|
Boikot:
Cara Efektif Melawan Rezim Stefanus Pramono
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026
|
· Aksi boikot sebenarnya bisa diterapkan
dalam berbagai persoalan. · Boikot bukan hanya menunjukkan
kekecewaan, melainkan juga solidaritas terhadap mereka yang menjadi korban. · Francesca Albanese menjelaskan soal
perlunya aksi boikot untuk menghadapi Israel. AKSI
boikot menghujani acara RANS Carnival Yogyakarta yang digelar pada Sabtu dan
Ahad, 31 Oktober-1 November 2026. Para pengisi acara dan penyewa stan
ramai-ramai membatalkan kehadiran dalam acara tersebut. Mereka mewakili
kekecewaan publik terhadap Raffi Ahmad, pemilik RANS Entertainment. Raffi,
yang juga Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja
Seni, mengikuti deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, pada Kamis,
29 Oktober 2026. Belakangan, ketahuan mahasiswa yang hadir dalam acara yang
diadakan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya itu ternyata abal-abal. Boikot
masyarakat terhadap RANS Carnival berhasil. Pada hari pertama penyelenggaraan
saja, jumlah pengunjung yang datang sangat minim. Aksi tersebut bisa dibilang
turut menampar wajah pemerintah yang kinerjanya makin buruk di mata publik.
Dari keracunan makan bergizi gratis, korupsi yang merajalela (termasuk dalam
proyek MBG), hingga kebakaran hutan dan lahan. Aksi
boikot sebenarnya bisa diterapkan dalam berbagai persoalan. Boikot bukan
hanya menunjukkan kekecewaan atau kemarahan, melainkan juga solidaritas
terhadap mereka yang menjadi korban dari individu, korporasi, pemerintah, dan
bahkan negara. Sanksi sosial terhadap para pelaku kejahatan terkadang bisa
lebih efektif ketimbang hukuman pidana. Hampir
70 tahun lalu, aksi boikot menimpa produk-produk asal Afrika Selatan. Bermula
pada 1959 di Inggris, gerakan tersebut berupaya menghentikan politik
apartheid di Afrika Selatan yang mendiskriminasi penduduk kulit hitam dan
mengistimewakan mereka yang berkulit putih. Apartheid pun runtuh pada 1994. Solidaritas
serupa kembali muncul untuk melawan kekejaman Israel terhadap rakyat
Palestina, yaitu gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS). Dimulai
pada Juli 2005, BDS merupakan upaya memboikot, memutus investasi, dan memberi
sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang mendukung Israel. Gerakan
BDS cukup efektif. Berbagai perusahaan transnasional mengalami kerugian
akibat angka penjualan produk mereka merosot. Bahwa muncul pemutusan hubungan
kerja atau PHK akibat boikot, itu konsekuensi dari dukungan terhadap Israel.
Tanpa sanksi sosial yang masif, perusahaan-perusahaan itu akan terus
mendukung pendudukan Israel di wilayah Palestina. Pada
Kamis, 22 Oktober 2026, kami mewawancarai Pelapor Khusus Perserikatan
Bangsa-Bangsa untuk Wilayah Pendudukan Palestina Francesca Albanese. Ia
menjelaskan perlunya aksi boikot untuk menghadapi Israel. Tanpa upaya
tersebut, perekonomian Israel akan terus ditopang banyak korporasi
pendukungnya. Albanese
juga menjelaskan soal Board of Peace atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden
Amerika Serikat Donald Trump. Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia
menjadi anggota Dewan Perdamaian. Menurut Albanese, Dewan Perdamaian hanya
menambah ruwet masalah genosida yang terjadi di Palestina alih-alih
menyelesaikannya. Anda
bisa menikmati wawancara dengan Francesca Albanese dalam artikel berjudul
“Dewan Perdamaian Bukan Solusi bagi Palestina”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/boikot-israel-genosida-gaza-palestina-2302980 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar