Rabu, 05 September 2018

Nasib Rupiah

Nasib Rupiah
“Memperkuat Rupiah itu Tidak Mudah.
Yang Mudah adalah Borong Dolar untuk Hancurkan Ekonomi Bangsa. Mau pilih mana?”
A Prasetyantoko  ;  Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta
                                                    KOMPAS, 04 September 2018



                                                           
Di akhir perhelatan Asian Games 2018 yang penuh kemilau keberhasilan, rupiah justru terperosok tajam. Tentu saja tak ada kaitannya, namun keduanya memiliki kemiripan dinamika. Sebagaimana kemenangan para atlet, dinamika nilai tukar juga ditentukan dimensi “fisik” (faktor fundamental) dan “semangat” (faktor sentimen) yang berkorelasi timbal-balik. Akhir minggu lalu (31/8/2018), rupiah ditutup Rp 14.711 per dollar AS atau terburuk sejak 3 tahun (Kompas, 1/9/2018), bahkan mendekati level saat krisis 1998. Benarkah faktor fundamental perekonomian kita seburuk dua dekade lalu? Atau lebih karena faktor sentimen akibat tekanan eksternal?

Tekanan eksternal menjadi faktor penentu nasib rupiah, meskipun, tentu saja, ada kontribusi faktor fundamen domestik. Namun, yang jelas, situasi saat ini sama sekali berbeda dengan situasi krisis Asia 1998. Kepanikan belakangan ini dipicu krisis Argentina yang membuat investor keluar dari hampir semua negara berkembang yang dianggap memiliki kelemahan fundamental. Para ahli menjuluki dinamika krisis keuangan dari generasi ke generasi bagaikan pertandingan olahraga yang mengikuti semboyan Olimpiade : lebih cepat (Citius), lebih tinggi (Altius) dan lebih kuat (Fortius). Krisis makin hari makin ganas dan sulit diatasi. Krisis di Argentina, Venezuela, dan Turki telah menyebar ke seluruh negara berkembang dengan cepat.

Secara garis besar, perbedaan paling mendasar antara situasi sekarang dengan 1998 adalah episentrum masalahnya. Jika waktu itu pusat gempa ada di kawasan Asia dan domestik Indonesia, kali ini bersifat eksternal. Pertama, perekonomian Amerika Serikat yang menjalani fase konsolidasi. Kedua, tekanan dari negara-negara berkembang seperti Argentina, Venezuela, dan Turki.

Sumber Gejolak

Perekonomian AS pada triwulan II dikoreksi ke atas menjadi 4,2 persen. Meski Presiden Trump mengklaim sebagai kesuksesan besar, banyak ahli ekonomi justru berpikir sebaliknya; sebagai awal krisis. Jeffrey Frankel, Profesor di Harvard Kennedy School of Government, menyebut kebijakan fiskal Trump bersifat pro-siklus yang bisa memicu krisis di kemudian hari (Project Syndicate).
Pertumbuhan ekonomi AS ditopang kebijakan pengurangan pajak yang berakibat membengkaknya anggaran pemerintah. Untuk menutupnya, pemerintah harus menerbitkan surat utang (obligasi) baru. Saat pertumbuhan ekonomi membaik, sebenarnya kesempatan memupuk kekuatan fiskal, agar ketika terjadi gejolak punya cukup bantalan. Prinsip dasar ini tak diindahkan pemerintahan Trump.

Sementara itu, kebijakan moneter tak lagi bisa mengakomodasi suku bunga rendah. Perlahan tapi pasti, The Fed harus menaikkan suku bunga menuju batas 2,5 persen. Kebijakan fiskal yang pro-siklus di tengah kenaikan suku bunga telah menimbulkan efek limpahan pada pasar finansial global. Pemerintahan Trump sangat menyadari posisi dollar AS sebagai mata uang paling aman dan memanfaatkan secara berlebihan.

Kerumitan ditambah dengan potensi perang dagang yang diiringi perang nilai tukar antara AS dan China. Salah satu cara melawan penerapan tarif, China membiarkan mata uangnya melemah sehingga produknya lebih murah. Kerumitan situasi global ini berimbas ke negara-negara berkembang.

Mengapa Argentina, Venezuela, dan Turki bergolak parah menghadapi situasi ini? Fundamen ekonomi domestik mereka sangat buruk, sehingga sentimen menjadi tak terkendali. Sentimen bisa memukul balik faktor fundamennya, sehingga situasi semakin memburuk dengan cepat. Itulah mengapa pemerintah Argentina meminta percepatan pencairan pinjaman 50 miliar dollar AS dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebagaimana dilaporkan Kompas (1/9/2018), mengutip data Bank Indonesia, pada akhir minggu lalu peso Argentina menjadi mata uang terdepresiasi paling tajam di dunia (-51,67 persen) sejak akhir tahun 2017, disusul lira Turki (-43,85 persen), real Brasil (-20,26 persen), dan rand Afrika Selatan (-15,98 persen). Di kawasan Asia, depresiasi rupiah 8,01 persen lebih buruk dari peso Filipina (-6,61 persen), namun lebih baik dari rupee India (-9,70 persen).

Apa yang membuat mata uang ini terpuruk parah? Menurut The Economist edisi terbaru (1/9/2018), pada triwulan I-2018 neraca transaksi berjalan Argentina sebesar -4,7 persen terhadap Produk Dometik Bruto, sementara Brasil -1 persen, Afrika Selatan -3,2 persen, Turki -5,9 persen, dan India -2,4 persen. Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia memburuk dari triwulan I sebesar 2,1 persen PDB menjadi 3 persen PDB pada triwulan II. Negara di Amerika Latin juga mengalami defisit fiskal cukup besar, yaitu Argentina di atas 5 persen dan Brazil di atas 7 persen. Kerapuhan fundamen ekonomi domestik memicu persepsi para investor untuk keluar, paling tidak untuk sementara.

Bagaimana nasib rupiah? Harus diakui, tekanan eksternal kali ini cukup berat, sementara kondisi perekonomian domestik tak cukup solid. Respons kebijakan harus cepat tanpa menunjukkan kepanikan. Pertama, suku bunga sudah dinaikkan 5 kali sejak Mei mencapai 5,5 persen. Kedua, kebijakan fiskal disiapkan melalui penerapan tarif pajak penghasilan (PPh) pada 900 produk impor. Ketiga, menerapkan kewajiban mencampur 20 persen biodiesel pada solar (B20) serta menghentikan proyek (infrastruktur) strategis yang mengandung komponen impor tinggi. Jika kebijakan ini diterapkan, maka efek samping yang harus diterima adalah melandainya pertumbuhan ekonomi, sehingga target pemerintah 5,2 persen pada 2018 ini kemungkinan tak bisa dicapai. Pilihan kebijakan memang sangat terbatas, sehingga trade-off pelambatan pertumbuhan ekonomi harus diterima.

Kebijakan bisa juga diarahkan untuk memacu produk (manufaktur) ekspor. Maka, untuk sektor ini perlu dikecualikan, termasuk penundaan infrastruktur. Perlu ada koneksi langsung antara pembangunan infrastruktur dengan upaya membangun daya saing produk ekspor, agar produktivitas ekspor segera bisa dinikmati.

Nasib rupiah masih bisa diharapkan. Kendati ada persoalan fundamen, namun peluang perbaikan terbuka luas. Apalagi masa depan perekonomian kita sangat menjanjikan. Kita bisa belajar dari pengalaman hajatan besar Asian Games yang baru saja ditutup, di mana perbedaan kepentingan bisa disatukan menjadi kekuatan; semua untuk Indonesia. Seandainya dalam mengatasi persoalan ekonomi yang berat ini kita bisa “saling berpelukan” efeknya akan luar biasa. Bukan justru menjadikan persoalan ekonomi sebagai amunisi kontestasi yang memainkan sentimen. Momen “Pelukan Asian Games” harus dilanjutkan! ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar