|
Busuk dengan Bocelli Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 31 Oktober 2026
|
Siapa yang
sebenarnya membusukkan nama Prabowo? Kritik Buya Anwar Abbas membuka
persoalan serius tentang kesetiaan para pembantu presiden terhadap
konstitusi. Luar biasa. Kali ini kritik terhadap
pemerintahan Prabowo datang dari seorang ulama senior, Buya Anwar Abbas,
Wakil Ketua Umum MUI. Ia menyebut keputusan para pembantu
presiden yang memberi jalan bagi konser Andrea Bocelli sebagai bentuk
"pembusukan" terhadap nama baik Prabowo sendiri. Tulisan Buya Anwar yang dimuat
Kumparan pada 28 Oktober 2026 itu patut mendapat perhatian serius. Ia melihat
paradoks dalam pemerintahan: Prabowo ingin menegakkan konstitusi, tetapi
pembantunya justru mengambil keputusan yang dinilai bertentangan dengan jiwa
konstitusi. Persoalannya memang jauh melampaui
urusan musik. Ini menyangkut konsistensi sikap negara terhadap penjajahan,
terutama ketika Indonesia selama ini berdiri di belakang perjuangan
kemerdekaan Palestina. Ulama sudah mengingatkan, pembukaan
UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus
dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Prinsip itu menjadi bagian penting dari identitas politik bangsa Indonesia. MUI sudah menyampaikan penolakan resmi
terhadap konser Andrea Bocelli. Mereka menyoroti keterlibatan penyanyi tenor
Italia itu dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces
di Los Angeles pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv pada 2022. Kita tidak membenci musik. Kita juga
tidak mempersoalkan konser musisi asing hanya karena mereka datang dari
negara tertentu. Namun, ketika seorang tokoh seni diduga ikut mendukung
penggalangan dana bagi militer Israel, persoalannya memasuki wilayah moral
dan politik kemanusiaan. MUI sudah mengingatkan pemerintah.
Bahkan Kementerian Agama menyatakan dukungan terhadap sikap MUI, sementara
Kementerian Pariwisata sebelumnya menyampaikan komitmen untuk menghormati
keputusan lembaga ulama tersebut. Lantas, mengapa persoalan ini masih
menimbulkan kegaduhan? Di sinilah kritik Buya Anwar menjadi relevan: jangan
sampai orang-orang di sekitar presiden justru merusak kepercayaan publik
terhadap pemimpinnya. Ketika suara ulama tak didengar, lihat
apa yang kemudian terjadi. Front Persaudaraan Islam (FPI), yang selama
pemerintahan Prabowo relatif jarang tampil dalam aksi demonstrasi besar, kini
turun ke jalan menolak konser Bocelli. Pada 30 Oktober, mereka menggelar aksi
di Balai Kota Jakarta dengan membawa mobil komando dan pengeras suara. Pemandangan itu semestinya menjadi
bahan renungan pemerintah. Ketika suara ulama tak memperoleh perhatian yang
semestinya, aspirasi masyarakat bisa berpindah dari ruang dialog ke jalan
raya. Jangan meremehkan gejala semacam ini.
Persoalan yang semula bisa diselesaikan melalui komunikasi antarlembaga dapat
berkembang menjadi kegaduhan politik yang lebih luas. Buya Anwar Abbas menangkap persoalan
yang lebih mendasar. Prabowo bisa saja sibuk menjalankan agenda ekonomi,
investasi, dan pembangunan, tetapi masyarakat juga menilai pemerintah dari
konsistensinya menjaga prinsip kebangsaan. Siapa sebenarnya yang merugikan
presiden? Di sinilah istilah
"pembusukan" itu terasa tajam. Jika presiden menyatakan komitmen
membela Palestina, tetapi pembantunya mengambil kebijakan yang bertolak
belakang dengan semangat tersebut, publik tentu akan mempertanyakan
kesungguhan pemerintah. Seorang presiden memang tidak mungkin
mengawasi setiap keputusan pembantunya. Namun, ia bertanggung jawab
memastikan seluruh jajaran pemerintah bergerak dalam garis kebijakan yang
sama. Masalahnya, pembusukan politik sering
berlangsung dari dalam. Orang-orang yang seharusnya menjaga reputasi pemimpin
justru bisa menjadi sumber kerusakan reputasinya. Tentu, kita perlu membedakan penilaian
politik dan pelanggaran hukum. Konstitusi memberikan prinsip
antikolonialisme, sedangkan penilaian terhadap kelayakan seorang artis tampil
di Indonesia membutuhkan pertimbangan kebijakan yang transparan dan
konsisten. Pemerintah sebaiknya segera
mengevaluasi persoalan ini secara terbuka. Jangan biarkan perbedaan sikap
antarkementerian, aparat, dan lembaga negara terus membingungkan masyarakat. Prabowo perlu mendengar kritik Buya
Anwar. Sebab, seorang pemimpin bisa menghadapi oposisi dari luar, tetapi jauh
lebih berbahaya jika kepercayaan rakyat terkikis oleh keputusan orang-orang
di dalam lingkaran kekuasaannya sendiri. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar