|
Sampai
Kapan Bertahan Jika Terjadi Krisis Bahan Bakar Anton Septian : Redaktur Eksekutif Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026
|
· Prabowo mengatakan pemimpin yang malas
belajar tentang sejarah akan dihukum sejarah. · Seperti Nicolae Ceaușescu, Prabowo
agaknya hanya dilapori yang baik-baik oleh anak buahnya. · Persediaan bahan bakar menipis lantaran
pasokannya sulit dicari dan anggaran untuk membelinya pun tak ada. PRESIDEN
Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa kelemahan bangsa Indonesia adalah
para pemimpinnya acap lupa akan sejarah. Menurut dia, pemimpin yang malas
belajar tentang sejarah akan dihukum oleh sejarah. Kisah
masa lalu juga memberikan pelajaran: sebelum pemimpin dihukum sejarah,
rakyatnya lebih dulu menderita. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah
Nicolae Ceaușescu yang memimpin Rumania pada 1965-1989. Berambisi
mencapai kemandirian energi, Ceaușescu membangun kilang-kilang raksasa yang
dibiayai pinjaman negara lain yang mencapai US$ 13 miliar pada awal
pemerintahannya. Beberapa tahun kemudian, krisis minyak global terjadi.
Kilang-kilang yang dibangunnya gagal menghasilkan laba dan membuat Rumania
terjebak dalam kubangan utang. Untuk
melunasinya, pemimpin Partai Komunis Rumania itu mengumpulkan setiap lembar
dolar dan memerintahkan hasil penyulingan minyak, listrik, dan makanan
diekspor besar-besaran. Konsumsi dalam negeri pun dipangkas. Ceaușescu
mengeluarkan dekret yang menginstruksikan pemotongan konsumsi listrik hingga
separuhnya. Ketika
musim dingin yang menusuk tulang tiba, penggunaan pemanas ruangan di rumah
penduduk dikurangi secara drastis, yang memicu lonjakan angka kematian bayi
dan orang-orang sepuh. Menjalani malam dengan gelap gulita karena tak ada
lampu, masyarakat Rumania harus menghabiskan siang dengan mengantre roti,
gula, minyak, serta bahan bakar yang diberikan dengan sistem kupon. Di
tengah penderitaan rakyatnya, Ceaușescu sesumbar bahwa Rumania telah mencapai
kemandirian ekonomi dan kedaulatan energi sembari melunasi utang luar negeri.
Dia hidup dalam gelembung lantaran anak buahnya mencekokinya dengan laporan
yang baik-baik atau data palsu. Jikapun Ceaușescu menginspeksi toko kelontong
atau pasar, aparat telah menaruh komoditas yang berlimpah di sana, yang
langsung diangkut kembali begitu Presiden pergi. Di
sinilah Elena, istri Ceaușescu, berperan. Dia mengontrol siapa yang boleh
bertemu dengan Ceaușescu dan laporan mana yang boleh sampai ke mejanya.
Pejabat yang mencoba melaporkan data yang benar mengenai krisis atau
kelaparan akan dihukum oleh Elena. Secara de facto, dialah orang terkuat
kedua di Rumania saat itu. Sejarah
pada akhirnya menghukum Ceaușescu dan Elena. Kesengsaraan rakyat Rumania
akibat kelaparan dan krisis energi menuntun terjadinya revolusi pada musim
dingin 1989. Ceaușescu pun digulingkan dan, bersama istrinya, dihukum mati. Di
Indonesia, ketika negara-negara di dunia berburu pasokan energi setelah
perang Iran meletus, Prabowo menepuk dada bahwa pemerintahannya tak lagi
mengimpor solar. Ia sesumbar Indonesia berhasil memproduksi B50, bahan bakar
campuran olahan minyak sawit dan solar fosil dengan komposisi 50 : 50. Kenyataannya,
biodiesel tersebut belum tersedia di setiap pompa bensin. Akibatnya,
sepanjang Oktober 2026, solar sulit dicari di sejumlah wilayah. Seperti
Ceaușescu, Prabowo tampaknya termakan laporan para pembantunya yang selalu
menyampaikan “keberhasilan”. Data sisa kuota bahan bakar bersubsidi dan stok
yang tersedia selalu dilaporkan aman. Padahal situasi yang dihadapi
masyarakat di lapangan bertolak belakang dengan yang ia sampaikan di podium. Bukan
cuma solar, persediaan Pertalite pun sudah tipis. Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan ketahanan stok Pertalite mencapai
16-18 hari. Tapi klaim tersebut tak menjawab ketimpangan pasokan di daerah.
Di Malang, Jawa Timur, misalnya, persediaannya hanya cukup untuk 1,5 hari. Di
banyak daerah lain, kondisinya tak lebih baik. Celakanya,
bukan hanya pasokannya yang sulit dicari, anggaran untuk membelinya pun
kerontang. Setelah Selat Hormuz tercekik akibat perang Iran, harga minyak dan
gas dunia melambung. Seretnya pasokan mengancam persediaan bahan bakar dan
menekan kondisi fiskal. Dana
subsidi dan kompensasi energi tahun ini berpotensi membengkak dari Rp 376
triliun menjadi Rp 900,5 triliun. Pemerintah hanya mampu mengalokasikan Rp
490,9 triliun. Sisanya baru akan dibayarkan kepada Pertamina dan PLN pada
tahun depan. Dengan kas yang minim, Pertamina tak leluasa berburu pasokan
yang memang sudah sulit didapatkan. Akibatnya,
seperti yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bali dan, belakangan, Jawa
Timur, antrean masyarakat untuk mendapatkan solar dan Pertalite mengular.
Kelangkaan bisa meluas ke daerah lain karena kuota bahan bakar bersubsidi
diperkirakan habis sebelum akhir tahun. Akankah Indonesia seperti Rumania? ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-sampai-kapan-bertahan-2302986 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar