|
Sentimen
Negatif Manuver Dasco Editorial4
: Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Sufmi Dasco Ahmad memanggil
mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi di tengah melemahnya rupiah dan
IHSG. · Dasco meminta bank-bank negara membeli
kembali saham mereka untuk menaikkan IHSG. · Intervensi politik dan solusi temporer
makin membuat kepercayaan investor merosot. LANGKAH
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad memanggil pimpinan
sejumlah lembaga negara sektor keuangan makin mempertontonkan buruknya tata
kelola di era pemerintahan Prabowo Subianto. Selain mengintervensi kewenangan
lembaga eksekutif, tindakan tersebut bisa makin menggerus kepercayaan pasar
terhadap pengelolaan perekonomian Indonesia. Dasco
mempertemukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Gubernur Bank
Indonesia Perry Warjiyo guna membahas kondisi fiskal dan moneter yang membuat
nilai tukar rupiah ambruk pada Sabtu dua pekan lalu. Berdalih sekadar
memfasilitasi, tapi langkah tersebut melenceng karena posisi Dasco adalah
Wakil Ketua DPR bidang politik dan keamanan. Selain
itu, pemanggilan Gubernur Bank Indonesia bisa dianggap sebagai intervensi
terhadap bank sentral. Apalagi konstitusi menegaskan Bank Indonesia adalah
lembaga negara yang independen dan bebas dari campur tangan pemerintah
ataupun pihak lain. Pelbagai
upaya yang dapat dinilai mengintervensi Bank Indonesia tidak bisa dianggap
remeh. Jika independensi bank sentral diganggu, kredibilitas perekonomian
Indonesia bisa remuk. Selama ini independensi bank sentral menjadi jangkar
kepercayaan investor terhadap Indonesia. Investor bisa tak lagi percaya Bank
Indonesia dapat mengeluarkan kebijakan moneter yang obyektif kalau mudah
diintervensi. Respons
negatif pasar ketika independensi bank sentral diganggu sudah terlihat saat
keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas A.M. Djiwandono, dipilih menjadi
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia pada awal Februari 2026. Terpilihnya
Thomas memantik pertanyaan: apakah Bank Indonesia bisa tetap independen
sebagai otoritas moneter? Kepercayaan pasar pun goyah. Ketika itu Indeks
Harga Saham Gabungan langsung terseret ke zona merah dan rupiah melemah. Tidak
cuma mengganggu independensi bank sentral, tindakan Dasco memanggil Perry
Warjiyo juga menerabas kewenangan lembaga lain. Ada Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) yang bertugas memantau stabilitas sistem keuangan dan
menangani krisis sistem keuangan. Anggotanya terdiri atas Kementerian
Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan. Artinya, segala rupa
urusan koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas keuangan dibahas
di KSSK, bukan di gedung parlemen. Dasco
sudah berulang kali campur tangan dalam urusan eksekutif dengan memanggil
lembaga pemerintah sektor keuangan. Kejadian terakhir, dia memanggil
pemerintah, perwakilan Himpunan Bank Milik Negara, Perhimpunan Bank Nasional,
Daya Anagata Nusantara, dan Indonesia Investment Authority untuk membahas
kinerja saham perbankan. Hasil pertemuan tersebut, muncul rencana pembelian
kembali saham-saham perusahaan negara yang tercatat di bursa. Dalam
persamuhan tersebut, Dasco mengaburkan tugasnya di lembaga legislatif sebagai
pengawas. Alih-alih mengawasi, dia justru tampil mengambil bagian sebagai
eksekutif. Dia lebih menunjukkan peran sebagai Ketua Harian Dewan Pimpinan
Pusat Partai Gerindra yang merupakan partai berkuasa ketimbang sebagai
pemimpin DPR. Berbagai
manuver Dasco sejauh ini belum mampu mengembalikan kepercayaan pasar.
Sebaliknya, hal itu justru mengirim sinyal bahwa kebijakan moneter dan fiskal
didominasi kepentingan politik ketimbang teknokrasi. Namun yang pasti
pelbagai langkah bisa menjadi blunder besar di tengah derasnya kekhawatiran
akan kesinambungan fiskal dan arah kebijakan ekonomi nasional. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/tangan-dasco-mengurus-ekonomi-2269040 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar