|
BENDERA MERAH PUTIH YANG TERKOYAK DI PERAHU AYAHNYA -
Pengantar Buku Rumah Itu Bernama Indonesia (Arisan Puisi Esai, 2026) Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 31 Oktober 2026
|
Di
Temajuk, Kalimantan Barat, seorang anak meminta ayahnya memasang Merah Putih
di perahu. Semalam, ibunya menjahit bendera yang terkoyak, seolah merawat
anggota keluarga. Sang
ayah tersenyum. Sebelum kamera anaknya memotret, diam-diam ia menyembunyikan
tagihan solar. Ia ingin kemiskinannya tidak ikut masuk ke dalam foto
kebanggaan itu. Bendera
kembali berkibar. Tetapi siapa yang akan menjahit kehidupan keluarga nelayan
yang terkoyak? Mereka terus mencintai Indonesia, meski setiap hari harus
berjuang mempertahankan martabatnya. -000- Kisah
itu hadir dalam puisi esai Bendera di Perahu Bapak, karya Nita Lusaid, yang
membuka antologi Rumah Itu Bernama Indonesia. Buku
ini mengajak kita memasuki Indonesia yang jarang menjadi pusat pidato
kenegaraan. Indonesia di perahu nelayan, ruang kelas sederhana, rumah miskin,
hingga hutan yang terluka. Di
sana, nasionalisme bukan sekadar bendera dan lagu kebangsaan. Ia hadir dalam
kehidupan manusia yang mencintai tanah air, tetapi masih menunggu keadilan. Antologi
terbitan Cerah Budaya International, Oktober 2026, ini menghimpun 38 karya
dalam enam kelompok tematik, ditulis oleh delapan belas penulis. Mereka
adalah Adhiyaksa S. Goma, Anggun Julia, Dhenok Kristianti, Dindin Moh
Saepudin, Esa Varau Rossain, Eva Mulusia Anies, Fika Asfia, dan Fitri Rizqy
Hilda Sari. Hadir
pula Muhammad Ghonim Diah, Haifa Shakayla, Ena Manal Ahmad, Mohamad Farhan,
Winarmi Dailami, Nita Lusaid, Rachel Azzahra Putri, Saskia Ubaidi, Shavira
Sukma Cahyani, dan Zulri Ramadhan. Buku
ini lahir melalui Komunitas Arisan
Puisi Esai, yang diinisiasi Denny JA Foundation, dengan Dhenok Kristianti
sebagai mentor sekaligus editor dan Nita Lusaid sebagai penanggung jawab
kegiatan. Dhenok
mengisahkan perjalanan mendampingi para penulis, dari keraguan menuju
keberanian berkarya. Melalui riset dan revisi, mereka belajar mempertemukan
ketelitian fakta dengan kepekaan manusia. Baginya,
antologi ini menjadi cermin Indonesia. Nasionalisme tidak cukup berhenti pada
kebanggaan, tetapi juga memerlukan keberanian menyuarakan ketidakadilan dan
membela mereka yang terlupakan. Nita,
dalam refleksinya Menata Hati Melalui Arisan Puisi Esai, memperlihatkan
bagaimana perjumpaan hangat berkembang menjadi komunitas kreatif yang belajar mendengarkan
penderitaan sesama. Arisan
yang semula mengingatkan kita pada persahabatan dan kegembiraan bersama kini
memperoleh makna baru. Ia menjadi ruang belajar untuk memperluas kepedulian
sosial. Para
penulis datang membawa pengalaman berbeda. Mereka pulang membawa kepekaan
baru, kesadaran bahwa kehidupan orang lain juga menyimpan persoalan yang
layak diperjuangkan. -000- Dari Bendera Menuju Martabat Manusia Ada
satu pertanyaan besar yang mengalir sepanjang antologi ini. Apakah mencintai
negara cukup dibuktikan dengan kesetiaan, atau juga menuntut keberanian
memperbaiki ketidakadilan? Seorang
nelayan yang kesulitan membeli solar tidak kurang nasionalis dibanding
pejabat yang berpidato tentang kedaulatan. Mereka mencintai Indonesia melalui
keadaan berbeda. Namun,
hubungan rakyat dengan negara mengandung tanggung jawab timbal balik. Rakyat
menjaga republik melalui kesetiaan, sedangkan kekuasaan wajib menjaga rakyat
melalui keadilan. Bendera,
lagu kebangsaan, dan upacara kemerdekaan tetap penting. Tetapi kebanggaan
simbolik menjadi lebih bermakna ketika disertai kesempatan hidup layak bagi
seluruh warga. Di
sinilah antologi ini memperluas pengertian nasionalisme. Kritik yang lahir
dari kepedulian bukanlah pengkhianatan, melainkan undangan memperbaiki rumah
yang kita cintai. Nasionalisme
yang matang tidak meminta rakyat menutup mata terhadap kekurangan. Ia justru
membutuhkan keberanian mengakui persoalan tanpa kehilangan keyakinan pada
masa depan. Buku
ini juga memperlihatkan bagaimana puisi esai mempertemukan dua dunia yang
sering terpisah: fakta sosial yang terukur dan pengalaman batin yang tidak
selalu terlihat. Statistik
dapat menunjukkan jumlah anak yang meninggalkan sekolah. Tetapi sebuah cerita
memperlihatkan bagaimana seorang anak melipat seragam sambil menguburkan
cita-citanya sendiri. Data
memberi kita ukuran persoalan. Sastra memberi persoalan itu wajah. Namun,
nilai terdalam antologi ini terletak pada sesuatu yang lebih luas. Ia ikut
membangun apa yang selama ini saya sebut sebagai Arsip Batin Bangsa. -000- Puisi Esai sebagai Arsip Batin Bangsa Setiap
bangsa mempunyai arsip resmi. Di sana tersimpan undang-undang, keputusan
politik, statistik pembangunan, catatan peperangan, dan peristiwa yang
dianggap menentukan perjalanan sejarah. Tetapi
manusia tidak hanya hidup dalam keputusan besar. Mereka juga hidup dalam
ketakutan, kehilangan, harapan, kesunyian, dan keberanian yang jarang
tercatat. Sejarah
mungkin mencatat kapan kerusuhan terjadi. Namun, siapa mencatat kegelisahan
seorang ibu yang menunggu anaknya pulang ketika jalanan dipenuhi api? Laporan
ekonomi dapat menghitung kerugian nelayan. Tetapi siapa menyimpan rasa malu
seorang ayah yang menyembunyikan tagihan solar dari kamera anaknya sendiri? Di
sinilah sastra menemukan salah satu panggilan terpentingnya. Ia membantu
menyimpan pengalaman batin manusia yang sering terjatuh dari halaman sejarah
resmi. Arsip
Batin Bangsa adalah ingatan kolektif tentang bagaimana rakyat mengalami
peristiwa sejarah, bukan sekadar catatan mengenai apa yang terjadi. Arsip
resmi membantu sebuah bangsa mengingat peristiwa. Arsip batin membantu bangsa
memahami manusia yang berada di dalamnya, beserta luka dan harapan mereka. Keduanya
tidak saling menggantikan. Justru ketika dipertemukan, sejarah memperoleh
kedalaman moral, sementara sastra mendapatkan pijakan kenyataan yang dapat
diperiksa secara bertanggung jawab. Gagasan
ini bukan lahir dari renungan yang jauh dari kehidupan. Ia tumbuh dari
pengalaman yang sangat personal, ketika sebuah kisah kekerasan mengguncang
batin. -000- Dari Kerusuhan Mei 1998 Menuju Sapu Tangan Fang
Yin Ingatan
saya kembali kepada kerusuhan Mei 1998. Indonesia mengalami salah satu babak
paling menyakitkan ketika kekerasan, penjarahan, dan kebencian rasial merobek
kehidupan warga, terutama warga keturunan Tionghoa. Saya
mendengar kisah tentang anak seorang teman yang menjadi korban kekerasan
dalam kerusuhan tersebut. Cerita itu meninggalkan kegelisahan yang tidak
mudah dilupakan, dan kelak menjadi ilham bagi tokoh fiktif Fang Yin. Di
balik peristiwa besar yang dibicarakan publik, terdapat kehidupan pribadi
yang hancur. Ada ketakutan yang tidak selesai ketika kerusuhan berakhir dan
jalanan kembali tenang. Yang
terus mengusik bukan hanya kenyataan bahwa kekerasan telah terjadi. Lebih
jauh, bagaimana penderitaan seseorang dapat tetap hidup ketika perhatian
masyarakat mulai berpindah? Sejak
itu, pertanyaan tentang kemampuan sastra menyimpan kesaksian manusia menjadi
semakin penting. Saya ingin pengalaman korban tidak tenggelam dalam angka dan
kronologi. Kegelisahan
tersebut baru menemukan bentuk kesusastraan empat belas tahun kemudian,
melalui Sapu Tangan Fang Yin (2012). Puisi esai ini mengisahkan perempuan
Tionghoa yang menjadi korban kekerasan seksual dalam tragedi Mei 1998. Sapu
tangan adalah benda kecil. Dalam puisi itu, sapu tangan pemberian kekasih
yang kemudian meninggalkannya dibawa Fang Yin ke Amerika dan disimpannya
selama tiga belas tahun. Benda
sederhana itu menyimpan sesuatu yang tidak sanggup ditampung oleh laporan
sejarah paling tebal. Ia menjadi lambang ingatan, kehilangan, dan luka yang
terus dibawa, bahkan ketika dunia telah menganggap tragedi sebagai masa lalu. Di
situlah saya semakin memahami perbedaan antara mengetahui penderitaan dan
merasakannya. Pengetahuan membuat kita memahami peristiwa. Empati mengajak
kita bertanggung jawab. Tentu,
pengolahan kesaksian menjadi sastra menuntut kehati-hatian. Pengalaman korban
harus dihormati, fakta dijaga, dan imajinasi tidak boleh diperlakukan sebagai
dokumentasi harfiah. Namun,
tanpa ruang bagi pengalaman batin, sejarah dapat berubah menjadi museum
peristiwa yang dingin. Kita mengetahui tanggalnya, tetapi kehilangan getaran
kemanusiaannya. Pengalaman
Sapu Tangan Fang Yin memperkuat keyakinan saya bahwa puisi esai dapat menjadi
jembatan antara kesaksian sosial dan ingatan moral sebuah bangsa. Karena
itu, membaca antologi Arisan Puisi Esai membawa kegembiraan tersendiri.
Semakin banyak penulis bersedia menjadi saksi kehidupan yang sebelumnya tidak
memperoleh perhatian. Mereka
tidak harus menunggu peristiwa monumental. Di tangan yang peka, penderitaan
seorang nelayan pun dapat membuka percakapan besar tentang nasionalisme dan
keadilan. -000- Tiga Kisah dari Rumah yang Belum Selesai Dibangun Dalam
Masa Depan yang Tak Sampai, Haifa Shakayla menghadirkan Dimas, seorang anak
yang bercita-cita menjadi guru, tetapi terbentur keadaan ekonomi keluarganya. Dimas
membayangkan dirinya berdiri di depan kelas. Ia ingin menuliskan pelajaran di
papan tulis dan membantu anak-anak lain mengenal dunia yang lebih luas. Namun,
kemiskinan membuat masa depan terasa semakin jauh. Buku harus disimpan.
Seragam dilipat. Kehidupan meminta tenaganya sebelum masa kecil sempat
diselesaikan. Yang
paling menyedihkan, Dimas tidak kehilangan kecerdasan atau kemauan belajar.
Ia kehilangan kesempatan, sesuatu yang seharusnya tidak ditentukan semata
oleh keadaan keluarga. Ada
tragedi yang berlangsung tanpa jeritan. Ia terjadi ketika seorang anak
perlahan berhenti membicarakan cita-citanya karena kebutuhan hari ini selalu
datang lebih dahulu. Lebih
menggetarkan lagi, kisah tersebut ditulis Haifa ketika masih berusia empat
belas tahun. Kepekaan terhadap ketidakadilan ternyata tidak harus menunggu
kedewasaan. Karya
ini mengingatkan pembuat kebijakan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup
diukur melalui anggaran dan jumlah sekolah, melainkan juga kehidupan anak
yang terselamatkan. -000- Dalam
Merdeka di Bawah Lampu Kristal, Saskia Ubaidi mempertemukan dua dunia yang
berada di bawah bendera sama, tetapi mengalami kemerdekaan secara berbeda. Di
satu tempat, lampu kristal menerangi perayaan. Orang berbicara tentang
kejayaan republik. Di tempat lain, seorang ibu menghitung uang untuk beras. Ia
juga memikirkan ongkos sekolah anaknya. Setiap pengeluaran harus
dipertimbangkan, sedangkan gemerlap kemerdekaan tampak begitu jauh dari meja
makan keluarganya. Kontras
itu menggugah bukan karena perayaan kemerdekaan merupakan kesalahan. Bangsa
membutuhkan simbol kebersamaan, tetapi simbol juga harus mengingatkan kita
kepada tanggung jawab. Apalah
arti kemerdekaan bagi seorang ibu jika setiap malam ia masih harus memilih
antara kebutuhan makan keluarga dan kesempatan pendidikan anaknya sendiri? Lampu
kristal mungkin mampu menerangi ruangan yang megah. Namun, cahaya kemerdekaan
belum sempurna jika tidak menjangkau rumah-rumah yang masih hidup dalam
kecemasan. -000- Kisah
ketiga hadir dalam Menagih Janji Republik, karya Adhiyaksa S. Goma, yang
membawa pembaca menuju Aceh, daerah dengan sejarah pengorbanan dan pergulatan
panjang. Pada
1948, rakyat Aceh mengumpulkan emas dan dana untuk membeli pesawat Seulawah
bagi republik yang baru lahir. Kemudian datang konflik bersenjata, tsunami
2004, dan perdamaian Helsinki 2005. Dari
ingatan itu, karya ini mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Mengapa
daerah yang pernah menyumbangkan sayap bagi republik masih harus
memperjuangkan agar kebutuhan warganya memperoleh perhatian yang memadai? Pertanyaan
itu tidak cukup dijawab dengan nostalgia. Ia membutuhkan tata kelola yang
baik, pemerataan kesempatan, akuntabilitas, serta dialog berkelanjutan antara
pusat dan daerah. Karya
ini mengingatkan bahwa persatuan tidak bertahan hanya melalui ingatan
bersama. Ia memerlukan pengalaman keadilan yang terus diperbarui dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Indonesia
menjadi lebih kuat bukan ketika suara daerah dibungkam, melainkan ketika
perbedaan pengalaman mendapat tempat terhormat di dalam rumah kebangsaan yang
sama. -000- Ketiga
kisah tersebut menunjukkan luasnya pengalaman yang tersimpan dalam satu
republik. Kemiskinan, pendidikan, dan keadilan daerah ternyata terhubung oleh
persoalan martabat manusia. Antologi
ini juga menghadirkan kekerasan terhadap anak, kesulitan kesehatan,
ketimpangan pekerjaan, dan kerusakan lingkungan. Ada pula persoalan yang
lebih sunyi: keberagaman budaya yang belum selalu memperoleh pengakuan
setara. -000- Rumah dengan Banyak Dapur Dalam
Sagu, Tamu di Negeri Nasi, Saskia Ubaidi memperlihatkan bahwa persoalan
kebangsaan dapat tersembunyi dalam sesuatu yang sederhana: pilihan makanan
sehari-hari. Sagu,
yang berakar dalam kehidupan masyarakat Maluku, justru diperlakukan sebagai
tamu di negerinya sendiri. Karya ini mempertanyakan kebiasaan mengukur
kekayaan budaya Indonesia melalui satu pola yang dianggap dominan. Persatuan
bukanlah keseragaman. Rumah bersama menjadi kuat justru ketika penghuninya
boleh mempertahankan ingatan, bahasa, tradisi, dan cara hidup yang berbeda. -000- Dua Buku yang Memperluas Cakrawala Untuk
memahami mengapa kisah-kisah tersebut penting bagi kehidupan kebangsaan, dua
karya pemikiran memberikan landasan intelektual yang relevan dan saling
melengkapi. Pertama,
Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism,
karya Benedict Anderson, yang pertama kali diterbitkan Verso pada 1983. Anderson
menjelaskan bangsa sebagai komunitas
politik yang dibayangkan. Sebagian besar warganya tidak pernah saling
mengenal, tetapi tetap merasakan ikatan kebangsaan bersama. Ikatan
tersebut tumbuh melalui bahasa, media cetak, pengalaman sejarah, dan proses
sosial yang membentuk kesadaran mengenai kehidupan dalam satu komunitas
politik. Gagasan
Anderson membantu memahami kekuatan antologi ini. Pembaca di Jakarta mungkin
tidak mengenal nelayan Temajuk, tetapi dapat merasakan penderitaannya sebagai
sesama warga. Namun,
teori Anderson terutama menjelaskan terbentuknya kesadaran kebangsaan. Puisi
esai membawa pertanyaan lanjutannya: apakah perasaan sebangsa telah
melahirkan tanggung jawab moral? Kita
tidak cukup membayangkan diri hidup bersama. Kita juga perlu membangun
keadaan agar setiap anggota komunitas memperoleh kesempatan dan perlindungan
yang layak. -000- Kedua,
Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life, karya Martha C.
Nussbaum, diterbitkan Beacon Press pada 1995, membahas kekuatan imajinasi
sastra. Nussbaum
menunjukkan bagaimana sastra dapat memperkaya penilaian moral dalam kehidupan
publik, terutama ketika manusia terlalu mudah direduksi menjadi angka atau
kategori abstrak. Melalui
cerita, pembaca diajak memasuki dunia batin orang lain. Mereka mengenali
harapan, ketakutan, kerentanan, serta kerumitan hidup yang tidak selalu
terlihat. Imajinasi
sastra tidak menggantikan penalaran rasional. Ia justru membantu memperluas
pertimbangan moral dengan menghadirkan keadaan konkret manusia yang terkena
dampak keputusan publik. Gagasan
ini menjelaskan mengapa puisi esai mempunyai nilai sosial. Nelayan bukan
sekadar penerima subsidi. Anak putus sekolah bukan hanya satuan statistik
pendidikan. Mereka
memiliki nama, keluarga, kenangan, dan masa depan. Kebijakan yang melupakan
dimensi tersebut mungkin tertib secara administratif, tetapi belum tentu
memadai secara manusiawi. Anderson
membantu memahami mengapa kita merasa sebangsa. Nussbaum menerangkan mengapa
kita perlu memahami kehidupan sesama. Puisi esai menghidupkan pertemuan
keduanya. -000- Ketika Empati Memerlukan Ketelitian Tentu,
ada pertanyaan kritis yang harus dijawab. Apakah kisah yang menggugah emosi
cukup menjadi dasar untuk memahami persoalan sosial dan kebijakan yang
kompleks? Keberatan
itu mempunyai dasar. Sastra yang berlebihan mengandalkan penderitaan dapat
tergelincir menjadi sentimentalisme, bahkan menyederhanakan persoalan yang
penyebabnya jauh lebih rumit. Satu
kisah nelayan tidak mewakili seluruh kehidupan nelayan Indonesia. Demikian
pula satu anak putus sekolah tidak dapat menjelaskan seluruh persoalan
pendidikan nasional. Karena
itu, puisi esai harus menjaga disiplin ganda: kebebasan artistik dalam
pengolahan cerita dan tanggung jawab intelektual dalam memperlakukan fakta
serta konteks. Empati
membuka pintu kesadaran. Tetapi ketelitian riset menjaga agar kesadaran
tersebut tidak berubah menjadi propaganda emosional, tuduhan keliru, atau
kesimpulan yang melampaui dukungan bukti. Demikian
pula, kritik terhadap negara tidak boleh menghapus kenyataan adanya
keberhasilan pembangunan. Nasionalisme matang mampu mengakui kemajuan
sekaligus memperjuangkan perbaikan. Namun,
pesan moral yang kuat juga tidak otomatis menghasilkan karya sastra yang
baik. Karakter, konflik, bahasa, dan kedalaman pengalaman tetap menentukan
kualitas artistiknya. Antologi
ini memperlihatkan tingkat kematangan yang beragam. Ada karya yang kuat
secara dramatik, sementara karya lain masih perlu memperdalam karakter dan
pengolahan konflik. Tetapi
sebagai hasil kerja kolektif, buku ini menghadirkan pencapaian penting:
semakin banyak penulis bersedia meneliti kenyataan dan menyuarakan pengalaman
manusia yang terabaikan. Saya
berharap Arisan Puisi Esai menjadi ruang pembelajaran yang terus bertumbuh, tempat
keberanian menulis berjalan bersama ketelitian, kerendahan hati, dan
keterbukaan menerima kritik. Lebih
jauh, bayangkan jika komunitas semacam ini berkembang di berbagai daerah.
Indonesia akan mempunyai semakin banyak kesaksian tentang kehidupan yang
jarang dicatat. Bukan
hanya sejarah para pemimpin, tetapi juga sejarah batin nelayan, petani,
buruh, guru, anak-anak, penyintas kekerasan, dan mereka yang hidup jauh dari
pusat kekuasaan. Di
sanalah gagasan Arsip Batin Bangsa memperoleh makna. Kita menjaga ingatan
bukan hanya agar peristiwa tidak dilupakan, tetapi agar penderitaan tidak
kehilangan pelajaran. Sebuah
bangsa dapat mempunyai monumen megah dan museum yang lengkap. Namun, ingatan
kolektifnya tetap timpang jika kehidupan orang kecil tidak mendapatkan
tempat. -000- Rumah yang Masih Harus Kita Bangun Pada
akhirnya, ingatan saya kembali kepada bendera yang dijahit istri nelayan
Temajuk. Kainnya tidak baru, tetapi tetap dirawat dengan ketekunan dan cinta. Sang
ayah kembali melaut. Tagihan solarnya belum lunas. Harga ikan belum berubah.
Namun, ia masih mempunyai keluarga dan alasan untuk melanjutkan kehidupan. Begitulah
Indonesia dalam antologi ini. Sebuah rumah yang belum sempurna, dengan banyak
luka, tetapi juga menyimpan keberanian manusia untuk terus berharap. Mencintai
Indonesia berarti menjaga harapan tersebut. Bukan dengan meniadakan kritik,
melainkan dengan memastikan bahwa cinta tanah air berbuah keadilan dan
martabat. Dan
itulah pekerjaan besar yang tidak pernah selesai: membangun republik tempat
setiap warga dapat hidup layak, merasa diterima, serta mempunyai masa depan
yang diperjuangkan. Sebab,
bendera Merah Putih tidak benar-benar utuh hanya karena kainnya telah dijahit
kembali. Ia baru utuh ketika kehidupan rakyat di bawahnya tidak dibiarkan
terkoyak. ● REFERENSI 1. Anderson, Benedict.
Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.
Verso, 1983. 2. Denny JA. Atas Nama
Cinta. Rene Book, 2012. 3. Kristianti, Dhenok
(ed.). Rumah Itu Bernama Indonesia. Cerah Budaya International, 2026. 4.
Nussbaum, Martha C. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life.
Beacon Press, 1995. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar