|
Suatu
hari, seratus tahun dari sekarang, mungkin seorang penulis muda membuka pintu
sebuah kantor sederhana yang masih menyimpan nama organisasi penulis.
Ia
tidak mengenal secara pribadi para pendirinya. Foto generasi pertama telah
menguning, sementara nama mereka tersimpan dalam arsip, buku sejarah, dan
kenangan lama.
Tetapi
lampu kantor masih menyala. Sejumlah penulis muda berdiskusi, seorang novelis
memperoleh bantuan riset, sementara manuskrip baru berdatangan dari berbagai
daerah.
Laporan
keuangan tersedia. Program tahun berikutnya telah disiapkan. Pendiri telah
lama tiada, tetapi rumah yang dahulu mereka bangun masih hidup.
Mungkin
itulah keberhasilan tertinggi seorang pendiri: bukan ketika namanya selalu
disebut, tetapi ketika gagasannya tetap bekerja setelah dirinya perlahan
dilupakan.
-000-
Sebelum
melangkah lebih jauh, saya harus jujur pada satu hal. Esai ini ditulis oleh
orang yang saat ini menjadi bagian dari persoalan yang hendak dibahasnya.
Saya
adalah salah satu penopang utama SATUPENA hari ini, baik dalam pendanaan,
jaringan, maupun arah program. Karena itu, provokasi ini tidak dapat
berpura-pura netral.
Justru
dari posisi itulah pertanyaan ini menjadi mendesak. Seorang strong leader
yang tidak pernah mempertanyakan ketergantungan organisasi kepada dirinya,
pada dasarnya sedang menunda kematian institusinya.
Saya
menulis esai ini bukan untuk memuji model yang sedang saya jalankan,
melainkan untuk mengingatkan diri sendiri, dan komunitas SATUPENA, bahwa model itu
memiliki tanggal kedaluwarsa.
-000-
Indonesia
tidak kekurangan penulis berbakat. Indonesia juga tidak kekurangan organisasi
penulis. Yang masih langka adalah organisasi yang dirancang melampaui usia
pendirinya.
Pantai&
Kepulauan
Banyak
organisasi lahir dengan semangat besar. Kongres digelar, pengurus dibentuk,
cabang berkembang, tetapi waktu kemudian menguji apakah semangat itu sungguh
mempunyai akar.
Dana
menipis, konflik datang, pengurus kelelahan, kegiatan berkurang. Nama
organisasi tetap ada, tetapi kehidupan di dalam rumahnya perlahan menjadi
semakin sunyi.
Sejarah
ternyata tidak menilai organisasi dari niat baik ketika ia didirikan. Sejarah
mengujinya dari kemampuan bertahan ketika para pendirinya sudah pergi.
Karena
itu, pertanyaan penting bukan bagaimana mendirikan organisasi penulis.
Pertanyaan sesungguhnya adalah bagaimana membangun organisasi yang masih
hidup seratus tahun kemudian.
Secara
sederhana, terdapat tiga model: organisasi berbasis anggota, organisasi
berbasis strong leader, dan organisasi berbasis institusi serta dana abadi
yang mandiri.
Ketiganya
sah dan dapat menghasilkan kebaikan. Namun masing-masing mempunyai sumber
energi, kekuatan, kelemahan, serta risiko berbeda ketika berhadapan dengan
perjalanan waktu.
-000-
MODEL
PERTAMA: REPUBLIK PARA ANGGOTA
Model
pertama adalah bentuk paling klasik. Karena organisasi dimiliki bersama, para
anggota membayar iuran untuk membiayai sekretariat, program, advokasi, dan
kebutuhan organisasi.
Pemimpinnya
pada dasarnya menjadi first among equals. Setiap anggota memiliki suara,
setiap anggota mempunyai hak, dan setiap anggota menanggung sebagian
kewajiban bersama.
Model
ini bukan sekadar konsep. Ikatan Dokter Indonesia, PERADI, IKAPI, dan
berbagai organisasi profesi di negeri ini telah bertahan puluhan tahun
terutama karena iuran anggotanya.
The
Authors Guild di Amerika Serikat, yang berdiri sejak 1912, juga hidup dari
iuran ribuan penulis profesional. Society of Authors di Inggris bertahan
lebih dari seabad melalui model yang sama.
Artinya,
Model Pertama terbukti mampu melampaui usia pendirinya. Ia bahkan mungkin
paling demokratis, karena tidak ada satu tokoh yang menjadi titik tunggal
kegagalan.
Namun
keberhasilan model itu di tempat lain berpijak pada satu prasyarat: profesi
menulis sudah memiliki ekosistem ekonomi mapan, sehingga penulis memperoleh
penghasilan layak dari karyanya.
Dalam
keadaan seperti itu, iuran bukan sekadar sumbangan. Anggota memperoleh
konsultasi hukum, advokasi kontrak, informasi royalti, jaringan agen,
pelatihan, dan manfaat profesional yang konkret.
Konteks
Indonesia belum sepenuhnya seperti itu. Banyak penulis kita hidup dari
profesi lain, sementara kegiatan menulis justru menjadi panggilan intelektual
yang tidak selalu menghasilkan pendapatan memadai.
Jika
iuran dijadikan fondasi utama sekarang, organisasi bisa menghadapi paradoks.
Mereka yang paling membutuhkan ekosistem justru menjadi mereka yang paling
berat menanggung kewajibannya.
Ini
bukan berarti Model Pertama harus ditolak. Ia justru menjadi tujuan jangka
panjang yang layak, ketika ekosistem penulisan Indonesia telah cukup dewasa
untuk menopangnya.
Tetapi
dalam fase sekarang, jika iuran dipaksakan sebagai fondasi tunggal, kita
mungkin membangun administrasi yang hidup tanpa kebudayaan yang hidup. Rumah
dengan tagihan tertib, tetapi ruang tamunya sepi.
Di
titik inilah muncul Model Kedua, yang membalik logika organisasi dari menagih
kontribusi anggota menjadi menyediakan sumber daya agar anggota semakin
produktif.
-000-
MODEL
KEDUA: ZAMAN SANG PATRON
Dalam
Model Kedua, pertanyaannya bukan lagi apa yang harus diberikan anggota kepada
organisasi, melainkan apa yang dapat diberikan organisasi agar anggotanya
berkarya.
Muncul
seorang strong leader yang membawa visi, kemampuan organisasi, jaringan,
reputasi, energi, dan dalam keadaan tertentu juga membawa sumber daya ekonomi
pribadinya.
Pemimpin
jenis ini mengelola organisasi kebudayaan dengan sebagian etos entrepreneur.
Ia tidak puas hanya karena rapat berlangsung atau struktur kepengurusan
terlihat lengkap.
Ia
bertanya berapa karya lahir, berapa diskusi berlangsung, berapa penulis
daerah memperoleh ruang, dan berapa tradisi baru berhasil ditanamkan dalam
komunitas.
Kekuatan
terbesar model ini adalah kecepatan. Ketika dana tersedia, energi organisasi
tidak habis mempertanyakan siapa yang akan membayar sebuah kegiatan.
Perhatian
dapat dialihkan dari kelangkaan menuju kemungkinan. Organisasi mulai bertanya
apa lagi yang berguna bagi penulis, bukan siapa lagi yang harus dimintai
uang.
Dalam
lima tahun pertama SATUPENA, misalnya, diperlukan sekitar Rp4 miliar hingga
Rp5 miliar untuk menopang berbagai kegiatan organisasi secara nasional.
Dana
itu memungkinkan aktivitas berjalan tanpa menjadikan kemampuan ekonomi
anggota sebagai syarat partisipasi. Penulis muda dan penulis daerah dapat
tinggal dalam rumah yang sama.
Model
Kedua memilih jalan berbeda dari iuran. Jika pemimpin berkelimpahan secara
ekonomi dan mempunyai panggilan filantropi, ia dapat menyediakan sebagian
bahan bakar bagi rumah bersama.
Di
sinilah kekayaan pribadi mengalami transformasi. Modal ekonomi berubah
menjadi modal kebudayaan berupa buku, forum, penghargaan, kompetisi,
jaringan, dan kesempatan berkarya.
Seorang
penulis mungkin tidak pernah bertemu sang donor, tetapi buku yang berhasil ia
selesaikan dapat menjadi bukti bahwa kemurahan hati pernah menemukan
jalannya.
Namun
Model Kedua mempunyai satu kelemahan besar. Apa yang terjadi ketika strong
leader itu berhenti, menua, berubah prioritas, atau akhirnya meninggalkan
dunia?
Sejarah
nirlaba dunia menyediakan peringatan yang keras. Ketika Henry Ford wafat pada
1947, Ford Foundation nyaris terguncang karena terlalu bergantung pada
dividen tunggal keluarga pendiri.
Yayasan
itu selamat justru karena keluarga Ford memutuskan menjual sahamnya ke publik
pada 1956, mengubah kekayaan keluarga menjadi dana abadi profesional yang
bertahan hingga hari ini.
Sebaliknya,
banyak yayasan personal di berbagai negara berhenti bekerja hanya beberapa
tahun setelah pendirinya tiada, karena tidak pernah membangun mesin ekonomi
mandiri.
Pelajarannya
jelas. Model Kedua hanya sehat apabila strong leader memahami tujuan
akhirnya: menggunakan kekuatannya untuk membuat organisasi semakin tidak
bergantung kepada dirinya.
Ia
harus mengubah jaringan pribadi menjadi jaringan organisasi, reputasi
personal menjadi reputasi institusi, serta donasi tahunan menjadi sumber
pendanaan yang lebih permanen.
Strong
leader terbaik bukan orang yang membuat organisasi tidak dapat hidup
tanpanya. Ia menciptakan hari ketika rumah itu tetap terang setelah dirinya
pergi.
-000-
MODEL
KETIGA: INSTITUSI YANG MENGALAHKAN WAKTU
Model
Ketiga adalah tahap kedewasaan. Organisasi tidak terutama bergantung pada
iuran anggota dan tidak lagi menggantungkan hidup pada dompet pribadi Ketua
Umum.
Organisasi
mulai memiliki mesin ekonominya sendiri berupa dana abadi, manajemen
profesional, filantropi, kemitraan, pendapatan program, sponsor, dan sumber
pemasukan yang beragam.
Ketua
Umum tetap penting, tetapi Ketua Umum berikutnya tidak harus kaya. Ia dipilih
karena integritas, visi, kemampuan memimpin, dan kualitas kebudayaannya.
Inilah
tanda organisasi telah dewasa. Pertanyaan siapa yang memimpin tidak lagi
bercampur dengan pertanyaan siapa yang mampu membayar seluruh kebutuhan rumah
tersebut.
Contoh
nyata tersedia di dunia sastra. The Poetry Foundation di Amerika Serikat
menerima warisan sekitar 200 juta dolar dari Ruth Lilly pada 2002, dan sejak
itu menopang majalah, hibah, serta program pendidikan puisi selama lebih dari
dua dekade tanpa bergantung pada satu tokoh.
MacDowell
Colony, koloni penulis tertua di Amerika yang berdiri sejak 1907, telah
bertahan lebih dari satu abad melalui dana abadi dan filantropi terstruktur,
sehingga ribuan penulis, mulai dari Thornton Wilder sampai penulis muda hari
ini, memperoleh residensi.
Contoh-contoh
itu membuktikan bahwa Model Ketiga bukan utopia. Ia sudah terjadi, telah
teruji waktu, dan dapat menjadi peta bagi organisasi penulis Indonesia yang
ingin bertahan seratus tahun.
Guna
mewujudkan target dana abadi tersebut secara riil, SATUPENA perlu memelopori
skema co-funding kebudayaan: mengombinasikan matching grant dari donatur
korporasi, alokasi hasil kelolaan hak cipta kolektif, serta kampanye
filantropi publik.
Menerapkan
pola kemitraan strategis dengan entitas bisnis ini memastikan dana abadi
tumbuh secara bertahap dari pemangku kepentingan yang luas, sehingga
kemandirian finansial organisasi tidak lagi bergantung pada tunggal figur
Bayangkan
SATUPENA suatu hari memiliki dana abadi Rp100 miliar. Jika menghasilkan
sekitar lima persen bersih setahun, tersedia sekitar Rp5 miliar bagi misi
organisasi.
Pokok
dana tidak dihabiskan. Sebagian hasil digunakan, sebagian ditanam kembali,
sehingga organisasi mempunyai napas panjang dan asetnya tetap tumbuh
menghadapi inflasi.
Maka
pertanyaan organisasi berubah. Bukan lagi siapa yang mendanai kegiatan tahun
depan, melainkan karya apa yang ingin kita lahirkan bagi Indonesia tahun
2050.
Di
sinilah donasi berubah menjadi warisan kelembagaan. Bantuan membiayai sebuah
kegiatan, sementara dana abadi membantu membiayai pergantian generasi dalam
rumah kebudayaan.
Kita
biasanya memahami warisan sebagai sesuatu bagi anak dan cucu. Padahal manusia
juga dapat mempunyai cucu kebudayaan yang tidak pernah ditemuinya.
Generasi
itu mungkin belum lahir ketika dana abadi dibentuk, tetapi kelak memperoleh
kesempatan menulis karena seseorang dahulu memilih menanam sesuatu untuk masa
depan.
Tentu
dana abadi harus dilindungi tata kelola. Ia tidak boleh menjadi rekening
personal Ketua Umum atau alat menguasai organisasi melalui besarnya kekayaan.
Penggunaan
hasilnya harus transparan, investasinya profesional, auditnya tersedia, dan
aturan memisahkan kemurahan hati donor dari kedaulatan anggota dalam
menentukan arah organisasi.
Prinsipnya
sederhana: seseorang boleh menyumbang jauh lebih banyak, tetapi uang tersebut
tidak boleh membeli lebih banyak suara dalam menentukan masa depan rumah
bersama.
Dengan
demikian, filantropi besar dan demokrasi anggota dapat hidup bersama. Satu
pihak memberi bahan bakar, sementara kedaulatan konstitusional tetap berada
pada komunitas.
-000-
DARI
MODEL KEDUA MENUJU MODEL KETIGA
Menurut
saya, SATUPENA sekarang terutama berada pada Model Kedua. Tidak perlu
menyangkalnya, karena dalam fase pembentukan model itu justru mempunyai
banyak keunggulan.
Strong
leader menyediakan energi, pendanaan filantropis, jaringan, budaya eksekusi,
serta kemampuan membuat kegiatan terus berjalan tanpa membebani anggota
dengan iuran wajib.
Namun
SATUPENA tidak boleh berhenti di sana. Tugas sejarah berikutnya adalah
bergerak perlahan dari kekuatan seorang tokoh menuju kekuatan sebuah
institusi.
Perjalanannya
mudah diucapkan tetapi sulit diwujudkan: dari donasi menuju dana abadi, dari
jaringan personal menuju jaringan kelembagaan, dari founder menuju sistem.
Ukuran
keberhasilan strong leader pun harus berubah. Bukan semata berapa lama ia
memimpin, tetapi seberapa kuat organisasi kelak dapat hidup tanpa dirinya.
Di
sinilah saya harus menagih diri sendiri. Jika pada tahun kelima SATUPENA
masih bergantung kepada saya, keadaan itu mungkin wajar dalam fase
pembentukan.
Tetapi
jika pada tahun kesepuluh, kedua puluh, apalagi kedua puluh lima, organisasi
masih berhenti ketika saya berhenti membayar, berarti saya telah gagal dalam
bagian terpenting dari pekerjaan ini.
Saya
berhasil menggerakkan kegiatan, tetapi belum selesai membangun institusi.
Saya mewariskan pergerakan, tetapi belum mewariskan rumah.
Karena
itu, pada Kongres 2026 ini saya mengusulkan indikator baru yang jujur: setiap
periode kepemimpinan harus melaporkan berapa persen ketergantungan organisasi
kepada founder berkurang, dan berapa persen dana abadi telah terbentuk.
Angka
itu, bukan jumlah kegiatan atau jumlah anggota, adalah ukuran sesungguhnya
dari kematangan sebuah organisasi penulis.
Strong
leader boleh bertahan sepanjang anggota masih memilihnya melalui mekanisme
organisasi. Namun setiap tambahan masa kepemimpinan harus memperkuat sistem,
bukan memperpanjang ketergantungan.
Inilah
paradoks kepemimpinan besar. Semakin berhasil seorang strong leader membangun
institusi, semakin kecil organisasi membutuhkan kehadiran pribadinya pada
masa depan.
Pemimpin
yang mencintai kursinya akan menciptakan ketergantungan. Pemimpin yang
mencintai institusinya akan mempersiapkan hari ketika kursi itu dapat ditempati
orang lain.
-000-
Misi
SATUPENA sendiri sebaiknya tetap sederhana: menciptakan lingkungan yang
membuat semakin banyak penulis Indonesia mampu terus berkarya secara bebas,
bermutu, dan berkelanjutan.
Dari
prinsip itu dapat lahir berbagai program. Salah satunya bantuan kompetitif
tahunan bagi penulis yang membutuhkan riset, perjalanan, buku, atau waktu
menyelesaikan manuskrip.
Bayangkan
setiap tahun lima puluh penulis memperoleh bantuan antara Rp5 juta sampai
Rp10 juta untuk mempercepat lahirnya sebuah karya yang dinilai menjanjikan.
Bagi
organisasi, jumlah itu mungkin hanya angka dalam laporan keuangan. Bagi
seorang penulis, ia dapat menjadi pembeda antara gagasan tersimpan dan buku
terbit.
Mungkin
seorang guru di kota kecil telah delapan tahun menyimpan novel. Mungkin
seorang peneliti muda ingin merekam saksi sejarah sebelum mereka meninggal.
Mungkin
seorang penyair dari pulau jauh mempunyai suara penting, tetapi tidak pernah
memperoleh akses menuju jaringan kebudayaan yang selama ini terpusat.
Kita
tak pernah tahu karya besar lahir dari mana. Terkadang sejarah sastra bermula
dari seseorang yang hanya membutuhkan sedikit waktu, kepercayaan, dan
kesempatan.
Jika
lima puluh proyek dibantu setiap tahun, seratus tahun kemudian sedikitnya
lima ribu proyek penulisan pernah memperoleh sentuhan dan kesempatan melalui
organisasi.
Tidak
semuanya harus menjadi karya besar. Cukup beberapa menjadi novel penting,
buku sejarah berpengaruh, pemikiran baru, atau karya yang menjelajah banyak
bahasa.
Organisasi
penulis tidak harus menjadi matahari yang menentukan segala arah. Cukuplah
menjadi rumah yang lampunya menyala agar banyak orang berani menyelesaikan
tulisannya.
-000-
Dua
buku membantu melihat persoalan ini. Peter F. Drucker melalui Managing the
Nonprofit Organization menegaskan pentingnya misi, hasil, disiplin, dan
keberlanjutan.
Organisasi
nirlaba tidak cukup hidup karena niatnya mulia. Justru karena laba bukan
ukuran utama, dampak sosial harus dirumuskan dengan lebih jelas.
Jim
Collins dalam Good to Great menunjukkan kepemimpinan terbaik menggabungkan
kemauan kuat dan kerendahan hati, terutama melalui konsep yang disebut Level
5 Leadership.
Pemimpin
seperti itu ambisius, tetapi ambisinya terutama untuk institusi. Ia membangun
orang, sistem, budaya, dan keberlanjutan yang tetap bekerja setelah dirinya
pergi.
Gagasan
itu menampar saya lebih keras daripada siapa pun. Sebab jika suatu hari
SATUPENA runtuh bersama kepergian saya, kegagalan itu bukan kegagalan
organisasi, melainkan kegagalan seorang leader yang terlalu lama menikmati
menjadi pusat.
-000-
Pada
akhirnya, organisasi penulis tidak diukur dari banyaknya pengurus, cabang,
atau rapat. Ia diukur dari berapa banyak karya yang lahir setelah para
pendirinya tiada.
Bila
suatu hari nama kita terlupakan tetapi lampu rumah itu masih menyala, mungkin
justru di sanalah kemenangan terbesar sebuah generasi akhirnya terjadi.
Sebab
kita tidak sedang membangun organisasi untuk dikenang. Kita sedang membangun
rumah agar orang-orang yang belum lahir kelak mempunyai tempat untuk
berkarya.
Pemimpin
besar tidak mewariskan kursi. Ia menyalakan rumah, lalu memastikan cahayanya
tetap hidup setelah dirinya pergi. ●
REFERENSI
1. Peter F. Drucker, Managing the Nonprofit
Organization: Principles and Practices, HarperCollins, 1990.
2. Jim Collins, Good to Great: Why Some Companies
Make the Leap… and Others Don’t, HarperBusiness, 2001.
3. Ford Foundation, A Legacy of Social Justice: A
Brief History, dokumen kelembagaan tentang transisi endowment 1947–1956.
4. Poetry Foundation, catatan warisan Ruth Lilly
(2002) dan laporan tahunan program hibah.
5. MacDowell, sejarah kelembagaan koloni penulis
sejak 1907.
Sumber : https://www.facebook.com/share/p/1EFPP4pFbq/
|