Sabtu, 29 Juni 2019

Konsep Indo-Pasifik ASEAN dan Kepemimpinan Indonesia




BEBERAPA waktu lalu kepala negara dan pe­merintahan se­pu­luh negara ASEAN menyepakati dokumen bertajuk ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Dokumen ini me­muat garis kebijakan ASEAN mengenai ruang lingkup, tu­juan, prinsip, area kerja sama, dan mekanisme kerja sama In­do-Pasifik.

Melalui dokumen ini ASEAN melihat Indo-Pasifik sebagai se­buah kawasan yang terintegrasi dan terkoneksi, megedepankan dialog dan kerja sama, me­ni­tik­beratkan pembangunan untuk kesejahteraan, serta men­ja­di­kan aspek maritim sebagai ele­men tata kawasan. ASEAN juga menegaskan arti penting ASEAN centrality dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip yang selama ini menjadi landasan ker­ja sama organisasi regional ter­sebut.

Dokumen ini memuat ruang lingkup kerja sama Indo-Pasifik yang mencakup kerja sama maritim, konektivitas, upaya mewujudkan Tujuan Pem­ba­ngunan Berkelanjutan 2030, serta kerja sama di bidang eko­nomi. ASEAN juga siap bekerja sama dengan mekanisme re­gional lain di kawasan Asia-Pa­sifik dan Samudera Hindia da­lam kerangka kerja sama Indo-Pasifik.

Arti Penting

ASEAN Outlook on Indo-Pa­sific memiliki arti strategis. Per­tama, ASEAN untuk pertama ka­linya menyepakati garis ke­bijakan tentang Indo-Pasifik. Do­kumen ini disepakati setelah melewati proses negosiasi yang cukup panjang. Lamanya pro­ses negosiasi mengindikasikan adanya perbedaan kebijakan dan kepentingan di antara ne­gara-negara ASEAN.

Selain itu, sebagai sebuah kon­sep geostrategis baru defi­ni­si Indo-Pasifik juga terus ber­kem­bang, khususnya terkait de­ngan pemaknaan oleh ne­ga­ra-ne­gara besar di luar ASEAN. Per­kem­bangan ini pada gili­ra­n­nya juga berpengaruh terhadap pan­da­ngan negara-negara di ka­was­an terhadap konsep Indo-Pasifik.

Kedua, dokumen ini menjadi panduan yang komprehensif bagi negara-negara ASEAN–baik secara kolektif maupun in­di­vidual–dalam menjalankan ke­bi­jakan yang berkaitan de­ngan Indo-Pasifik. Melalui do­kumen ini negara-negara ASEAN juga menguatkan komitmen ter­ha­dap ASEAN centrality dalam kon­teks geostrategis Indo-Pasifik.

Sentralitas ASEAN tidak semata-mata didasarkan pada posisi geografis kawasan Asia Tenggara yang berada tepat di tengah Indo-Pasifik. Lebih dari itu, ASEAN harus diakui me­ru­pakan organisasi regional pa­ling solid di kawasan. Me­ka­nis­me kerja sama dalam organisasi sudah terbentuk dan berjalan dengan baik, beberapa di an­ta­ranya melibatkan negara-neg­­a­ra di luar kawasan. Artinya, ASEAN memiliki dasar yang kuat untuk menjadikan me­ka­nis­me yang sudah ada sebagai platform kerja sama Indo-Pasifik.

Kepemimpinan Indonesia

Arti penting ketiga ber­kait­an dengan keberhasilan di­plo­masi Indonesia. Konsep Indo-Pasifik muncul untuk me­nye­but negara dan wilayah di se­kitar Samudera Hindia dan Sa­mudera Pasifik sebagai sebuah kesatuan. Konsep ini mulai digunakan sejak 2010 sebagai perluasan dari konsep Asia-Pasifik yang secara tradisional hanya memasukkan negara dan kawasan di seputar Samudera Pasifik. Dengan demikianIndo-Pasifik dapat disebut sebagai konsep geopolitik yang meng­ga­bungkan kawasan Asia-Pa­si­fik dengan kawasan di seputar Sa­mudera Hindia sebagai se­buah kesatuan.

Sebagai konsep yang relatif baru dan memiliki cakupan geo­grafis yang luas dan isu yang be­ra­gam, terdapat perbedaan pan­dangan tentang bentuk dan karakteristik interaksi an­tar­ne­gara dalam konteks Indo-Pa­si­fik. AS dan sejumlah ne­gara lain mengedepankan Indo-Pasifik sebagai kawasan yang bebas dan terbuka (free and open).

Sementara Indonesia ber­pan­dangan bahwa Indo-Pasifik tidak boleh dimaknai hanya da­lam konteks bebas dan terbuka. Indonesia sejak awal ber­pan­da­ngan bahwa Indo-Pasifik juga harus memiliki karakteristik lain yaitu inklusif, transparan, dan komprehensif; menda­tang­kan manfaat bagi kepentingan jangka panjang seluruh negara di kawasan; dan didasarkan pada komitmen bersama untuk me­wujudkan perdamaian, sta­bi­litas, dan kemakmuran ber­sa­ma. Selain itu, Indonesia juga mengusung gagasan mengenai kesatuan pandangan di antara ne­gara-negara ASEAN menge­na­i kerja sama Indo-Pasifik ser­ta memperjuangkan peran sen­tral ASEAN dalam kerja sama tersebut.

Disepakatinya ASEAN Out­look on Indo-Pasific menjadi bukti keberhasilan diplomasi Indonesia di ASEAN sekaligus arti penting kepemimpinan In­do­nesia di organisasi regional ini. Indonesia berhasil meya­kin­kan negara-negara tetang­ga­nya di kawasan bahwa ASEAN yang harus menjalankan leading role dalam menentukan arah dan masa depan kerja sama Indo-Pasifik. Jika tidak, keuntungan terbesar justru akan dinikmati oleh segelintir negara di luar ASEAN. Selain itu tanpa sen­tra­li­tas ASEAN kerja sama Indo-Pasifik bisa saja menegasikan tatanan dan mekanisme re­gional yang sudah dibangun oleh ASEAN.

Tantangan ke depan

Menanggapi pandangan skep­tis beberapa pihak ter­ha­dap ASEAN Outlook on Indo-Pasific, kita harus mencatat bah­wa dokumen ini adalah do­ku­men politik yang merupakan ha­sil negosiasi. Dokumen poli­tik tentu saja lebih menekankan as­pek kebijakan sebagai pan­duan dan tidak banyak memuat hal-hal yang sifatnya teknis.
Sebagai hasil negosiasi, do­ku­men ini juga telah melewati pro­ses tawar-menawar pan­jang de­ngan memerhatikan ke­pen­ti­ngan seluruh negara ASEAN. Pihak-pihak yang ber­ne­gosiasi juga saling memberi konsesi un­tuk mencapai titik temu.

Oleh karenanya tidak tepat jika kita mengharapkan sebuah dokumen yang komprehensif layaknya panduan kebijakan nasional sebuah negara. Pada tingkatan nasional, pe­me­rin­tah suatu negara dapat me­nge­luar­kan kebijakan yang sifatnya independen dan terfokus pada kepentingan nasionalnya. Se­ba­liknya kebijakan pada ting­kat­an regional disusun sebagai hasil kompromi banyak pihak dengan mempertimbangkan kepentingan bersama secara kolektif.

Bagi ASEAN, disepakatinya dokumen ini bukanlah tujuan akhir. Tantangan ke depan ada­lah bagaimana meng­im­ple­men­tasikan dokumen tersebut ke level teknis, termasuk me­ya­kinkan negara-negara besar di luar ASEAN bahwa sentralitas ASEAN merupakan pilihan ter­baik yang menguntungkan se­mua pihak.

Tantangan yang tidak kalah besar juga dihadapi Indonesia. Setelah berhasil mewujudkan posisi bersama ASEAN, In­do­nesia harus melanjutkan kerja keras dalam tahapan im­ple­men­tasi. Untuk mencapai hasil op­timal, sinergi dengan negara-negara ASEAN lain mutlak diperlukan. Di level domestik, sinergi antara Kementerian Luar Negeri dan pemangku ke­pentingan lain juga memegang peran penting.

Perubahan tatanan global membuat dua kekuatan ter­be­sar dunia berada di kawasan In­do-Pasifik. Jika di masa lalu Indo­nesia “mendayung di an­ta­ra dua karang” sendirian, se­ka­rang saat­nya Indonesia men­g­ajak negara-negara ASEAN berlabuh di bahtera yang sama. Dengan demikian manfaat kerja sama Indo-Pasifik dapat dinikmati bersama dan dampak negatif yang mungkin timbul juga dapat diantisipasi bersama. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar