|
Fenomena
Gunung Es Gizi Buruk
Ali Khomsan ; Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB
|
KORAN
SINDO, 05 Februari 2018
|
Wabah campak di Kabupaten
Asmat konon secara berangsur telah dapat ditangani setelah tenaga-tenaga
kesehatan, termasuk yang dari TNI, terjun bersama di sana. Namun pemecahan gizi buruk tidak bisa
secepat penanganan campak. Dalam empat bulan terakhir, lebih dari 60 anak
balita meninggal akibat gizi buruk dan campak. Gizi buruk dan infeksi
memiliki hubungan sinergis. Kurang gizi me nyebabkan daya tahan tubuh lemah
dan mudah terserang infeksi, demikian pula sebaliknya. Banyak orang sepakat
tentang fenomena gunung es gizi buruk. Persoalan gizi yang muncul di permukaan
kelihatan kecil (hanya tampak sebagai pun caknya saja), padahal di lapisan
bawah masalahnya telah melebar, kronis (menahun), dan semakin kompleks.
Kejadian gizi buruk untuk
daerah-daerah terpencil bisa terjadi karena sulitnya akses pangan, mahalnya transportasi
se hingga pangan tak terbeli, ben cana alam yang meng aki - batkan gagal
panen, ditambah lagi faktor sosio-budaya berupa rendahnya kesadaran dan pe -
ngetahuan masyarakat tentang gizi untuk kesehatan. Di tengah-tengah gaung pem
beritaan tentang pem ba - ngunan tol trans-Jawa, trans- Sumatera hingga
trans-Papua, kita kembali kecolongan de - ngan meningkatnya kasus gizi bu ruk
di Papua. Tampaknya pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM) kita
selalu tertatih-tatih, tidak secepat pembangunan infrastruktur.
Meski pemerintah
menyatakan baru akan menggenjot pem ba - ngunan sumber daya manusia di tahun
2019, tidak berarti upa ya pemeliharaan kesehatan dan penanganan masalah gizi
kronis boleh ditangguhkan. Persoalan gizi buruk di Pa - pua menjadi aib bagi
jajaran ke - se hatan. Setelah ditelusuri oleh pe tugas-petugas kesehatan sam
pai ke pelosok, semakin ter - kuak betapa besar problem gizi yang dihadapi
masyarakat Pa - pua. Bukan hanya anak balita pen deritanya, tetapi juga
ibuibu hamil ditemukan menderita gizi buruk. Oleh sebab itu pe - nanganan
masalah gizi harus dila kukan secara extra - ordi - nary.
Keberhasilan per - tum
buhan ekonomi ter nyata tidak ber - ban ding lurus dengan perbaikan gizi ma -
syarakat. Persoalan gizi bertambah parah tidak hanya di Pa pua, NTT, atau
wilayah-wi - la yah timur Indonesia. Bahkan di level na sio - nal pun potret
gizi anak-anak kita mem - buruk (Ris kesdas 2013). Secara makro da pat
dikatakan bah wa penyebab da - sar masalah gizi ada - lah ke miskinan. Ja - ngan-jangan
data yang menyebutkan jum lah pen duduk mis kin berkurang se - mu belaka.
Saat ini jumlah orang
miskin di In do - nesia adalah 26,52 juta orang (10,12%) de ngan garis
kemiskinan yang di tetapkan sebesar Rp387.160 per kapita per bulan. Adakah yang
tidak pas dengan garis kemiskinan kita? Me - ngapa kita kurang be ra - ni
menggunakan garis kemiskinan versi Bank Dunia, yaitu penda pat - an setara
USD2 per ka pi - ta per hari atau Rp800.000 per kapita per bulan? Ketika
pertumbuhan eko - nomi makro banyak dipuji ber - bagai kalangan, harusnya hal
ini berdampak positif pada eko - nomi rumah tangga yang juga semakin membaik.
Namun ke - nyataannya, mengapa ma sya - ra kat tetap mengeluh? Daging dan
susu jauh dari jangkauan daya beli.
Proses kurang gizi kini
tengah berlangsung di tengahte ngah masyarakat dan booming generasi bodoh
tinggal menunggu waktu. Mencetak generasi unggul perlu strategi. Salah satu
stra - tegi yang kini mendapat per ha - tian para ahli gizi adalah ba gai -
mana mengisi 1.000 hari per ta ma kehidupan (1.000 HPK) se orang anak. Seribu
hari per ta ma kehidupan merupakan awal yang penting bagi per tum buh an dan
per - kembangan manusia selanjutnya. Pemenuhan gizi pada pe - riode tersebut
mutlak harus cukup baik dari segi jum lah maupun mutu. Kelalaian pada 1.000
HPK akan berdampak pada mun cul - nya the lost generation.
Per tumbuhan fisik anak
akan ter ham - bat, lahir generasi pendek, dan kecerdasan tidak optimal, bah
- kan kematian di usia balita bisa terjadi apabila kekurangan gizi bersinergi
dengan infeksi. Apa - bila hal ini me - nim pa anak-anak Indonesia, bang sa
ini akan se makin ter - tinggal dari bangsa-bangsa lain. Gaung revitalisasi
program gizi, terutama posyandu, hanya ramai saat seminar, lokakarya atau
sarasehan, tetapi sepi di lapangan. Revitalisasi pos yan - du malah
memunculkan per ta - nyaan, apakah posyandu me - mang pernah dianggap vital?
Petugas lapangan seperti bidan desa dan kader gizi mungkin tidak lagi hirau
tentang revitalisa si posyandu karena dari dulu sam pai sekarang program gizi
posyandu tetap berjalan seadanya.
Tidak cukup kita menyikapi
masalah gizi kurang dengan hanya menimbang be - rat badan anak setiap bulan.
Pemulihan gizi memerlukan inter - vensi pem berian ma - kana n tambahan yang
cu kup dan berkualitas. Di pos yandu setiap bu - lan anak men dapatkan
makanan tam bahan be rupa secangkir bu - bur ka cang hijau. Tra - gis, mem
per baiki gizi dengan secangkir bu - bur kacang hijau senilai
Rp2.000/anak/bulan. Kalau pemerintah merasa berat me - nang gung program pem
bangunan gizi, bu - kanlah suatu aib un - tuk mendorong in - dustri/swasta
ber - kontribusi dalam pengen tasan ma sya ra - kat dari masalah gizi.
Tim Peng gerak PKK Pu sat
pernah bekerja sa ma dengan PT Nestle Indonesia mengembangkan pro - gram
posyandu pe du - li tumbuh-aktif-tang - gap (TAT) di 19 pro vin - si. Program
ini me ni - tik beratkan peman - tau an berat badan anak, tinggi badan, dan perkembangannya
dengan mengguna - kan check list sederhana yang mu dah dipahami kader pos yan
- du. Saya menilai ini merupakan si nergi yang baik untuk me wu - jud kan
revitalisasi posyandu ka rena kualitas layanan per - baikan gizi di posyandu
selama ini belum optimal. Seluruh stakeholders, yaitu masyarakat, LSM, dan
sektor swasta, harus ber sinergi membantu peme - rintah memecahkan masalah
gizi yang kompleks ini.
Salah satu bukti bahwa
kita abai terhadap program gizi ada - lah banyaknya posyandu yang penyelenggaraannya
masih menumpang di rumah RT, RW, atau rumah kader. Pelayanan gizi menjadi
kurang optimal ka - rena situasi posyandu yang hi - ruk-pikuk dan serbasesak.
Pe - nyuluhan gizi oleh kader nyaris tidak pernah dilakukan karena alasan
fasilitas tempat ataupun karena kader-kader yang ku - rang terlatih. Dana
pelatihan un tuk kader gizi tidak tersedia karena kepala daerah dan DPRD
tidak menganggapnya sebagai hal penting. Gizi mungkin hanya diang - gap
bagian “kecil” dari urusan ke sehatan. Promosi gizi men ja - di bagian dari
promosi ke se - hatan yang urusannya amat luas.
Dapat dimaklumi kalau Pe -
do man Gizi Seimbang tidak per - nah dipahami masyarakat ka re - na kita
tidak pernah mendengar promosinya di radio dan tidak melihatnya di televisi.
Ma sya - rakat hanya mengenal Empat Sehat Lima Sempurna. Hilangnya identitas
gizi da - lam pembangunan harus di ce - gah, yaitu dengan menjadikan gizi
sebagai isu politik. Investasi di bidang gizi adalah investasi berdurasi
panjang, oleh karena itu dampaknya mungkin baru akan muncul setelah beberapa
dekade. Gizi perlu menjadi indi - ka tor keberhasilan pem ba - ngun an yang
tidak terlepas dari pro gram pengentasan ma sya - ra kat dari kemiskinan.
Tahun 2018 sebagai tahun
politik untuk memilih kepala daerah baru hendaknya menyadarkan masyarakat
untuk benar-benar memilih pemimpin yang hirau terhadap kebutuhan masyarakatnya.
Jangan lagi abaikan masa lah gizi, pembangunan gizi ha rus mendapatkan
prioritas. Dibutuhkan calon pemimpin yang memiliki visi ke depan untuk membangun
SDM di bidang gizi, kesehatan, dan pen didikan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar