|
Krisis
Bahan Bakar di Depan Mata Redaktur Editorial 1 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 01 November 2026
|
· Ketahanan tata kelola penyediaan bahan
minyak Indonesia rapuh, bukan hanya karena gejolak geopolitik. · Ada perbedaan antara fakta dan klaim
pemerintah mengenai stok bahan bakar minyak yang malah mempercepat krisis. · Krisis bahan bakar bisa meluas karena
konsumsi meningkat sementara pasokan seret. KELANGKAAN
bahan bakar minyak di sejumlah daerah merupakan alarm keras menuju terjadinya
krisis energi di dalam negeri. Setelah di Bali dan sebagian provinsi di
Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera, kini masyarakat di Jawa Timur kesulitan
mendapatkan solar dan bensin Pertalite. Kekurangan pasokan bisa merembet ke
wilayah lain karena kuota bahan bakar bersubsidi itu diperkirakan habis
sebelum akhir tahun. Seperti
biasa, pemerintah menganggap masalah ini sekadar gangguan distribusi. Padahal
akar persoalannya lebih mendasar: ketahanan stok BBM nasional yang rapuh.
Celakanya, publik tak pernah bisa benar-benar tahu karena datanya tak
transparan. Bukan hanya soal informasi kuota yang tersisa, melainkan juga
berapa sesungguhnya persediaan setiap jenis BBM. Tanpa data yang valid dan
terbuka, pemerintah sendiri bahkan tidak punya gambaran utuh mengenai ancaman
krisis di depan mata. Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, misalnya, menyebutkan stok
Pertalite dan solar nasional mencapai 16-20 hari. Tapi angka tersebut tidak
menjawab masalah ketimpangan distribusi antardaerah. Stok Pertalite di Malang
Raya, Jawa Timur, misalnya, dilaporkan hanya cukup untuk 1,3 hari. Persediaan
solar di terminal BBM Tuban di provinsi yang sama hanya sekitar 5 persen
kapasitas tangki. Anehnya, kapasitas tangki penyimpanan Pertamax, yang
stoknya diklaim pemerintah mencapai 27 hari, di sejumlah depot di provinsi
itu juga hanya terisi kurang dari 10 persen. Perbedaan
yang jomplang antara klaim dan kenyataan tersebut merupakan bom waktu
terjadinya krisis. Apalagi pasokan minyak mentah dan bahan bakar yang sudah
diolah dari luar negeri masih seret akibat ketegangan di Teluk Persia.
Kebijakan pemerintah membuat stok solar kian rawan. Saat negara lain berburu
solar, Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia tidak lagi mengimpornya
karena memiliki B50, bahan bakar campuran olahan minyak sawit dan fosil
dengan komposisi 50 : 50. Faktanya,
biodiesel tersebut belum tersedia merata di pasar. Penyebabnya pun pemerintah
sendiri. Pasokan metil ester asam lemak (FAME), bahan baku B50, tidak lancar
karena perusahaan kesulitan mengoperasikan pabriknya gara-gara kekurangan
modal lantaran pembayaran restitusi pajak ditahan pemerintah. Agaknya
Prabowo selalu mendapat laporan dari anak buahnya bahwa persediaan bahan
bakar mencukupi. Termakan laporan “asal bapak senang”, tak mengherankan jika
Prabowo sering menggembar-gemborkan kedaulatan energi di podium. Padahal,
kenyataannya, ketersediaan bahan bakar jauh dari aman. Bukan hanya
pasokannya, melainkan juga anggarannya. Dana
subsidi dan kompensasi energi meleset jauh dari proyeksi. Alokasi untuk tahun
ini awalnya Rp 376 triliun dengan harga minyak mentah dipatok US$ 70 per
barel dan nilai tukar Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat. Dalam hitungan
terbaru pemerintah, dengan asumsi harga minyak mentah US$ 96 per barel dan
dolar melambung ke level Rp 17.600, kebutuhan dana subsidi dan kompensasi
mencapai Rp 900,5 triliun. Pemerintah
hanya sanggup mengalokasikan Rp 490,9 triliun. Sisanya, Rp 400 triliun lebih,
akan dibayarkan tahun depan kepada Pertamina dan PLN—itu pun jika anggarannya
tersedia. Dengan kas yang tipis, Pertamina pun tak leluasa mencari pasokan. Krisis
bahan bakar bisa lebih cepat meluas karena konsumsi terus meningkat. Di Jawa
Timur, misalnya, belum juga Oktober berlalu, tingkat penyaluran solar sudah
di atas 86 persen. Belasan kota dan kabupaten di provinsi itu diperkirakan
kehabisan kuota pada November 2026. Adapun stok Pertalite yang memang tipis
diperkirakan lekas kosong karena terjadi perpindahan konsumen dari Pertamax
setelah harga BBM nonsubsidi naik. Keliru
dalam tata kelola, pemerintah yang tak kompeten juga gagal mengantisipasi
perubahan pola konsumsi. Kuota ditetapkan tanpa menghitung perkembangan
kebutuhan. Akibatnya, kelangkaan tinggal menunggu waktu. Masalah
yang berpilin-pilin tersebut akan makin sulit diurai jika nilai tukar rupiah
makin ambruk—yang juga disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam mengelola
kondisi fiskal dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Walhasil, bahan
bakar akan makin sulit dicari. Selanjutnya, kita harus bersiap menghadapi
kegawatan yang lebih besar. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/krisis-bahan-bakar-di-depan-mata-2302878 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar