|
Senat-senut
Stok BBM Cekak Fery Firmansyah
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026
|
· Di Lumajang dan Jombang, Jawa Timur,
antrean sepeda motor hingga truk terjadi di banyak SPBU. · Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar
Parawansa datang ke Jakarta meminta kepastian soal pasokan di daerahnya. · Kenaikan harga minyak dan lesunya
rupiah membuat kita makin terdesak. BANYAK
kejadian menjelang akhir tahun ini. Unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat sipil
meledak di mana-mana, dibalas dengan aksi tandingan “mahasiswa” plus para
artis dan pemengaruh yang dekat dengan penguasa. Di tengah situasi itu,
masyarakat di beberapa daerah pusing karena harus antre membeli bahan bakar
minyak. Stok bahan bakar bersubsidi seperti solar dan Pertalite rupanya menipis
dan sempat hilang di sejumlah tempat. Setelah
Bali mengalami kelangkaan di awal Oktober 2026, menjelang akhir bulan,
giliran Jawa Timur yang merana. Di Lumajang dan Jombang, antrean sepeda motor
hingga truk terjadi di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum. Gubernur
Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bahkan datang ke Jakarta menemui para
pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk meminta kepastian
soal pasokan di daerahnya. Jurnalis
Tempo di beberapa daerah pun bergerak. Mereka mencari informasi dan
mereportasekan, melihat apa yang terjadi di SPBU dan pusat-pusat distribusi
bahan bakar di sejumlah daerah. Sejumlah informasi yang kami peroleh
menyebutkan kelangkaan bahan bakar bisa jadi merembet ke daerah lain. Seperti
rembesan air, genangan di Jawa Timur boleh jadi di kemudian hari meresap ke
Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, dan Banten. Solusi satu-satunya agar
kelangkaan tak meluas tentu adalah menambah stok, baik dari kilang domestik
maupun impor. Masalahnya, apakah duit untuk membelinya ada? Apakah masih ada
sisa anggaran subsidi yang bisa digelontorkan? Di titik
ini, keterpaduan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan
Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, serta PT Pertamina (Persero) selaku
penyedia pasokan menjadi krusial. Masalahnya, banyak pertanyaan yang muncul,
termasuk dari pemerintah daerah, soal transparansi data kuota pasokan bahan
bakar bersubsidi untuk setiap wilayah. Demikian pula soal kecukupan
anggarannya. Tim kami
mendapatkan sejumlah informasi ihwal kecukupan pasokan bahan bakar
bersubsidi, seperti solar dan Pertalite. Ada pula data yang menunjukkan
proyeksi atau perhitungan Kementerian Keuangan ihwal berbagai skenario,
antara lain dengan variabel harga minyak dunia dan nilai tukar dolar Amerika
Serikat. Jangan terkejut jika nanti muncul angka proyeksi belanja yang sangat
besar. Kondisi
semacam ini tak bisa dihindari, mengingat harga minyak kian tinggi dan
pasokannya terancam seret. Penyebabnya apalagi jika bukan konflik di Timur
Tengah yang seolah-olah tak berjeda? Di sisi lain, kurs rupiah kian anjlok.
Penyebabnya sudah sering kami tuliskan di edisi mingguan ataupun harian.
Kombinasi kenaikan harga minyak dengan lesunya rupiah membuat kita makin
terdesak. Apakah bahan bakar masih akan tersedia pada akhir tahun? ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/senut-senut-akibat-kelangkaan-stok-bahan-bakar-minyak--2302949 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar