Rabu, 21 Maret 2012

Model Perubahan bagi Dunia Arab


Model Perubahan bagi Dunia Arab
Ibnu Burdah, PEMERHATI MASALAH TIMUR TENGAH DAN DUNIA ISLAM,
DOSEN PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
SUMBER : SUARA MERDEKA, 21 Maret 2012



SEKJEN PBB Ban Ki-moon sampai Rabu ini berkunjung secara resmi di Indonesia. Salah satu agendanya melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden SBY guna membicarakan antara lain perkembangan situasi di Timur Tengah. Mengapa ia harus jauh-jauh datang untuk membicarakan persoalan itu dengan kita? Apa signifikansinya bagi kita yang secara geogrofis amat jauh dari kawasan itu tiba-tiba bicara dengan PBB mengenai situasi di kawasan yang sedang bergolak hebat?

Berbeda dari masa silam, sekarang negara-negara di Timteng tidak lagi menjadi satu-satunya sentral dalam pergaulan antarnegara berpenduduk muslim. Dalam banyak hal, kini mereka justru harus belajar dari negara-negara lain. Egoisme sebagai negeri asal dan tempat kejayaan sejarah Islam harus dikikis. Mereka perlu melihat dan menyadari realitas bahwa mereka sudah tidak lagi memiliki kejayaan masa lampau itu.

Sebaliknya kini, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang memiliki khazanah dan pengalaman, menarik untuk dijadikan pelajaran bagi bangsa-bangsa Arab. Dalam banyak hal, negara kita pantas menjadi contoh bagi bangsa-bangsa Arab yang kini tengah menghadapi ujian sejarah hebat. Penolakan mereka terhadap model Barat dipastikan tidak kecil.

Mereka sebenarnya juga cenderung menolak model Turki yang dipandang sangat sekuler meskipun agresivitas Erdogan dan jajarannya telah sedikit banyak memengaruhi pandangan masyarakat Arab terhadap negara itu sekarang. Mereka juga enggan mengambil model Iran sebab sebagian besar mereka adalah Sunni. Ke mana lagi mereka akan mengambil pelajaran jika bukan dari Indonesia?

Islam dan Demokrasi

Indonesia, kendati saat ini pun sedang diuji dengan serangkaian aksi kekerasan terhadap minoritas dan masih cenderung formalis, faktanya dapat membuktikan bahwa Islam tidak bertentangan dengan demokrasi. Seseorang dapat menjadi muslim yang baik sekaligus menjadi warga negara yang demokrat. Tidak hanya dalam teori atau retorika namun juga di dalam praktik berbangsa dan bernegara.

Pengalaman kita melaksanakan beberapa kali pergantian rezim melalui pemilu yang relatif  jujur, damai, dan stabil bisa menjadi dongeng indah bagi aktivis di negara-negara Arab yang tengah berjuang menata arah perubahan. Kenyataan bahwa demokrasi kita belum sepenuhnya mewujud dalam pemerintahan yang bersih dan menyejahterakan harus diakui sebagai kekurangan penting yang harus dibenahi.

Negara-negara Arab harus mengakui bahwa praktik politik mereka selama ini jauh dari nilai-nilai dasar Islam dan demokrasi. Kebenaran, keadilan, kesetaraan, musyawarah, pembangunan peradaban, dan kesejahteraan bersama yang menjadi prinsip Islam sulit ditemukan dalam praksis kehidupan bangsa-bangsa Arab sekarang.
Pergantian rezim secara damai yang merupakan praksis dasar dari demokrasi saja tidak menjadi kenyataan. Hilangnya nyawa dan korban luka hampir selalu menghiasi proses pergantian rezim seperti terjadi saat ini. Korban yang diminta sudah terlalu banyak untuk lahirnya perubahan. Proses revolusi di Tunisia, Mesir, Yaman, Suriah, Aljazair, Bahrain, Mauritania, Libia, Arab Saudi, dan Yordania telah dan sebagian masih menelan korbannya, sementara negara-negara Arab lain seperti tinggal menunggu gilirannya.

Seandainya Zainal Abidin bin Ali, Hosni Mubarak, Gaddafi, Abdullah Saleh, dan pemimpin negara Arab lain mau belajar kepada pengalaman Indonesia, mungkin mereka tidak akan mengalami nasib yang mengerikan seperti sekarang ini. Dihina, dimaki, diusir, bahkan dibunuh secara keji oleh rakyatnya sendiri.

Indonesia telah mengalami hal itu sejak 13 tahun lalu. Represi politik, eksploitasi ekonomi, dan pelemahan masyarakat hanya melahirkan perlawanan rakyat. Sekokoh apa pun kekuatan tentara yang dibangun dan kekayaan yang ditumpuk, faktanya tidak akan mampu menyelamatkan kekuasaan.

Keislaman orang Indonesia yang moderat, kendati saat ini tengah menghadapi ujian berat, patut menjadi contoh bagi bangsa Arab. Watak moderatisme Islam di Indonesia bukan hanya mampu menerima realitas kemajemukan melainkan juga mampu menyerap berbagai unsur kamajemukan itu dan menjadikannya khazanah yang luar biasa.
Moderatisme bukan hanya membuat wajah Islam Indonesia tampak lebih indah melainkan juga mengantar muslim Indonesia mampu hidup dengan orang yang berbeda agama dalam kebersamaan yang sungguh-sungguh, tulus, dan jujur dalam bingkai bermasyarakat dan berbangsa.

Moderatisme juga membuat Islam di Indonesia tidak terjebak pada dikotomi yang merugikan dalam sejarah Islam: Syiah versus Sunnah. Karena itu, dunia Arab saat ini tidak harus menjadi kiblat keislaman, baik dalam pemikiran, sikap maupun praksis sosial politiknya. Sebaliknya, Indonesia bisa menjadi guru yang memberikan pelajaran berharga buat dunia Arab. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar