Senin, 01 Februari 2016

Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa

Suparto Brata, Begawan Sastra Jawa

Tito Setyo Budi; Dosen STKIP PGRI Ngawi;Peserta Program Doktor di ISI Solo
                                                      KOMPAS, 31 Januari 2016

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Ada tiga nama besar yang tergolong pengarang anapas landhung (memiliki napas panjang, artinya mampu membuat cerita-cerita panjang) dalam sastra Jawa modern, yaitu Esmiet, Tamsir AS, dan Suparto Brata. Ketiganyalah yang secara bergantian mengisi lembar-lembar cerita bersambung di tiga majalah berbahasa Jawa terkemuka, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya (keduanya terbitan Surabaya) serta Djaka Lodang (terbitan Yogyakarta), dalam kurun waktu tiga dasawarsa, dari tahun 1960-an hingga 1980-an.

Namun, dalam peta sastra Jawa, nama Suparto Brata seakan berada dalam kelas tersendiri. Pemilihannya atas cerita-cerita detektif membuatnya memiliki barisan penggemar fanatik. Tokoh detektif Handoko yang digambarkan bertubuh kurus, tinggi sedang, berkulit sawo matang, namun cerdik dan teliti (ada yang lantas mengidentifikasikan dengan persona Suparto Brata sendiri), telah membius ribuan pembacanya. Terutama pada pengujung tahun 1960-an, yang ketika itu Panjebar Semangat mencapai oplah 88.000 eksemplar per minggu (Kompas, 12 September 2015, halaman 16).

Kemampuannya menguasai sejumlah bahasa asing (Inggris, Belanda, dan Jepang) membuatnya tak kesulitan meracik cerita detektif yang disesuaikan dengan lingkungan dan zamannya. Itulah detektif Jawa. Suparto Brata begitu cermat mencatat tempat-tempat atau kota yang akan dijadikan setting cerita bersambungnya. Juga karakter tokoh-tokohnya yang sering digambarkan unik, beneh (berbeda), dalam olahan plot yang tak gampang ditebak, menjadikan pembacanya semakin penasaran.

Dalam proses kreatif, ada perbedaan antara membuat cerita bersambung yang akan diterbitkan setiap pekan dan penulisan novel detektif langsung. Ada kiat tersendiri untuk menjerat pembaca agar selalu menanti dengan harap-harap cemas terbitan berikutnya. Tamsir AS pernah memberikan resepnya, yaitu dengan mengangkat atau mencuatkan sedikit pada ujung alinea sebelum tulisan diakhiri dengan kata: ana candhake (bersambung). Itu pula yang dilakukan oleh Suparto Brata dan Esmiet.

Pengarang ulang-alik

Dalam sebuah sarasehan di pengujung tahun 1970-an di Sasana Mulya, Solo, Sapardi Djoko Damono yang diundang untuk memberikan pemikirannya agar sastra Jawa tetap lestari mengatakan bahwa salah satu caranya adalah sastrawan Jawa harus bisa menjadi pengarang ulang-alik. Artinya, bisa mengarang dalam bahasa Jawa sekaligus juga dalam bahasa Indonesia. Maklumlah, pada sarasehan tahun sebelumnya, pengarang sastra Jawa yang sedang naik daun kala itu menjadi sastrawan Indonesia, Arswendo Atmowiloto, tampil sebagai pembicara dengan makalah yang sangat pendek bertajuk Sastra Jawa Telah Mati. Adapun yang hadir dalam sarasahen itu, katanya, tak lebih dari para peziarah. Banyak peserta sarasehan yang marah. Bahkan seorang pengarang muda dari Tulungagung, Jawa Timur, menyebut Arswendo sebagai pengecut. Dasar Arswendo, dengan gaya cengengesan-nya bukannya menarik ucapannya atau meminta maaf, dia malah berseloroh: iya kecut, karena memang belum mandi.

Maka, nasihat yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono bak kidung pelipur lara. Para pengarang sastra Jawa seakan tergugah untuk melihat cakrawala baru. Ada sebagian yang kemudian ikut menulis dalam bahasa Indonesia. Toh, Suparto Brata tetap yang muncul sebagai jawara. Dialah salah satu (kalau bukan satu-satunya) pengarang sastra Jawa yang mampu melakukan ulang-alik itu. Yang lain tenggelam atau hanya sayup terdengar.

Dengan novelnya-novelnya semacam Saksi Mata, Kremil, Aurora, Saputangan Gambar Naga, Gadis Tangsi, Kerajaan Raminten, Mahligai di Ufuk Timur, Mencari Sarang Angin, dan yang terakhir Tak Ada Nasi Lain (kecuali Kremil, semua novel itu diterbitkan oleh grup Kompas), sepatutnya Suparto Brata disejajarkan dengan sastrawan Indonesia yang lain. Namun, ironisnya, dia tetaplah "hanya" dianggap sebagai pengarang sastra Jawa yang "kebetulan" mengarang dalam bahasa Indonesia. Padahal, novelnya yang berjudul sama, Jaring Kalamangga, yang ditulis dalam dua bahasa, Jawa dan Indonesia, sama memikatnya.

Hal itu juga secara tidak langsung diakui oleh Sapardi Djoko Damono. Dalam majalah Horison, Oktober 1973, Sapardi menulis: "Barangkali ada juga karya bahasa Sunda atau Jawa yang baik, yang seharusnya diikutsertakan kalau kita menyusun antologi sastra Indonesia, terutama yang sengaja disusun untuk bangsa lain. Apakah kita tidak akan pernah memperkenalkan Suparto Brata, misalnya, sebagai penulis Indonesia".

Sastra itu buku

Lahir di Surabaya pada 27 Februari 1932 setelah menamatkan pendidikan menengahnya di SMA St Louis Surabaya (1954-1956), Suparto Brata telah menjatuhkan pilihan untuk mengisi hari-harinya dengan mengarang. Hampir tak ada waktu terlewatkan untuk terus membaca dan menulis, terutama, memang, dalam bahasa Jawa. Jika ada sedikit waktu luang dari pekerjaannya sebagai anggota staf humas  Kotamadya Surabaya (1971-1988/pensiun), pasti diisi dengan menulis crita cekak (cerita pendek). Menurut pengakuannya, aktivitas menulis dimulai pada 1952. Semula dalam bahasa Indonesia yang dimuat oleh media massa waktu itu, semacam Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman,dan Sastra. Tahun 1958, barulah menulis dalam bahasa Jawa yang dimuat dalam majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Garis tangan tak bisa disalahkan jika kemudian Suparto Brata rupanya lebih mencintai sastra Jawa. Meskipun saat saya berkunjung ke rumahnya di kawasan Rungkut Asri, Surabaya, dia mengatakan sambil terkekeh, enaknya menulis dalam bahasa Indonesia dan dibukukan adalah honornya bisa buat membangun rumah. Waktu itu memang bagian belakang rumahnya sedang direnovasi besar-besaran menyusul novelnya, Saksi Mata, baru saja diterbitkan Kompas.

Setelah dua sejawatnya, Tamsir AS dan Esmiet, wafat, tinggal Suparto Brata yang menjadi panutan dan rujukan para pengarang sastra Jawa generasi muda. Hampir  di setiap acara sastra Jawa di sejumlah kota, dia selalu hadir meski biaya untuk itu harus merogoh dari kantongnya sendiri. Duduk, menyaksikan, kemudian menyampaikan beberapa komentar saat diminta. Jika anak-anak muda berdebat hingga tak jelas ujung pangkalnya, biasanya begitu, dia menengahinya dengan kalimat-kalimat yang bijak dan menyejukkan.

Meski tak pernah diakui, saya tahu Suparto Brata membantu biaya penerbitan sejumlah buku pengarang-pengarang muda serta beberapa kali mendonasi lomba penulisan esai dan kritik sastra Jawa. Karena itulah, tak ada yang menampik sebutan begawan sastra Jawa disematkan kepada lelaki kurus, suka berblangkon dan berbaju lurik, itu.

Ketika pada Jumat Pon, 11 September 2015, saya terima kabar dari teman-teman Surabaya bahwa Eyang Suparto Brata telah mengembuskan napasnya yang terakhir pada pukul 21.30, saya terdiam, tergugu. Saya pandangi foto bersamanya yang tergantung di samping tangga ruang atas, di mana beliau, waktu itu, dengan usianya yang hampir menyentuh angka 80, masih energik naik dan turun dari dan ke kamar yang saya sediakan.

Saya dengar kritik kerasnya pada pendidikan sekarang yang mengesampingkan pelajaran mengarang dan lebih mengutamakan keilmuan bahasanya. Juga kegalauannya terhadap minimnya penerbitan buku-buku karya sastra berbahasa Jawa. "Sastra itu buku," teriaknya dalam berbagai kesempatan. Dan dia sendiri telah menerbitkan sedikitnya 183 buku, termasuk yang berbahasa Indonesia. Sepuluh tahun terakhir, sejumlah bukunya dicetak ulang, antara lain Garuda Putih, Donyane Wong Culika, Tretes Tintrim, Jaring Kalamangga,dan Dom Sumurup ing Banyu. Semuanya tak berhenti lama di pajangan toko-toko buku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar