Sabtu, 01 Juli 2017

Hongyi dan Shangwu di Balik Hsien Loong dan Hsien Yang

Hongyi dan Shangwu
di Balik Hsien Loong dan Hsien Yang
Dahlan Iskan  ;   Mantan CEO Jawa Pos
                                                        JAWA POS, 19 Juni 2017




                                                           
APAKAH perpecahan di keluarga Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong terkait dengan suksesi?

Mengapa yang jadi pemicu perpecahan adalah wasiat terakhir mendiang ayah mereka yang juga bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew?

Apakah kisah suksesi di Singapura akhirnya juga mirip drama pergolakan keluarga kerajaan di Tiongkok zaman dulu? Dengan bumbu lebih seru karena, tidak seperti zaman kekaisaran dulu, kini pergolakan itu bisa dimeriahkan dengan media sosial?

Yang jelas, perpecahan ini bukan soal rebutan harta waris. Dalam pengertian tradisional. Yang jadi objek sengketa memang harta waris. Tapi bukan rebutan untuk mendapatkannya. Melainkan mau diapakan rumah mendiang bapak mereka di Jalan Oxley No 38 itu.

Anak sulung yang kini berkuasa di Singapura, Lee Hsien Loong, menghendaki rumah bersejarah bagi Singapura itu harus diabadikan. Dua adiknya, Lee Wei Ling dan Lee Hsien Yang, berkeras rumah itu harus dirobohkan.

Tentu ada alasan mendasar di baliknya. Saya mencermati adanya alasan yang mendasar itu. Yakni, dari pernyataan tersamar dua adik ini: Singapura harus menjadi lebih besar dari sekadar keluarga Lee Kuan Yew.

Kalimat itu dalam sekali artinya. Dan tujuannya. Dan dampaknya. Tidak berhubungan dengan uang. Sama sekali. Tidak ada hubungannya dengan bagi-bagi warisan.

Ada satu kalimat lagi yang bisa dianalisis sampai jauh. Diucapkan oleh anak sulung Hsieng Yang yang masih muda: Lee (Li) Shangwu. Yang posisinya adalah cucu laki-laki Lee Kuan Yew.

Sejak lama dia mengatakan ini: Jangan ada lagi keturunan Lee Kuan Yew yang sekolah dengan bantuan beasiswa pemerintah. Kalimat ini seperti otokritik. Juga bisa diartikan prorakyat. Tapi bisa juga diartikan menyudutkan sepupunya sendiri: anak Hsien Loong dari Hoching. (Istri pertama Hsien Loong meninggal akibat sakit jantung pada 1982 dengan dua anak. Dua tahun kemudian Hsien Loong mengawini Hoching yang belakangan menjadi wanita amat berkuasa. Juga memberinya dua anak).

Dua adik Hsien Loong memang sama-sama pintarnya. Sama-sama lulusan universitas yang sama: Cambridge.

Adik wanitanya itu, Wei Ling, adalah seorang neurolog lulusan Inggris. Dia penulis tetap artikel di koran terbesar di Singapura, The Strait Times. Tapi hanya satu tahun. Dia marah. Tulisannya diedit redaktur. Agar sesuai dengan misi pemerintah. Dia merasa tidak bisa menulis sesuai dengan hati nuraninya. Dia menilai ada sesuatu yang salah dalam sistem politik dan pemerintahan di Singapura. Yang memberangus kebebasan bicara.

Wei Ling yang memutuskan untuk tidak pernah menikah itu akhirnya lebih berfokus menjadi dokter keluarga. Menjaga ayah-ibunya. Terutama sejak ibunya mulai sakit-sakitan. Juga sejak ayahnya tidak sesegar dulu lagi. Wei Ling terus tinggal serumah dengan ayah-ibunya.

Meski anak wanita, Wei Ling mewarisi sikap keras ayahnya. Suatu saat Lee Kuan Yew mengatakan kepada anak wanitanya ini: ''Watakmu ini persis ayahmu, tapi itu bisa jadi tidak menguntungkan kamu.'' Sebagai anak wanita tentunya.

Apa kata Wei Ling?

Katanya: ''Ibu saya telah menetapkan standar yang tinggi untuk saya kalau saya ingin menjadi seorang ibu yang baik. Mungkin karena itu saya memutuskan untuk tidak mau jadi ibu. Saya tidak akan bisa hidup di sekitar suami. Atau mungkin suami tidak akan bisa hidup di sekitar saya.''

Ucapan Wei Ling itu sangat bagus. Tapi bisa juga menohok. Atau ada yang merasa tertohok: Hoching. Iparnya. Istri perdana menteri yang amat berkuasa. Hoching adalah bos tertinggi Temasek Holding. Semua BUMN Singapura di bawahnya. Dia juga memegang semua dana cadangan Singapura. Dia dinobatkan jadi wanita terkuat di dunia No 30.

Orangnya sendiri sangat sederhana. Ruang kerjanya sederhana. Hoching adalah lulusan teknik elektro dengan kelulusan terbaik dari Inggris.

Tapi, model seorang ibu yang baik di mata Wei Ling adalah sosok ibunya. Meski menjadi istri Lee Kuan Yew yang begitu berkuasa, sang ibu tidak pernah mau tampil. Tidak boleh ikut campur urusan suami. Apalagi itu urusan negara. Sang ibu selalu menempatkan diri di belakang layar. Menjadi penasihat yang tidak diam.

Kelihatan sekali bahwa Wei Ling tidak bisa menerima cara Hsien Loong mengekang kebebasan berpikir dan menempatkan istrinya sebagai orang paling kuat kedua di Singapura.

Si bungsu Hsien Yang kurang lebih sama. Berani melakukan otokritik. Mengoreksi kelemahan pemerintah. Prestasi akademik Hsien Yang memang tidak kalah dengan kakak sulung. Juga sama-sama mengabdi di militer. Bahkan pangkatnya sama-sama brigjen.

Saat Hsien Yang mulai menjabat CEO Singtel (juga pemilik saham Telkomsel Indonesia), banyak yang berspekulasi begini: Kalau ada gangguan kesehatan pada Hsien Loong, Hsien Yang-lah yang bisa tampil sebagai perdana menteri ke-4 Singapura. Waktu itu anak-anak Hsien Loong masih kecil.

Ternyata Hsien Loong sehat-sehat saja. Sampai umurnya 65 tahun saat ini. Sampai menjadi perdana menteri lebih dari 13 tahun. Kemoterapi limpa puluhan tahun lalu sangat berhasil. Hsien Yang sendiri juga sudah tua. Sudah 60 tahun. Istri Hsien Yang, seorang ahli hukum lulusan Stamford University, Amerika Serikat, juga sudah berumur 59 tahun.

Anak-anak mereka kini juga sudah besar. Pintar-pintar. Hebat-hebat. Anak Hsien Loong sudah berumur 29 tahun. Namanya: Lee Hongyi. Lulusan universitas terbaik dunia, MIT Amerika Serikat. Ahli komputer. Pernah bekerja di Google. Sampai menjabat manajer produksi. Prestasi akademiknya luar biasa. Dapat penghargaan tertinggi di Singapura.

Anak Lee Hsien Yang tidak kalah hebat. Umurnya 31 tahun. Namanya: Lee Shangwu. Dia lulusan terbaik Stamford University, Amerika Serikat. Kemampuan debatnya luar biasa. Dia juara debat antaruniversitas.

Lee Hongyi, 29, dan Lee Shangwu, 31, mulai mengejutkan masyarakat Singapura tiga tahun lalu. Saat upacara pemakaman Lee Kuan Yew, kakek mereka. Yakni saat semua anggota keluarga Lee memberikan pidato perpisahan. Sebelum mayat sang kakek dikremasikan.

Pidato Hongyi dan Shangwu sama-sama memikat. Melebihi pidato-pidato orang tua dan bibi mereka. Viewer YouTube berlipat-lipat lebih besar dari pidato orang tua mereka. Bukan saja karena pemirsa YouTube lebih muda, tapi memang sangat berkualitas.

Maka menarik untuk diikuti perjalanan dua anak muda ini.

Tapi, jangan lupakan dulu perjalanan nasib rumah Lee Kuan Yew di Jalan Oxley 38. Jadi dibongkar atau tidak.

Adakah kalau rumah itu dibongkar berarti Hsien Loong kalah? Termasuk tidak bisa memanfaatkan rumah itu untuk melestarikan kekuasaan keluarga Lee? Dalam hal ini dari jalur Lee Hsien Loong?

Mengisi Ulang Baterai Birokrasi

Mengisi Ulang Baterai Birokrasi
Abdullah Azwar Anas  ;   Bupati Banyuwangi
                                                   KORAN SINDO, 21 Juni 2017




                                                           
KITA semua patut bersyukur, tahun ini diberi kesempatan untuk berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadan.

Ramadan seyogianya dimaknai bukan hanya sebagai bulan bagi kita untuk berpuasa. Bukan pula sekadar berharap ampunan dari Yang Mahakuasa. Ramadan juga bukan sekadar bulan kala umat Islam mengharapkan pahala dan penghapusan dosa. Lebih dari itu Ramadan adalah saat ketika kita memasang cermin kehidupan yang merefleksikan apa yang telah kita perbuat selama setahun terakhir. Momentum untuk melakukan refleksi, becermin, berkontemplasi, menelaah diri sendiri seutuhnya adalah momentum yang dibutuhkan setiap manusia.

Melalui momentum ini setiap manusia disadarkan bahwa hidup tak selalu harus terus berlari dan menerjang. Sesekali kita harus menengok ke belakang untuk mengambil jeda dan mengevaluasi diri. Melalui rangkaian Ramadan dan berlanjut ke momen Idul Fitri, kita mengisi ulang baterai kejiwaan kita. Hidup sesekali harus berhenti, menarik napas panjang, mengumpulkan energi kehidupan untuk kemudian berlari kembali menuju tahapan yang lebih baik lagi. Makna itu pula yang semestinya diupayakan di lingkungan kita sehari-hari.

Dalam hal ini adalah birokrasi, tempat kini saya menghabiskan waktu. Selepas Ramadan dan memasuki Idul Fitri, kita berharap bisa menjadi sosok yang lebih mampu memahami apa arti pelayanan publik. Pemahaman baru ini diharapkan bisa memacu kinerja birokrasi menjadi semakin baik. Birokrasi perlu terus melakukan terobosan agar pelayanan publik berjalan semakin baik mengingat pelayanan publik menjadi jantung bagi seluruh aktivitas masyarakat. Yang perlu dilakukan bukan lagi pelayanan publik yang bersifat business as usual.

Dalam konteks inilah inovasi menjadi penting dan relevan. Tren perbaikan kinerja birokrasi semestinya semakin mendapatkan pemaknaan yang lebih dalam setelah Ramadan dan momen Idul Fitri, setelah kita memiliki pemahaman segar mengenai hubungan manusia dan kemanusiaan, termasuk dalam relasi antara birokrat dan warga.

Melebur Kesalahan

Berbarengan dengan upaya perbaikan kinerja birokrasi, Idul Fitri memberi makna lain, yaitu bagaimana kita semua melebur kesalahan dan kekhilafan dalam hubungan antarmanusia. Kita tak bisa meremehkan salah, khilaf, dan kesalahan hati yang muncul dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Staf punya kesalahan, tapi pimpinan jauh lebih banyak memiliki kesalahan.

Oleh karena itu di momen inilah semua kesalahan itu harus saling dimaafkan sehingga bisa terbentuk birokrasi yang solid. Satu lagi makna yang mesti diambil dari rangkaian Ramadan dan Idul Fitri adalah perlunya birokrasi menanamkan paradigma kerja yang merangkul banyak pihak hingga level terbawah dan kepemimpinan bersama (shared leadership). Karena dari situlah keberlanjutan program pelayanan publik bisa terjaga.