesia dapat mengeluarkan kebijakan moneter yang obyektif kalau mudah diintervensi.

 

Respons negatif pasar ketika independensi bank sentral diganggu sudah terlihat saat keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas A.M. Djiwandono, dipilih menjadi Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia pada awal Februari 2026. Terpilihnya Thomas memantik pertanyaan: apakah Bank Indonesia bisa tetap independen sebagai otoritas moneter? Kepercayaan pasar pun goyah. Ketika itu Indeks Harga Saham Gabungan langsung terseret ke zona merah dan rupiah melemah. 

 

Tidak cuma mengganggu independensi bank sentral, tindakan Dasco memanggil Perry Warjiyo juga menerabas kewenangan lembaga lain. Ada Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang bertugas memantau stabilitas sistem keuangan dan menangani krisis sistem keuangan. Anggotanya terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan. Artinya, segala rupa urusan koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas keuangan dibahas di KSSK, bukan di gedung parlemen.

 

Dasco sudah berulang kali campur tangan dalam urusan eksekutif dengan memanggil lembaga pemerintah sektor keuangan. Kejadian terakhir, dia memanggil pemerintah, perwakilan Himpunan Bank Milik Negara, Perhimpunan Bank Nasional, Daya Anagata Nusantara, dan Indonesia Investment Authority untuk membahas kinerja saham perbankan. Hasil pertemuan tersebut, muncul rencana pembelian kembali saham-saham perusahaan negara yang tercatat di bursa.

 

Dalam persamuhan tersebut, Dasco mengaburkan tugasnya di lembaga legislatif sebagai pengawas. Alih-alih mengawasi, dia justru tampil mengambil bagian sebagai eksekutif. Dia lebih menunjukkan peran sebagai Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra yang merupakan partai berkuasa ketimbang sebagai pemimpin DPR.

 

Berbagai manuver Dasco sejauh ini belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Sebaliknya, hal itu justru mengirim sinyal bahwa kebijakan moneter dan fiskal didominasi kepentingan politik ketimbang teknokrasi. Namun yang pasti pelbagai langkah bisa menjadi blunder besar di tengah derasnya kekhawatiran akan kesinambungan fiskal dan arah kebijakan ekonomi nasional.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/tangan-dasco-mengurus-ekonomi-2269040

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar