|
HEBATNYA LAKSAMANA CHENG HO DAN RUMAH BERSAMA BANGSA - Bhakti
Indonesia dari Masjid Istiqlal Hingga Kelenteng Sam Poo Kong Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 06 Agustus 2026
|
Suatu
pagi di Sam Poo Kong, Semarang, langkah saya terhenti oleh pemandangan
sederhana. Seorang perempuan tua menyalakan hio, sementara lelaki Muslim
berpeci berdoa di belakangnya. Mereka
datang melalui jalan iman berbeda, tetapi menghormati manusia yang sama. Saat
itu saya memahami bahwa Indonesia selalu menemukan jalan untuk menjadi rumah
bersama. -000- Empat
tahun terakhir, saya mengikuti perjalanan Bhakti Indonesia setiap bulan
Agustus. Kami berpindah rumah ibadah untuk merawat persaudaraan, bukan
mencampurkan ajaran ataupun menyeragamkan keyakinan. Dari
perjalanan itu saya belajar bahwa cinta tanah air bukan hanya slogan.
Nasionalisme memperoleh makna ketika diwujudkan melalui pelayanan yang
membuat kehidupan sesama menjadi lebih baik. Hari
ini, perjalanan itu membawa saya ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang.
Di kawasan Simongan inilah jejak persinggahan Laksamana Cheng Ho terus
dikenang. Tradisi
setempat mengisahkan Cheng Ho singgah ketika seorang awaknya jatuh sakit.
Sebuah gua batu kemudian menjadi tempat beristirahat, berdoa, dan menunggu
kesembuhan. Setelah
armada berlayar kembali, sebagian pengikutnya dipercaya memilih menetap. Dari
petilasan sederhana itu tumbuh ruang penghormatan yang berkembang menjadi
kompleks Sam Poo Kong. Yang
istimewa bukan hanya arsitektur merahnya yang megah. Yang menggetarkan ialah
kenyataan bahwa kelenteng ini mengenang seorang laksamana Muslim dari
Tiongkok. Umat
Konghucu, Buddha, Tao, dan banyak Muslim datang dengan penghormatan. Mereka
tidak disatukan oleh kesamaan teologi, melainkan oleh penghargaan terhadap
kebajikan manusia. Sam
Poo Kong tidak mengajarkan bahwa semua agama sama. Ia mengajarkan kedewasaan
bahwa keyakinan berbeda dapat bertemu tanpa kehilangan identitas
masing-masing. Di
tengah dunia yang mudah mempertentangkan agama, tempat ini menawarkan bahasa
lain. Perbedaan tidak harus melahirkan jarak, sebab penghormatan dapat
menciptakan persaudaraan. Sam
Poo Kong adalah laboratorium kebangsaan yang hidup. Di sana, Indonesia
belajar bahwa rumah bersama dibangun bukan oleh keseragaman, melainkan
kelapangan hati. -000- Sudah
lama saya mendengar nama Laksamana Cheng Ho. Namun semakin saya mempelajari
kehidupannya, semakin terasa bahwa sejarahnya melampaui keberanian dan
petualangan samudra. Kehebatan
pertamanya adalah kemenangan atas nasib yang tampak kejam. Ia lahir sekitar
1371 sebagai Ma He dalam keluarga Muslim Hui di Yunnan, wilayah barat daya
Tiongkok. Ketika
Dinasti Ming menaklukkan Yunnan pada 1381, Ma He masih anak-anak berusia
sekitar sepuluh tahun. Menurut catatan Britannica, ia ditawan, dikebiri, lalu
dikirim ke istana sebagai kasim muda di lingkungan Pangeran Zhu Di. Kasim
adalah laki-laki yang dikebiri untuk bertugas dekat keluarga istana. Praktik
keras itu menutup kemungkinan hidup seksual normal dan keturunan biologis. Bagi
banyak orang, pengalaman itu dapat menghancurkan harga diri dan masa depan.
Namun Ma He mengubah kehilangan pribadi menjadi disiplin, kecerdasan, dan
kesetiaan. Ia
tumbuh menjadi orang kepercayaan Pangeran Zhu Di, kelak Kaisar Yongle, yang
kemudian menganugerahinya nama Zheng He. Dari seorang tawanan, ia bangkit
menjadi tokoh penting dalam kekuasaan Dinasti Ming. Sejarah
tidak mencatat bukti kuat bahwa Cheng Ho menikah atau mempunyai anak
biologis. Namun jutaan manusia kemudian menjadi pewaris nilai yang
ditinggalkannya. Ia
membuktikan bahwa takdir menentukan titik awal, tetapi karakter menentukan
arah perjalanan. Luka dapat mempersempit jiwa, namun juga dapat memperluas
pengabdian. -000- Kehebatan
kedua ialah keberhasilannya memimpin armada maritim terbesar pada zaman
pra-modern. Ia memimpin tujuh ekspedisi besar antara 1405 dan 1433. Menurut
catatan Dinasti Ming yang dirujuk Columbia Asia for Educators, ekspedisi
pertama pada 1405 sudah terdiri atas 317 kapal dan hampir 28.000 awak.
Jangkauannya meliputi Asia Tenggara, India, Teluk Persia, Jazirah Arab, dan
Afrika Timur. Dalam
ukuran armada, awak, dan kapasitas logistik, pelayarannya melampaui ekspedisi
Eropa kemudian. Columbus berangkat pada 1492 dengan tiga kapal kecil,
sedangkan Cheng Ho memimpin jaringan raksasa hampir sembilan dekade
sebelumnya. Vasco
da Gama mencapai India melalui laut pada 1498, puluhan tahun sesudah
ekspedisi pertama Cheng Ho. Asia telah lebih dahulu menghubungkan banyak
pusat peradaban. Namun
kebesaran Cheng Ho tidak seharusnya diukur melalui persaingan sederhana
dengan penjelajah Barat. Nilai utamanya terletak pada skala visi dan
kemampuan organisasinya. Ia
membuktikan bahwa samudra bukan tembok pemisah, melainkan jalan perjumpaan
manusia. Kapal-kapalnya membawa utusan, barang dagangan, pengetahuan, bahasa,
dan kebudayaan. Armada
sebesar itu memerlukan navigasi, logistik, kesehatan, komunikasi, dan
kepemimpinan luar biasa. Cheng Ho bukan sekadar pelaut, melainkan arsitek
perjumpaan antarperadaban. -000- Kehebatan
ketiga, dan menurut saya paling penting, adalah cara Cheng Ho menggunakan
kekuasaan. Ia memiliki kemampuan menaklukkan, tetapi lebih memilih membangun
hubungan. Sejarah
mengenal penakluk yang datang membawa pedang, pajak, dan rasa takut. Cheng Ho
lebih sering datang membawa hadiah, perdagangan, diplomasi, dan penghormatan. Ia
memang memakai kekuatan militer menghadapi perompak atau penguasa yang
mengancam armadanya. Karena itu, sejarahnya tidak boleh diubah menjadi
dongeng tanpa nuansa. Dinasti
Ming juga mempunyai kepentingan politik, ekonomi, dan simbolik. Ekspedisi
Cheng Ho memperluas kewibawaan kaisar serta jaringan hubungan upeti dan
perdagangan. Namun
pelayaran itu tidak membangun imperium teritorial permanen seperti
kolonialisme Eropa kemudian. Ia tidak meninggalkan penjajahan berabad-abad di
wilayah yang disinggahinya. Di
sinilah perbedaannya menjadi penting. Penakluk menguasai wilayah untuk
sementara, tetapi mereka yang menghormati manusia dapat menguasai ingatan
selama berabad-abad. Cheng
Ho dicintai bukan karena membuat bangsa lain berlutut. Ia dikenang karena
banyak masyarakat merasa diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar objek
kekuasaan. Jejaknya
di Nusantara hadir dalam petilasan, kelenteng, masjid, tradisi lisan, dan
nama jalan. Ingatan itu tumbuh karena persahabatan lebih tahan daripada
ketakutan. Kapal
akhirnya lapuk, kekuasaan berganti, dan peta politik berubah. Namun rasa
dihormati dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. -000- Semakin
lama memandang Sam Poo Kong, semakin saya merasa berdiri di hadapan metafora
Indonesia. Bangunan ini menyatukan sejarah, agama, migrasi, dan kebudayaan. Sejarah
bangsa bukan hanya dibentuk peperangan, pergantian kerajaan, atau perebutan
kekuasaan. Ia juga dibentuk pelabuhan terbuka dan tamu yang datang dengan
damai. Saya
membayangkan layar-layar armada Cheng Ho menghilang di cakrawala Laut Jawa.
Kapalnya telah menjadi debu, tetapi pesan perjumpaannya tetap bertahan. Peradaban
tidak selalu lahir ketika seseorang mengalahkan musuh. Kadang peradaban
tumbuh ketika manusia memilih menjadi tamu yang baik di rumah orang lain. Gagasan
itu terasa sangat Indonesia. Negeri ini dibangun oleh manusia berbeda yang
tidak selalu sepakat, tetapi bersedia berbagi tanah air dan masa depan. -000- Karena
itulah Sam Poo Kong tepat menjadi rumah ibadah keempat Bhakti Indonesia.
Tempat ini memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat diubah menjadi energi
persaudaraan. Bhakti
Indonesia lahir dari keyakinan bahwa cinta tanah air harus memiliki tubuh. Ia
harus terlihat dalam tangan yang menolong dan telinga yang mendengarkan. Setiap
Agustus, para relawan menghadirkan pengobatan gratis, donor darah, edukasi
kesehatan, konsultasi psikologi, bantuan sosial, dan pelayanan kemanusiaan
bagi masyarakat. Gerakan
ini dipimpin Mulia Jayaputri, pengusaha yang dikenal sebagai pemilik Restoran
Bunga Rampai di Menteng. Dalam kegiatan ini, bisnis berubah menjadi panggilan
pelayanan. Menurut
dokumentasi resmi Bhakti Indonesia, perjalanan dimulai pada 2023 di Masjid
Istiqlal Jakarta. Setahun kemudian, kegiatan berpindah ke Gereja Katedral
Jakarta, tetangga simbolik yang telah lama berdampingan. Pada
2025, Bhakti Indonesia hadir di Pura Agung Besakih, Bali. Tahun 2026,
perjalanan mencapai Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Semarang. Empat
rumah ibadah mewakili empat tradisi dan empat cara manusia berdoa. Namun
semuanya membawa satu pesan bahwa Indonesia adalah rumah bersama. Perpindahan
tempat bukan sekadar pilihan lokasi atau latar acara. Ia adalah pendidikan
publik untuk mengetuk pintu rumah orang lain dengan hormat. Saya
menyaksikan dokter Muslim memeriksa pasien Kristen dan relawan Katolik
membantu lansia Muslim. Umat Hindu serta pemuda Konghucu mengatur antrean
bersama. Di
ruang pelayanan, identitas tidak dihapus atau disembunyikan. Ia ditempatkan
dalam persaudaraan kebangsaan yang membuat perbedaan kehilangan daya untuk
memisahkan. Bhakti
Indonesia bukan proyek mencampurkan agama. Ia mengajak setiap orang teguh
pada imannya sambil mengamalkan kasih yang diajarkan seluruh tradisi luhur. -000- Ketika
memikirkan Cheng Ho dan Bhakti Indonesia, saya teringat Bowling Alone karya
Robert D. Putnam. Buku ini menjelaskan pentingnya modal sosial bagi bangsa. Putnam
menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan ekonomi atau
militer. Bangsa bertahan ketika warganya saling percaya, membantu, dan
membangun jejaring sehat. Ketika
modal sosial melemah, demokrasi ikut rapuh dan masyarakat mudah terpecah.
Ketika kepercayaan tumbuh, bangsa lebih tangguh menghadapi krisis bersama. Bhakti
Indonesia bekerja pada wilayah yang sering tidak terlihat itu. Ia membangun
pengalaman kecil yang menambah kepercayaan di antara warga berbeda identitas. -000- Saya
juga teringat The Moral Imagination karya John Paul Lederach. Buku ini
menjelaskan bahwa perdamaian membutuhkan kemampuan membayangkan masa depan
bersama. Perdamaian
tidak cukup lahir dari perjanjian politik atau aturan hukum. Ia bertahan
ketika manusia melihat pihak berbeda sebagai sesama, bukan ancaman. Lederach
menyebut perlunya imajinasi moral, yakni keberanian melampaui rasa takut.
Empati harus mendahului kecurigaan agar perbedaan tidak berubah menjadi
kekerasan. Sam
Poo Kong dan Bhakti Indonesia menghidupkan imajinasi moral itu. Keduanya
mempertemukan identitas berbeda dalam ruang penghormatan dan pelayanan nyata. -000- Dua
buku tersebut membantu saya memahami bahwa kegiatan ini bukan sekadar layanan
kesehatan. Yang sedang dirawat adalah modal sosial dan imajinasi moral
Indonesia. Empat
tahun lalu, saya datang terutama karena ingin ikut melakukan kerja sosial.
Kini saya pulang dengan perubahan batin yang tidak saya perkirakan. Saya
belajar bahwa memasuki rumah ibadah agama lain dengan hormat tidak mengurangi
iman. Pengalaman itu justru membuat keyakinan terasa lebih dewasa dan rendah
hati. Di
Sam Poo Kong, saya bertanya mengapa seorang Muslim dihormati dalam kelenteng.
Jawabannya muncul perlahan bahwa kebajikan sering hidup lebih lama daripada
identitas. Saya
juga menyadari bahwa kerja sosial tidak hanya menolong penerima. Ia
menyelamatkan pemberi dari kehidupan sempit yang terlalu berpusat pada diri
sendiri. Kita
hidup dari apa yang kita ambil, tetapi menemukan makna melalui apa yang
diberikan. Di sanalah kemurahan hati memperoleh kedalaman spiritualnya. -000- Tentu
ada yang menilai Bhakti Indonesia hanya simbol indah. Perpindahan rumah
ibadah tidak otomatis menyelesaikan kemiskinan, ketimpangan, intoleransi,
atau diskriminasi. Kritik
itu mengandung kebenaran yang perlu dihormati. Masalah struktural membutuhkan
kebijakan, penegakan hukum, pendidikan publik, serta kerja institusional
berjangka panjang. Namun
simbol dan struktur bukanlah lawan yang harus dipertentangkan. Struktur tanpa
nilai menjadi mesin dingin, sedangkan simbol tanpa tindakan menjadi hiasan. Bhakti
Indonesia bermakna karena simbol persaudaraan diterjemahkan menjadi pelayanan
nyata. Warga memperoleh obat, pemeriksaan, pendampingan, dan pengalaman
dihormati tanpa syarat. Satu
kegiatan memang tidak mengubah seluruh Indonesia. Namun ia dapat mengubah
cara ribuan orang memandang mereka yang sebelumnya dianggap berbeda. Perubahan
sosial kadang dimulai dari pengalaman sederhana seorang anak. Ia melihat
orang tuanya menolong pemeluk agama lain tanpa rasa takut atau curiga. Pengalaman
itu menjadi memori moral yang bertahan lama. Kelak, memori tersebut mungkin
mencegah tangannya menyebarkan kebencian atau ikut melakukan kekerasan. Sam
Poo Kong sendiri berawal dari tempat persinggahan yang kecil. Enam abad
kemudian, ia menjadi simbol persaudaraan lintas agama dan peradaban. -000- Di
Sam Poo Kong, sejarah tidak membeku menjadi batu. Ia tetap hidup dalam
doa-doa berbeda yang bertemu dalam penghormatan kepada manusia yang sama. Cheng
Ho telah lama pergi, tetapi semangat perjumpaannya terus bertahan. Ia
mengingatkan bahwa identitas boleh berbeda, sementara kasih dan martabat
kemanusiaan tetap mempersatukan. Ketika
kegiatan dirancang dan berjalan, saya kembali berdiri di halaman Sam Poo
Kong. Selalu terjadi dalam kegiatan Bhakti Indonesia sebelumnya, para relawan
membereskan meja, sementara warga pulang membawa obat dan harapan. Seorang
lansia menggenggam tangan relawan yang memeriksanya, lalu mengucapkan terima
kasih. Kalimat sederhana itu menjelaskan alasan seluruh kegiatan ini
diselenggarakan. Bhakti
Indonesia tentu tidak mampu menyelesaikan semua persoalan bangsa. Namun
kegiatan ini dapat membuat penderitaan seseorang sedikit lebih ringan dan
kecemasannya sedikit berkurang. Empat
tahun perjalanan mengajarkan bahwa rumah bersama tidak dibangun dengan
menyeragamkan penghuninya. Ia dibangun dengan menyediakan ruang terhormat
bagi setiap perbedaan. Cheng
Ho memiliki armada yang dapat menaklukkan, tetapi memilih membangun hubungan.
Karena itu, ia dikenang bukan melalui ketakutan, melainkan penghormatan. Bhakti
Indonesia menerjemahkan pelajaran itu ke dalam tindakan. Cinta tanah air
memperoleh tubuh melalui darah, obat, pendampingan, dan martabat yang dijaga. Armada
Cheng Ho telah lama menghilang, tetapi pesannya masih berlayar. Peradaban
tidak diwariskan oleh mereka yang paling kuat, melainkan oleh mereka yang
membuat sesamanya tetap merasa saudara. ● REFERENSI Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and
Revival of American Community, Simon & Schuster, 2000. John Paul Lederach, The Moral Imagination: The Art
and Soul of Building Peace, Oxford University Press, 2005. "Zheng He," Encyclopædia Britannica,
https://www.britannica.com/biography/Zheng-He, diakses 6 Agustus 2026. "The Ming Voyages," Asia for Educators,
Columbia University, https://afe.easia.columbia.edu/.../china_1000ce...,
diakses 6 Agustus 2026. |