|
Lama Profesor Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 03 November 2026
Harusnya lima
tahun yang lalu pun Dr dr Brahmana Askandar sudah layak dikukuhkan jadi
profesor. Tapi nyatanya baru Rabu pagi ini gelar guru besar itu diperoleh –di
Universitas Airlangga Surabaya.
Ia ahli kanker
kandungan terkemuka. Tapi ia juga seorang aktivis. Akseptabilitasnya yang
tinggi di kalangan mana pun membuat dirinya sering terpilih sebagai pengurus di
berbagai macam organisasi. Termasuk sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Surabaya. Bahkan ia dokter pertama Indonesia yang jadi pengurus asosiasi dunia
untuk kanker kandungan. "Tidak sempat mengurus guru besar," katanya.
Bulan lalu Prof
Brahmana kirim WA ke saya. Ia baru mendarat di Toronto, Kanada. Ia akan
menghadiri rapat organisasi dunia itu di Montreal. "Kalau ada waktu
mampirlah ke Quebec City. Pasti terkesan," jawab saya yang sebulan
sebelumnya melakukan perjalanan dari Toronto-Ottawa-Montreal-Quebec City.
Tiga hari
kemudian Prof Brahmana kirim foto: ia sedang di Quebec City –di depan hotel
tempat saya bermalam. Ia sudah beberapa kali ke Kanada tapi baru sekali itu ke
Quebec City. "Serasa di Prancis," tulisnya.
Brahmana
tergolong penggemar bandara –bisa jadi pesaing berat saya. Ia juga suka
membanding-bandingkan penerbangan. Saat ke Kanada itu misalnya ia ambil
penerbangan yang jarang dipikirkan orang: Saudi Arabia Airlines
–Jakarta-Jeddah-Toronto. Ia sering naik Saudia tapi kalau naik haji atau umrah.
Kali ini ke Jeddah hanya transit.
Ke mana pun
pergi Prof Brahmana selalu bersama istri –putri Mayjen TNI Purn Imam Utomo,
gubernur Jatim pada masanya. Saya lihat kiriman fotonya bersama istri: ke
berbagai belahan dunia.
Sang istri
sedang mendapat tantangan berat: kanker paru. Karena itu Prof Brahmana tahu
persis kondisi psikologi keluarga pasiennya yang sakit kanker. "Setiap
mengobati pasien awalnya saya bicara sebagai dokter. Setelah itu saya bicara
sebagai keluarga," ujar Brahmana kemarin.
Bahkan Brahmana
pernah dapat tantangan mengatasi kanker yang menyerang anak laki-lakinya:
kanker darah. Sang anak masih sangat muda saat itu: 20 tahun. Masih di semester
lima fakultas kedokteran Unair.
Sang anak,
Nadhif Rashesa Brahmana, harus menjalani transplantasi sumsum tulang belakang.
Tapi transplant itu baru bisa dilakukan kalau level kankernya di bawah lima.
Untuk itu Nadhif harus menjalani kemoterapi tiga seri. Setiap seri tujuh kali
–tujuh hari. Di tahap awal kemo, Nadhif sampai merasa mual. Tapi apa boleh
buat: harus diteruskan.
Awalnya Nadhif
merasa cepat lelah. Terutama kalau lagi main basket –ia sering latihan basket
di halaman Masjid Cheng Hoo Surabaya. Setelah diperiksakan ke rumah sakit,
dokter langsung minta Nadhif menjalani transplantasi sumsum di Singapura.
Ada persoalan
teknis: siapa yang akan menunggui Nadhif selama di Singapura. Setidaknya ia
akan tiga bulan di sana. Saat itu Nadhif sudah pacaran serius dengan adik
kelasnya di SMAN-5 Surabaya: Nurvania Aurelia Budirahmadina –seorang putri
pimpinan bank asing di Surabaya.
Keputusan
keluarga: dikawinkan saja. Agar Aurelia bisa menunggui Nadhif di Singapura.
Maka pernikahan pun dilakukan. Sangat sederhana. Di kamar opname di rumah
sakit. Hanya keluarga dekat dan penghulu yang hadir.
Di awal
perkawinan itu terpikir untuk menyimpan sperma Nadhif di bank sperma: siapa
tahu dalam proses transplantasi sumsum nanti terjadi akibat pada kesuburan.
Setelah tiga
seri kemo level kanker Nadhif turun banyak: tinggal 2. Maka transplant sumsum
dilakukan. Kebetulan darah adik Nadhif sangat cocok sebagai donor. Sebanyak 300
ml sel darah sang adik pun disuntikkan lewat pembuluh darah utama di leher.
Sel-sel baru itu akan menuju tulang belakang –menggantikan sel lama. Dengan
begitu produksi darah Nadhif dilakukan oleh sel-sel darah baru dari adiknya
itu: Alisha Princessa Brahmana.
Kini Aurelia
sudah punya dua anak. Proses kehamilannya normal –tidak perlu menggunakan
sperma yang disimpan di bank sperma.
Sudah lama saya
tidak bertemu Aurelia. Bertemu terakhir di pesawat, saat sama-sama pulang dari
Singapura. Saat itu saya ke Singapura untuk menjenguk Ibu Ani Bambang
Yudhoyono, almarhumah. "Suami saya pernah dirawat di sebelah kamar Bu Ani
di rumah sakit yang sama," ujar Aurelia kala itu.
Kini Brahmana
tinggal konsentrasi menyembuhkan sang istri –menderita kanker paru sejak 2021.
Di pidato
pengukuhan guru besarnya pagi ini Prof Brahmana akan menguraikan terapi
presisi, bedah robotik, dan kecerdasan buatan di bidang ongkologi ginekologi
menyongsong Indonesia Emas 2045.
Bersamaan
dengan Prof Brahmana, dua guru besar lainnya juga dikukuhkan: Prof Dr Sri Endah
Kinasih SSos di bidang antropologi hukum dan migrasi, serta Prof Dr drh Rochmah
Kurnijasanti di bidang ilmu natural product farmakoterapi dan toksikologi.
Selama ini saya
banyak berdiskusi dengan Prof Brahmana. Juga beberapa kali diundang podcast IDI
Surabaya. Saya mendapat pandangan tajam darinya: kelemahan utama dokter di
Indonesia adalah sulitnya membentuk tim yang sehati, permanen, dan solid.
"Kalau
keahlian dokternya kita tidak kalah dengan dokter di negara maju. Kelebihan
mereka adalah punya tim yang kuat. Kita sulit membentuk tim seperti itu,"
katanya kepada saya suatu ketika.
Pendapat Prof
Brahmana itu terus saya ingat. Harus dicarikan jalan untuk bisa terwujud.
Mungkin kuatnya dokter memegang prinsip sebagai profesi punya dampak sampingan:
para dokter menjadi sangat egois.
Saya juga akan
terus ingat kata-kata ketua tim dokter yang melakukan transplantasi hati saya
–meski sudah 20 tahun lalu. Yakni saat ia mengumpulkan tim dokter yang
menangani pemulihan saya –karena tidak segera menemukan jalan keluar dari
keluhan saya.
"Kalian
ini, setelah berhasil jadi dokter, lalu berhenti sebagai ilmuwan. Tidak boleh
begitu. Dokter harus terus jadi ilmuwan. Temukan apa penyebab keluhan pasien
kita ini," katanya yang terus terngiang di telinga saya. Mungkin ia
mengira saya tidak mengerti bahasa Mandarin.
Terapi presisi
memang kian jadi tuntutan. Tentu dokter bisa melakukan terapi presisi kalau di
tingkat pemeriksaan sebelumnya sangat tepat. Teknologi untuk pemeriksaan itu
kian maju.
Presisi, untuk
kanker, juga berarti targeted. Harus memilih obat yang bisa langsung menuju ke
sel kanker. Tapi ada kendala besar. Kanker banyak macamnya. Pun bisa berubah.
Pemeriksaan harus kian presisi. Juga kian up-to-date. Hasil pemeriksaan
sebelumnya bisa saja sudah tidak sama.
Prof Brahmana
termasuk dokter yang tidak berhenti sebagai ilmuwan. Ia terus belajar –termasuk
dalam melakukan operasi pakai robot dan pakai kecerdasan buatan.
Di dalam
praktik dokternya ia sering menemukan kasus yang memerlukan keilmuan. Misalnya
ada pasien kanker ovarium. Kankernyi sudah metastasis ke liver. Brahmana harus
melakukan operasi konservatif. Ia pertahankan rahim dan satu indung telur
pasien. Lalu mengangkat bagian liver yang ada metastasisnya. Setelah itu baru
dikemoterapi.
"Sekarang
dia sehat. Anaknyi sudah dua orang," katanya.
Lalu ada kasus
seorang ibu hamil anak pertama. Ibu itu mengidap mioma (tumor jinak rahim).
Tumornyi sudah 30 cm. Akhirnya bayi bisa lahir sehat melalui operasi sesar.
Saat itulah sekaligus diangkat miomanyi. Tanpa harus mengangkat rahimnyi.
Sekarang ibu itu sudah punya anak dua.
Ada lagi yang
terkena kanker serviks. Hamil. Ketika ditemukan stadium kanker serviksnyi
termasuk lanjut –stadium IIB. Pasien mendapat kemoterapi enam seri saat hamil.
Setelah cukup bulan dilakukan operasi caesar –sekalian operasi untuk kanker
serviks. Termasuk mengangkat rahim dan kelenjar getah bening. Itu termasuk
operasi histerektomi radikal. Saat ini ibu dan bayinyi sehat.
Memang baru
hari ini Prof Brahmana menerima gelar guru besar. Tapi sudah agak lama saya
memanggilnya profesor. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/977226/lama-profesor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar