|
Hari-hari
Saparinah Sadli di Usia 100 Tahun Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Aktivitas harian Saparinah Sadli, 100
tahun, terbatas di rumahnya di Dharmawangsa, Jakarta Selatan. · Dia kerap menerima tamu yang kebanyakan
kolega dan mantan mahasiswanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. · Saparinah tidak suka air putih dan nasi
karena tidak ada rasanya. PAGI
sekitar pukul 10, Saparinah Sadli duduk di kursi yang menghadap sebuah meja
panjang di beranda rumahnya di kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Itu merupakan tempat ia biasa menerima tamu. Delapan
hari sebelumnya, pada Senin, 24 Agustus 2026, Saparinah berulang
tahun—tepatnya, “berulang abad”. Usianya genap 100 tahun. Deretan pot anggrek
beragam warna dengan bermacam ucapan selamat dan doa masih berjejer rapi di
taman samping rumahnya. Daster
merah bermotif bunga putih melekat di tubuhnya yang berkulit terang. Di meja
yang tertutup kain tenun itu tersaji sepotong croissant kecil dan segelas jus
kedondong yang hampir tandas. “Ibu suka roti-rotian dan kalau minum harus
dingin,” kata Henny Supolo Sitepu, aktivis pendidikan yang menjadi tamunya,
pada Selasa, 1 September 2026. “Menurut
kamu, negara ini bagaimana?” tutur Saparinah kepada saya yang baru duduk di
sebelah kirinya. Suaranya terdengar lantang. “Kalau rumah ini kan negara
saya. Negara ini saya tahu. Kalau Indonesia, enggak. Saya sudah lama tidak ke
luar rumah,” ujarnya. Pertanyaan
dan pernyataan itu menyiratkan bagaimana dunia Saparinah menyempit.
Sebelumnya, dalam hidupnya yang terbentang 100 tahun itu, dia aktif sebagai
akademikus dan pejuang hak asasi manusia, khususnya dalam isu gender dan
pemberdayaan perempuan. Dia aktif di banyak organisasi dan menjadi ketua pertama
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan. Sebetulnya
keseharian Bu Sap—panggilannya—tak sepi. Hampir setiap hari ada saja orang
yang datang untuk sowan. Entah kolega, mantan mahasiswanya di Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia, entah lainnya. Dari pertemuan-pertemuan
itulah Saparinah mengetahui kabar di luar “negaranya”. Selain dikunjungi
tamu, Saparinah rutin didatangi dokter sebulan sekali untuk memeriksa
kesehatannya. Sisanya,
Saparinah hanya tahu rumah. Ia bisa bangun pukul 6 pagi, kadang baru membuka
mata pukul setengah 10. Lain waktu, ia bisa bangun pada jam berbeda. Demikian
pula jam tidurnya. Kadang pada pukul 7 malam ia sudah berbaring di kasur.
Kadang ia baru bisa terlelap menjelang tengah malam. Satu hal
yang pasti, tiap pagi dia harus makan tiga butir kurma dan segelas kopi susu
tanpa gula. Hampir tiga tahun terakhir Saparinah sangat jarang minum air
putih. Alasannya, tidak ada rasanya. Sebagai
gantinya, ia meminta dihidangkan es jeruk atau, sesekali, air kelapa. Bisa
juga jus kedondong seperti dalam pertemuan pagi itu. Budi, asisten rumah
tangga yang mendampingi Saparinah hampir 30 tahun, paling sering menyajikan
minuman jeruk peras dicampur madu. Soal
makan, Saparinah sudah lama tak menyentuh nasi. Dia lebih suka menyantap
pasta dan lasagna. Budi sadar bahwa hidangan yang mengandung susu dan keju
itu seharusnya dibatasi dengan alasan kesehatan. Tapi, apa daya, Saparinah
emoh diatur. Budi pun hanya bisa manut. “Orang tua harus bahagia,” tutur
perempuan 50 tahun itu. “Jangan dilarang-larang. Nanti jadi pikiran,” dia
menambahkan. Rutinitas
pagi lainnya adalah menikmati koran. Namun Saparinah tidak membacanya
benar-benar. Dia hanya melihat-lihat foto, lalu melipatnya kembali. Selepas menyantap
sarapan, Saparinah biasanya duduk di ruangan yang penuh buku dan tersedia
televisi. Ia menonton apa saja yang sekiranya menarik sampai akhirnya
tertidur. Begitu sampai sore. Jadwal
tidur siang bisa terlewat jika banyak tamu, seperti beberapa hari belakangan.
Hampir tiap hari ada saja yang beranjangsana untuk mengucapkan selamat ulang
tahun. Kadang
dia menolak kedatangan tamu dengan alasan ingin beristirahat. Bisa juga
mereka tetap datang. Tapi, setelah menemui mereka, Saparinah pamit untuk
tidur siang. Sementara itu, para tamu dipersilakan beraktivitas di rumah
besar tersebut. “Saya beruntung. Orang-orang muda masih mau datang dan main
ke sini,” ujar Saparinah. ● Sumber :
https://www.tempo.co/teroka/aktivitas-saparinah-sadli-100-tahun-2286800 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar