Minggu, 08 November 2026

 

Momen Ekonomi dan Bisnis

Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026

 

 

                                                           

·      Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemangkasan ekspor gas ke Singapura tidak melanggar kontrak.

 

·      Len Industri menggandeng perusahaan pembiayaan, energi, dan komponen untuk ekosistem sepeda motor listrik.

 

·      Badan Pusat Statistik mencatat harga beras medium dan beras premium secara nasional naik hingga di atas harga eceran tertinggi.

 

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura mulai 24 Oktober 2026. Menurut dia, pengurangan volume ekspor dilakukan karena ada pemeliharaan sumur dan kepentingan memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Volume yang dipangkas sebanyak 15 miliar British thermal units per hari (BBTUD) dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatera.

 

Secara keseluruhan, volume yang dipotong sebanyak 31 BBTUD atau setara dengan 31 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Menurut Bahlil, jumlah itu hanya 8 persen dari total kontrak yang sebanyak 409,55 MMSCFD. Dia mengatakan Indonesia tidak melanggar kontrak karena pemangkasan ekspor masih di bawah batas 10 persen. “Kami menghargai kuota, tapi kan ada force majeure,” katanya di Jakarta pada Senin, 26 Oktober 2026.

 

Pernyataan ini mengemuka setelah pada Kamis, 22 Oktober 2026, Bahlil mengancam akan mengevaluasi kontrak gas negara-negara yang dinilai tidak kooperatif. “Yang tidak menghargai hubungan sesama negara,” ujarnya ketika meresmikan pengaliran gas perdana di Kalimantan Timur. Sejumlah pihak mengaitkan pernyataan ini dengan hubungan Indonesia-Singapura yang renggang akibat asap kebakaran hutan.

 

Pada Ahad, 25 Oktober 2026, Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng memastikan memiliki pasokan gas yang cukup. "Saya menyarankan warga Singapura tetap tenang dan terus beraktivitas," tutur Tan seperti dikutip situs web Kementerian Energi Singapura. ●

 

Len Industri Bangun Ekosistem Motor Listrik

 

PT Len Industri (Persero) bekerja sama dengan lima perusahaan membangun ekosistem sepeda motor listrik nasional. Lima perusahaan itu adalah PT Mandiri Utama Finance untuk pembiayaan, PT Pindad (Persero) dan PT Industri Baterai Indonesia untuk pengembangan komponen lokal, serta PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan PT Pertamina Patra Niaga untuk pengembangan jaringan pengisian dan penukaran baterai.

 

Direktur Teknologi dan Manajemen Risiko Len Industri Amalia Maya Fitri mengatakan konsolidasi perusahaan milik negara dan swasta ini akan menghubungkan semua mata rantai pasok industri kendaraan listrik berbasis baterai, dari ketersediaan baterai, manufaktur, kemudahan skema kredit, hingga keandalan stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum.

 

"Pengembangan sepeda motor listrik nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tapi juga pada kesiapan ekosistem yang mendukungnya," katanya di Bandung seperti dikutip Antara pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam peta jalan sepeda motor listrik nasional, Len Industri berperan sebagai koordinator pelaksanaan dan integrator ekosistem. Amalia mengatakan program ini dirancang sebagai ekosistem terbuka untuk kolaborasi lebih banyak pelaku industri lokal. ●

 

Harga Beras Medium dan Premium Naik

 

BADAN Pusat Statistik mencatat harga beras medium dan premium naik 0,16 persen pada pekan keempat Oktober 2026. Dikutip dari Antara pada Senin, 26 Oktober 2026, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, meskipun perubahan indeks perkembangan harga beras secara umum relatif rendah, sejumlah daerah masih mencatatkan kenaikan harga yang cukup tinggi.

 

Berdasarkan data BPS, harga rata-rata nasional beras medium Rp 14.677 per kilogram. Angka tersebut berada di atas harga eceran tertinggi (HET) untuk zona 1 yang sebesar Rp 13.500 per kilogram dan zona 2 Rp 14 ribu per kilogram. Namun angka ini masih di bawah HET zona 3 yang sebesar Rp 15.500 per kilogram. Adapun harga rata-rata nasional beras premium mencapai Rp 16.528 per kilogram, melampaui HET zona 1 (Rp 14.900), zona 2 (Rp 15.400), dan zona 3 (Rp 15.800).

 

Ateng mengatakan kenaikan harga beras pada pekan keempat Oktober masih terjadi di sejumlah daerah. Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 5,84 persen, diikuti Kabupaten Manggarai Timur sebesar 4,48 persen. Selain itu, harga beras naik sekitar 3 persen di sejumlah kabupaten/kota , antara lain di Lampung Selatan, Lampung; dan Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Di tingkat provinsi, kenaikan indeks perkembangan harga beras di atas 1 persen tercatat di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/indonesia-pangkas-ekspor-gas-ke-singapura-2302687

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar