Minggu, 08 November 2026

 

Sampai Kapan Bertahan Jika Terjadi Krisis Bahan Bakar

Anton Septian :  Redaktur Eksekutif Tempo

TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026

 

 

                                                           

·      Prabowo mengatakan pemimpin yang malas belajar tentang sejarah akan dihukum sejarah.

 

·      Seperti Nicolae Ceaușescu, Prabowo agaknya hanya dilapori yang baik-baik oleh anak buahnya.

 

·      Persediaan bahan bakar menipis lantaran pasokannya sulit dicari dan anggaran untuk membelinya pun tak ada.

 

PRESIDEN Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa kelemahan bangsa Indonesia adalah para pemimpinnya acap lupa akan sejarah. Menurut dia, pemimpin yang malas belajar tentang sejarah akan dihukum oleh sejarah.

 

Kisah masa lalu juga memberikan pelajaran: sebelum pemimpin dihukum sejarah, rakyatnya lebih dulu menderita. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah Nicolae Ceaușescu yang memimpin Rumania pada 1965-1989.

 

Berambisi mencapai kemandirian energi, Ceaușescu membangun kilang-kilang raksasa yang dibiayai pinjaman negara lain yang mencapai US$ 13 miliar pada awal pemerintahannya. Beberapa tahun kemudian, krisis minyak global terjadi. Kilang-kilang yang dibangunnya gagal menghasilkan laba dan membuat Rumania terjebak dalam kubangan utang.

 

Untuk melunasinya, pemimpin Partai Komunis Rumania itu mengumpulkan setiap lembar dolar dan memerintahkan hasil penyulingan minyak, listrik, dan makanan diekspor besar-besaran. Konsumsi dalam negeri pun dipangkas. Ceaușescu mengeluarkan dekret yang menginstruksikan pemotongan konsumsi listrik hingga separuhnya.

 

Ketika musim dingin yang menusuk tulang tiba, penggunaan pemanas ruangan di rumah penduduk dikurangi secara drastis, yang memicu lonjakan angka kematian bayi dan orang-orang sepuh. Menjalani malam dengan gelap gulita karena tak ada lampu, masyarakat Rumania harus menghabiskan siang dengan mengantre roti, gula, minyak, serta bahan bakar yang diberikan dengan sistem kupon.

 

Di tengah penderitaan rakyatnya, Ceaușescu sesumbar bahwa Rumania telah mencapai kemandirian ekonomi dan kedaulatan energi sembari melunasi utang luar negeri. Dia hidup dalam gelembung lantaran anak buahnya mencekokinya dengan laporan yang baik-baik atau data palsu. Jikapun Ceaușescu menginspeksi toko kelontong atau pasar, aparat telah menaruh komoditas yang berlimpah di sana, yang langsung diangkut kembali begitu Presiden pergi.

 

Di sinilah Elena, istri Ceaușescu, berperan. Dia mengontrol siapa yang boleh bertemu dengan Ceaușescu dan laporan mana yang boleh sampai ke mejanya. Pejabat yang mencoba melaporkan data yang benar mengenai krisis atau kelaparan akan dihukum oleh Elena. Secara de facto, dialah orang terkuat kedua di Rumania saat itu.

 

Sejarah pada akhirnya menghukum Ceaușescu dan Elena. Kesengsaraan rakyat Rumania akibat kelaparan dan krisis energi menuntun terjadinya revolusi pada musim dingin 1989. Ceaușescu pun digulingkan dan, bersama istrinya, dihukum mati.

 

Di Indonesia, ketika negara-negara di dunia berburu pasokan energi setelah perang Iran meletus, Prabowo menepuk dada bahwa pemerintahannya tak lagi mengimpor solar. Ia sesumbar Indonesia berhasil memproduksi B50, bahan bakar campuran olahan minyak sawit dan solar fosil dengan komposisi 50 : 50.

 

Kenyataannya, biodiesel tersebut belum tersedia di setiap pompa bensin. Akibatnya, sepanjang Oktober 2026, solar sulit dicari di sejumlah wilayah. Seperti Ceaușescu, Prabowo tampaknya termakan laporan para pembantunya yang selalu menyampaikan “keberhasilan”. Data sisa kuota bahan bakar bersubsidi dan stok yang tersedia selalu dilaporkan aman. Padahal situasi yang dihadapi masyarakat di lapangan bertolak belakang dengan yang ia sampaikan di podium.

 

Bukan cuma solar, persediaan Pertalite pun sudah tipis. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan ketahanan stok Pertalite mencapai 16-18 hari. Tapi klaim tersebut tak menjawab ketimpangan pasokan di daerah. Di Malang, Jawa Timur, misalnya, persediaannya hanya cukup untuk 1,5 hari. Di banyak daerah lain, kondisinya tak lebih baik.

 

Celakanya, bukan hanya pasokannya yang sulit dicari, anggaran untuk membelinya pun kerontang. Setelah Selat Hormuz tercekik akibat perang Iran, harga minyak dan gas dunia melambung. Seretnya pasokan mengancam persediaan bahan bakar dan menekan kondisi fiskal.

 

Dana subsidi dan kompensasi energi tahun ini berpotensi membengkak dari Rp 376 triliun menjadi Rp 900,5 triliun. Pemerintah hanya mampu mengalokasikan Rp 490,9 triliun. Sisanya baru akan dibayarkan kepada Pertamina dan PLN pada tahun depan. Dengan kas yang minim, Pertamina tak leluasa berburu pasokan yang memang sudah sulit didapatkan.

 

Akibatnya, seperti yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Bali dan, belakangan, Jawa Timur, antrean masyarakat untuk mendapatkan solar dan Pertalite mengular. Kelangkaan bisa meluas ke daerah lain karena kuota bahan bakar bersubsidi diperkirakan habis sebelum akhir tahun. Akankah Indonesia seperti Rumania? ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-sampai-kapan-bertahan-2302986

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar