|
Bisnis Media Kembali ke Masa Lalu Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 08 November 2026
|
Industri
media digital mengaku membawa revolusi bisnis. Tetapi ketika dibedah,
resepnya mirip sekali dengan bisnis majalah zaman dulu. Apa sebenarnya yang
berubah? Industri media digital rupanya sedang
menemukan kembali resep bisnis majalah dan surat kabar zaman dulu. Bedanya, sekarang mereka menggunakan
video pendek, algoritma, kecerdasan buatan, platform sosial, dan teknologi
periklanan yang semakin canggih. Tetapi kalau kita melihat dari mana
uang masuk, resepnya terasa sangat akrab. Perhatikan strategi People Inc.,
perusahaan penerbitan media Amerika yang mengelola merek-merek seperti
People, InStyle, Better Homes & Gardens, Food & Wine, Southern
Living, dan Travel + Leisure. Dalam laporan kuartal ketiga 2026,
perusahaan ini mengungkapkan sesuatu yang menarik. Pendapatan digitalnya
masih tumbuh 2 persen, mencapai US$289 juta. Padahal, kunjungan dari Google Search
sudah merosot sekitar 70 persen dalam dua tahun terakhir. Kunjungan ke
situs-situs utamanya juga turun 26 persen pada kuartal ketiga. Bagaimana perusahaan media tetap
menghasilkan uang ketika pengunjung situsnya semakin sedikit? Jawabannya
sederhana: mereka menjual lebih banyak hal di luar halaman situs. Mari kita mundur beberapa puluh tahun.
Ketika majalah masih menjadi raja industri penerbitan, penerbit memperoleh
uang dari beberapa sumber. Mereka menjual majalah melalui
langganan dan kios, menjual ruang iklan kepada perusahaan, menyelenggarakan
acara, menerbitkan edisi khusus, serta memanfaatkan nama besar majalah untuk
berbagai kerja sama komersial. Majalah perempuan, misalnya, bisa
menjual iklan kosmetik, menyelenggarakan peragaan busana, membuat acara
kecantikan, dan menerbitkan buku resep. Majalah otomotif bisa menggelar
pameran kendaraan, bekerja sama dengan produsen mobil, dan menerbitkan
panduan pembelian. Majalah memiliki sesuatu yang jauh
lebih berharga daripada kertas dan tinta: kepercayaan pembaca, reputasi
editorial, serta komunitas orang yang memiliki minat serupa. Itulah aset bisnis sesungguhnya.
Sekarang, lihat apa yang dilakukan People Inc. Mereka mengembangkan video
bersponsor di media sosial, menyelenggarakan acara, menjual lisensi konten
kepada perusahaan lain, membuat kerja sama dengan platform teknologi, dan
mengembangkan produk komersial menggunakan merek penerbitannya. Resepnya sangat mirip. Hanya
etalasenya yang berubah. Dari menjual halaman menjadi menjual ekosistem. Contoh paling menarik ialah waralaba
editorial Sexiest Man Alive milik majalah People. Dahulu, kegiatan ini
mungkin hanya menghasilkan pendapatan dari satu sampul majalah dan sejumlah
iklan yang mengiringinya. Kini, People mengembangkan satu tema
tersebut menjadi rangkaian aktivitas komersial. Kontennya hadir di Instagram,
TikTok, YouTube, aplikasi People, podcast, Apple News, dan berbagai saluran
distribusi lainnya. Perusahaan mengaku pendapatan yang terkait
dengan waralaba Sexiest Man Alive tumbuh 50 persen pada tahun ini. Bayangkan satu produk editorial bisa
menghasilkan uang berkali-kali melalui berbagai saluran. Satu ide, banyak
pintu kasir. People Inc. juga membuat serial video
pendek berjudul The Intern, yang menampilkan staf editorial InStyle.
Perusahaan menjual paket sponsor untuk satu musim yang terdiri atas tujuh
episode berdurasi tiga menit. Sponsor masuk ke dalam cerita secara
halus. Kemudian, perusahaan menawarkan paket yang lebih besar berupa acara
langsung, promosi di Instagram, YouTube, dan berbagai kanal lainnya. Dalam bisnis penerbitan lama, kita
mengenal advertorial, iklan khusus, dan acara yang disponsori perusahaan.
Sekarang, konsep itu berkembang menjadi branded content, influencer
marketing, dan integrated media campaign. Namanya berubah. Logika komersialnya
tetap. Pendapatan pun diperoleh tanpa kunjungan situs. Inilah bagian yang perlu kita
perhatikan dari laporan keuangan People Inc. Perusahaan membagi pendapatan digital
menjadi dua kelompok: session-based dan non-session-based. Pendapatan session-based berasal dari
aktivitas yang berkaitan dengan kunjungan pengguna ke situs milik perusahaan. Contohnya, iklan yang tampil ketika
seseorang membaca artikel atau komisi pemasaran afiliasi yang muncul dari
kunjungan tersebut. Sebaliknya, pendapatan
non-session-based tidak bergantung pada kunjungan ke situs milik perusahaan.
Sumbernya mencakup iklan dan kampanye di luar situs sendiri, video sosial,
pemasaran melalui email, teknologi penargetan iklan D/Cipher+, lisensi
konten, dan berbagai kemitraan komersial. Hasilnya cukup mencolok. Pada kuartal
ketiga 2026, pendapatan non-session-based mencapai US$125 juta atau sekitar
43 persen dari seluruh pendapatan digital. Pertumbuhannya mencapai 15 persen
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan
session-based menyumbang sekitar 57 persen dan justru turun 6 persen. Lebih menarik lagi, pendapatan lisensi
dan kerja sama lainnya tumbuh 49 persen menjadi sekitar US$52,7 juta.
Pertumbuhan ini terutama berasal dari kemitraan konten dengan Apple News+,
Meta, dan mitra sindikasi lainnya. Angka-angka tersebut tercantum dalam
laporan resmi People Incorporated kepada regulator pasar modal Amerika
Serikat, SEC. Artinya, perusahaan media mulai
memperoleh pendapatan ketika kontennya beredar di luar rumah sendiri. Mereka
tidak harus selalu membawa pembaca masuk ke situsnya untuk mendapatkan uang. Namun, jangan salah memahami istilah
non-session. Pendapatan ini tetap membutuhkan audiens. Orang harus menonton
video, membaca konten di platform lain, mengikuti acara, atau menggunakan
produk yang dipromosikan. Yang berubah ialah tempat terjadinya
konsumsi dan cara penerbit memperoleh pendapatan. Itulah cara mereka: kembali
ke model bisnis lama, dengan satu perubahan besar. Di sinilah saya melihat kemiripan
sekaligus perbedaan mendasar antara penerbitan tradisional dan penerbitan
digital. Pada zaman majalah, penerbit memiliki
merek, redaksi, distribusi, dan hubungan dengan pengiklan. Mereka bisa
mengatur sendiri penempatan iklan, menentukan harga, dan membangun hubungan
langsung dengan pelanggan. Pada era digital, penerbit masih
memiliki merek dan konten. Namun, jalur distribusinya semakin banyak dikuasai
perusahaan teknologi. Google menguasai mesin pencari. Meta
menguasai jejaring sosial. Apple mengelola agregasi berita melalui Apple
News. YouTube menguasai distribusi video. Kini, perusahaan AI juga mulai
mengambil posisi sebagai pintu masuk informasi. Penerbit seperti People Inc. harus
membangun kembali hubungan dengan audiens melalui saluran-saluran tersebut.
Mereka sekaligus berusaha mendapatkan bagian ekonomi dari distribusi konten
yang melibatkan platform pihak ketiga. Inilah paradoks bisnis media digital.
Penerbit bisa menjangkau jutaan orang tanpa harus mengundang mereka ke situs
sendiri, tetapi mereka juga harus bernegosiasi dengan pihak yang menguasai
tempat audiens berkumpul. Dulu, penerbit membayar biaya
distribusi kepada agen dan jaringan penjualan. Sekarang, mereka menghadapi
ketergantungan pada algoritma, kebijakan platform, dan sistem monetisasi
perusahaan teknologi. Perbedaan ini sangat penting.
Kepemilikan merek dan konten belum tentu berarti kepemilikan hubungan dengan
audiens. Semua ini memberi pelajaran yang lebih
luas bagi industri media. Fenomena People Inc. sebenarnya mencerminkan
perubahan yang sedang berlangsung di banyak perusahaan penerbitan dunia. Laporan Digiday tahun 2026 terhadap 56
profesional penerbitan menunjukkan bahwa perusahaan media semakin
mengandalkan kombinasi iklan langsung, konten bersponsor, iklan programatik,
acara, dan iklan video. Acara bahkan semakin penting sebagai sumber
pendapatan. Kita melihat pola serupa pada
perusahaan penerbitan besar seperti Forbes, Condé Nast, Dow Jones, dan The
Guardian. Mereka mengembangkan acara, langganan,
perdagangan afiliasi, konten bersponsor, dan berbagai bentuk kerja sama
komersial. Mereka mengintegrasikan media cetak,
digital, video, media sosial, dan acara dalam satu strategi pemasaran. Dengan kata lain, penerbit kembali
mengandalkan kekuatan merek dan komunitas pembaca untuk membangun berbagai
sumber pendapatan. Bagi media Indonesia, pelajaran ini
juga relevan. Banyak penerbit terlalu lama mengukur keberhasilan dari jumlah
kunjungan ke website, jumlah tayangan halaman, dan peringkat di Google.
Padahal, angka kunjungan hanya salah satu pintu menuju pendapatan. Sebuah media yang memiliki komunitas
pembaca setia, misalnya, bisa mengembangkan forum diskusi, kelas pendidikan,
konferensi, buku, laporan khusus, podcast, dan berbagai produk pengetahuan. Media yang memiliki reputasi kuat
dalam bidang ekonomi bisa menyelenggarakan forum investasi. Media yang
dikenal dalam bidang pendidikan bisa mengembangkan pelatihan dan sertifikasi. Tentu, setiap produk harus memiliki
nilai nyata bagi konsumennya. Merek media saja tidak cukup untuk membuat
orang bersedia membayar. Di sinilah kualitas editorial menjadi
fondasi. Tanpa kepercayaan, acara hanya menjadi panggung promosi. Tanpa
kredibilitas, konten bersponsor hanya menjadi iklan yang menyamar sebagai
berita. Tanpa komunitas yang nyata, jumlah pengikut di media sosial mudah
berubah menjadi angka kosong. Kecerdasan buatan juga menambah
tantangan sekaligus peluang. Ketika AI semakin mampu merangkum informasi,
penerbit harus memperkuat sesuatu yang sulit digantikan oleh ringkasan mesin:
reputasi, pengalaman, perspektif, investigasi, keahlian, dan hubungan manusia. Maka, apakah bisnis media digital
benar-benar baru? Dalam hal teknologi, tentu sangat baru. Dalam hal
distribusi, juga mengalami revolusi besar. Namun, dalam hal mencari uang,
kita seperti sedang menyaksikan sejarah berputar. Penerbit kembali menjual iklan,
membangun komunitas, menyelenggarakan acara, melisensikan konten, dan
mengembangkan merek. Semua itu pernah menjadi bagian dari bisnis majalah dan
surat kabar. Barangkali teknologi telah mengubah
mesin, bahan bakar, dan jalan yang dilalui industri media. Tetapi tujuan
perjalanannya masih sama: mengubah kepercayaan dan perhatian publik menjadi
nilai ekonomi. Dan ada satu pelajaran yang patut kita
garis bawahi: media yang hanya mengandalkan trafik sedang menggantungkan
nasib pada jalan milik orang lain. Sedangkan media yang membangun merek,
kepercayaan, dan komunitas memiliki peluang lebih besar untuk membangun
bisnis yang tahan terhadap perubahan jalan. Pada akhirnya, bisnis media mungkin
memang tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah ialah cara manusia
membaca, menonton, mendengar, dan membayar informasi. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar