Tampilkan postingan dengan label Toeti Prahas Adhitama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toeti Prahas Adhitama. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

Doa-Doa Kita

Doa-Doa Kita

Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  26 Desember 2014

                                                                                                                       


ORANG beragama umumnya berkeyakinan semua doa yang dipanjatkan akan didengar-Nya. Yang Mahakuasa mungkin beranggapan bila umatnya sungguhsungguh berdoa, segenap permintaan akan dikabulkan. Paling tidak, itulah keyakinan kita sebagai manusia.

Akan tetapi, menurut pengalaman, terungkap bahwa ada kalanya betapa gigih dan khusyuknya berdoa, kita merasa doa-doa itu tidak pernah sampai atau didengar yang berkuasa. Misalnya, doa agar orangtua yang menderita sakit cepat dibebaskan dari derita, ada kalanya tidak didengarkan; atau tidak pernah terjawab. Sebaliknya, orangtua itu harus lama menderita sebelum akhirnya tercabut nyawanya. Begitu pula doa orang-orang yang menderita kemiskinan agar dibebaskan dari derita itu, sepertinya tak kunjung dijawab. Malahan, kemiskinan itu agaknya menjadi penderitaan turunmenurun sampai beberapa generasi. Akan tetapi, apakah karena itu lalu kita melepaskan keyakinan kepada yang Esa? Apakah karena itu kita berhenti berdoa? Rasanya tidak. Yang hari ini gagal, esok kita ulang lagi; masih dengan harapan, suatu kali Maha Esa akan menghiraukannya.

Barangkali yang bisa kita pertimbangkan, yakni menjelang penutup tahun ini. Mungkin aksi jutaan umat yang bersama-sama memanjatkan doa untuk keselamatan negara ini akan didengar-Nya. Itu harapan kita. Sebaiknya, kita renungkan keinginan ini, didasari hasrat suci, dan jiwa yang murni. Mungkin saja kali ini permintaan kita demi kesejahteraan bersama akan terkabul. Semoga kita diridai. Sebagai manusia biasa, sebaiknya kita berserah diri; menyerahkan jiwa dan raga kita dengan kepasrahan total. Siapa tahu, kali ini suara kita didengar-Nya. Meskipun hanya sayup-sayup sampai, bila dipanjatkan jutaan umat, bisikan itu pun mudah-mudahan akan terdengar gemuruh.

Ada buku tulisan Bill Hybels berjudul ‘Too busy not to pray’ yang banyak mengupas pemanjatan doa. Dalam buku itu digambarkan bagaimana nasib doa-doa yang kita panjatkan. Menurut penulisya, kalau doa itu tidak pantas, Tuhan menjawab ‘no’. Kalau waktunya keliru, beliau menjawab ‘slow’. Kalau yang berdoa bersalah, Tuhan akan menjawab ‘grow’. Namun, bila doa itu benar, pantas, dan waktunya tepat, serta tujuannya luhur, Tuhan menjawab ‘go.

Sebagai manusia, kita harus mengakui ada kalanya memanjatkan doa yang kurang pantas, antara lain, menginginkan milik orang lain; apa pun yang diinginkan itu, yakni bisa jabatan, harta benda, atau bahkan manusia. Untuk doa memohon yang tidak pantas itu, menurut penulis, bisa saja Tuhan menjawab ‘tidak’. Tuhan Mahapengasih, penyayang, dan adil. Banyak sisi dipertimbangkan. Kepentingan sepihak diabaikan. Egosentrisme dihapuskan. 
Bila ada rasa empati, Tuhan akan memberi tanggapan lain. Sebagai manusia, kita sebaiknya mendengar-Nya; bukan bersikukuh mempertahankan keinginannya. Tuhan tidak akan meridai.

Namun, ada doa-doa yang pantas dan wajar, tetapi terkesan doa-doa itu tidak kunjung didengar-Nya. Mungkin waktunya tidak tepat, belum waktunya, serta masih memerlukan waktu untuk mengum pulkan kemampuan dan pengalaman. 

Doa yang dipanjatkan itu mungkin tidak salah. Apalagi, sang pendoa yang muda itu rajin, tekun, pekerja keras, dan baik hati. Yang mungkin kurang, yakni pengalamannya. Kalau sukses itu dipercepat, mungkin saja malahan menimbulkan malapetaka. Itu bisa saja karena ketidaksiapan mental dan pribadi. Jawaban Tuhan ‘slow’; belum saatnya dikabulkan. Jawaban ‘grow’ akan diberikan untuk menanggapi doa yang tidak pantas dan tidak terpuji.

Menurut penulis, di antara ribuan doa, banyak sekali yang tidak terpuji. Si pendoa itu pun dalam lubuk hatinya tahu sisi negatif itu sudah melenceng dari koridor kepatutan. Akan tetapi, karena keinginan yang menggebu jadi dipaksakannya. Tuhan hanya memintanya bersikap dewasa, ‘grow’. Namun, bila akhirnya kita me ninggalkan ketidakpantasan itu karena menyadarinya, apa kemungkinan jawaban Tuhan? Ingat lagu ‘Aku dekat, Engkau dekat’. Kita perlu meyakini Tuhan beserta kita.

Banyak kejadian dalam hidup ini, keajaiban sering terjadi. Doa-doa yang kita panjatkan memperoleh jawaban yang membesarkan hati. Kita lega, seakan semua pintu menjadi terbuka untuk kita. Doa-doa itu terkabul karena dipanjatkan ketika hati nurani bersih dan tidak akan merugikan orang lain. Harapan kita menjelang tahun baru, semoga tumbuh kesadaran kita bersama, yakni hanya Yang Esa yang bisa menentukan murni tidaknya kemauan kita. Hanya Beliau yang memutuskan apakah doa yang kita panjatkan patut dijawab, ditolak, atau diabaikan. Namun, kita tahu keajaib an sering dianugerahkan Yang Maha Esa. ●

Minggu, 14 Desember 2014

Sapu Jagat Masyarakat

                                            Sapu Jagat Masyarakat

Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  12 Desember 2014

                                                                                                                       


APAKAH alam mengajarkan solidaritas? Apakah dia menuntut etika? Pertanyaan itu sering mengusik perasaan, lebih-lebih bila kita melihat ketimpangan yang keterlaluan. Anak-anak di bawah umur berpakaian compang-camping, bermain di tepi jalan raya; tak acuh akan keramaian lalu lintas yang bisa membahayakan jiwa mereka. Ke mana orangtua mereka? Siapa mereka?

Pemandangan seperti itu sering kita jumpai. Tanpa aba-aba, anak-anak itu datang dan pergi, entah dari mana. Mereka menemukan sepintas kegembiraan, lalu lari pergi. Orang-orang di sekitarnya, seperti tidak ada yang peduli. Bagaimana aturan masyarakat kita? Kapan waktu anak-anak itu belajar, istirahat, sekolah, bermain bersama saudara atau teman?

Pikiran seperti itu melintas di pikiran ketika kami menyaksikan acara `Kick Andy' tentang seorang ibu yang awalnya mengurus puluhan anak yatim piatu atas prakarsa pribadi. Setelah dicermati, kisah itu menakjubkan karena telah berkembang dari yang semula tiada menjadi yayasan abadi bernama Hati Suci. Konon sekarang yayasan itu mengasuh lebih dari 300 siswa, dari tingkat TK sampai dengan SMA. Siapa ibu itu?

Tersebutlah satu abad yang lalu seorang ibu bernama Ny. Lie Tjian Tjoen yang berprakarsa mendirikan Perkumpulan Ati Soetji untuk menolong anak perempuan, anak yatim piatu, dan anak telantar. Saat ini, yayasan yang bernama Hati Suci masih berdiri, mengupayakan beasiswa bagi anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung.

Perkumpulan Ati Soetji bermula dari ditemukannya bayi di dekat rumah Ny. Lie; dan bukan hanya satu kali, melainkan juga berulang kali, beralih-alih tempat, yakni dari bawah pohon cemara, di dekat pot bunga, hingga di depan rumahnya. Bahkan, ada yang diberikan langsung oleh ibunya (yang menutup wajahnya dengan cadar). Sejak itu, bukan peristiwa yang dianggap mengejutkan lagi ketika ada bayi-bayi baru lahir tergeletak di sekitar tempat tinggal Ny. Lie. Bayibayi itu kemudian dibawa ke Panti Asuhan Hati Suci yang didirikan sendiri oleh Ny. Lie pada 1914.

Kisah yang dapat kita pelajari atau pertanyakan, bagaimana politik mengatur situasi masyarakat supaya jangan terjadi ketimpangan kesejahteraan berlebihan sehingga mengganggu nurani kemanusiaan? Bagaimana menyiasatinya? Dalam hal itu, khususnya yang langsung berkaitan dengan anak-anak dari kalangan tidak mampu, lebih-lebih dari kalangan yang boleh dikatakan tidak berkeluarga? Bagaimana perwakilan rakyat kita menangani kasus-kasus macam itu? Halo DPR?

Dapat dipastikan tontonan Kick Andy itu menggerakkan nurani banyak orang. Menemukan sistem atau jalan ke luar untuk mengatasi persoalan seperti itu rasanya jauh lebih bermartabat daripada menyaksikan `keroyokan' siapa yang menang atau siapa yang kalah dalam persoalan kasus perebutan posisi antarpartai untuk persoalanpersoalan atau kasus-kasus tertentu. Lebih-lebih bila menerawang ke depan, apa yang terjadi pada anak-anak kecil telantar itu dalam satu hingga tiga dasawarsa dari sekarang? Bukankah mereka juga yang nantinya menentukan bagaimana masa depan republik ini?

Secara spiritual, ada ramalan boleh percaya, boleh tidak, bahwa sebelum Jokowi terpilih dia diramalkan sebagai tokoh yang akan mengadakan pembersihan di masyarakat. Dia dibayangkan, seperti tokoh berjubah yang ada kalanya melepas jubahnya dan jubah itu berubah menjadi semacam sapu jagat yang akan membersihkan yang serbakotor di sekitarnya. Pertanyaan kami, apa yang akan dia dan anak buahnya lakukan bila melihat anak-anak kecil telantar sekarang ini menatap masa depan? ●

Rabu, 03 Desember 2014

Keajaiban Melahirkan Solidaritas

                             Keajaiban Melahirkan Solidaritas

Toeti Prahas Adhitama ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA, 28 November 2014

                                                                                                                       


WALAUPUN pesta demokrasi sukses, sikap anarkistis menentang harga BBM yang dipertontonkan di TV menunjukkan betapa sulitnya mencapai solidaritas antarkita. Lebih-lebih itu untuk sesuatu yang dipersepsikan bukan sebagai kebutuhan bersama. Misalnya, BBM menjadi kepentingan bersama. Akan tetapi, naik-turunnya harga BBM menimbulkan pengaruh yang bervariasi, tergantung pada jenis usaha yang dilakukan. Umumnya, masyarakat memang merasa dirugikan. Para pedagang di pasar menjerit karena naiknya ongkos angkutan yang berimbas pada kenaikan harga dagang an mereka. Tetapi, pedagang bahan bakar malah mencari keuntungan. Mengapa tidak memanfaatkan kesempatan? Kapan lagi keuntungan akan berlalu-lalang? Itulah yang bergolak di otak manusia.

Sebenarnya, alam cenderung mengajarkan lain. Perhatikan kisah filsuf Schweitzer, yakni tersebutlah kawanan burung angsa yang setelah terbang beberapa jam akhirnya turun beristirahat di sebuah kolam. Di sana mereka riuh memandikan diri. Ketika mereka sedang bersukaria, lewatlah seorang manusia. 

Kawanan burung angsa itu menjadi cemas karena mengenal betapa jailnya manusia kalau sedang bangkit keusilan mereka. Kebetulan yang mampir memang manusia jail. Ia menangkap seekor burung angsa dan memotong beberapa helai sayap sekadar untuk memenuhi kejahilannya. Maka, ketika tiba waktunya kawanan itu akan terbang kembali untuk meneruskan perjalanan, terpaksa gagal. Burung angsa yang bulunya rusak bersusah payah mencoba terbang, tetapi sia-sia. Mereka bersama memutuskan untuk menunggu. Mereka solider. Setelah beberapa hari, mereka baru berhasil meneruskan perjalanan.

Kisah itu ditulis Albert Schweitzer (1875-1965), filsuf dan teolog terkenal dari Prancis Timur, yang kemudian dikenal sebagai tokoh etis universal. Kisahnya ialah sindiran bahwa manusia yang menganggap dirinya berperikemanusiaan toh kalah etis dari angsa yang binatang biasa. Alam diasumsikan menghendaki etika. Tidak jarang kita pun sering melihat binatang-binatang. Misalnya, kambing, domba, atau sapi ikut melelehkan air mata ketika melihat rekan-rekan mereka dijadikan korban. Mereka pun berperasaan bahkan ada rasa solidaritas.

Kalau kita kembali ke alam penghidupan manusia, mungkinkah ilmu menemukan jawaban untuk Schweitzer yang bisa membuktikan bahwa manusia lebih memiliki nurani etika daripada binatang? Lalu, mampu menemukan jalan keluar yang bisa diterima semua? Atau kita menyerah pada hukum yang sering membuktikan bahwa kita hanya dapat mempertahankan kehidupan dengan mengorbankan kehidupan jenis lain? Sebab, sepanjang sejarah peradaban manusia, itulah yang kita telah saksikan dan jalani.

Haruskah ada peradaban baru yang etikal? Haruskah ada renaissance yang membuat sesama manusia sama rasa dan sama rata? Dengan akal dan kecanggihannya, diharapkan manusia pada akhirnya akan mampu menemukan cara yang sama-sama tidak merugikan. Sementara ini memang belum. Tetapi, sejarah peradaban membuktikan tidak ada yang berjalan langgeng. Suatu saat kita akan menemukan rumus yang melahirkan keajaiban. Mungkin bahan, sistem, atau caranya. Dari sana diharapkan lahir suatu renaissance yang membuat isi seluruh jagat raya bersukaria. Semoga. ●

Senin, 24 November 2014

Metro TV Satu Setengah Windu

                                Metro TV Satu Setengah Windu

Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  21 November 2014

                                                                                                                       


PADA abad ke-14, setiap orang Eropa yang terdidik sekalipun meyakini bahwa Bumi ini datar dan Matahari bergerak dari timur ke barat memutarinya. Apa artinya? Artinya bahwa ilmu pengetahuan bisa berubah konsep. Dan apa yang pasti dan diyakini dalam suatu masa, belum tentu masih akan dianggap pasti dan diyakini dalam masa yang lain. Itu sebabnya, kita sebagai anggota masyarakat diharapkan terus-menerus mengikuti perkembangan di lingkungan kita. Mungkin, fakta seperti itulah yang membuat kita terus-menerus mencari pembaruan agar jangan sampai ketinggalan zaman. Alasan itu pula yang mengilhami kami, jurnalis, untuk selalu mencari unsur-unsur baru apa pun yang akan kami sajikan kepada publik.

Metro TV pun lahir satu setengah windu lalu atas tuntutan menciptakan yang baru dengan mengkaji dari sana-sini apa yang sekiranya masih bisa ditambahkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan umum kita bersama. Ilmu pengetahuan dapat kita kejar melalui pendidikan.

Pendidikan dapat kita peroleh lewat organisasi-organisasi modern yang kita lembagakan antara lain dalam bentuk perguruan, dari yang tingkat paling rendah sampai yang paling tinggi.

Ini penting kita sadari sebab keterlibatan ilmu pe ngetahuan dalam berbagai proses sosial selama hampir dua abad ini telah menjadi penyebab utama perubahan sosial. Karena kita sadar akan hal itu, pemberitaan bahwa mayoritas penduduk kita masih kurang berpendidikan membuat kita, khususnya kaum yang berpendidikan, nelangsa.

Tentu analisis itu jangan membuat kita lalu menerima dan tega saja melihat perkembangan yang memprihatinkan ini. Bayangkan, dalam penghidupan yang sudah menyerupai jaringan superhighway dalam hal ilmu pengetahuan, masih banyak orangorang kita yang teronggok di tepi jalan, tertinggal dari laju ilmu pengetahuan. Kenyataan yang lebih memprihatinkan, hanya sekelompok yang tergolong kecil yang tampaknya peduli. Masalah pendidikan seharusnya menjadi kepedulian semua orang.

Sebenarnya sejak dulu kita menyadari perubahan zaman menuntut perubahan sikap dan perilaku khususnya di bidang penerangan dan pendidikan. Perubahan itu perlu menyeluruh, dari sang pemimpin sampai rakyat jelata.

Jelas harus ada rekayasa sosial. Sikap dan perilaku kita pengaruh-memengaruhi.Namun faktanya, sikap kita tidak selalu mencerminkan perilaku kita.

Kenyataan seperti itulah yang membuat para ahli psikologi sosial meneliti dan meneliti. Apa yang dapat kita lakukan untuk mempercepat proses pembelajaran? Proses akselerasi akumulasi pengetahuan seperti apa yang harus kita lakukan? Bukankah sebaiknya kita percepat kontak batin dan kontak pemikiran antarkita agar kita mencapai pendapat dan tekad bulat sebagai rujukan? 

Mungkin semacam itulah yang harus kita rumuskan bersama sebagai pedoman.
Semakin cepat tercapai kesadaran tentang itu, semakin cepat pula masyarakat dibawa maju. Bukan sebaliknya, kita malahan masih saja terseok-seok, tersendat halangan-halangan yang jika dipikirkan benar-benar sebenarnya sudah tidak relevan untuk zamannya.

Waktu makin mendesak kita untuk segera menyusun bersama formula seperti apa yang bisa mengajak orang banyak secara serempak maju bersama.
Persoalan itulah yang pada saat-saat ini menjadi pekerjaan rumah para petinggi Metro TV: pembaruan apa lagi yang dapat kami sajikan kepada publik untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan budaya kita? Tentu kami tidak harus sendiri. Kami membutuhkan dukungan dan saran yang pasti akan makin memperkaya budaya dan pengetahuan kita. Apakah itu masalah politik, ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan pada umumnya. Jurnalisme publik ialah milik bersama. Metro TV milik kita bersama. ●

Minggu, 16 November 2014

Citra dan Selera

                                                       Citra dan Selera

Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  14 November 2014

                                                                                                                       


BEDA dengan lingkungan yang memberikan kesan teduh dan akrab. Sepintas kilas suasana kota besar di dunia umumnya tampak ribut dan terdengar gaduh juga riuh. Bahkan acap kali itu terkesan tidak tentu arah. Gerakan lalu lintas manusia dan kendaraan menunjukkan kesibukan yang padat luar biasa, pertanda penduduk kota memiliki lingkup kegiatan serbacepat dan kejarmengejar diburu waktu. Kegeniusan dan kreativitas manusia telah menciptakan kehidupan modern seperti yang kita kenal sekarang.

Ketika RI-1 memuji kerapian tata Kota Beijing, tidak pelak timbul pertanyaan, apa rumusan yang diperlukan untuk membuat sebuah kota besar tertata rapi? Apakah diperlukan teori dan aturan ketat yang membuat penduduk mampu mewujudkan kota yang tertata? Disiplin jelas diperlukan. Biaya tidak bisa diabaikan. Semuanya itu pun disesuaikan dengan kebutuhan penduduk, lingkungan, dan tersedianya biaya.Itu menjelaskan mengapa tiap lingkungan memiliki kekhasan.

Kecepatan kemajuan setiap masyarakat berbeda. Ada beberapa kota yang indah dipandang dan tampak nyaman untuk dinikmati, tetapi tidak banyak. Itu menjadi tugas para pemimpin pemerintahan ataupun warga kota untuk menentukan pengembangan seperti apa yang diinginkan untuk lingkungan dan lembaga-lembaga yang ada di dalamnya. Perencanaan dan siapa saja yang dianggap paling mumpuni menangani penjabarannya? Bukan santai dan tidak pula gerak cepat asal dapat. Tugas manajemen menjadi lebih berat karena bukan hanya berkewajiban menjalankan tugas, melainkan juga menjamin pertumbuhannya agar bisa memastikan masa depan seluruh lingkungan yang lebih baik.

Bila kita keliling mengunjungi sejumlah masyarakat atau negara lain, langsung akan kita kenali beda antara satu lingkungan dan lingkungan yang lain, baik dalam tata kota, bangunan-bangunannya, maupun efisiensi konstruksi konstruksinya. Kunjungan keliling memberikan citra tentang cita rasa ataupun selera penduduk, selain untuk kemajuan pengetahuan teknik warga dan kejelian para pemimpin mengenali yang indah dan apa saja yang perlu ditambah atau apa yang harus dikurangi atau dibuang.

Sekadar menyebut sebagai contoh yakni Jakarta. Situasi yang ada saat ini menunjukkan ketimpangan pemandangan di banyak tempat, kecuali di jalan-jalan protokol.Mantan Gubernur Wiyogo pernah menyebut Jakarta seperti sebuah desa, tumbuh spontan tanpa perencanaan walaupun tentu tidak demikian. Memang bila komposisi penduduknya dilihat, ketimpangan antara yang mampu dan yang kurang atau tidak mampu luar biasa besar.

Bahkan banyak gubuk dibangun menempel ke tembok bangunan-bangunan lain dengan bebasnya. Seakan tidak ada aturannya. Gubuk-gubuk itu bebas dipakai untuk tempat penginapan ataupun warung. Ada kesan semua pihak angkat tangan membiarkan kecuali pada saat ada gerakan pembersihan oleh polisi kotapraja.

Menurut hasil riset, hampir separuh wilayah permukiman Jakarta terdiri dari daerah kumuh atau yang penataannya tidak terencana. Itu menandaskan masalah kependudukan dan permukiman di Kota Jakarta yang luasnya lebih dari 660 km2 merupakan salah satu tantangan terbesar, yaitu penduduk terlalu padat dengan permukiman tidak tertata rapi. Bukan hanya itu, keamanan dan ketertibannya pun gampang terganggu.

Urbanisasi penduduk desa dan Botabek yang mencari kerja tetap ataupun musiman di kota menambah beban Ibu Kota. Jumlah penduduknya sekarang diperkirakan mendekati 11 juta jiwa menjadi bahan pemikiran para perancang untuk melakukan pekerjaan rumah yang berat. Itu tantangan hebat yang menghadang Jokowi-JK dan segenap warga Jakarta dalam tahun-tahun mendatang. ●

Sabtu, 01 November 2014

Menteri Kebatinan

Menteri Kebatinan

Toeti Prahas Adhitama  ;  Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA, 31 Oktober 2014
                                                
                                                                                                                       


SAAT-SAAT ini, bila secara acak kita bertanya pada yang kita temui tentang jabatan menteri yang mereka inginkan, jawabnya pastilah beragam sesuai kebutuhan masingmasing. Ada yang ingin menjadi menteri ekonomi karena mendambakan mampu menciptakan masyarakat yang hidup berkecukupan.

Ada yang ingin menjadi menteri agama karena menganggap moral bangsa sedang kena musibah hingga perlu pembersihan besar-besaran. Ada yang ingin menjadi menteri pendidikan sebab kita dirasa kekurangan lingkungan cerdik-pandai. Yang tecermin di media ialah ungkapan klise yang terulang-ulang.... Namun, ada satu jawaban yang menurut saya menarik; “Kami ingin ada menteri urusan kebatinan,“ jawaban yang menyentak perhatian.

Ketika mendengar jawaban itu, kami tertawa tergelak. Bukan karena meremehkan, melainkan karena mengira itu barangkali hanya gurauan semata. Kebatinan sifatnya abstrak. Siapa yang cukup hebat untuk bisa menentukan kriteria batin seperti apa yang diinginkan orang banyak? Jutaan jiwa bersembah sujud kepada Yang Esa untuk mendapatkan yang didambakan, masing-masing dengan permohonan dan keyakinan permintaannya akan dipenuhi.Apakah mungkin ada tokoh yang mampu menjajaki beban batin terbesar, terluas, dan mungkin terberat yang dilimpahkan Tuhan?

Kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kebohongan bersimpang siur setiap hari, masyarakat lapar tersebar di mana-mana, banyak anak tumbuh tanpa bimbingan dan asuhan orangtua, serta masih banyak kelemahan dan kekurangan lain. Akan tetapi, di sisi lain, kemewahan melimpah di banyak tempat, memamerkan diri seperti Nyi Blorong yang berkedap-kedip bermain mata.

Singkat kata, menteri kebatinan diharapkan meneliti kebutuhan fisik dan mental spiritual yang ada dalam pikiran dan perasaan manusia, serta berusaha mengatasinya. Tugas yang luar biasa berat mengingat keragaman emosi dan mimpi manusia disela oleh intervensi lingkungan berbagai rupa yang tak terduga. Kekuatan batin dan energi tokoh macam apa yang bisa mengatasi kebutuhan seperti itu?

Sebenarnya, dari segala hiruk-pikuk kehidupan, pemenuhan kebutuhan batin itulah yang kita cari--suatu kekuatan untuk menghadapi segala cobaan yang dihamburkan oleh hidup yang sering liar.

Apakah ada tokoh yang berani bertepuk dada menganggap diri suci dan secara sukarela menawarkan diri untuk menduduki jabatan menteri kebatinan yang diharapkan mampu mengatasi segala kekurangan batin kita? Tantangan yang tidak ringan.

Lebih-lebih, mengingat bahwa rayuan godaan bisa begitu dahsyat menawannya sehingga, jika kita bicara soal hubungan laki-laki dan perempuan, misalnya, keandalan hormon saja bisa menaklukkan keluhuran budi dan kemauan baik tokoh terpuji sekalipun. Apa mau dikata?

Namun, tak dimungkiri, rasanya banyak juga yang merasa atau mengira mereka bisa memenuhi syarat untuk itu, sekalipun sekadarnya. Alasannya, “Tidak ada manusia yang sempurna.“ ●

Sabtu, 31 Mei 2014

Pembenahan Birokrasi

Pembenahan Birokrasi

 Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  30 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
SEMENTARA mengikuti dua kelompok partai politik mengampanyekan program masing-masing menuju RI-1, belum lama ini pernah disinggung salah satu permasalahan nasional yang mengakibatkan ketidaklancaran pemerintahan kita, yakni masalah birokrasi. Kalau kita mendengar kata itu, yang muncul dalam pikiran suatu organisasi besar, dingin, dengan rutinitas kaku, resmi, dan tertutup. Itulah kesimpulan dalam buku Society Today (1971), yang memuat deretan esai para ahli sosiologi Amerika. Jika ditinjau dari pernyataan itu, bukan birokrasi di Indonesia saja yang memiliki permasalahan.

Tentu semula konsep birokrasi tidak dimaksudkan demikian. Birokrasi modern tumbuh berbarengan dengan bangkitnya sikap modern masyarakat industri yang ingin membentuk pola organisasi resmi untuk kegiatan baik ke dalam maupun ke luar, agar semua tertib dan lancar, tidak amburadul seperti yang sering kita alami. Birokrasi modern membentuk staf administrasi khusus yang terampil dan menguasai bidangnya. Karena itu, latihan berkala bagi anggota-anggotanya menjadi keniscayaan.

Sosiolog Jerman, Max Weber (1864-1920) yang menemukan konsep tentang tipe ideal situasi-situasi sosial, berpendapat bahwa berkembangnya birokrasi modern ialah sebab dan akibat pemikiran formal yang menjadi ciri masyarakat Barat, dan bahwa birokrasi modern ialah cara paling efisien untuk mengorganisasi sejumlah besar orang untuk tugas-tugas yang kompleks.

Weber mengakui ada birokrasi sistem lama. Rupanya ini yang masih sering kita jumpai dalam pemerintahan kita. Sifatnya tentu tidak ideal. Menurut Weber, struktur lama ada di sistem yang bersifat feodal, seperti di zaman kerajaan atau pramodern. Tugas dinomorduakan. Yang dipentingkan orang atau pejabatnya.

Perlu pimpinan tegas dan disiplin

Menurut Weber, agar birokrasi tidak mengarah kepada struktur atau sistem lama, diperlukan aturan tegas, tertulis, dan terjamin dipatuhi semua. Selain aturan-aturan yang berkaitan dengan masalah teknis, yang diperlukan demi kelancaran dan efisiensi kerja, Weber mensyaratkan agar untuk posisi-posisi tertentu ada ijazah atau diadakan ujian. Pejabat-pejabat hendaknya menjalankan tugas dengan disiplin tanpa mempertimbangkan kepentingan sendiri. Di kita, jelas cara ini akan membantu membasmi penyakit yang selama ini merongrong birokrasi kita, yakni masalah korupsi yang marak di mana-mana di sepanjang jenjang.

Max Weber mungkin terlalu ideal. Dalam perjalanan waktu sejak awal pertumbuhannya konsep birokrasi modern telah mewarisi sejumlah unsur dan konsep lama. Semakin tradisional sifat kepemimpinannya, semakin nyata pergeseran konsepnya. Belum lagi kalau itu menyangkut budaya atau adat istiadat. Misalnya pernah diasumsikan oleh Prof Dr Asim Gunarwan (UI) bahwa orang Jawa tidak transparan dan menghindari konflik terbuka. Kalau yang memegang tampuk pimpinan kebetulan orang-orang Jawa, tentu akan ada asumsi bahwa sikap mereka tidak sesuai dengan dinamika masyarakat modern. Namun, tiap mata uang memiliki dua sisi. Maka Weber menyarankan agar pejabat-pejabat hendaknya menjalankan fungsi dengan disiplin tanpa mempertimbangkan perasaan dan kepentingan pribadi, dan tidak emosional.

Debat yang tak kunjung padam

Belum lama ini ada kekhawatiran tentang keinginan untuk mengadakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Keinginan seperti ini akan membuat bumi bisnis gonjang-ganjing, tetapi keinginan seperti itu akan selalu ada; ibaratnya lilin yang tak pernah berkedip. Khususnya bila kita bicara tentang manfaatnya bagi rakyat banyak. Asumsinya, nasionalisasi serta-merta akan membawa kemaslahatan bersama. Asumsi itu tidak salah, bila konsep pengelolaannya benar dan bukan birokratis.

Kegagalan banyak badan usaha yang dijalankan banyak negara membuktikan bahwa urusan usaha atau bisnis seyogianya jangan dibebankan pada birokrat. Ini terjadi di mana-mana. seperti di negara-negeri sosialis RRC dan Hongaria, maupun di negara-negara maju: Jerman dan Inggris; dan Indonesia sendiri. Pertanyaannya, apakah nasionalisasi yang bisa mengarah ke swastanisasi akan selalu bisa jalan? Siapa yang akan membeli perusahaan yang kemudian terus merugi? Apa akibat perusahaan yang terus merugi?

Pengkajian dan debat mengenai masalah ini tak kunjung selesai. Nasionalisasi yang kemudian menciptakan BUMN di mana pun malahan terbukti menghambat usaha bisnis yang sehat; itu kalau kita belum siap dan cukup terampil untuk menjalankan nasionalisasi. Bila yang disebut nasionalisasi idem dito dengan mengambil alih untuk menjadikannya badan usaha negara, memang harus dikaji ulang. Masalahnya, berbagai pengkajian selama ini membuktikan bahwa usaha bisnis oleh negara, yang ditangani birokrasi, menghambat dinamika bisnis yang sehat.

Belajar dari perjalanan sejarah bangsa ini, kita mulai bisa meraba mengapa masih banyak permasalahan yang harus kita selesaikan seiring dengan datangnya pemerintahan yang baru. Padahal, kita memiliki segudang orang pintar, alam yang bermurah hati, belum lagi kedamaian yang selalu melindungi. Itu bekal luar biasa bagi pemerintahan baru kita.

Maka sungguh melegakan bahwa paling tidak publik diberi gambaran apa-apa yang akan dijalankan dalam platform masing-masing dengan program-program mereka. Namun, walaupun sering dikatakan publik cukup cerdas, jangan tergesa-gesa diharapkan mampu serta-merta menanggulanginya. Justru badan legislatif yang harus didorong menghela kereta negara, dan badan yudikatif diharapkan selalu mengawal. Bila ada kegagalan lagi, bukan salah lembaga eksekutif semata. ●

Jumat, 23 Mei 2014

Pagelaran Sudah Cukup

Pagelaran Sudah Cukup

Toeti Prahas Adhitama  ;   Anggota Dewan Redaksi Media Group
MEDIA INDONESIA,  23 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
AKHIRNYA pilihan partai-partai politik mengerucut ke dua kelompok. Partai Demokrat memilih untuk berdiri sendiri. Maka rasanya cukup lengkap sudah kita berwacana-wacana tentang para calon presiden (capres)/calon wakil presiden (cawapres) karena semakin banyak bicara, akan makin membuka kesempatan untuk keraguan atau kampanye hitam; yang rasanya pada tahap ini tidak fair lagi. Hanya membuat rakyat bingung. Ini bukan kontes Indonesian Idol demi mendulang suara. Sekalipun selalu dikatakan rakyat sudah cukup pandai, tetapi jangan mereka menjadi korban hasutan yang merugikan masa depan bangsa ini. 

Yang dikonteskan sebaiknya platform dan program setiap kelompok sehingga rakyat mendapat pilihan yang adil, tanpa harus diobok-obok lagi emosinya tentang masalah-masalah pribadi sehingga kembali melangkah mundur.

Misalnya, salah satu yang ramai dikampanyekan selama 2014 ini adalah soal ekonomi kerakyatan. Karena membawa nama `rakyat' tentu rakyat ingin banyak tahu tentang maksud istilah itu, sekalipun istilah itu sudah dipakai sejak zaman Bung Hatta pada awal-awal merekahnya Republik ini. Istilah semula `ekonomi rakyat' kemudian berubah menjadi `ekonomi kerakyatan'. Bung Hatta ingin memopulerkan sistem itu dengan sistem koperasi. Masyarakat masa kini, yang tidak terlalu mafhum sejarah ekonomi waktu itu, tentu tidak tahu apakah sistem koperasi itu berjalan sesuai yang diharapkan, sekalipun di Belanda sistem itu sukses besar. Keraguan tentang pengejawantahan sistem ekonomi kerakyatan bisa menimbulkan tanda tanya, apakah akan ada hubungannya dengan nasionalisasi, seperti yang akhir-akhir ini diasumsikan? Sebab, dengan perkembangan ekonomi dunia seperti sekarang, sikap dan tindakan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman sebaiknya dihindari.

Peran pemerintah

Berbeda dalam sistem pasar bebas sepenuhnya, dalam sistem ekonomi kerakyatan tentunya pemerintah akan memainkan peran semakin aktif dalam mengadakan perubahan pada sistem yang selama ini berlaku, memang, sekalipun tidak harus dengan menjalankan nasionalisasi secara serampangan yang akan merusak tertib ekonomi yang sudah dibangun selama ini. Sesuai dengan UUD kita, yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak pastinya akan diwaspadai sesuai arahan pemerintah. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah akan lebih banyak bersuara tentang alokasi sumber-sumber dana. Alasannya, sumber bumi faktanya menipis, peledakan penduduk menuntut penyediaan pangan lebih besar dan tuntutan pemerataan pendapatan. Peningkatan jumlah penduduk yang makin mendekati seperempat miliar tidak bisa diabaikan.

Dalam kaitan itu, sektor swasta perlu lebih banyak bekerja sama dengan pemerintah dalam menetapkan prioritas penanaman modal dan sekaligus merumuskan kebijakan teknologi yang tepat, lebihlebih mengingat menurunnya kinerja sektor industri. Untuk menciptakan orde baru di bidang perekonomian nasional memang diperlukan usaha perubahan besar-besaran, didukung kebijaksanaan nasional yang mengutamakan pemerataan kekayaan dan penghasilan.

Karena kekayaan, maupun kekuasaan, selalu bersifat terbatas, perlu ada aturan tentang cara mendistribusikan karena selalu ada saja oknum atau kelompok yang serakah untuk memonopoli dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Maka peraturan selalu diperlukan demi ketertiban, lebih-lebih tidak ada keberlimpahan yang sifatnya terus-menerus. Ada yang mengatakan, keterbatasan selalu menimbulkan ketimpangan distribusi. Pendapat itu masih harus diragukan kebenarannya. Kenyataannya, selama manusia merasa masih bisa memiliki sebanyak yang memuaskan hatinya, mereka tidak peduli akan kebutuhan orang-orang lain.

Mengapa ramalan selalu meleset

Sekitar tiga dasawarsa yang lalu kita pernah diramalkan Arlington Forecasting International Company bahwa antara 1996-2005 Indonesia akan menjadi negara ke-7 termaju setelah Australia, Amerika, Kanada, Inggris, Swedia dan Jerman Barat. Kabar semacam itu selalu menggembirakan karena memberikan sebentuk harapan. Kesimpulan itu hasil olahan komputernya setelah mendapat 64 indikator, lebih dari 200 tren, dan lebih dari 3.500 peristiwa. Semua berkaitan dengan masalah-masalah sosial, politik, ekonomi dan energi.

Ramalan itu terbukti jauh meleset. Ramalan kesuksesan Indonesia bukan pertama kali itu diadakan. Masalahnya komputer memerlukan data tepat untuk bisa terprogram sesuai kebutuhan. Yang menjadi pertanyaan, apakah indikator pendidikan masyarakat Indonesia masuk dalam sistem pengolahan komputernya?

Kesulitan-kesulitan praktis dan normatif strategi pendidikan, maupun biayanya yang luar biasa, menuntut penelaahan sistem yang ada. Mana yang lebih penting bagi Indonesia, apakah yang bertitik berat pada sejarah dan falsafah serta perkembangan kecerdasan pada umumnya, atau bertitik berat pada ke trampilan untuk memenuhi kebutuhan?

Faktanya, sistem pendidikan disusun kalangan menengah ke atas yang tidak pernah secara langsung merasakan pendidikan macam apa yang sebenarnya diperlukan oleh rakyat jelata sehingga memungkinkannya melakukan mobilitas ke atas. Fakta lain, banyak yang beranggapan bahwa memiliki kredensial seperti ijazah, gelar, atau sertifikat akan menjamin penempatan kerja.

Tenyata tidak. Dengan kredensial yang sama, anak kalangan menengah ke atas akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan; sebab sikap dan perangai seseorang, yang juga persyaratan penting, terbentuk bukan di ruang kelas. Dari segi ketenagakerjaan, pendidikan formal yang sifatnya umum, dengan demikian tidak selalu menguntungkan anak-anak rakyat jelata.

Idealnya, ada sistem yang membuat pemerataan pendidikan informal di kalangan anak-anak dari segenap lapisan sosial. Antara lain, misalnya, gerakan pramuka dan mengolahragakan masyarakat, yang pernah populer, bisa menjadi sarana mengurangi ketimpangan pergaulan sosial. ●