|
Kita Harus Bersiap Menghadapi
Bencana Hidrometeorologi Friski Riana : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 13 September 2026
|
· BMKG memodifikasi cuaca setelah terjadi
erupsi Anak Krakatau serta sebelum kebakaran hutan. · Kepala BMKG menjelaskan potensi bencana
seperti megathrust dan tsunami. · BMKG sudah membentuk tim kajian soal
merger dengan Badan Geologi Kementerian ESDM. SEJAK
dilantik sebagai Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
pada November 2025, Teuku Faisal Fathani mengaku jarang tidur nyenyak. Ada
saja anggota stafnya yang menghubungi saat ia sudah terlelap. “Kalau ada
gempa di atas magnitudo 6, saya pasti dapat telepon,” kata Faisal pada Kamis,
10 September 2026. Di
gedung Command Center Multi Hazard Early Warning System BMKG di Jakarta
Pusat, Faisal bercerita ia tak pernah mematikan telepon selulernya. Saat
rapat dengan Presiden Prabowo Subianto pun ia selalu mengangkat panggilan
telepon dari anak buahnya yang mengabarkan potensi bencana akibat gempa. Belum
satu tahun menjabat, guru besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada itu
sudah tiga kali menyampaikan peringatan bencana yang terkait dengan gempa.
Salah satunya gempa dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa
Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Kepada
jurnalis Tempo, Alif Ilham Fajriadi, Yosea Arga, Friski Riana, dan Erwan
Hermawan, serta fotografer Tony Hartawan, Faisal menjelaskan pantauan BMKG
terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dalam wawancara selama satu setengah
jam itu ia juga membeberkan penanganan kebakaran hutan dan lahan serta
rencana penggabungan BMKG dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral. Erupsi
Gunung Anak Krakatau sudah mereda? Bagaimana aktivitas vulkanis gunung ini? Erupsi
pertama dan status siaga III sudah sejak Juli 2026. Lalu erupsi besarnya
tanggal 4 September, pukul 23.00. Tanggal 5-6 masih ada beberapa erupsi. Dari
data magnetik bumi, petir vulkanis, dan sebagainya dari seismograf BMKG juga
memang ada penurunan intensitas aktivitas erupsi. Tentu lontaran debu
vulkanisnya juga berkurang. Debu
vulkanis sampai ke Jakarta dan sekitarnya.... Sejak 6
September sore, arah angin dominan dari permukaan sampai ke ketinggian 50
ribu kaki ke barat daya atau barat laut. Itulah yang terus menyapu erupsi ke
arah Samudra Hindia. Tapi sebagian sudah ada yang menyebar ke sini (Jakarta
dan sekitarnya). Kami diminta mengintervensi lewat operasi modifikasi cuaca.
Itu cara paling ideal untuk mengurangi dampak debu vulkanis. Hasilnya
bagaimana? Menteri
Kesehatan menghubungi saya setelah erupsi Anak Krakatau terjadi untuk
memantau sebaran sulfur dioksida, gas utama dari gunung api. Debu vulkanis
punya karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Lebih tajam, seperti
serpihan kaca mikroskopis yang berbahaya bagi pernapasan. Presiden
Prabowo Subianto menghubungi Anda soal erupsi Gunung Anak Krakatau? Presiden
menghubungi saya langsung dan bertanya bagaimana kondisi setelah erupsi Anak
Krakatau. Saya sampaikan kondisinya, sebaran dan karakteristik abu
vulkanisnya, ketiadaan potensi tsunami, dan berapa lama kira-kira bandara
perlu ditutup. Saya juga melaporkan ada beberapa gunung yang sedang aktif. BMKG
juga memodifikasi cuaca untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan? Operasi
modifikasi cuaca dilakukan ketika ada fluktuasi muka air di bawah permukaan
gambut yang turun lebih dari 1 meter. Mulai Maret hingga Mei sudah ada
modifikasi untuk mengisi agar muka air gambut tidak turun. Makin basah, makin
sulit terbakar. Upaya preventif itu sangat membantu ketika sekarang terjadi kebakaran.
Kebakaran
hutan tetap parah dan asapnya sampai ke negara tetangga.... Kebakaran
hutan paling hebat di Indonesia itu 2015. Waktu itu, begitu ada kebakaran,
kami coba padamkan dengan water bombing, pemadaman udara, dibuat
klusterisasi, kanalisasi. Setelah 2015, paradigma diubah. Kami lebih ke
tindakan preventif. Sewaktu El Niño 2019 dan 2023, bisa kita lihat dampaknya
sudah jauh berkurang dibanding 2015. Modifikasi
cuaca terganggu oleh anggaran BMKG yang minim? Anggarannya
ada. Masalahnya, modifikasi cuaca tergantung potensi awan. Kalau awan tidak
ada, kami tidak mungkin terbang untuk menyemai awan menjadi hujan. Sekarang
musim kemarau, awan konvektif juga jarang dan sulit terbentuk. El Niño
memperparah kebakaran hutan dan lahan. Bagaimana hubungannya? El Niño
dan La Niña salah satu dampak perubahan iklim. Sejak zaman pra-industri
1800-an sampai sekarang, suhu bumi naik 1,43 derajat Celsius. Kalau kita
tidak ada tindakan ekstrem apa pun, suhu akan naik lagi 1,5 derajat pada
2050. Total jadi 3 derajat. Ini sangat berbahaya. Yang jadi kendala adalah
kalau El Niño aktif bersamaan dengan musim kemarau. Kami perkirakan El Niño
sangat kuat puncaknya November-Desember. Apakah
Indonesia akan mengalami musim kemarau panjang? El Niño
dan musim di Indonesia dua hal berbeda. Indonesia tetap mengalami
karakteristik musim, kemarau dan hujan. Puncak musim kemarau terjadi Agustus,
September. Setelah paruh kedua Oktober, kita masuk musim hujan. El Niño tidak
berpengaruh signifikan lagi di sini. Ia sangat signifikan pada musim kemarau
sehingga jadi lebih kering dan panjang durasinya. Lebih kering dibanding
rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Analisis
ini sudah disampaikan kepada pemerintah daerah? Tiap
tahun kami menyampaikan climate outlook setahun ke depan. Maret kami
menyampaikan bahwa musim kemarau akan lebih panjang dan lebih kering karena
bersamaan dengan El Niño aktif. Sebelum itu, kami sudah ada banyak kegiatan.
Saya ikut apel siaga kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas,
seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah. Menurut
Anda, masyarakat sudah siap menghadapi bencana? Pemahaman
dan kesiapsiagaan masyarakat itu moderat, tergantung sentra-sentra edukasi.
Memang ada gap, daerah dengan tingkat literasi pendidikan yang lebih baik
biasanya lebih paham. Di daerah yang terpencil, lebih jauh, atau pernah
mengalami bencana sebelumnya, edukasi menjadi kebutuhan, bukan sekadar proyek
berjalan. Sekolah lapang gempa—metode pelatihan informal—kami bikin secara
masif. Mengapa
berfokus ke sekolah lapangan gempa? Satu
bencana yang belum bisa kita prediksi adalah gempa. Kami punya earthquake
early warning system (EEWS) dan memasang sensor akselerometer. Yang ready
Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung. Kalau terjadi gempa akibat
aktivitas segmen megathrust, yang menjalar lebih dulu adalah gelombang
primer. Mausia sulit merasakan, tapi alat dapat memantau gelombang primer
ini. Dia bisa memantau gelombang sekunder yang datang belakangan dan merusak. Dalam
waktu berapa lama alat itu bisa mendeteksi gelombang gempa? Jaraknya
15-20 detik sebelum gelombang sekunder datang. Kalau Jakarta bisa 25 detik
baru sampai gempa megathrust itu. Perbedaan
15-20 detik itu signifikan? Ini
sangat penting karena kami bekerja sama dengan kereta cepat Jakarta-Bandung.
Kalau ia mendapatkan info EEWS, perjalanan dihentikan. Pembangkit listrik
tenaga nuklir dan mesin-mesin berat, serta pengolahan hazardous material
langsung turn off. Jadi banyak hal yang bisa diakses dengan 15-20 detik.
Masyarakat juga dapat melakukan tindakan penyelamatan dengan drop-cover-hold. Masyarakat
umum juga mendapat peringatan kalau terjadi gempa? Instal
saja Info BMKG. Kalau berada di Papua, Anda tidak mendapat warning kalau
gempa terjadi di Jakarta. Hanya info bahwa di Jakarta ada gempa. Tapi, kalau
mendapat warning, ada bunyi alarm di telepon seluler Anda. Di
Jepang, peringatan langsung muncul tanpa harus instal aplikasi.... Perlu
biaya miliaran rupiah untuk bisa blasting pesan ke sekian juta orang. Mahal
sekali dan sekarang sudah berjalan walaupun anggarannya menggunakan corporate
social responsibility atau CSR dari perusahaan telekomunikasi. Efisiensi
anggaran berdampak pada monitoring gempa dan tsunami? Kami
memprioritaskan hal vital. Sebanyak 10.800 alat operasional utama juga kami
jalankan. Cuma, peralatan ini ada syarat kalibrasi beberapa kali setahun.
Beberapa kalibrasi mungkin terlambat karena anggaran terbatas. Tapi fungsi
utamanya kami jaga. Bagaimana
potensi gempa megathrust di Selat Sunda? Megathrust
jadi tantangan karena memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9. Kita hidup
bersama dengan megathrust sejak ratusan tahun lalu. Indonesia punya 13 segmen
megathrust dari pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara,
hingga Papua bagian selatan. Lalu ada dua segmen di utara Sulawesi. Ada tiga
yang tak terjadi pelepasan energi dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun,
yaitu segmen Siberut dekat Mentawai, Selat Sunda, dan Sumba. Sistem
BMKG bisa memantau dampak megathrust? Sistem
kami lebih siap dari sebelumnya. Kami punya tsunami gauge yang tersebar di
semua area yang mungkin terdampak. Kami punya high frequency radar yang bisa
memantau sampai 150 kilometer sebelum tsunami datang. Bahkan kami bekerja
sama dengan Badan Keamanan Laut yang akan memasang 11 high frequency radar
yang lebih besar kapasitasnya dan bisa memantau potensi tsunami hingga 450
kilometer dari bibir pantai. Wilayah
mana saja yang berpotensi terkena tsunami? Kami
perkirakan tsunami kategori awas dengan ketinggian lebih dari 3 meter mungkin
terjadi di Banten, Jawa Barat bagian selatan, Lampung, hingga Bengkulu. Untuk
kategori siaga, ketinggian 0,5-3 meter, dapat terjadi di Jawa Tengah, Daerah
Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Barat. Di bawah setengah meter meliputi
pantai utara Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara. Ini berdasarkan data yang
kami simulasikan bakal terkena megathrust di titik segmen Selat Sunda. Apa saja
potensi bencana ke depan yang perlu diantisipasi? Kita
harus bersiap menghadapi bencana hidrometeorologi—disebabkan oleh dinamika
cuaca, iklim, siklus hidrologi, serta kondisi atmosfer—karena November masuk
musim hujan. Kemudian ada siklon tropis yang seharusnya tidak terjadi di
Indonesia. Dalam 55 tahun terakhir, siklonnya mendekati wilayah Indonesia
karena perubahan iklim. Ada siklon tropis cempaka, dahlia di Yogyakarta,
seroja di NTT, vamei, dan terakhir senyar. Kita harus bersiap karena
perubahan iklim itu nyata. Presiden
berencana menggabungkan BMKG dengan Badan Geologi Kementerian ESDM. Anda
sepakat? Kami
mendukung arahan Presiden. Ada tiga hal yang kami lihat. Pertama, efisiensi
dan efektivitas. Kedua, kemudahan koordinasi. Ketiga, yang terpenting,
kebutuhan masyarakat. Selama ini kami bekerja sama secara strategis dengan
Badan Geologi, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG)—unit di bawah Badan Geologi. Wacana
merger ini berasal dari Anda? Kami
tidak berinisiatif memperjuangkan integrasi ini ini. Tapi kebetulan, sewaktu
terjadi erupsi, masyarakat sampai pejabat terus-menerus tanya ke BMKG.
“Aktivitas gunung apinya bertahan sampai kapan? Berkurang atau tidak?” Saya
jawab, tanya ke PVMBG yang bertugas memantau 127 gunung api di Indonesia. Lembaga
sejenis BMKG di luar negeri juga memantau gunung api? Di
Jepang, Japan Meteorological Agency memantau gunung api. BMKG-nya bisa
memberi saran karena masuk tugas pokok dan fungsinya. Pada Juli 2025,
Selandia Baru menggabungkan Institute of Geological and Nuclear Sciences
Limited, yang mirip dengan Badan Geologi, dengan National Institute of Water
and Atmosphere Research—seperti BMKG. Mereka melihat, kalau dua lembaga
dipisah, koordinasinya sulit. Selama
ini BMKG sulit berkoordinasi dengan Badan Geologi? Koordinasi
tentu sudah berjalan. Kami saling share data juga, tapi ada batasannya kalau
tidak berada di satu sistem. Memang integrasi ini membutuhkan kajian. BMKG
sudah membuat kajian penggabungan? Kalau
itu tanpa diminta. BMKG ini lembaga teknis saintifik berbasis sains dan
teknologi. Jadi, begitu ada pernyataan demikian, by default kami selalu
bersiap. Langsung kami bentuk tim untuk mengkaji. Yang mana yang mau
digabung, prosesnya, dan mekanismenya nanti berdasarkan kajian.
Pertimbangannya banyak. ● Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-bmkg-bencana-hidrometeorologi-2286830 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar