|
Murah Rukun Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 31 Oktober 2026
''Perang'' asap
dan gas akan selesai oleh waktu.
''Perang'' jalur internet agak ruwet:
bisa merugikan Indonesia –termasuk di mata dunia.
Kabel fiber
optic antara Australia-Singapura memang melewati Indonesia. Tepatnya lewat
Selat Sunda. Kabel itu bermula di pantai barat Australia, Perth, digelar ke
arah barat. Pendaratan pertamanya di pulau kecil di selatan Cianjur: pulau
Christmas, milik Australia. Dari situ belok ke utara ke arah Ujung Kulon,
Banten. Kabelnya mampir landing di situ. Dari titik itulah Indonesia bisa
mengaksesnya. Lalu bisa tersambung ke Australia, Singapura, Hong Kong, Jepang,
dan Amerika –juga ke belahan mana pun di dunia. Tersambung juga ke jaringan
fiber optic ke seluruh Indonesia.
Setelah mampir
Banten kabel itu lanjut ke Singapura, tersambung ke mana-mana.
Jaringan
Australia-Singapura itu disebut jalur ASC –Australia Singapura Cable. Sudah
direncanakan sejak tahun 2010-an tapi baru mulai dikerjakan tahun 2013-an.
Dalam lima tahun proyek sepanjang 4.600 km itu selesai: mulai beroperasi 2018.
Biayanya tidak
semahal yang kita bayangkan: hanya 170 juta dolar. Itu berkat berkembangnya
penggunaan fiber optic di seluruh dunia –membuat harganya kian murah, pun untuk
ukuran penilaian Disway.
Di bidang
teknologi penggelaran kabel bawah laut juga terus maju. Ada kapal khusus yang
spesialisasinya memang memasang kabel bawah laut. Bahkan untuk pemasangan kabel
listrik bawah laut antara Ternate-Tidore atau Batam-Bintan tidak perlu kapal
besar.
Apakah
Indonesia bisa ''mengganggu'' jaringan ASC itu?
Teoritis bisa.
Bisa secara fisik –merusak kabelnya– bisa juga secara operasional. Tinggal
kirim pasukan khusus ke pantai Banten.
Tapi itu
berbahaya. Indonesia memang tidak takut siapa pun. Juga tidak bisa
diancam-ancam. Tidak bisa ditekan.
Kalau Singapura
serius akan mengganggu akses internet ke Indonesia sebenarnya kita cukup
mengelus dada: peradaban Singapura ternyata hanya serendah itu. Mungkin karena
kayanya belum lama sehingga peradabannya masih primitif.
Tentu sebaiknya
kita tidak membalas lewat cara yang sama –hanya akan memperlihatkan bahwa
peradaban kita masih sama.
Perusuh Disway
di Denmark, Bung Liang sudah mengingatkan konsekuensi internasionalnya. Memang
untuk kesengajaan mengganggu secara operasional
hukum internasionalnya belum sejelas kalau melakukan perusakan secara
fisik. Tapi hasil dari dari tindakan membalas sikap Singapura itu tidak sepadan
dengan rusaknya reputasi Indonesia di mata internasional.
Lebih baik
Indonesia ''membalas'' dengan cara elegan: bagaimana bisa melakukan perdagangan
dengan negara lain tanpa lewat jasa broker Singapura.
Kelihatannya
pemerintah Presiden Prabowo sudah mengarah ke sana. Jangan sampai dikotori oleh
langkah-langkah emosional.
Berdagang tanpa
lewat broker Singapura pun tidak usah diniatkan untuk menghajar Singapura.
Untuk apa. Hanya bikin sakit hati orang lain. Cukuplah niatnya suci: murni
mencari nilai tambah sebanyak-banyaknya untuk kepentingan diri sendiri.
Pembentukan PT
Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) bulan Mei lalu –tepat di hari
Kebangkitan Nasional– rasanya untuk itu: agar pemilik kebun kelapa sawit tidak
bisa menjual minyak sawitnya ke perusahaan mereka sendiri di Singapura, lalu
menjual ke negara lain dengan harga lebih mahal.
Pun para
pemilik tambang batu bara dan tambang lainnya.
Harusnya
tinggal dua bulan lagi masa transisi PT DSI berakhir. Tanggal 1 Januari 2027
seluruh ekspor hasil bumi harus lewat DSI –kalau jadi.
Mungkin
Singapura tidak hanya perlu bergegas membangun nuklir, tapi juga membangun
kabel bawah laut baru dari Singapura ke Australia lewat Filipina dan Papua
Nugini. Semoga tidak ada konflik masa depan dengan Filipina.
Atau dari
Singapura, Sri Lanka, Australia. Jauh sekali tapi lebih aman –asal tidak ada
konflik masa depan dengan Sri Lanka.
Jepang tidak
punya persoalan itu. Antara Jepang-Amerika digelar banyak sekali kabel bawah
laut –melewati Samudera Pasifik– mampir di Hawaii. Pun antara Korea
Selatan-Amerika. Juga antara Australia-Amerika.
Bagi Singapura
ada gangguan di Banten pun sebenarnya bukan persoalan besar:
Singapura-Australia bisa dialihkan lewat Hong Kong-Jepang-Hawaii-Australia.
Atau kalau mau lebih dekat: Singapura, Filipina, Hawaii, Australia.
Jarak, bagi
kabel optik sama sekali bukan masalah.
Rukun ternyata
lebih murah dari pada tidak rukun. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976605/murah-rukun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar