|
Kuliah Gratis Maju Kena, Mundur Kena Nurhattati Fuad : Anggota Dewan Pendidikan Nasional. |
MEDIA INDONESIA, 29 Oktober 2026
|
JANJI Presiden Prabowo pada 18 September 2026
untuk menggratiskan SD hingga PTN terdengar mulia, populis, dan disambut
gembira. Namun, bagi pembuat kebijakan, itu dilema klasik: maju kena, mundur
kena. Dilema pertama, akses dijanjikan, tetapi
kemampuan keuangan terbatas. Dari mana dananya? Anggaran pendidikan 2026
sebesar Rp769,1 triliun, atau 20% APBN, tetapi dipadati gaji guru, transfer
ke daerah, bantuan pendidikan, hingga makan bergizi gratis (MBG). Ruang untuk
membiayai PTN gratis semakin sempit. Belum lagi beban utang. Pada 2027, bunga utang
diproyeksikan Rp650 triliun dan pokok jatuh tempo Rp800 triliun. Jika kuliah
gratis dibiayai utang baru, negara menyelesaikan masalah hari ini dengan
menciptakan masalah baru. Tagihannya diwariskan kepada generasi mendatang.
Maju membebani APBN, mundur dianggap mengabaikan amanat mencerdaskan bangsa. Dilema kedua, penggratisan PTN berpotensi memukul
perguruan tinggi swasta (PTS). Hampir 4.000 PTS menampung lebih dari 60 %
mahasiswa. Jika PTN digratiskan tanpa pengaturan daya tampung dan
perlindungan PTS, persaingan timpang. PTS kecil di daerah terancam kehilangan
mahasiswa, bahkan tutup. Ironis: perluasan akses justru dapat menghancurkan
lembaga yang selama ini membantu negara. GRATIS, TETAPI APA DAMPAKNYA? Risiko berikutnya menyangkut mutu dan dampak
sosiopsikologis. David McClelland melalui teori need for achievement
menekankan pentingnya tantangan, tanggung jawab, dan dorongan berprestasi.
Kuliah gratis tidak otomatis membuat mahasiswa malas. Namun, jika diikuti
seleksi longgar, standar lemah, dan minim tuntutan akademik, komitmen,
ketekunan, serta semangat juang dapat terkikis. Kuliah menjadi fasilitas,
bukan tanggung jawab. Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (1977)
mengkritik mentalitas jalan pintas dan lemahnya tanggung jawab. Bukan
gambaran seluruh bangsa, melainkan peringatan agar negara tak memelihara
budaya serbamudah. Jika biaya dihapus tanpa penguatan budaya akademik,
bagaimana mencegah putus kuliah, keterlambatan studi, dan rendahnya prestasi? Jerman dan Norwegia menopang subsidi dengan
pendanaan dan standar akademik kuat; Tiongkok dan India mengembangkan
beasiswa kompetitif. Pelajarannya: pendidikan boleh gratis, tetapi mutu,
disiplin, dan prestasi tidak boleh ditawar. GRATIS YANG TIDAK BERKEADILAN Menggratiskan seluruh mahasiswa PTN berisiko
menciptakan subsidi salah sasaran. Anak keluarga kaya menerima fasilitas sama
dengan anak buruh dan petani. Mereka pun lebih mudah mengakses sekolah
bermutu dan persiapan seleksi. Uang rakyat justru dapat lebih banyak
dinikmati mereka yang lebih mudah memasuki PTN. Itukah keadilan sosial? Solusinya bukan menolak gratis, melainkan
merancangnya secara adil. Pertama, gratiskan pendidikan dasar dan menengah
secara nyata. Negara wajib menjamin pendidikan dasar tanpa pungutan, termasuk
melalui sekolah swasta yang memenuhi ketentuan. Perluas bertahap hingga
SMA/SMK bagi keluarga miskin. Jangan melompat ke PTN sebelum layanan dasar
terpenuhi. Kedua, terapkan kuliah gratis progresif dan
bersyarat. Mahasiswa miskin, terutama desil 1-3, dibebaskan UKT dan dibantu
biaya hidup. Keluarga mampu membayar secara proporsional. Bantuan disertai
tanggung jawab akademik, kemajuan studi, dan pengabdian sosial, misalnya di
daerah 3T. Subsidi ialah investasi, bukan hadiah cuma-cuma. Ketiga, selamatkan PTS. Negara dapat membiayai
mahasiswa miskin berkuliah di PTS berkualitas. Brasil melalui Pro-Uni memberi
contoh beasiswa di PTS dengan insentif fiskal. Mengapa harus membangun kampus
baru jika kapasitas swasta masih tersedia? Keempat, perkuat dana abadi pendidikan seperti
LPDP, dikelola transparan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang. Jangan
terus menggantungkan pendidikan pada utang. BUKA LAPANGAN KERJA Pertanyaan terpenting: untuk apa negara
memperbanyak sarjana jika lapangan kerja tidak tersedia? Setiap tahun kampus
meluluskan generasi muda, tetapi pekerjaan layak belum tumbuh sebanding.
Banyak sarjana menganggur, bekerja di luar keahlian, atau berupah rendah.
Kuliah gratis massal tanpa perluasan pekerjaan berisiko menambah pengangguran
terdidik. Orientasi kebijakan perlu dikoreksi. Tugas negara
bukan sekadar membiayai ijazah, melainkan juga menyediakan ruang agar ilmu
dan keterampilan dapat digunakan untuk bekerja, berkarya, dan hidup
bermartabat. Pemerintah seharusnya memprioritaskan industrialisasi padat
karya, penguatan UMKM, ekonomi kreatif, kewirausahaan, dan investasi penyerap
tenaga kerja. Kuliah gratis diarahkan terutama kepada mereka yang
membutuhkan. Pendidikan gratis ialah cita-cita mulia. Namun,
jangan sampai kita mewariskan kampus gratis yang rapuh, murah tetapi miskin
mutu, dan generasi berijazah tanpa pekerjaan. Pemerintah lebih tepat membuka
lapangan kerja daripada menggratiskan pendidikan tinggi secara merata. Jangan
sampai negara murah hati mencetak sarjana, tetapi gagal menyediakan masa
depan mereka. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/949815/kuliah-gratis-maju-kena-mundur-kena
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar