Jumat, 18 September 2026

 

Hari-hari Saparinah Sadli di Usia 100 Tahun

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026

 

 

                                                           

·      Aktivitas harian Saparinah Sadli, 100 tahun, terbatas di rumahnya di Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

 

·      Dia kerap menerima tamu yang kebanyakan kolega dan mantan mahasiswanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

 

·      Saparinah tidak suka air putih dan nasi karena tidak ada rasanya.

 

PAGI sekitar pukul 10, Saparinah Sadli duduk di kursi yang menghadap sebuah meja panjang di beranda rumahnya di kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Itu merupakan tempat ia biasa menerima tamu.

 

Delapan hari sebelumnya, pada Senin, 24 Agustus 2026, Saparinah berulang tahun—tepatnya, “berulang abad”. Usianya genap 100 tahun. Deretan pot anggrek beragam warna dengan bermacam ucapan selamat dan doa masih berjejer rapi di taman samping rumahnya.

 

Daster merah bermotif bunga putih melekat di tubuhnya yang berkulit terang. Di meja yang tertutup kain tenun itu tersaji sepotong croissant kecil dan segelas jus kedondong yang hampir tandas. “Ibu suka roti-rotian dan kalau minum harus dingin,” kata Henny Supolo Sitepu, aktivis pendidikan yang menjadi tamunya, pada Selasa, 1 September 2026.

 

“Menurut kamu, negara ini bagaimana?” tutur Saparinah kepada saya yang baru duduk di sebelah kirinya. Suaranya terdengar lantang. “Kalau rumah ini kan negara saya. Negara ini saya tahu. Kalau Indonesia, enggak. Saya sudah lama tidak ke luar rumah,” ujarnya.

 

Pertanyaan dan pernyataan itu menyiratkan bagaimana dunia Saparinah menyempit. Sebelumnya, dalam hidupnya yang terbentang 100 tahun itu, dia aktif sebagai akademikus dan pejuang hak asasi manusia, khususnya dalam isu gender dan pemberdayaan perempuan. Dia aktif di banyak organisasi dan menjadi ketua pertama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan.

 

Sebetulnya keseharian Bu Sap—panggilannya—tak sepi. Hampir setiap hari ada saja orang yang datang untuk sowan. Entah kolega, mantan mahasiswanya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, entah lainnya. Dari pertemuan-pertemuan itulah Saparinah mengetahui kabar di luar “negaranya”. Selain dikunjungi tamu, Saparinah rutin didatangi dokter sebulan sekali untuk memeriksa kesehatannya.

 

Sisanya, Saparinah hanya tahu rumah. Ia bisa bangun pukul 6 pagi, kadang baru membuka mata pukul setengah 10. Lain waktu, ia bisa bangun pada jam berbeda. Demikian pula jam tidurnya. Kadang pada pukul 7 malam ia sudah berbaring di kasur. Kadang ia baru bisa terlelap menjelang tengah malam.

 

Satu hal yang pasti, tiap pagi dia harus makan tiga butir kurma dan segelas kopi susu tanpa gula. Hampir tiga tahun terakhir Saparinah sangat jarang minum air putih. Alasannya, tidak ada rasanya.

 

Sebagai gantinya, ia meminta dihidangkan es jeruk atau, sesekali, air kelapa. Bisa juga jus kedondong seperti dalam pertemuan pagi itu. Budi, asisten rumah tangga yang mendampingi Saparinah hampir 30 tahun, paling sering menyajikan minuman jeruk peras dicampur madu.

 

Soal makan, Saparinah sudah lama tak menyentuh nasi. Dia lebih suka menyantap pasta dan lasagna. Budi sadar bahwa hidangan yang mengandung susu dan keju itu seharusnya dibatasi dengan alasan kesehatan. Tapi, apa daya, Saparinah emoh diatur. Budi pun hanya bisa manut. “Orang tua harus bahagia,” tutur perempuan 50 tahun itu. “Jangan dilarang-larang. Nanti jadi pikiran,” dia menambahkan.

 

Rutinitas pagi lainnya adalah menikmati koran. Namun Saparinah tidak membacanya benar-benar. Dia hanya melihat-lihat foto, lalu melipatnya kembali.

 

Selepas menyantap sarapan, Saparinah biasanya duduk di ruangan yang penuh buku dan tersedia televisi. Ia menonton apa saja yang sekiranya menarik sampai akhirnya tertidur. Begitu sampai sore.

 

Jadwal tidur siang bisa terlewat jika banyak tamu, seperti beberapa hari belakangan. Hampir tiap hari ada saja yang beranjangsana untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

 

Kadang dia menolak kedatangan tamu dengan alasan ingin beristirahat. Bisa juga mereka tetap datang. Tapi, setelah menemui mereka, Saparinah pamit untuk tidur siang. Sementara itu, para tamu dipersilakan beraktivitas di rumah besar tersebut. “Saya beruntung. Orang-orang muda masih mau datang dan main ke sini,” ujar Saparinah.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/teroka/aktivitas-saparinah-sadli-100-tahun-2286800

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar