Selasa, 06 Oktober 2026

 

"The 82 Percent Paradox": Ujian Ekonomi Pasca-Reshuffle

Setiawan Budi Utomo : Direktur OJK.

KOMPAS.COM, 03 Oktober 2026

 

 

                                                           

DUA hari pertama Oktober 2026, menghadirkan konfigurasi baru pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto melantik sepuluh menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober.

 

Sehari kemudian, 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dilantik, menghimpun figur dari beragam latar belakang dan pengalaman.

 

Pergantian orang selalu menarik perhatian. Namun di balik nama, jabatan, dan konfigurasi baru itu terdapat ujian yang lebih fundamental: mampukah penyegaran pemerintahan mempercepat transformasi ekonomi sekaligus memperluas kemakmuran?

 

Pertanyaan itu menemukan relevansinya pada angka yang mencolok. The Wealth Report 2026 dari Knight Frank memproyeksikan jumlah ultra-high-net-worth individuals (UHNWI), individu dengan kekayaan bersih lebih dari 30 juta dollar AS di Indonesia melonjak dari 3.833 orang pada 2026 menjadi 6.966 pada 2031.

 

Pertumbuhannya 81,7 persen atau sekitar 82 persen, tertinggi dalam daftar negara yang diproyeksikan Knight Frank, melampaui Arab Saudi dan Polandia sekitar 63 persen, serta Vietnam dan Australia sekitar 59 persen.

 

Delapan puluh dua persen tentu bukan kabar buruk. Ekonomi yang dinamis membutuhkan entrepreneur, investor, inovator, dan pemilik modal yang berani mengambil risiko.

 

Bertambahnya orang kaya dapat mencerminkan berkembangnya bisnis, investasi, teknologi, dan nilai aset.

 

Namun, angka itu menghasilkan gambaran berbeda ketika diletakkan berdampingan dengan wajah ekonomi Indonesia lainnya.

 

Pada Maret 2026, masih terdapat 22,93 juta penduduk miskin atau 8,07 persen populasi. Kemiskinan memang turun dari 8,47 persen setahun sebelumnya, kemajuan yang patut diapresiasi.

 

Namun, kemiskinan perdesaan masih 10,67 persen, jauh di atas perkotaan 6,34 persen.

 

Ketimpangan pun menyimpan pesan serupa. Gini ratio Maret 2026 tercatat 0,368. Angka ini lebih rendah dibanding Maret 2025 sebesar 0,375, tetapi meningkat dari 0,363 pada September 2025.

 

Kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terendah menikmati 19,22 persen total pengeluaran.

 

Di antara dua realitas itulah muncul apa yang dapat disebut "The 82 Percent Paradox": kemampuan menciptakan kekayaan di puncak berlari sangat cepat, sementara pekerjaan membawa jutaan orang menaiki tangga kesejahteraan masih jauh dari selesai.

 

Bukan Terlalu Banyak Orang Kaya

 

Paradoks ini tidak seharusnya dibaca sebagai pertentangan kaya versus miskin. Persoalan Indonesia bukan karena semakin banyak orang menjadi sangat kaya.

 

Kita justru membutuhkan semakin banyak pencipta kekayaan sepanjang kekayaan itu lahir dari inovasi, produktivitas, kewirausahaan, dan penciptaan nilai, bukan rente dan privilese.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa kuat mesin pencipta kekayaan terhubung dengan mesin pencipta kesejahteraan?

 

Apakah investasi menghasilkan pekerjaan produktif dengan pendapatan lebih baik? Apakah korporasi besar mengangkat UMKM melalui rantai pasok?

 

Apakah sektor keuangan memperluas kepemilikan aset? Dan, apakah anak yang lahir dari keluarga miskin memperoleh pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan akses modal yang memungkinkannya naik kelas dalam satu generasi?

 

Di sinilah perbedaan antara wealth creation dan shared prosperity.

 

Kekayaan di puncak tidak otomatis menjadi kesejahteraan di bawah. Diperlukan mekanisme transmisi yang mengubah modal menjadi investasi, investasi menjadi produktivitas, produktivitas menjadi pekerjaan berkualitas, dan pekerjaan menjadi pendapatan serta kepemilikan aset.

 

Tantangan Indonesia bahkan lebih luas daripada angka kemiskinan nasional.

 

Pernyataan bersama BPS dan Bank Dunia menunjukkan bahwa dengan garis kemiskinan nasional, tingkat kemiskinan Maret 2026 sebesar 8,07 persen.

 

Namun, menggunakan benchmark Bank Dunia bagi negara berpendapatan menengah atas sebesar 8,30 dollar AS PPP per orang per hari, 64,1 persen penduduk Indonesia berada di bawah ambang tersebut.

 

Kedua angka itu tidak dapat diperbandingkan secara langsung karena tujuan dan metodologinya berbeda.

 

Namun, kontras itu mengingatkan sesuatu yang penting: keluar dari kemiskinan belum tentu berarti mencapai kemapanan.

 

Rumah tangga dapat berada sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi belum memiliki bantalan ekonomi memadai. PHK, penyakit, gagal panen, atau lonjakan harga pangan dapat menariknya kembali ke bawah.

 

Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup bertanya berapa banyak orang telah keluar dari kemiskinan, tetapi juga seberapa jauh mereka telah meninggalkannya.

 

Indonesia membutuhkan eskalator mobilitas ekonomi: dari miskin menuju rentan, dari rentan menuju kelas menengah, dan dari kelas menengah menuju kemapanan.

 

Di sinilah agenda pemerataan perlu naik kelas. Ketimpangan bukan hanya persoalan pendapatan, melainkan juga kepemilikan aset.

 

Rumah tangga yang hanya bergantung pada upah mempunyai lintasan ekonomi berbeda dengan mereka yang memiliki rumah, usaha, saham, tanah produktif, dana pensiun, atau investasi.

 

Ketika nilai aset meningkat, pemilik aset menikmati efek pengganda kekayaan. Mereka yang tidak memilikinya semakin sulit mengejar.

 

Karena itu, Indonesia perlu bergerak dari financial inclusion menuju ownership inclusion. Memiliki rekening bank adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

 

Inklusi ekonomi seharusnya memungkinkan semakin banyak masyarakat menabung, berinvestasi, memiliki rumah dan usaha, memperoleh perlindungan hari tua, serta mengakumulasi aset produktif.

 

Dengan kata lain, kebijakan ekonomi tidak cukup menjaga daya beli. Ia harus mulai memperluas daya milik.

 

Ujian Transformasi Pasca-"Reshuffle"

 

Di sinilah reshuffle kabinet dan hadirnya Wantimpres baru memperoleh konteks ekonominya. RPJMN 2025–2029 menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 4,5–5 persen, proporsi kelas menengah meningkat menjadi 20 persen pada 2029, dan pertumbuhan ekonomi bergerak menuju 8 persen.

 

Tantangan pemerintah bukan sekadar mengejar angka-angka tersebut secara terpisah, melainkan menghubungkannya.

 

Pertumbuhan tinggi akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak menghasilkan mobilitas sosial yang sepadan.

 

Investasi karena itu harus semakin job-rich, bukan hanya capital-rich. UMKM perlu bergerak dari objek bantuan menjadi bagian rantai nilai industri.

 

Pendidikan dan vokasi harus terhubung dengan pekerjaan berproduktivitas tinggi. Inklusi keuangan harus berujung pada kepemilikan aset.

 

Perlindungan sosial tetap penting sebagai jaring pengaman, tetapi produktivitas dan kemandirian harus menjadi jalan keluarnya.

 

Wantimpres pun dapat memberi nilai tambah ketika keragaman pengalaman anggotanya diterjemahkan menjadi pertimbangan strategis yang membantu melihat pembangunan melampaui sekat sektoral dan kepentingan jangka pendek.

 

Ketua Wantimpres Pratikno sendiri menekankan keberagaman latar belakang dan pengalaman para anggotanya sebagai modal dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden.

 

Indonesia juga tidak cukup mengandalkan trickle down menunggu kemakmuran menetes dari atas. Yang dibutuhkan adalah linking up: menghubungkan modal besar dengan UMKM, investasi dengan tenaga kerja, industrialisasi dengan pendidikan, digitalisasi dengan produktivitas, dan pasar keuangan dengan kepemilikan aset masyarakat.

 

Negara tidak perlu menghalangi seseorang menjadi sangat kaya. Tantangannya justru memperbanyak jalan agar semakin banyak orang mempunyai kesempatan menciptakan dan memiliki kekayaan.

 

Itulah perbedaan antara sekadar redistribusi pendapatan dan demokratisasi kemakmuran.

 

Menutup Paradoks

 

Proyeksi 82 persen pada akhirnya dapat menjadi dua cerita tentang Indonesia.

 

Ia dapat menjadi simbol ekonomi tempat kekayaan berlari sangat cepat di puncak sementara jutaan keluarga tertinggal beberapa anak tangga di bawahnya.

 

Atau menjadi pertanda lahirnya pusat kekayaan baru dunia yang modal, investasi, dan inovasinya menggerakkan mobilitas sosial secara luas.

 

Karena itu, ujian konfigurasi baru pemerintahan bukan siapa memperoleh kursi baru, tetapi apakah semakin banyak rakyat memperoleh kesempatan untuk naik kelas.

 

Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari berapa banyak orang Indonesia kelak memiliki kekayaan lebih dari 30 juta dollar AS.

 

Ukuran yang lebih bermakna adalah berapa juta keluarga berhasil meninggalkan kemiskinan, keluar dari kerentanan, memasuki kelas menengah, memiliki aset, dan tidak kembali jatuh miskin.

 

Indonesia tidak harus memilih antara menciptakan orang kaya dan mengurangi orang miskin. Ekonomi yang sehat harus mampu melakukan keduanya.

 

Kekayaan menjadi investasi; investasi meningkatkan produktivitas; produktivitas menciptakan pekerjaan berkualitas; pekerjaan menghasilkan surplus pendapatan; dan surplus itu berkembang menjadi kepemilikan aset serta mobilitas sosial.

 

Jika rantai itu bekerja, "The 82% Paradox" akan kehilangan paradoksnya.

 

Indonesia bukan hanya menjadi negeri tempat kekayaan tumbuh cepat di puncak, tetapi negeri tempat tangga menuju kemakmuran semakin terbuka bagi mereka yang memulai dari bawah. ●

 

Sumber : https://money.kompas.com/read/2026/10/03/160500026/-the-82-percent-paradox---ujian-ekonomi-pasca-reshuffle?page=all#page2

 

Menelusuri Jejak Sejarah Teks Kitab Suci, Megenang Taufik Adnan Amal dan Kegigihan Akademiknya

Ahmad Baedowi  :   Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta.

MEDIA INDONESIA, 05 Oktober 2026

 

                                                

 

HARI ini, Senin 5 Oktober 2026, berita duka itu sampai ke mata saya dinihari tadi lewat pesan Nukila Amal, adik dari Taufik Adnan Amal. Taufik menyusul Samsu Rizal Panggabean menemui Tuhannya, meninggalkan kesan panjang perjalanan kami yang sangat sublim dalam menemukan jejak Muhammad sebagai pembawa wahyu. Dengan keinginan yang sangat dalam, diskusi tentang “membumikan al-Qur’an” dari zaman klasik hingga modern merupakan diskusi harian yang renyah di awal-awal berdirinya Kelompok Diskusi Al-Jami’ah. Riset kami tentang sejarah tafsir di Indo-Pakistan dan Mesir di tahun 80-an membawa kami berkenalan sangat akrab dengan tradisi besar pemikiran Sir Muhammad Iqbal, Sayyid Ahmad Khan hingga Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh hingga perjumpaan akademis dengan pemikiran Fazlur Rahman lewat beberapa karyanya.

 

Awal mula di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, labirin diskusi minggunan kami menumbuhkan benih-benih pemikiran kritis Taufik Adnan Amal yang mulai berkecambah subur ketika ia menapaki dunia akademik di lingkungan Kelompok Diskusi Al-Jami’ah. Di sinilah, atmosfer pemikiran Islam neo-modernisme yang hangat mempertemukannya dengan lingkaran sahabat sepemikiran, di antaranya dengan Samsu Rizal Panggabean. Hubungan kolaboratif Taufik dengan para sahabatnya, terutama Samsu Rizal Panggabean terjalin sangat erat. Bersama Rizal, Taufik melahirkan karya Tafsir Kontekstual al-Quran pada tahun 1989. Persahabatan intelektual ini bukan sekadar kedekatan personal, melainkan sebuah ruang dialektika. Rizal—yang kemudian hari dikenal luas sebagai penyunting setia dari buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an—menjadi teman diskusi terdekat yang menantang dan mempertajam metodologi penelitian Taufik. Di sudut-sudut kampus inilah, mereka berdua merumuskan pendekatan rasional-eklektik untuk menjembatani teks suci dengan realitas modernitas.

 

Dunia studi Islam kontemporer di Indonesia tidak akan pernah sama tanpa kehadiran Taufik Adnan Amal. Lewat karya monumentalnya yang mengguncang sekaligus mencerahkan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, pria kelahiran Bandung, 12 Agustus 1962 ini menancapkan namanya sebagai salah satu pelopor studi kritis Al-Qur'an paling tekun di tanah air. Artikel ini ditulis untuk mengenang perjalanan intelektual Nyong Taufik, sebuah pengembaraan sunyi yang melintasi koridor-koridor kampus IAIN hingga perpustakaan-perpustakaan tua di Jerman.

 

Menelusuri Jejak Goldziher dan Nöldeke

 

Ketekunan Taufik Adnan Amal tidak berhenti pada literatur Islam klasik yang jamak dijumpai di perpustakaan lokal. Ia menyadari bahwa untuk merekonstruksi sejarah teks Al-Qur'an dengan objektif, ia harus berdialog langsung dengan tradisi kritisisme Barat. Langkah berani ini membawanya melakukan pengembaraan intelektual hingga ke Jerman. Di Jerman, Taufik menapaki kembali rekam jejak para raksasa orientalisme abad ke-19 dan ke-20. Ia menelusuri pemikiran Theodor Nöldeke (1836–1930), sarjana Jerman legendaris yang memelopori pendekatan historis-kritis terhadap kronologi pewahyuan lewat masterpiace-nya, Geschichte des Qorans (The History of the Qur'an). Taufik memeriksa bagaimana Nöldeke membedah struktur retorika dan periodisasi surah-surah makiyah serta madaniah.

 

Tidak hanya Nöldeke, pengembaraanannya juga bersinggungan dengan warisan metodologis Ignaz Goldziher, sarjana asal Hungaria yang tulisan-tulisan kritisnya mengenai sejarah tafsir klasik banyak dipelajari dan dikembangkan di universitas-universitas Jerman. Taufik dengan teliti membaca, memilah, dan menguji argumen-argumen para orientalis ini. Ia tidak menelan mentah-mentah skeptisisme Barat, melainkan menggunakannya sebagai pisau analisis untuk menguji sejauh mana sejarah teks Al-Qur'an mampu bertahan terhadap kritik sejarah yang ketat.

 

Salah satu sumbangsih paling berani—sekaligus memicu polemik hebat—dari Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an adalah gugatan Taufik terhadap status rasm Utsmani. Jika mayoritas ulama muslim tradisional memandang pola penulisan rasm Utsmani bersifat tawqifi (baku dan bersumber langsung dari petunjuk Nabi), Taufik justru melihatnya sebagai produk historis atau ijtihad para sahabat yang tidak luput dari keterbatasan ortografi Arab pada abad ke-7. Karena teks awal Utsmani belum memiliki tanda baca (titik) dan diakritik (harakat), Taufik berargumen bahwa ragam bacaan (qira'at) justru lahir sebagai akibat logis untuk melengkapi keterbatasan ortografi rasm Utsmani tersebut.

 

Ketekunannya meneliti sejarah teks membawanya pada kesimpulan ekstrem bagi sebagian kalangan: ia menilai penetapan sistem qira'at sab'ah (tujuh bacaan) oleh Ibnu Mujahid pada abad ke-4 Hijriah memiliki kelemahan transmisi dan justru memutus proses unifikasi Al-Qur'an yang alami. Kritik tajam ini melahirkan gagasan radikalnya tentang perlunya sebuah “Al-Qur’an edisi kritis” untuk melacak varian bacaan terbaik, sebuah konsep yang langsung memantik konter akademis dari berbagai lembaga ilmu Al-Qur'an di Indonesia karena dianggap menggoyang keyakinan otentisitas mutlak teks suci.

 

Pengaruh pengembaraan Taufik ke Jerman terasa sangat kental pada struktur metodologis bukunya yang mengadopsi teori tartib nuzuli (kronologi pewahyuan) dari Theodor Noldeke. Nöldeke dalam Geschichte des Qorans membagi penurunan ayat ke dalam empat periode berdasarkan analisis gaya bahasa, struktur retorika, dan evolusi tema: tiga periode Mekah (awal, pertengahan, akhir) dan satu periode Madinah. Taufik menggunakan pisau analisis historis-kritis ini untuk menyusun bab-bab awal bukunya yang membedah fase-fase pewahyuan Al-Qur'an. Dengan mengikuti kerangka Nöldeke, Taufik memperlihatkan bagaimana teks Al-Qur'an bertransformasi dari ayat-ayat pendek berirama puitis yang penuh sumpah pada periode Makkah awal, menjadi teks khotbah yang lebih panjang dan sarat regulasi hukum serta dinamika sosial-politik pada periode Madinah. Melalui pendekatan ini, Taufik berhasil menyajikan Al-Qur'an bukan sekadar sebagai kitab yang turun dari ruang hampa, melainkan sebagai teks suci yang secara aktif berdialog dan merespons realitas kultural serta sosiologis masyarakat Arab dari waktu ke waktu.

 

Sebagai solusi praktis untuk mempermudah pembacaan Al-Qur'an bagi masyarakat modern, Taufik Adnan Amal menjadi salah satu pemikir yang secara terbuka mendukung penggunaan Rasm Imla'i (ortografi konvensional). Perbedaan mendasar dari penulisan ini terletak pada bagaimana sebuah kata direpresentasikan secara visual. Taufik melihat bahwa mempertahankan kerumitan rasm Utsmani tanpa kontekstualisasi sering kali membebani pembaca kontemporer non-Arab. Sebaliknya, rasm imla'i memprioritaskan kejelasan fonetis sehingga mengurangi risiko kesalahan baca bagi umat Muslim awam.

 

Pujian dan defensif

 

Penerbitan tesis-tesis kritis Taufik tidak luput dari perhatian para pemikir besar tanah air. Salah satu tanggapan paling elegan datang dari pakar tafsir terkemuka, Prof Dr M Quraish Shihab, yang bersedia memberikan kata pengantar langsung pada buku tersebut. Quraish Shihab memuji ketekunan riset Taufik sebagai kontribusi berharga yang memperkaya khazanah intelektual Islam di Indonesia. Namun, beliau memberikan catatan kritis yang tajam: buku Taufik dirasa terlalu banyak bersandar pada kutipan karya orientalis Barat seperti Nöldeke, Jeffery, dan Bell, tanpa diimbangi secara proporsional dengan argumen dari spesialis Al-Qur'an dari kalangan internal Islam klasik. Quraish Shihab menegaskan bahwa perbedaan persepsi ini wajar, dan menyarankan agar publik merespons karya Taufik dengan argumen ilmiah tandingan dalam bentuk tulisan atau buku, bukan dengan luapan emosi keagamaan.

 

Respons ini mencerminkan dinamika khas Indonesia: di satu sisi, metodologi Barat diterima sebagai pemantik diskusi orisinal, namun di sisi lain, otoritas keagamaan arus utama tetap menjaga agar bangunan keimanan terhadap teks Al-Qur'an tidak runtuh akibat dekonstruksi sejarah yang radikal. Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di IAIN, serta pengembaraan literatur ke Jerman tersebut pada akhirnya melahirkan sebuah tonggak akademik yang kokoh. Sebagai dosen ulum Al-Qur'an di Fakultas Syariah IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar, ia telah mewariskan standar baru bagi generasi muda Indonesia dalam memperlakukan sejarah Islam: bahwa keimanan pada kitab suci tidak harus membuat kita gentar menghadapi fakta-fakta sejarah.

 

Buah dari ketekunan luar biasa, perdebatan di IAIN, serta pengembaraan literatur ke Jerman tersebut mengerucut pada lahirnya buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur'an. Buku ini menjadi sangat monumental karena berani mendiskusikan topik-topik sensitif seperti sejarah kodifikasi mushaf, variasi bacaan (qiraat), hingga rasm ortografi Al-Qur'an dengan pendekatan historis yang metodis. Meski memicu perdebatan sengit dan kontroversi di kalangan sarjana muslim tradisional karena banyak mengutip sarjana Barat seperti Nöldeke, Arthur Jeffery, dan Richard Bell, karya Taufik dipuji karena kejujuran akademisnya.

 

Mengenang Taufik Adnan Amal adalah mengenang sebuah ketekunan yang sunyi. Ia adalah tipe ilmuwan yang memilih tenggelam di balik tumpukan manuskrip demi memberikan perspektif yang segar, ilmiah, sekaligus islami bagi masa depan studi kitab suci kaum muslimin. Dalam kesunyian dan tumpukan manuskrip yang kerap dia banggakan ketika menemukan sebuah hipotesis baru dari bacaannya yang tak pernah berhenti, kami bertiga dengan almarhum Samsu Rizal Panggabean selalu berhenti ketika menikmati Firth of Fifth dari Genesis dan Comfortably Numb-nya Pink Floyd. Selamat Jalan, Nyong. Mengopi dan merokoklah Bersama Rizal disudut Café Surgawi yang telah kau tapaki jejaknya. Aku akan bergabung pada saatnya nanti, persis seperti di kosan bak asrama yang telah kau tuliskan panduannya untuk Sekolah Sukma Bangsa di Aceh.

 

Igfirlahuma warhamhuma wa’afihuma. Amin. ●

Sumber :   https://mediaindonesia.com/opini/940695/menelusuri-jejak-sejarah-teks-kitab-suci-megenang-taufik-adnan-amal-dan-kegigihan-akademiknya