|
Misteri 3060 Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 01 November 2026
Saya masih
tertinggal di Beijing. Masih ada dua rapat yang harus saya ikuti. Sebagian
besar rombongan sudah pulang Jumat sore. Sebagian lagi meneruskan perjalanan
pribadi ke Shanghai. Ada yang ke Xi'an. Ada juga yang ingin lebih lama di
Beijing. Ada pula yang sudah lebih dulu ''pulang'' ke London.
Di Beijing saya
makan siang di kantin perusahaan tempat saya rapat. Janet dan suami sudah
kembali dari Jakarta. Di Tiongkok biasa saya alami: perusahaan punya kantin
sendiri. Tidak ada bedanya dengan restoran. Baik tatanan mejanya maupun
menunya. Mereka umumnya punya juru masak sendiri. Karyawan tidak perlu
meninggalkan kantor terlalu lama untuk makan siang.
Biasanya ada
satu atau dua ruang VIP di kantin seperti itu. Tergantung besar kecilnya
perusahaan. Juga tergantung pada banyak tidaknya tamu penting –khususnya dari
luar negeri.
Di perusahaan
tempat saya rapat itu hanya ada satu ruang VIP dengan meja makan bundar untuk
10 kursi. Di masa lalu setiap kali masuk ruang seperti itu sering berdebat
dulu: siapa yang harus duduk di ''kursi kepala naga''. Yakni kursi yang
posisinya lurus dari pintu masuk.
Posisi kursi
semacam itu kadang ditandai dengan bentuk kursi yang sedikit berbeda. Kadang
ditandai dengan cara penempatan kain pengelap mulut. Untuk kursi biasa kain
putihnya dilipat indah –ditaruh di atas piring. Untuk kursi kepala naga kain
putihnya dilipat rapi untuk ditempatkan di gelas anggur merah.
Beberapa kali
saya dipaksa untuk duduk di kursi kepala naga seperti itu. Kemarin paksaan
seperti itu akhirnya saya terima –daripada lama saling dorong. Kasihan yang
perutnya sudah sangat lapar –seperti perut saya.
Yang lebih
sering: saya "memaksa" pimpinan perusahaannya untuk menempati kursi
kepala naga.
Di kantin yang
kemarin semua jenis kursinya sama. Penanda kepala naganya ada di kain lap mulut
berwarna putih. Tugas utama kepala naga tidak otomatis sebagai yang harus
bayar. Yang terpenting adalah ajakan untuk memulai makan. Anda pun bisa melakukannya.
Caranya: Anda mengangkat gelas anggur merah agak tinggi, memandang wajah semua
yang di sekeliling meja, lalu menoleh ke tamu penting di sebelahnya,
menyentuhkan gelas Anda ke gelasnya, mengajak orang itu dan orang semeja untuk
bersulang. Kanpei!!!
Kemarin siang
yang dipakai bersulang adalah jus jagung warna kuning. Mereka tidak ada yang
mau minum anggur merah karena saya tidak minum itu. Sebagian juga karena itu
adalah makan siang: setelah makan harus bergegas ke ruang kerja dengan pikiran
waras.
Menu makanannya
enak dan enak sekali. Tapi saya lebih tertarik pada nama kantin itu sendiri.
Namanya pakai angka: 3060. Posisi kantin itu di lantai bawah. Menghadap ke
plaza. Orang yang lalu-lalang di plaza bisa melihat ''3060'' dari jauh: ukuran
tinggi angkanya satu meter. Warnanya biru. Yakni warna langit Beijing sekarang
ini. Saya perlu menyebut warna langit Beijing adalah biru. Saya ingat 30 tahun
lalu: tidak pernah bisa tahu apakah warna langit Beijing sama dengan langit
Jakarta kala itu.
Kini yang
terjadi sebaliknya: warna langit Jakarta kusam. Bahwa kita tahu warna langit
Jakarta adalah biru hanya karena syair lagu anak-anak mengatakan begitu.
Kenyataan sehari-harinya kita tidak tahu apa warna langit Jakarta: selalu
tertutup kabut polusi. Bukan kabut biasa. Itu kabut yang mengandung
partikel-partikel mikro yang ikut terisap ke paru-paru. Termasuk partikel mikro
plastik yang sangat berbahaya.
Langit
Beijing-lah yang tahun-tahun terakhir justru membiru. Itu murni karena 3060.
Anda sudah tahu
apa arti 3060. Di Tiongkok anak baru gede pun tahu apa arti angka itu: target
yang harus dicapai pemerintah Tiongkok. Yakni puncak emisi Tiongkok akan
terjadi di tahun 2030. Setelah itu emisi karbon harus mendatar. Lalu terus
menurun. Tahun 2060 sudah harus netral: tidak ada lagi emisi karbon di seluruh
Tiongkok.
Kapan target
3060 mulai dicanangkan? Awalnya tahun 2014. Yakni saat Presiden Xi Jinping
menerima kunjungan Presiden Barack Obama. Tapi secara resmi 3060 dipidatokan
Tiongkok di Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 2020.
Saya pun
bertanya: kan langit Beijing sudah sangat biru. Pepohonan di kota-kota di
Tiongkok juga sudah sangat rimbun. Bukankah itu pertanda ''puncak'' emisi sudah
terlewati saat ini –empat tahun lebih cepat dari target tahun 2030?
Saya belum
mendapat jawaban yang akurat. Bisa saja emisi di Beijing sudah melewati
puncaknya. Bisa saja sekarang justru sudah mulai menurun.
Bisa juga
terjadi: capaian di daerah lain belum sebagus Beijing. Lalu ketika dirata-rata
nasional masih naik. Yang jelas angka 3060 diketahui secara luas.
Dimasyarakatkan. Semua pihak harus berjalan menuju target itu: termasuk lembaga
risetnya. Sampai kantin lembaga riset yang saya datangi itu pun memasang 3060
sebagai nama kantinnya.
3060 adalah
lambang menyatunya target dan program. Bukan rujak sentul: target ke utara
programnya ngidul. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/976686/misteri-3060
Tidak ada komentar:
Posting Komentar