|
Layar Marlupi Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 08 November 2026
Saat melayat
Jumat malam kemarin saya ikut bertepuk tangan berkali-kali. Wanita di sebelah
saya juga terus bertepuk tangan sambil terisak-isak sedih. Wanita itu putri
pertama jenazah yang disemayamkan di situ –di rumah duka Adi Jasa, Surabaya.
Nama wanita
terisak itu Anda sudah tahu: Fifi Sijangga. Nama ibunyi yang meninggal pun Anda
sudah tahu: Marlupi Sijangga –tokoh legenda balet Indonesia.
Marlupi
meninggal di usia 90 tahun –di adat Tionghoa biasa membulatkan angka 89 menjadi
90. Di hari Marlupi meninggal itu nyaris bersamaan dengan usia ke-70 akademi
balet yang dia dirikan: Marlupi Dance Academy.
Marlupi
sebenarnya punya keinginan di ulang tahun ke-70 akademi tari itu, diadakan
pertunjukan balet yang istimewa di Jakarta: di Taman Ismail Marzuki. Memang
satu prestasi besar sebuah akademi bisa bertahan sampai umur 70 tahun –bahkan
justru terus berkembang lebih maju.
Persiapan
pertunjukan terus dilakukan. Bahwa puncak acaranya dilakukan di Jakarta karena
pertumbuhan Marlupi Dance Academy terpesat ada di Jakarta: sudah punya lebih 25
cabang. Total lebih 50 cabang di seluruh Indonesia dengan jumlah siswa 3.500
orang.
Persiapan
puncak acara pun sudah matang. Ternyata Marlupi meninggal dunia. Pertunjukan
tidak dibatalkan. Justru sekaligus untuk mengantarkan Marlupi menuju surganyi.
Pertunjukan itu disiarkan secara live streaming yang bisa ditangkap di ruang
jenazah di Surabaya.
Satu layar
besar dipasang di ujung ruang duka. Lima layar lainnya disebar di berbagai
sudut. Saya duduk satu meja dengan tiga anak Marlupi: si sulung Fifi Sijangga
dan si kembar Mar Dwatmadja dan Mar Dwatmadji. Kata "Mar" di depan
nama si kembar diambil dari nama mamanya.
Untung saya
datang lebih awal: sempat berdoa di depan jenazah, membungkuk tiga kali ke
peti, sekali ke arah keluarga di kanan peti, dan sekali ke arah keluarga di
kiri peti. Lalu kami sama-sama menuju meja duka untuk mendapat sajian nasi uduk
(nasi lemak), wedang ronde, dan berbagai minuman beserta kue. "Sebentar
lagi kita nonton live streaming dari Taman Ismail Marzuki Jakarta," bisik
Fifi ke telinga saya.
Maka mulailah
kami menonton pertunjukan balet ulang tahun ke-70 Marlupi Dance Academy
–sekaligus balet pengantar pendirinya ke surga.
Adegan pertama
adalah balet kolosal: panggung penuh dengan penari balet. Saya tidak tahu apa
judul balet itu. Tapi indah sekali.
Tampilan kedua
bikin gemes: balet anak-anak kecil murid akademi. Sekecil itu sudah bisa balet
begitu bagus.
"Untuk
bisa seperti itu mereka sudah berapa lama berlatih di akademi?"
"Tiga
tahun. Setidaknya dua tahun," ujar Fifi sambil terus memperhatikan
anak-anak didiknyi di layar.
"Umur
berapa paling kecil yang bisa diterima di akademi?"
"2,5
tahun," jawab Fifi. "Anak sekarang umur 2,5 tahun sudah
pintar-pintar," tambahnyi dalam bahasa Inggris. "Mungkin orang tua
sekarang menyiapkan anak mereka lebih baik dibanding zaman dulu," ujar
Fifi.
Tiba-tiba
tangan Fifi menunjuk ke layar. "Look. That anaknya Pak Syahroni, anggota
DPR," ujar Fifi. "Anak beliau masuk akademi yang di Sunter,"
tambah Fifi.
Pertunjukan
keempat terlihat beda. Ternyata mereka adalah guru-guru akademi yang di
Jakarta. Mereka tidak mau kalah dengan tampilan murid-murid balet sendiri.
"Para guru ingin turut berduka dengan cara menari balet," kata Fifi.
Marlupi adalah gurunya para guru itu.
"Pertunjukan
berikutnya adalah balet yang paling digemari mama," kata Fifi. "Tuh
sudah mulai," tambahnyi.
Oh... ini.
Balet yang ini sih saya tahu judulnya: Swan Lake. Penarinya remaja. Saya ikut
tidak berkedip. Bagus sekali. Rasanya inilah Swan Lake terbaik yang pernah saya
tonton di dalam negeri. Duh kaki-kaki yang lincah yang hanya bertumpu pada
ujung ibu jari itu, betapa matangnya mereka. Rasanya tidak kalah dengan Swan Lake
yang pernah saya tonton di salah satu panggung balet dunia. Di Leningrad
–sekarang St. Petersburg.
"Kalau di
mata Anda berapa nilai Swan Lake para remaja di layar itu?" tanya saya
kepada Fifi.
"Very
good. Seven," jawab Fifi.
Rasanya
almarhumah Marlupi ikut tersenyum bangga dari dalam peti jenazah: akademinyi
mencapai usia 70 tahun. Yang lebih bangga lagi: dia punya anak segila dirinyi
sendiri: Fifi.
Fifi gila
balet. Gila beneran. Melebihi gila mamanyi.
"Kalau
kegilaan mama terhadap balet saya nilai 100, berapa kegilaan Anda?" tanya
saya ke Fifi.
"150,"
jawab Fifi. "Yes. Sure," tambahnyi.
Rasanya saya
setuju dengan itu. Anak lebih hebat dari orang tua. Fifi membuktikan itu dengan
membuat Marlupi Dance Academy tidak lagi hanya jago kandang. Fifi berani
"menantang" Jakarta. Dia melihat Jakarta adalah medan tempur yang
lebih besar –yang bila berhasil hasilnya luar biasa.
Fifi berhasil.
Tidak mudah. Jakarta tidak kenal Marlupi, apalagi Fifi. Di Jakarta sudah ada
buah bibir yang lebih internasional: Farida. Anda sudah tahu siapa Farida
–lebih tahu lagi setelah disebut nama lengkapnyi: Farida Syuman.
Farida adalah
pebalet pertama Indonesia yang bisa sekolah sampai di ''Harvard''-nya balet:
Akademi Balet Bolshoi di Rusia –Uni Soviet saat itu.
Waktu di Rusia
itulah Farida kenal dengan mahasiswa Indonesia yang belajar perfilman di sana:
Syumanjaya. Mereka pun kawin. Punya dua anak. Cerai. Dua-duanya tetap jadi
legenda: Farida di balet, Syumanjaya di penyutradaraan film. Dua-duanya sudah
meninggal dunia.
Marlupi pernah
belajar balet ke Farida. Sebentar. Lalu belajar ke Singapura, Hong Kong, Swiss,
dan Kanada. Fifi disekolahkan balet sampai ''Harvard''-nya balet yang lain:
London.
Di tangan
generasi kedua, akademi Marlupi berkembang pesat. Kini sudah ada ratusan cabang
akademi di seluruh Indonesia –terbanyak di Jakarta. Muridnya tidak hanya dari
Indonesia. Juga dari Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.
"Red
Balerina" julukan untuk balerina dari Marlupi, sangat ditakuti oleh
peserta lomba balet di Asia. Sudah10 Red Balerina dilahirkan Marlupi yang
levelnya sudah dunia. Tiga di antaranya kini sedang dalam puncaknya.
Salah satu dari
tiga itu putri Fifi sendiri. Sayang saat sedang tampil di Miami, Amerika, dia
cedera punggung. Harus berhenti balet. Untungnya dia punya bakat lain seperti
bakat yang dimiliki oma dan mamanyi: bakat mengajar. Tidak semua balerina hebat
punya kemampuan mengajar yang baik.
Marlupi Dance
Academy kini menjadi akademi balet terbesar di Indonesia –bahkan Asia Tenggara.
Marlupi sendiri
ternyata singkatan dari Marry –bunda Maria– dan Dewi Palupi –istri Arjuna yang
sangat cantik dan baik hati di dunia pewayangan. Indonesia berutang nama baik
di dunia balet kepada Marlupi.
Sudah lebih 30
tahun saya bersahabat dengan keluarga Marlupi yang baik hati. Sejak dulu dia
sering datang ke kantor redaksi: bawa sekeranjang lemper. Saya minta kepada
Marlupi untuk meramaikan kantor kami yang masih sepi, berantakan, dan belum
sepenuhnya jadi: dia mau buka kelas balet di gedung kami. Sampai saya sudah
lama meninggalkan gedung itu Marlupi masih di sana. Sampai pun dia meninggal
dunia.
Rumah duka
malam itu penuh dengan pelayat yang umumnya penari balet. Sesekali saya melirik
ke peti jenazah: saya khawatir Marlupi tidak tahan melihat kesedihan mereka
lalu bangkit ikut menari di layar balet bersama mereka. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/977985/layar-marlupi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar