Jumat, 31 Juli 2026

 

Tan Malaka, Madilog, dan Kritik Hierarki Sosial: Membedah Akar Polemik Nasab di Indonesia

Gus Aziz Jazuli, Lc, MH. :  Santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren di Pasuruan, Jawa Timur, sebelum melanjutkan studi ke kota Tarim di Hadramaut, Yaman.

ORBIT INDONESIA, 04 Juli 2026

 

                                                

 

Sebelum masuk ke kritiknya atas hierarki sosial, penting untuk memahami posisi Tan Malaka sebagai pemikir. Tan Malaka ditempatkan bukan sebagai tokoh komunis yang sekadar "pengikut" Moskow. Sebaliknya, Tan Malaka digambarkan sebagai sosok nasionalis yang memegang teguh kemandirian berpikir.

 

Tan Malaka memutus hubungan dengan Komintern pada 1920 karena menolak diktat Uni Soviet yang dinilainya tidak memahami realitas lokal Asia Tenggara. Hal ini menjadi pembeda kontras dengan D.N. Aidit yang, menurut sejarawan, berperan sebagai "agen internasional" dengan menjaga hubungan diplomatik dan ideologis yang sangat erat dengan Uni Soviet dan Beijing demi legitimasi politik global.

 

Tan Malaka percaya pada aksi massa radikal, perjuangan fisik, dan gerilya. Ia menolak sistem parlemen yang ia anggap borjuis dan menuntut kemerdekaan 100% tanpa kompromi. Yang tak kalah penting, berbeda dengan stigma yang sering dilekatkan pada komunisme, Tan Malaka tidak memusuhi agama. Beliau bahkan secara berani membela Pan-Islamisme pada tahun 1922—suatu sikap yang bertolak belakang dengan gaya PKI era Aidit yang kerap bergesekan dengan kelompok keagamaan di akar rumput.

 

Madilog sebagai Senjata Mental Bangsa

 

Ditulis pada masa penjajahan Jepang (1942–1943), Madilog adalah upaya Tan Malaka untuk menyusun "senjata mental" bagi bangsa Indonesia. Buku ini memiliki misi besar: melawan logika mistik dan membangun rasionalitas.

 

Tan Malaka menyoroti bahwa keterpurukan bangsa Indonesia selama ratusan tahun disebabkan oleh pola pikir yang dikuasai oleh hal-hal mistis, tahayul, fatalisme, dan kepercayaan pada "kesaktian" individu tertentu. Ia mendorong masyarakat untuk meninggalkan pola pikir yang menggantungkan diri pada hal gaib. Ia ingin rakyat melihat dunia berdasarkan fakta nyata, kondisi ekonomi, dan nalar yang sistematis.

 

Ancaman seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Madilog disusun untuk memutus rantai penjajahan mental tersebut.

 

Kritik atas Sistem Kasta dan Privilese "Sayid"

 

Data primer dari Madilog menunjukkan bahwa kritik Tan Malaka terhadap hierarki keturunan sangatlah eksplisit dan langsung menyasar realitas Indonesia.

 

Pertama, ia menulis tentang sistem kasta Hindu:

 

"Bermula sekali masyarakat Hindu sudah dibagi atas 4 kasta terbesar. 1. Kasta Brahmana, ialah kasta pendeta. Kasta ini kasta tertinggi... 2. Satria, ialah Kasta Raja dan Ningratnya... 3. Kasta Waisa, yang terdiri dari golongan saudagar, magang, tukang atau tani. 4. Kasta Sudra, ialah kasta orang 'jembel', seperti penyamak kulit atau tukang sapu jalan. Keempat kasta di atas tiada bisa campur satu sama lainnya, tiada boleh campur makan atau tidur. Apalagi kawin..."

 

Kedua, ia secara langsung menghubungkan kasta Brahmana dengan kasta Sayid di Indonesia:

 

"Ini tiadalah mustahil, karena 99 di antara 100 calon suwarga dari kasta Brahmana itu hidupnya dengan membungakan uang, seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga. Kasta Satria berpuncak pada Raja atau Maha Raja, alias perampok gadis itu, tiada lain melainkan Tuan Tanah penghisap tani Hindustan, kaki tangannya Imperialisme Inggris."

 

Kutipan ini adalah data primer yang tak terbantahkan. Tan Malaka tidak hanya mengkritik sistem kasta Hindu secara abstrak, tetapi secara sadar dan eksplisit menyamakan privilese ekonomi dan sosial kasta Brahmana di India dengan privilese kasta Sayid di Indonesia.

 

Ketiga, ia secara khusus menyoroti privilese kaum "Sayid"—sebutan bagi mereka yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW:

 

"Janganlah tuan pembaca marah, tetapi periksalah surga yang tuan idamkan itu... Pakailah pikiran nuchter, jernih! Lihatlah sekitar tuan saja! Bukankah 'feramfuan' suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said, turunan Nabi MUHAMMAD SAW? Begitu penting ini barang, sampai ketika dua kali saya lalui dan singgah di Mesir, kaum Ibu masih disimpan baik-baik di antara 4 batu tembok, tak boleh keluar. Yang keluar mesti dikudungi betul-betul, tak boleh manusia lain, orang Islam pun melihatnya."

 

Di sini Tan Malaka menyoroti bagaimana privilese keturunan diterjemahkan dalam praktik sosial yang diskriminatif—pengurungan dan penutupan wajah kaum perempuan dari kalangan tertentu.

 

Kritik atas Wayang dan Dominasi Budaya Hindu

 

Tan Malaka juga menyoroti bagaimana kebudayaan Hindu—yang dibawa oleh kelompok yang mengklaim superioritas keturunan—telah mendistorsi budaya asli Indonesia:

 

"Saya memang sudah lama berniat hendak mempelajari wayang lebih dalam... bahwa wayang itu bukan berasal Hindu, melainkan kepunyaan Indonesia... wayang, bayang, memang tepat berarti satu bayangan masyarakat nenek moyang bangsa Indonesia."

 

Baginya, wayang sebelum pengaruh Hindu adalah cerminan masyarakat Indonesia yang praktis, berdasarkan bukti, berani memulai pekerjaan baru, dan berjiwa merdeka. Namun, setelah masuknya pengaruh Hindu dan Arab, terjadi perubahan besar:

 

"Kenapa para Satria dalam cerita Indonesia Tulen bisa diganti, didesak ke sudut atau diperolok-olokkan (Petruk, Gareng dan Semar) oleh cerita Hindu dan Arab, sedangkan satria Indonesia ialah pemimpin dari masyarakat sebenarnya."

 

Kritik ini penting karena menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya menolak kasta sebagai struktur sosial, tetapi juga menolak narasi budaya yang merendahkan nilai-nilai lokal dan menggantinya dengan mitologi asing yang justru melanggengkan hierarki dan fatalisme. Ia menegaskan bahwa peneliti Indonesia harus memiliki "semangat orang merdeka yang mencari perubahan baik", bukan sekadar menjadi pengagum budaya asing.

 

Kritik atas Praktik Ekonomi Rentenir Arab (Sayid)

 

Tan Malaka juga memberikan contoh konkret bagaimana privilese keturunan—dalam hal ini kelompok Arab/Sayid—diterjemahkan ke dalam praktik ekonomi yang menghisap rakyat kecil. Dalam bab tentang "Pertentangan" dalam Madilog, ia menulis kisah tentang "Halal bin Fulus", seorang tuan tanah Arab yang berprofesi sebagai rentenir:

 

"Pencaharian Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni daerah Jakarta, terutama sekali memperbangkan uang umum di pasar-pasar dipinjamkan Arab pada Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari. Berupa kecil, tetapi menurut perhitungan Matematika bunga semacam itu 1,825% setahun... Dengan kerja semacam itu dari turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya mempunyai tanah dan rumah."

 

Kemudian ia menggambarkan bagaimana seorang petani Indonesia terjerat hutang dan akhirnya kehilangan tanah, rumah, bahkan anak perempuannya, sementara pengadilan—yang didominasi oleh kepentingan kelas berpunya—selalu memenangkan pihak rentenir Arab:

 

"Dalam 99 di antara 100 perkara semacam itu, tentulah tuan Halal bin Fulus... yang menang."

 

Tan Malaka dengan tegas menyatakan bahwa keadilan tidak bisa diputuskan dengan logika "hutang harus dibayar" semata, karena persoalan ini berada dalam kerangka pertentangan kelas antara yang berpunya dan tak berpunya:

 

"Tuan Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan Pemerintah berdasarkan 'kepunyaan sendiri', tentulah 100% membenarkan putusan itu. Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok dengan semua Undang kemodalan dan cocok dengan semua Agama. Sebaliknya filsafat kaum Tak Berpunya... 100% pula akan memutuskan bahwa putusan Hakim 'tidak' adil."

 

Ia bahkan memberikan alternatif hukum yang radikal: jika ia berkuasa, ia akan mengusir rentenir asing atau menjadikannya pekerja selama 13 tahun. Di sini, Tan Malaka menunjukkan bahwa privilese keturunan tidak hanya soal simbol kehormatan, tetapi memiliki dampak material yang nyata—penghisapan ekonomi, penguasaan tanah, dan perampasan martabat rakyat kecil.

 

Titik Temu Keduanya: Melawan Hierarki Keturunan

 

Titik temu paling jelas antara Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman adalah sama-sama menolak nasab sebagai dasar superioritas yang tidak perlu diuji.

 

Tan Malaka menolak kasta karena ia menganggapnya bertentangan dengan kesetaraan manusia dan menjadi alat penghisapan ekonomi. KH Imaduddin menolak klaim nasab jika tidak lolos verifikasi ilmiah dan metodologis. Keduanya sama-sama mengusik kenyamanan otoritas mapan—Tan Malaka menyerang aristokrasi, feodalisme, dan hegemoni budaya asing; KH Imaduddin menyerang klaim genealogis yang telah lama diterima publik sebagai sumber karisma keagamaan.

 

Namun, titik temu itu jangan menutupi perbedaan besar: Tan Malaka menempatkan persamaan sebagai prinsip sosial-politik universal, sementara Imaduddin menempatkan pembuktian nasab sebagai persoalan keilmuan dalam tradisi Islam. Tan Malaka lebih radikal secara ideologis, sedangkan Imaduddin lebih teknis-metodologis.

 

Implikasi Sosial-Politik: Polemik Nasab sebagai Cermin Ketimpangan Simbolik dan Material

 

Perbandingan kedua tokoh menunjukkan bahwa persoalan nasab di Indonesia bukan sekadar soal silsilah keluarga. Ia berkaitan dengan otoritas agama, simbol kehormatan, stratifikasi sosial, ekonomi, bahkan rasa percaya diri umat. Kritik terhadap nasab sering memicu reaksi emosional karena yang dipertaruhkan bukan hanya benar-salahnya silsilah, tetapi juga posisi sosial yang selama ini melekat padanya.

 

Kritik atas "Tarimisasi" dan Dominasi Budaya Asing

 

Terdapat narasi mengenai upaya "Tarinisasi" (dominasi budaya dari Tarim, Hadramaut) yang berusaha menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Sebutan Ajam yang digunakan untuk merendahkan masyarakat pribumi—sebagaimana dicatat Tan Malaka dalam kritiknya atas feodalisme dan privilese keturunan—kini telah dibongkar oleh data-data sejarah dan sains modern. Klaim nasab yang tidak dibarengi dengan bukti sejarah yang kuat runtuh di hadapan penelitian ilmiah dan tes DNA.

 

Resistensi terhadap Penjajahan Mental

 

Ancaman seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Tan Malaka dan KH Imaduddin, dari jalur yang berbeda, sama-sama berjuang memutus rantai penjajahan mental tersebut—Tan Malaka melalui Madilog yang menuntut rasionalitas, KH Imaduddin melalui verifikasi tekstual yang menuntut akuntabilitas.

 

Introspeksi dan Masa Depan Bangsa

 

Alih-alih menyalahkan pihak yang membongkar nasab, saya mengajak pihak yang selama ini mengklaim nasab untuk melakukan introspeksi diri atas perilaku masa lalu yang mengatasnamakan Nabi demi kepentingan materiil. Kajian ini diakhiri dengan apresiasi bagi tokoh seperti Tan Malaka yang memelopori keberanian untuk berpikir rasional, agar bangsa Indonesia tidak lagi mudah dibodohi oleh siapapun yang mengeksploitasi simbol agama dan nasab untuk melanggengkan hierarki sosial.

 

Penutup: Kehormatan Sejati Lahir dari Ilmu dan Integritas

 

Pada akhirnya, Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman sama-sama mengajukan pertanyaan yang mengguncang: apakah manusia harus dihormati karena dirinya, atau karena darah yang mengalir dalam tubuhnya?

 

Tan Malaka menjawab lewat kritik atas kasta—sebuah kritik yang secara eksplisit menyasar praktik sosial di Indonesia, sebagaimana terbukti dalam tulisannya: "seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga", "Bukankah 'feramfuan' suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said", kritik atas wayang Hindu yang merendahkan budaya lokal, dan kisah Halal bin Fulus yang menggambarkan penghisapan ekonomi oleh rentenir Arab. Baginya, privilese keturunan hanyalah bayangan dari struktur feodal yang harus dihancurkan demi keadilan sosial, ekonomi, dan budaya.

 

KH Imaduddin menjawab lewat pembatalan nasab yang tidak memenuhi syarat ilmiah—sebuah kritik yang berbasis pada verifikasi kitab-kitab nasab, metode syuhrah wal istifadlah, dan penolakan terhadap klaim yang muncul tanpa dalil yang kuat.

 

Jika dibaca bersama, keduanya mengajarkan bahwa kehormatan paling kuat adalah yang lahir dari ilmu, integritas, dan manfaat sosial, bukan dari garis keturunan yang tak boleh dipersoalkan. Dalam sejarah pemikiran Indonesia, itu adalah kritik yang sangat penting karena menyasar sumber-sumber lama dari ketimpangan simbolik—dan material—yang masih hidup hingga hari ini.

 

Sumber:

 

-Madilog (Tan Malaka, 1942–1943).

 

-Ulama Nusantara Menggugat Nasab Palsu (KH Imaduddin Utsman al-Bantani, 2024),

 

- https://youtu.be/MZKMP4wakYI

 

Sumber :     https://orbitindonesia.com/detail/VVDKyiRPCT/tan-malaka-madilog-dan-kritik-hierarki-sosial-membedah-akar-polemik-nasab-di-indonesia   

 

 

Sang Pembuka Jendela Islam

Ahmadie Thaha :  Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an.

CATATAN CAK AT, 31 Juli 2026

 

                                                

 

Ia bukan Muslim. Tapi lebih dari setengah abad hidupnya dipakai untuk membantu Barat memahami Islam. John Esposito pergi, buku-bukunya belum.

 

Ada orang yang tinggal di dalam rumah, tapi tak pernah memperhatikan bentuk rumahnya. Ada pula orang yang datang dari luar, berdiri agak jauh, lalu menggambar rumah itu dengan tekun: pintunya, jendelanya, retaknya, bahkan cahaya yang masuk pada sore hari.

 

John Louis Esposito termasuk orang kedua. Ia bukan Muslim. Tapi selama lebih dari setengah abad, lelaki Katolik keturunan Italia-Amerika itu menjadikan Islam sebagai pekerjaan intelektual hidupnya. Ia wafat pada 15 Juli 2026 dalam usia 86 tahun akibat komplikasi setelah operasi jantung.

 

Georgetown University, tempat ia lama mengajar, kehilangan salah satu profesor paling berpengaruh dalam studi agama dan hubungan internasional. Dunia akademik kehilangan sarjana yang menulis atau menyunting 55 hingga 84 buku dan monografi, termasuk karya-karya rujukan besar terbitan Oxford University Press.

 

Kita kehilangan sesuatu yang lain: “orang luar” yang bersedia berdiri cukup dekat untuk mendengar Islam menjelaskan dirinya sendiri. Esposito pun menguasai apa pun sisi Islam dan umat. Karya-karyanya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa menjadi monumental dan abadi membersamai kepergiannya.

 

Riwayat hidupnya sendiri seperti salah belok yang kemudian menjadi jalan raya. Esposito lahir di Brooklyn pada 1940 dalam keluarga pekerja Italia-Amerika. Ibunya Katolik yang taat, ayahnya menanamkan kepedulian pada keadilan sosial. Esposito muda bahkan pernah ingin menjadi pastor.

 

Ia masuk Ordo Fransiskan Kapusin yang terkenal ketat, sebelum akhirnya meninggalkan seminari dan memilih universitas. Di Temple University ia meraih doktor dalam studi agama di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi, sarjana Muslim Palestina-Amerika yang kemudian sangat berpengaruh dalam pemikiran Islam kontemporer.

 

Pilihan bidangnya ketika itu hampir seperti membuka toko payung di musim kemarau. Ketika ia memasuki pasar kerja akademik pada 1974, menurut kisah yang sering ia ceritakan, hanya ada satu lowongan studi Islam yang diiklankan di Amerika Serikat. Keluarga dan kawan-kawannya khawatir: mau makan apa dengan keahlian semacam itu?

 

Sejarah rupanya mempunyai selera humor. Lima tahun kemudian, 1979, meletus Revolusi Iran. Dunia Barat mendadak ingin tahu apa itu Islam politik. Lalu datang 11 September 2001. Televisi, pemerintah, lembaga keamanan, universitas, semuanya mencari orang yang bisa menjelaskan Islam.

 

Mereka ingin menemukan jawaban sahih: mengapa Islam, agama yang dipeluk lebih dari semiliar manusia, itu tiba-tiba tampil dalam berita dengan wajah yang hampir selalu marah. Mereka pergi ke John L. Esposito, bukan sarjana Muslim sendiri, untuk menemukan jawaban yang bisa mereka percaya.

 

Esposito tampil di setiap peristiwa terkait Islam. Ia pun kemudian suka bergurau bahwa kariernya berutang kepada dua Muslim “radikal”: Ayatollah Khomeini yang Syiah dan Osama bin Laden yang Sunni. Humor itu sebenarnya getir. Sebab perhatian Barat terhadap Islam justru melonjak ketika Islam dianggap ancaman.

 

Di sinilah Esposito mengambil jalan yang berbeda. Pada masa ketika Bernard Lewis berbicara tentang “kemarahan Muslim” dan Samuel Huntington mempopulerkan benturan peradaban, Esposito menolak menjadikan Islam sebagai terdakwa yang sudah divonis sebelum sidang dimulai.

 

Ia tidak mengatakan semua yang dilakukan kaum Muslim benar. Ia juga tidak menjadi humas Islam dengan membahas agama ini secara berlebihan. Yang ia persoalkan ialah cara membaca: jangan menjelaskan masyarakat Muslim hanya dengan prasangka yang dibawa pengamat dari luar.

 

Ia mengkritik apa yang disebutnya bias sekuler dalam ilmu sosial Barat. Teori modernisasi lama membayangkan semakin modern masyarakat, semakin agama mundur ke ruang pribadi. Eropa dianggap jalur baku sejarah manusia. Negara lain tinggal menunggu giliran.

 

Masalahnya, sejarah ternyata tidak membaca buku teks itu. Agama tidak menghilang. Di banyak tempat justru kembali menjadi kekuatan sosial dan politik. Esposito karena itu mengajak sarjana membaca masyarakat Muslim dari pengalaman mereka sendiri.

 

Politik Islam tidak cukup dijelaskan dengan satu kata sakti: syariat. Di belakang mobilisasi agama sering terdapat soal yang sangat duniawi: ketidakadilan, rezim otoriter, kemiskinan, kolonialisme, intervensi asing, serta keinginan manusia untuk memperoleh martabat dan menentukan nasib sendiri.

 

Dengan kata lain, jangan buru-buru memeriksa jenggot demonstran. Periksa juga harga beras, penjara politik, korupsi penguasa, dan tank siapa yang berada di halaman rumahnya. Cara pandang itulah salah satu warisan penting yang ditinggal abadi oleh Esposito sesudah kematiannya.

 

Ia membantu menggeser studi tentang Islam dari kebiasaan melihat Muslim sebagai objek eksotis menuju usaha memahami mereka sebagai manusia dan pelaku sejarah. Dalam ungkapan Nader Hashemi, Esposito menantang representasi Orientalis tentang Islam pada masa ketika polarisasi sedang dalam.

 

Warisan itu sampai pula ke Indonesia. Generasi mahasiswa dan pembaca Indonesia sejak 1980-an mengenal namanya melalui buku-buku terjemahan. Islam and Politics hadir sebagai buku berjudul Islam dan Politik melalui Bulan Bintang. Kumpulan yang disunting bersama John J. Donohue hadir sebagai Islam dan Pembaharuan.

 

Ada pula Dinamika Kebangunan Islam, sementara karya Esposito bersama John O. Voll mengenai Islam dan demokrasi diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Namanya kemudian bertebaran dalam daftar pustaka skripsi, tesis, buku dan jurnal tentang politik Islam, negara, demokrasi, fundamentalisme, pembaruan dan hubungan Islam-Barat.

 

Karena itu, generasi pembaca Esposito di Indonesia sebenarnya bukan satu angkatan. Mereka terbentang dari mahasiswa IAIN dan fakultas ilmu sosial pada 1980-an dan 1990-an, pembaca buku-buku pemikiran Islam masa maraknya penerbit Bulan Bintang, Rajawali, Mizan dan Paramadina.

 

Sampai mahasiswa UIN dan peneliti politik Islam hari ini terus mengkaji pemikirannya. Sebagian mungkin mengenal gagasannya tanpa lagi mengingat wajah orang yang mula-mula merumuskan kerangka baca itu.

 

Dan Indonesia bukan sekadar pasar pembaca baginya. Georgetown mencatat Esposito ikut membangun Malaysia Chair for the Study of Islam in Southeast Asia. Ini penting: ia memahami bahwa Islam tidak boleh terus-menerus dipotret seolah dunia Muslim berhenti di Kairo, Teheran, Riyadh dan Islamabad.

 

Asia Tenggara dengan ratusan juta Muslim adalah bagian penting dari cerita Islam modern.

 

Tentu Esposito bukan nabi baru studi Islam. Pendapatnya dapat diperdebatkan. Sebagian kritik terhadapnya juga sah: terlalu simpatik kepada gerakan Islam tertentu, dinilai meremehkan ancaman ekstremisme, atau terlalu optimistis melihat kompatibilitas Islam politik dan demokrasi.

 

Ilmu pengetahuan memang bukan majelis taklim tempat jamaah cukup menjawab amin. Sarjana justru dihormati dengan cara diuji. Tapi di situlah pelajaran yang lebih menarik.

 

Esposito menunjukkan bahwa memahami sebuah agama tidak mensyaratkan seseorang memeluk agama itu. Yang diperlukan adalah ketekunan, kejujuran metodologis, keluasan data, dan kesediaan menangguhkan prasangka.

 

Seorang Katolik dapat menghabiskan hidupnya mempelajari Islam tanpa harus menjadi Muslim; sebagaimana seorang Muslim seharusnya dapat mempelajari Kristen, Yahudi, Hindu, Barat, komunisme atau sekularisme tanpa takut imannya tercecer di perpustakaan.

 

Pengetahuan memang mempunyai adab yang aneh: ia tidak selalu datang dari pintu yang kita sukai.

 

Al-Qur'an bahkan mengajarkan manusia mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ukuran pertama sebuah pengetahuan bukan paspor pembawanya, warna kulitnya, mazhabnya, atau agama yang tertulis di kolom identitasnya. Ia harus diperiksa: benar atau tidak, kuat atau rapuh, membawa kita lebih dekat kepada kenyataan atau justru menjauhkannya.

 

Di sinilah wafatnya Esposito seharusnya menjadi cermin bagi dunia Islam. Kita mempunyai ribuan pesantren, ratusan perguruan tinggi Islam, jutaan santri dan mahasiswa.

 

Tapi berapa banyak karya kita tentang Barat yang dibaca mahasiswa di Harvard, Georgetown atau Oxford untuk memahami masyarakat Barat? Berapa ensiklopedia besar tentang Kristen, Yahudi atau sekularisme yang lahir dari universitas Islam kita, ditulis dengan disiplin ilmiah begitu kuat sehingga orang luar terpaksa menjadikannya rujukan?

 

Pertanyaan itu agak mengusik. Kita sering marah ketika Islam dijelaskan secara keliru oleh orang lain. Kemarahan itu kadang beralasan. Tapi jawaban terbaik terhadap buku yang buruk bukan selalu demonstrasi di depan kedutaan. Kadang jawabannya sebuah buku yang lebih baik.

 

Esposito memberi contoh lain tentang umur sebuah karya. Jabatan akademik selesai ketika seseorang pensiun. Ruang profesor akhirnya ditempati orang lain. Kartu nama masuk laci. Gelar kehormatan menjadi baris kecil dalam obituari. Tapi sebuah buku yang sungguh-sungguh dikerjakan dapat berjalan jauh setelah penulisnya berhenti bernapas.

 

Lebih dari 55 buku adalah angka. Yang lebih penting adalah daya hidup di belakang angka itu. Islam: The Straight Path, Islam and Politics, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, What Everyone Needs to Know About Islam.

 

Selain itu, juga ensiklopedia-ensiklopedia Oxford yang dipimpinnya membuat Esposito hadir di rak perpustakaan jauh dari Brooklyn tempat ia dilahirkan. Tubuh manusia mengenal umur biologis. Gagasan yang ditulis dengan baik mempunyai kalender sendiri yang mungkin abadi.

 

Mungkin itulah sebabnya kepergian seorang sarjana tidak seharusnya kita catat seperti keberangkatan kereta: nama, tanggal, lalu selesai.

 

Esposito meninggalkan pelajaran sederhana bagi umat yang kitab sucinya dimulai dengan perintah membaca. Bacalah dunia. Bacalah orang yang berbeda. Dan jangan takut belajar bahkan dari orang yang berdiri di luar pagar rumah kita. Kadang orang luar melihat jendela yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian penghuni rumah.

 

John L. Esposito telah pergi. Ia tidak membawa Islam ke Barat, dan tentu tidak mewakili Islam. Ia melakukan sesuatu yang mungkin lebih sederhana sekaligus lebih sulit: selama puluhan tahun ia berusaha membuat masyarakatnya melihat Muslim sebagai manusia, bukan sekadar masalah.

 

Untuk pekerjaan sepanjang umur seperti itu, rasanya sebuah ucapan terima kasih tidak akan membuat iman kita berkurang.

 

Justru mungkin menunjukkan bahwa kita telah belajar sesuatu dari ilmu yang kita banggakan sendiri: hikmah tidak pernah diwajibkan memiliki paspor yang sama dengan kita. ●

 

Sumber :   Tulisan Cak AT ini diterima langsung dari Ahmadie Taha