Jumat, 18 September 2026

 

Kita Harus Bersiap Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

Friski Riana :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  13 September 2026

 

 

 

·      BMKG memodifikasi cuaca setelah terjadi erupsi Anak Krakatau serta sebelum kebakaran hutan.

 

·      Kepala BMKG menjelaskan potensi bencana seperti megathrust dan tsunami.

 

·      BMKG sudah membentuk tim kajian soal merger dengan Badan Geologi Kementerian ESDM.

 

SEJAK dilantik sebagai Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada November 2025, Teuku Faisal Fathani mengaku jarang tidur nyenyak. Ada saja anggota stafnya yang menghubungi saat ia sudah terlelap. “Kalau ada gempa di atas magnitudo 6, saya pasti dapat telepon,” kata Faisal pada Kamis, 10 September 2026.

 

Di gedung Command Center Multi Hazard Early Warning System BMKG di Jakarta Pusat, Faisal bercerita ia tak pernah mematikan telepon selulernya. Saat rapat dengan Presiden Prabowo Subianto pun ia selalu mengangkat panggilan telepon dari anak buahnya yang mengabarkan potensi bencana akibat gempa.

 

Belum satu tahun menjabat, guru besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada itu sudah tiga kali menyampaikan peringatan bencana yang terkait dengan gempa. Salah satunya gempa dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.

 

Kepada jurnalis Tempo, Alif Ilham Fajriadi, Yosea Arga, Friski Riana, dan Erwan Hermawan, serta fotografer Tony Hartawan, Faisal menjelaskan pantauan BMKG terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dalam wawancara selama satu setengah jam itu ia juga membeberkan penanganan kebakaran hutan dan lahan serta rencana penggabungan BMKG dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

 

Erupsi Gunung Anak Krakatau sudah mereda? Bagaimana aktivitas vulkanis gunung ini?

 

Erupsi pertama dan status siaga III sudah sejak Juli 2026. Lalu erupsi besarnya tanggal 4 September, pukul 23.00. Tanggal 5-6 masih ada beberapa erupsi. Dari data magnetik bumi, petir vulkanis, dan sebagainya dari seismograf BMKG juga memang ada penurunan intensitas aktivitas erupsi. Tentu lontaran debu vulkanisnya juga berkurang.

 

Debu vulkanis sampai ke Jakarta dan sekitarnya....

 

Sejak 6 September sore, arah angin dominan dari permukaan sampai ke ketinggian 50 ribu kaki ke barat daya atau barat laut. Itulah yang terus menyapu erupsi ke arah Samudra Hindia. Tapi sebagian sudah ada yang menyebar ke sini (Jakarta dan sekitarnya). Kami diminta mengintervensi lewat operasi modifikasi cuaca. Itu cara paling ideal untuk mengurangi dampak debu vulkanis.

 

Hasilnya bagaimana?

 

Menteri Kesehatan menghubungi saya setelah erupsi Anak Krakatau terjadi untuk memantau sebaran sulfur dioksida, gas utama dari gunung api. Debu vulkanis punya karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Lebih tajam, seperti serpihan kaca mikroskopis yang berbahaya bagi pernapasan.

 

Presiden Prabowo Subianto menghubungi Anda soal erupsi Gunung Anak Krakatau?

 

Presiden menghubungi saya langsung dan bertanya bagaimana kondisi setelah erupsi Anak Krakatau. Saya sampaikan kondisinya, sebaran dan karakteristik abu vulkanisnya, ketiadaan potensi tsunami, dan berapa lama kira-kira bandara perlu ditutup. Saya juga melaporkan ada beberapa gunung yang sedang aktif.

 

BMKG juga memodifikasi cuaca untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan?

 

Operasi modifikasi cuaca dilakukan ketika ada fluktuasi muka air di bawah permukaan gambut yang turun lebih dari 1 meter. Mulai Maret hingga Mei sudah ada modifikasi untuk mengisi agar muka air gambut tidak turun. Makin basah, makin sulit terbakar. Upaya preventif itu sangat membantu ketika sekarang terjadi kebakaran.

 

Kebakaran hutan tetap parah dan asapnya sampai ke negara tetangga....

 

Kebakaran hutan paling hebat di Indonesia itu 2015. Waktu itu, begitu ada kebakaran, kami coba padamkan dengan water bombing, pemadaman udara, dibuat klusterisasi, kanalisasi. Setelah 2015, paradigma diubah. Kami lebih ke tindakan preventif. Sewaktu El Niño 2019 dan 2023, bisa kita lihat dampaknya sudah jauh berkurang dibanding 2015.

 

Modifikasi cuaca terganggu oleh anggaran BMKG yang minim?

 

Anggarannya ada. Masalahnya, modifikasi cuaca tergantung potensi awan. Kalau awan tidak ada, kami tidak mungkin terbang untuk menyemai awan menjadi hujan. Sekarang musim kemarau, awan konvektif juga jarang dan sulit terbentuk.

 

El Niño memperparah kebakaran hutan dan lahan. Bagaimana hubungannya?

 

El Niño dan La Niña salah satu dampak perubahan iklim. Sejak zaman pra-industri 1800-an sampai sekarang, suhu bumi naik 1,43 derajat Celsius. Kalau kita tidak ada tindakan ekstrem apa pun, suhu akan naik lagi 1,5 derajat pada 2050. Total jadi 3 derajat. Ini sangat berbahaya. Yang jadi kendala adalah kalau El Niño aktif bersamaan dengan musim kemarau. Kami perkirakan El Niño sangat kuat puncaknya November-Desember.

 

Apakah Indonesia akan mengalami musim kemarau panjang?

 

El Niño dan musim di Indonesia dua hal berbeda. Indonesia tetap mengalami karakteristik musim, kemarau dan hujan. Puncak musim kemarau terjadi Agustus, September. Setelah paruh kedua Oktober, kita masuk musim hujan. El Niño tidak berpengaruh signifikan lagi di sini. Ia sangat signifikan pada musim kemarau sehingga jadi lebih kering dan panjang durasinya. Lebih kering dibanding rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.

 

Analisis ini sudah disampaikan kepada pemerintah daerah?

 

Tiap tahun kami menyampaikan climate outlook setahun ke depan. Maret kami menyampaikan bahwa musim kemarau akan lebih panjang dan lebih kering karena bersamaan dengan El Niño aktif. Sebelum itu, kami sudah ada banyak kegiatan. Saya ikut apel siaga kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas, seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

 

Menurut Anda, masyarakat sudah siap menghadapi bencana?

 

Pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat itu moderat, tergantung sentra-sentra edukasi. Memang ada gap, daerah dengan tingkat literasi pendidikan yang lebih baik biasanya lebih paham. Di daerah yang terpencil, lebih jauh, atau pernah mengalami bencana sebelumnya, edukasi menjadi kebutuhan, bukan sekadar proyek berjalan. Sekolah lapang gempa—metode pelatihan informal—kami bikin secara masif.

 

Mengapa berfokus ke sekolah lapangan gempa?

 

Satu bencana yang belum bisa kita prediksi adalah gempa. Kami punya earthquake early warning system (EEWS) dan memasang sensor akselerometer. Yang ready Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung. Kalau terjadi gempa akibat aktivitas segmen megathrust, yang menjalar lebih dulu adalah gelombang primer. Mausia sulit merasakan, tapi alat dapat memantau gelombang primer ini. Dia bisa memantau gelombang sekunder yang datang belakangan dan merusak.

 

Dalam waktu berapa lama alat itu bisa mendeteksi gelombang gempa?

 

Jaraknya 15-20 detik sebelum gelombang sekunder datang. Kalau Jakarta bisa 25 detik baru sampai gempa megathrust itu.

 

Perbedaan 15-20 detik itu signifikan?

 

Ini sangat penting karena kami bekerja sama dengan kereta cepat Jakarta-Bandung. Kalau ia mendapatkan info EEWS, perjalanan dihentikan. Pembangkit listrik tenaga nuklir dan mesin-mesin berat, serta pengolahan hazardous material langsung turn off. Jadi banyak hal yang bisa diakses dengan 15-20 detik. Masyarakat juga dapat melakukan tindakan penyelamatan dengan drop-cover-hold.

 

Masyarakat umum juga mendapat peringatan kalau terjadi gempa?

 

Instal saja Info BMKG. Kalau berada di Papua, Anda tidak mendapat warning kalau gempa terjadi di Jakarta. Hanya info bahwa di Jakarta ada gempa. Tapi, kalau mendapat warning, ada bunyi alarm di telepon seluler Anda.

 

Di Jepang, peringatan langsung muncul tanpa harus instal aplikasi....

 

Perlu biaya miliaran rupiah untuk bisa blasting pesan ke sekian juta orang. Mahal sekali dan sekarang sudah berjalan walaupun anggarannya menggunakan corporate social responsibility atau CSR dari perusahaan telekomunikasi.

 

Efisiensi anggaran berdampak pada monitoring gempa dan tsunami?

 

Kami memprioritaskan hal vital. Sebanyak 10.800 alat operasional utama juga kami jalankan. Cuma, peralatan ini ada syarat kalibrasi beberapa kali setahun. Beberapa kalibrasi mungkin terlambat karena anggaran terbatas. Tapi fungsi utamanya kami jaga.

 

Bagaimana potensi gempa megathrust di Selat Sunda?

 

Megathrust jadi tantangan karena memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9. Kita hidup bersama dengan megathrust sejak ratusan tahun lalu. Indonesia punya 13 segmen megathrust dari pesisir barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua bagian selatan. Lalu ada dua segmen di utara Sulawesi. Ada tiga yang tak terjadi pelepasan energi dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun, yaitu segmen Siberut dekat Mentawai, Selat Sunda, dan Sumba.

 

Sistem BMKG bisa memantau dampak megathrust?

 

Sistem kami lebih siap dari sebelumnya. Kami punya tsunami gauge yang tersebar di semua area yang mungkin terdampak. Kami punya high frequency radar yang bisa memantau sampai 150 kilometer sebelum tsunami datang. Bahkan kami bekerja sama dengan Badan Keamanan Laut yang akan memasang 11 high frequency radar yang lebih besar kapasitasnya dan bisa memantau potensi tsunami hingga 450 kilometer dari bibir pantai.

 

Wilayah mana saja yang berpotensi terkena tsunami?

 

Kami perkirakan tsunami kategori awas dengan ketinggian lebih dari 3 meter mungkin terjadi di Banten, Jawa Barat bagian selatan, Lampung, hingga Bengkulu. Untuk kategori siaga, ketinggian 0,5-3 meter, dapat terjadi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Barat. Di bawah setengah meter meliputi pantai utara Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara. Ini berdasarkan data yang kami simulasikan bakal terkena megathrust di titik segmen Selat Sunda.

 

Apa saja potensi bencana ke depan yang perlu diantisipasi?

 

Kita harus bersiap menghadapi bencana hidrometeorologi—disebabkan oleh dinamika cuaca, iklim, siklus hidrologi, serta kondisi atmosfer—karena November masuk musim hujan. Kemudian ada siklon tropis yang seharusnya tidak terjadi di Indonesia. Dalam 55 tahun terakhir, siklonnya mendekati wilayah Indonesia karena perubahan iklim. Ada siklon tropis cempaka, dahlia di Yogyakarta, seroja di NTT, vamei, dan terakhir senyar. Kita harus bersiap karena perubahan iklim itu nyata.

 

Presiden berencana menggabungkan BMKG dengan Badan Geologi Kementerian ESDM. Anda sepakat?

 

Kami mendukung arahan Presiden. Ada tiga hal yang kami lihat. Pertama, efisiensi dan efektivitas. Kedua, kemudahan koordinasi. Ketiga, yang terpenting, kebutuhan masyarakat. Selama ini kami bekerja sama secara strategis dengan Badan Geologi, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)—unit di bawah Badan Geologi.

 

Wacana merger ini berasal dari Anda?

 

Kami tidak berinisiatif memperjuangkan integrasi ini ini. Tapi kebetulan, sewaktu terjadi erupsi, masyarakat sampai pejabat terus-menerus tanya ke BMKG. “Aktivitas gunung apinya bertahan sampai kapan? Berkurang atau tidak?” Saya jawab, tanya ke PVMBG yang bertugas memantau 127 gunung api di Indonesia.

 

Lembaga sejenis BMKG di luar negeri juga memantau gunung api?

 

Di Jepang, Japan Meteorological Agency memantau gunung api. BMKG-nya bisa memberi saran karena masuk tugas pokok dan fungsinya. Pada Juli 2025, Selandia Baru menggabungkan Institute of Geological and Nuclear Sciences Limited, yang mirip dengan Badan Geologi, dengan National Institute of Water and Atmosphere Research—seperti BMKG. Mereka melihat, kalau dua lembaga dipisah, koordinasinya sulit.

 

Selama ini BMKG sulit berkoordinasi dengan Badan Geologi?

 

Koordinasi tentu sudah berjalan. Kami saling share data juga, tapi ada batasannya kalau tidak berada di satu sistem. Memang integrasi ini membutuhkan kajian.

 

BMKG sudah membuat kajian penggabungan?

 

Kalau itu tanpa diminta. BMKG ini lembaga teknis saintifik berbasis sains dan teknologi. Jadi, begitu ada pernyataan demikian, by default kami selalu bersiap. Langsung kami bentuk tim untuk mengkaji. Yang mana yang mau digabung, prosesnya, dan mekanismenya nanti berdasarkan kajian. Pertimbangannya banyak. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/wawancara/wawancara-bmkg-bencana-hidrometeorologi-2286830

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar