Senin, 01 Desember 2014

Pabrikan Spiritual…

                                                Pabrikan Spiritual…

Jean Couteau  ;   Penulis kolom “UDAR RASA” Kompas Minggu
KOMPAS,  30 November 2014

                                                                                                                       


Percaya tidak, refleksi sarkastik saya di bawah ini bermula dari halaman depan edisi Jakarta Post tanggal 16 Mei 2012, yang kebetulan saya angkat dari tumpukan sampah. Yang tampak ialah foto seorang petani Bali yang mengiring seekor babi, yang terlihat dari belakang, diimbuhi sepasang buah [….] yang amat besar. Cukup besar untuk membuat ”merah” pipi para pendukung undang-undang anti pornografi yang tidak munafik.

Entah kenapa, foto itu lolos sensor. Apa yang dilakukan pak tani itu? Dia membawa babi jantannya berkeliling, mengunjungi babi-babi betina yang menantinya dengan (tidak) sabar. Tak ada yang terlalu menggegerkan di situ. Tetapi yang betul-betul mengagetkan ialah bahwa babi tersebut bukanlah babi Bali yang asli, yang hitam itu, melainkan babi ”bule”, atau kadang Indo, seperti terlihat dari kulitnya yang rada merah. Memang, babi ”pribumi” asli Bali kini hanya tersisa di beberapa desa pedalaman. Korban tak terduga dari globalisasi.

Bila ”bule-isasi” babi Bali bisa terjadi tanpa menuai protes dari siapa pun, jangan-jangan hal serupa terjadi pada budayanya.

Bali kini banyak didatangi orang bule yang berharap menemukan di situ, bukanlah kebudayaan Bali senyatanya, melainkan suatu ketimuran sebagaimana diangan-angankan. Dan oleh karena ketimuran itu tidak ditemukan, ya, dipabrikasi saja. Maka jangan terlalu banyak berharap dari turis itu. Mereka tidak mungkin meresapi indahnya doa yang dilantunkan Arjuna pada Batara Siwa dalam kekawin Arjuna Wiwaha: Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita (Diliputi-meliputi sarinya semua, tak terjangkaulah Kau [Tuhan]). Terlalu rumit bagi mereka. Tetapi bila Anda berjalan-jalan di sekitar Ubud, atau sempat mengintip dari belakang tembok vila tertentu di Canggu, tidak mustahil Anda akan melihat orang bule, matanya melotot seperti kerasukan roh yang tidak jelas, yang tengah melakukan gerak tubuh yang aneh atau mengucapkan kata-kata di dalam bahasa dewa entah mana—yang mereka tidak mengerti. 

Sejatinya, apakah sebagai penggemar Falun Gong, pengikut Rinpoche ini atau Sadhu itu, ”fans” Anand Krishna, bahkan pengagum Rumi atau siapa pun guru lainnya, semuanya tengah bersaing di seputar kebenaran ”lain” yang muncul dari suatu Timur imajiner kreasi Barat. Hanya pengikut shaman Kamchatka dan—anehnya—mistikus Kristen—yang tidak ditemukan di situ.

Ada permintaan, maka muncullah penawarannya. Dilengkapi jenggot dan pakaian serba putih serta dibantu sedikit bahasa Inggris, guru-guru lokal bermunculan, ditemani bermacam-macam healer, penasihat cosmic energy, dan suhu beraneka bangsa lainnya. Kehampaan spiritual dunia modern Barat menjadi kesempatan lahan bisnis spiritual ala ”Timur”! Ada kulinernya, festivalnya, wanginya, kundalini seksualnya, bahkan ”pembersihan” ususnya—antara lain. Oleh beberapa kalangan dicap ”creative industry”!!! Lucu, kan?

Tak kurang menarik ragam Bali yang dipabrikasi untuk turis di salah satu kebun binatang, ya kebun binatang pulau itu. Proses pabrikasinya total berbeda. Tidak lagi spontan nan nyeleneh, tetapi buah dari ratusan jam rapat, dengan palu final oleh investor. Apa gerangan itu?

Suatu pertunjukan yang luar biasa, perfect, profesional, dengan partisipasi tidak kurang dari 150 penari, pemusik, dan dalang Bali. Namanya ”Bali Agung”. Ceritanya? Kisah cinta mistis antara raja Bali Sri Jayapangus dan putri Tiongkok. Yang kerap tampil di Bali di dalam wujud Barong Landung. Hasilnya? Baguuus. Luar biasa. Tetapi…, disusun, dari sudut struktur narasi dan presentasinya, bukan sebagai pertunjukan teater Bali, melainkan sebagai show Dysneyland yang diramu sedemikian rupa agar memenuhi selera dari dua pangsa pasaran sekaligus: Barat dan Timur (Tiongkok), serta untuk memberikan pada orang Bali ilusi bahwa mereka bukan sekadar pelengkap penderita dari pariwisata. Lihai bener!

Singkatnya, sementara kultur agrarisnya digerus urbanisasi, Bali berhadapan dengan dua mesin giling kapitalisme mutakhir: New Age, pertanda krisis spiritual negeri-negeri maju, dan Old Capital, pertanda kerakusan materialnya. Adakah cara untuk menanggulanginya? Saya tidak tahu. Tetapi melihat bahwa budaya Barat versi miring ini tengah mengglobal, izinkanlah saya untuk berkata pada kalian, teman-teman Indonesia: selamat datang, masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar