|
Aksi Demo Gen Z dan Paradoks Eropa Darmansjah
Djumala : Dewan Pakar
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar
Negeri dan Dosen Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. |
KOMPAS.COM, 07 November 2026
|
API menyala di jalanan Eropa, membubungkan amarah anak muda
kepada pemerintah. Mobil dibakar, etalase toko dipecah, fasilitas umum luluh
lantak. Barikade berduri dipasang menjulang ketika massa berbenturan
dengan polisi di sejumlah kota besar. Di balik asap dan bara api kerusuhan itu, ada pesan yang sama
dari Paris hingga Berlin: negara lalai mendengar rakyatnya. Tiga pekan berturut-turut, aksi demo serupa merebak ke Jerman,
Portugal, Belanda, Italia, Spanyol, Belgia, hingga Albania. Umumnya para pendemo—banyak di antaranya pelajar dan pekerja
muda—menolak kenaikan biaya hidup, menuntut perbaikan pelayanan pendidikan
dan perumahan, serta menentang kembalinya wajib militer. Gelombang ini bukan sekadar rangkaian protes lokal yang kebetulan
terjadi bersamaan. Lebih serius dari itu, demo berjilid-jilid itu adalah
sinyal krisis legitimasi. Eropa yang secara ideal-formal menjanjikan kemakmuran dan
solidaritas justru gagal menjawab kecemasan generasi muda akan masa depan.
Ada apa dengan Eropa? Tuntutan pendemo memang beragam. Di Perancis, misalnya, demo
berawal dari Gen-Z yang menuntut perbaikan gedung sekolah yang rusak,
kekurangan guru, dan perubahan sistem penerimaan universitas. Di Italia, aksi serikat pekerja dan mahasiswa menuntut kenaikan
upah, pelayanan publik yang lebih baik, serta penolakan terhadap peningkatan
belanja militer. Di balik perbedaan tuntutan itu, ada benang merah yang jelas:
biaya hidup yang tinggi dan hilangnya kepercayaan terhadap negara. Selain menuntut perbaikan pelayanan sosial, para pendemo
menggugat agar pejabat publik mendengar mereka. Muncul pertanyaan: mengapa terjadi serempak di beberapa negara?
Tanpa harus terjebak pada persepsi spekulatif bahwa ada agenda konspirasi,
dugaan yang lebih rasional-obyektif bisa dikedepankan. Haru biru demo Gen-Z meruak ke beberapa negara karena kondisi
struktural di negara-negara Eropa itu sendiri: inflasi yang menggerus daya
beli, upah yang stagnan, krisis perumahan di kota-kota besar, layanan publik
yang melemah, serta kekecewaan pada negara yang lebih sibuk dengan disiplin
fiskal dan kalkulasi geopolitik daripada kesejahteraan warganya. Ilmuwan hukum Eropa, Alberto Alemanno berkata, meski pemantik
protes berbeda antarnegara, ada kesamaan perasaan anak muda Eropa yang
tersimpul dalam satu kekecewaan: kontrak sosial antara rakyat dan negara
sudah rusak (Alberto Alemanno, What Europe’s Young Protesters Share,
Substack, 19 Oktober 2026). Dalam Preambule Treaty on European Union (Perjanjian Maastricht)
ditegaskan komitmen negara-negara anggota terhadap “hak-hak sosial
fundamental” sebagaimana dijamin dalam European Social Charter 1961 dan
Community Charter of the Fundamental Social Rights of Workers 1989. Komitmen itu menempatkan kesejahteraan sosial sebagai fondasi
proyek integrasi Eropa: hak atas pekerjaan yang layak, perlindungan sosial,
pendidikan, perumahan, serta kondisi hidup yang memungkinkan warga menjalani
kehidupan bermartabat. Dalam misi ideal itu, Uni Eropa diharapkan tidak sekadar pasar
bersama, tapi komunitas politik yang menjanjikan solidaritas dan kohesi
antarnegara serta antarwarga. Tuntutan anak muda dalam gelombang protes akhir-akhir ini dapat
dibaca sebagai batu uji atas janji tersebut. Mereka menuntut sekolah yang layak dan guru yang cukup, rumah
yang terjangkau, layanan kesehatan memadai, upah mencukupi, serta kepastian
akan masa depan. Ketika perumahan di kota-kota besar semakin mahal, kelas penuh,
layanan publik memburuk, dan pekerjaan semakin tidak pasti, cita-cita hak
sosial fundamental seperti ditahbiskan dalam Maastricht Treaty terasa menjauh
dari kenyataan hidup sehari-hari Gen-Z Eropa. Terasa ada paradoks di sini. Janji ideal dalam Maastricht Treaty
jauh dari realitas sosial yang dihadapi oleh anak muda Eropa. Perjanjian itu menjanjikan solidaritas dan jaminan hak-hak
sosial-ekonomi, sementara demonstran merasakan ketimpangan dan
ketidakpastian. Pada titik ini aksi demo Gen-Z bukan lagi sekadar protes terhadap
kebijakan pemerintah, tetapi sudah menjadi peringatan bagi Uni Eropa bahwa
legitimasi entitas regional itu diukur dari sejauh mana janji sosialnya
seperti termaktub dalam Maastricht Treaty benar-benar diwujudkan dalam
kehidupan warganya. Pada titik itulah paradoks Eropa semakin nyata. Maastricht
melahirkan proyek Eropa yang berbasis pada solidaritas, kohesi
ekonomi-sosial, dan perlindungan hak sosial. Namun, tiga dekade kemudian, kehidupan anak muda malah
sebaliknya: Maastricht Treaty yang menjanjikan Eropa sebagai ruang
solidaritas, Gen-Z merasakan Eropa justru sebagai ruang persaingan: antara
kota dan desa, antara pemilik properti dan penyewa, antara generasi tua yang
memiliki aset dan generasi muda yang harus menyewa, serta antara warga yang
tertekan biaya hidup dan negara yang dianggap tidak responsif. Meski ada paradoks antara cita dan realita dalam kehidupan di
Eropa, bukan berarti integrasi Eropa seperti diamanatkan Maastricht Treaty
gagal. Integrasi Eropa telah memperluas mobilitas, perdagangan, dan
kerja sama. Namun, demo Gen-Z menunjukkan bahwa solidaritas tidak boleh
berhenti pada dokumen perjanjian atau mekanisme pasar tunggal. Ia harus hadir dalam kebijakan konkret: perumahan sosial,
pendidikan memadai, perlindungan pekerja, dan distribusi manfaat integrasi
yang lebih adil. Tekanan biaya hidup yang dialami Gen-X di Eropa diperparah oleh
isu migrasi, baik eksternal maupun internal Uni Eropa. Dalam dimensi eksternal, arus pengungsi dan pencari kerja yang
datang dari Suriah, Afghanistan, Ukraina, Sudan, Maroko, Mesir, Bangladesh,
Pakistan, dan Turkiye menambah tekanan pada perumahan, sekolah, layanan
kesehatan, dan pasar kerja lokal. Pekerja migran memang dapat mengisi tenaga kerja yang menyusut,
membayar pajak, dan mengisi kebutuhan pekerja kasar. Namun, mereka juga menambah permintaan atas perumahan, sekolah,
dan layanan kesehatan yang memburuk. Dalam dimensi internal, kebebasan bergerak warga Uni Eropa
menciptakan mobilitas baru yang menimbulkan masalah sosial. Di Portugal dan Spanyol, masuknya pensiunan Eropa, pekerja remote
atau digital nomad mendorong naiknya harga sewa rumah. Jutaan tenaga kerja terampil dan muda dari Eropa Timur - seperti
Polandia, Rumania, dan Albania - berbondong-bondong pindah ke Eropa Barat
demi upah yang lebih kompetitif. Ini juga menambah tekanan pada harga perumahan dan pelayanan
kesehatan. Akumulasi kekecewaan pada pemerintah dalam menyediakan layanan
publik membuat Gen-Z marah. Gelombang aksi demo Gen-Z di berbagai negara Eropa memperlihatkan
ketidakpuasan mendalam atas paradoks antara cita-cita ideal Maastricht Treaty
dan realitas sosial-ekonomi yang mereka hadapi. Perjanjian itu berisi komitmen terhadap hak-hak sosial
fundamental serta solidaritas sesama negara anggota. Namun, bagi banyak anak muda, cita-cita ideal itu semakin kabur.
Ini momentum bagi Eropa untuk melakukan kaji ulang kebijakannya, bagaimana
hak-hak sosial fundamental diterjemahkan menjadi perumahan terjangkau,
pendidikan berkualitas, perlindungan pekerja, layanan publik yang kuat, dan
pengelolaan migrasi yang adil. Jika janji solidaritas Maastricht tidak segera diwujudkan dalam
kehidupan nyata generasi muda, jalanan Eropa kemungkinan akan terus menjadi
ruang tempat mereka menyuarakan tuntutan itu dengan bara api demontrasi lagi. Entah sampai kapan api demo Gen-Z itu akan padam. ● |
Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2026/11/07/060000070/aksi-demo-gen-z-dan-paradoks-eropa?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar