Tampilkan postingan dengan label J Sumardianta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label J Sumardianta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2015

Pernikahan Ugahari Gibran-Selvi

Pernikahan Ugahari Gibran-Selvi

J Sumardianta  ;  Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta
KORAN TEMPO, 12 Juni 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

Simpel dan bersahaja. Itulah kesan umum hajatan Presiden Joko Widodo dalam menikahkan Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda. Pernikahan putra sulung Presiden Jokowi, sejak persiapan di rumah, prosesi ijab-kabul, sampai perjamuan di Gedung Graha Saba Solo, ini berlangsung sangat sederhana.

Tratag (tenda peneduh) dan tarub (gerbang hiasan) yang dipasang di rumah Jokowi tak ubahnya aksesori pesta pernikahan orang kebanyakan pada umumnya. Kursi pelaminan dan gebyok (dinding latar belakang kayu) tempat ijab-kabul dan prosesi adat sama sekali bukan perabotan mewah. Kamera televisi yang menyiarkan hajatan tidak bisa memanipulasi kesederhanaan itu.

Ahmad Yani adalah saksi nikah mempelai pria, yang seorang Ketua RT 08 RW 07, Desa Sumber, Banjarsari, Solo. Jokowi memilih wali nikah anaknya sungguh orang yang sangat dari dekat kehidupan keluarganya. Itu sebabnya, wali nikah berasal dari kalangan rakyat jelata. Bukan pejabat tinggi negara. Yang paling menyentuh hati tak lain adalah saat Jokowi menyempatkan diri menyalami satu per satu ribuan orang yang mendatangi rumahnya, termasuk tukang becak dan pedagang pasar di antara kerumunan tamu. Padahal Jokowi dalam kondisi lelah dan kurang tidur.

Gestur Presiden menunjukkan apresiasi bagus bagi tamu orang biasa yang tidak diundang sekalipun. Jokowi, karena kesibukannya, sah-sah saja bila tidak bisa menyapa tetamu yang menyemut di rumahnya. Ribuan tamu, sembari berbincang dengan tuan rumah, juga dijamu makan-minum yang dihidangkan Chili Pari-Wedding Organizer milik Gibran.

Presiden Jokowi mungkin merupakan satu-satunya pemimpin pembuat terobosan nyata gaya hidup sederhana. Bukan saja penghematan belanja anggaran di lingkungan birokrasi pemerintah, pun pada ranah privat saat pesta pernikahan keluarga. Sumbangan dan bingkisan dalam bentuk apa pun tidak diterima. Tamu negara sahabat juga tidak diundang. Benar-benar pestanya wong alit, bukan wong elite.

Terobosan ini seolah hendak melawan arus kebiasaan masyarakat pada umumnya, bahkan di pedesaan, yang cenderung jorjoran dalam menyelenggarakan pesta hajatan. Kalau perlu, menimbun utang. Tak ambil pusing bagaimana nanti pelunasannya. Yang penting, pesta pasangan gembel desa sekalipun harus megah layaknya pernikahan pangeran di istana.

Jokowi adalah presiden dari kalangan rakyat jelata. Dia telah menampilkan keunikannya sendiri yang sangat kuat aroma ugaharinya (apa adanya). Perkara-perkara ribet disunting menjadi mudah. Presiden RI ketujuh ini memang "editor" ulung. Kata-katanya mudah dipahami. Kalimatnya ringkas. Mengerti orang lain dengan melayani. Bagian-bagian yang tidak perlu dia pangkas.

Program komputer yang rumit saja bisa dibuat user friendly. Apalagi manusia yang memiliki akal budi. Kalau pesta nikah bisa dibuat sederhana, kenapa harus jelimet dan ribet. Orang Jawa punya subkultur tidak mau kehilangan muka. Subkultur pencegah rasa malu berlebihan inilah yang membuat masyarakat jadi tidak realistis, gemar mengada-ada, munafik, dan hipokrit. Jokowi melucuti budaya malu. Bukan sebagai rekayasa pencitraan, melainkan teladan ugahari.

Minggu, 23 November 2014

Berdamai dengan Paradoks

                                      Berdamai dengan Paradoks

J Sumardianta  ;   Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta
KORAN TEMPO,  20 November 2014

                                                                                                                       


Seorang dosen berkali-kali dicalonkan sebagai dekan di sebuah perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogyakarta. Dia bersaing dengan banyak kandidat lain. Namun dia tidak pernah terpilih sekali pun. Yang ditetapkan sebagai dekan malah para kompetitor yang memiliki defisit dalam banyak hal. Pada awalnya, sebagaimana diakuinya sendiri, dia terjebak dalam situasi yang sangat tidak nyaman. Siapa sih yang tidak kecewa bila sesuatu yang diidamkannya tidak bisa diraih?

Meski demikian, si dosen tetap bekerja secara profesional. Perasaan kecewa berat merupakan fakta manusiawi. Namun fakta lainnya membuktikan bahwa ia tetap memiliki integritas dan sangat dicintai mahasiswanya. Berbeda dengan para dekan terpilih, kehidupan keluarga dosen yang satu ini bisa dijadikan teladan.

Dia berfokus pada keluarga. Dosen hebat ini teguh memegang prinsip: jika Anda bahagia bersama keluarga di rumah, pekerjaan Anda akan sangat terbantu. Biduk keluarganya tidak oleng karena dia setia kepada cahaya mercusuar yang menyinari kehidupan personal serta profesionalnya. Pintu perspektif baru telah terbuka baginya.

Kedamaian hidupnya ditemukan dalam situasi yang amat kontradiktif: diperbudak kekecewaan atau terus berpengharapan. Kebahagiaan hidupnya ditemukan dalam kondisi paradoksal: menerima fakta tragis tapi indah, bahwa tidak semua kompetisi bisa dimenangi.

Sebuah percobaan ilmiah terhadap binatang yang dilakukan Martin Seligman (2005), pelopor psikologi positif, menguak bukti mencengangkan. Hewan-hewan seperti anjing, tikus, dan kecoa menjadi pasif dan menyerah jika sebelumnya mengalami kejadian berbahaya yang membuat mereka merasa tidak berdaya. Para hewan itu, sesudah mengalami kejadian berbahaya yang membuat tidak berdaya, bersedia menerima kejutan listrik yang menyiksa dan menunggu kejutan listrik datang lagi tanpa ada usaha melarikan diri. 

Ketidakberdayaan ataupun optimisme jelas merupakan hasil dari proses belajar. Orang-orang tersisih secara potensial mengalami ketidakberdayaan yang bisa dipelajari. Bila berhasil melawan pentunadayaan itu—seperti halnya dosen yang tidak pernah terpilih menjadi dekan di atas—mereka bisa mengembangkan optimisme yang terkondisikan.

Optimisme memberikan perlindungan. Pesimisme membuat orang semakin lemah. Optimisme bersifat abadi. Pesimisme bersifat sementara dan temporal. Itulah rumus kebahagiaan yang terpenting. Si dosen menerapkan model belajar ABC. Keyakinan (belief/B) akan sebuah kemalangan (adversity/A) menimbulkan konsekuensi (consequence/C). Dosen itu memperlambat proses ABC melalui cara berpikir yang lebih akurat dan fleksibel. Dia belajar soal kegigihan, ketekunan, dan daya juang dalam mengatasi tantangan dan kesengsaraan secara langsung.

Inilah hikmah berharga bagi para pemangku kepentingan sebelum memutuskan bahwa seseorang harus diangkat sebagai pemimpin: pilihlah pemimpin yang tidak terbelah jiwanya karena tertekan oleh beban kerja. Pilihlah pemimpin yang bisa membereskan persoalan keluarga, bukan pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai arena penegakan harga diri karena keluarganya semrawut.

Kamis, 28 Agustus 2014

Pembelajaran dan Internet

Pembelajaran dan Internet

J Sumardianta  ;   Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta
KORAN TEMPO, 28 Agustus 2014
                                                


Revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mengubah banyak hal. Ada tiga pergeseran yang digerakkan TIK: perubahan dari eksklusif menjadi inklusif, pergeseran dari vertikal ke horizontal, dan transformasi individual ke sosial.

TIK, pada tataran pendidikan praktis, mendobrak pembelajaran. Dari individual menjadi kolaboratif; dari pasif menjadi pembelajaran berpikir aktif; dari guru monolog menjadi murid interaktif. Model relasi kuasa guru-murid tidak relevan lagi. Dinding penyekat sosial telah dirubuhkan Internet. Sekolah harus semakin transparan dan inklusif.

Saya punya murid hebat di kelas XI SMA jurusan IPA bernama Wahyu. Saat Wahyu duduk di bangku kelas X, saya mengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di tujuh kelas paralel. Mengajar PKn itu gampang-gampang susah. Gampang bila kegiatan belajar mengajarnya inspiratif, susah bila materi yang diajarkan membuat murid bosan.

Pada semester ganjil, saya hendak mengajarkan kompetensi dasar (KD). "Menunjukkan semangat kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara". Kalimat KD ini saja sudah abstrak. Bila diajarkan apa adanya, bakal tidak jelas hasilnya. Kelas bisa menjemukan. Murid terjebak dalam cara berpikir tingkat rendah, yakni menghafalkan materi ajar.

Saya menugasi semua murid membuat video testimoni tentang heroisme kedua orang tua mereka dalam mendidik anak-anak. Diskusi dalam tujuh kelas paralel menyepakati bahwa pahlawan para murid yang sesungguhnya, ya, orang tua mereka. Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka memang patriot. Tapi itu bakal menjadi pengetahuan dangkal nasionalisme bila pengajaran terjebak pada materialisme kurikulum.

Tugas membuat video dikerjakan secara kelompok. Siswa yang memiliki peranti digital lengkap membantu siswa yang berperangkat terbatas. Testimoni direkam sendiri-sendiri. Bila tinggal bersama kedua orang tua, saat testimoni direkam, kedua orang tua berada di sisi kanan-kiri murid. Bila orang tua tinggal di luar kota, pernyataan orang tua direkam lewat pembicaraan telepon. Hasil testimoni kemudian diedit bersama dalam kelompok.

Saya merasakan betul dahsyatnya kekuatan sinergis dalam kerja kelompok. Murid, dalam collaborative learning, belajar menyatukan kekuatan. Bukan berkompetisi saling melemahkan sebagaimana umum diperagakan dalam pembelajaran konvensional-individual.

Testimoni Wahyu menggetarkan. Wahyu, saat unjuk kerja video buatannya, menangis tersedu-sedan. Teman sekelas menyoraki dia. Saya hardik mereka untuk berhenti menertawakan Wahyu. Apa salahnya seorang murid menangis saat pelajaran PKn? Saya memperbolehkan murid melepaskan ketegangan emosional yang telah lama mengendap di alam bawah sadar mereka.

Dalam tayangan testimoni, Wahyu hanya bersama ibunya. Ayahnya meninggal karena sakit jantung saat Wahyu masih berusia balita. Ibunya pontang-panting sendirian membesarkan sang anak semata wayang. Wahyu tidak tega ibunya terus-terusan berpindah rumah kontrakan.

Di mana hati diletakkan, di situ proses pembelajaran dimulai. Pembelajaran PKn menyentuh hati Wahyu. Anak ini telah mendapatkan value dari kerja kelompok menyusun video. Saya langsung membidik tujuan hidupnya. Saya bilang ke Wahyu: wujudkanlah impian besarmu! Inilah model pendidikan kontekstual pada zaman Internet.

Kamis, 24 Juli 2014

Utopia Sekolah Gratis

                                              Utopia Sekolah Gratis

J Sumardianta  ;   Guru
KORAN TEMPO, 23 Juli 2014
                                                


Kota Madya Blitar, Jawa Timur, boleh disebut sebagai pelopor pendidikan gratis. Warga Blitar menikmati sekolah TK sampai SMA gratis sejak 2010 berkat kebijakan Wali Kota Samanhudi. Gratis dalam arti bebas dari kewajiban membayar SPP bulanan dan uang gedung. Bahkan segala keperluan sekolah, seperti alat tulis, seragam, buku, sepatu, dan tas, ditanggung pemerintah kota.

Pendidikan gratis memang program andalan Wali Kota sejak kampanye dalam pemilihan kepala daerah. Di Kota Blitar, semua anak usia sekolah harus mengenyam pendidikan. Semua murid diterima. Tidak ada yang ditolak masuk TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Bukan hanya mencegah anak-anak usia belajar putus sekolah karena tidak mampu membayar, para murid di semua jenjang pendidikan dijamin naik kelas. Tidak boleh ada yang tinggal kelas. Pendidikan gratis di kota mungil dengan tiga kecamatan ini memang patut diapresiasi sekaligus dikritisi.

Pendidikan dalam konteks mikro (proses kegiatan belajar mengajar) di kelas melibatkan dua pihak: guru sebagai pendidik; murid sebagai peserta didik. Selama perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan belajar mengajar di kelas berjalan dengan baik, sah-sah saja semua murid naik kelas. Idealnya memang tidak ada murid tinggal kelas.

Murid memiliki tiga karakteristik gaya belajar: cepat, sedang, lambat. Sejauh kegiatan belajar-mengajar sudah mengakomodasi keragaman gaya belajar murid, tidak ada salahnya semua naik kelas. Masalahnya, di Indonesia, kegiatan belajar-mengajar belum sepenuhnya mengakomodasi kemampuan belajar murid.

Kelas-kelas akselerasi yang pernah diterapkan SMA rintisan bertaraf internasional (RSBI) hanya mengakomodasi para murid dengan gaya belajar cepat. Murid dengan gaya belajar sedang dan lambat dicampur dalam kelas yang sama di sekolah biasa. Secara natural, murid dengan gaya belajar lambat memang membutuhkan tempo belajar lebih banyak dan lebih lama. Sebetulnya wajar bila mereka tidak naik kelas.

Di sinilah tampak anomalinya. Di Blitar, semua murid SD wajib menyelesaikan pendidikan 6 tahun. SMP, SMA, dan SMK harus 3 tahun. Keharusan menempuh setiap jenjang pendidikan tepat waktu sudah tentu mengabaikan proses kegiatan belajar-mengajar. Wong, semua harus naik kelas.

Pendidikan gratis di Blitar, dilihat dari dua arah guru dan murid, adalah program utopis. Pendidikan mengalami simplifikasi. Semua disederhanakan dan diambil gampangnya demi kebijakan yang mengesankan membela kepentingan masyarakat tidak mampu. Kinerja guru bisa tidak optimal. Hasrat belajar murid bisa datar saja. Toh, semua naik kelas. Kebijakan sekolah gratis juga memakan korban. Sekolah-sekolah swasta sekarat dan gulung tikar.

Di Jerman dan Finlandia, sekolah dari TK sampai perguruan tinggi juga gratis. Pemerintah kedua negara menetapkan pajak super-tinggi guna mensubsidi pendidikan gratis. Walau gratis, di kedua negeri itu pendidikan sangat menyantuni profesionalisme guru dan tumbuh kembang murid.

Di Blitar, pendidikan gratis disubsidi melalui APBD. Keberlanjutan program bisa terhenti di tengah jalan bila wali kota pada 2015 nanti tidak terpilih lagi. Program pendidikan gratis terkait erat dengan janji kampanye saat pilkada; bukan komitmen nasional sebagaimana berlangsung di Jerman dan Finlandia.

Sabtu, 12 Juli 2014

Si Lemah yang Perkasa

                                             Si Lemah yang Perkasa

J Sumardianta  ;   Guru
KORAN TEMPO, 11 Juli 2014
                                                


"Kebenaran yang tidak diorganisasi akan dipecundangi kejahatan terorganisasi."

Anekdot Daud-Goliat merupakan risalah menggugah perihal arogansi yang ditaklukkan kerendahan hati. Kesombongan dikalahkan kesederhanaan. Omong kosong dimentahkan kerja nyata. Siasat dibabat oleh kerja keras, ikhlas, dan tuntas. Partisipasi mempecundangi mobilisasi. Kesadaran merubuhkan intimidasi.

Hari-hari ini, bangsa Indonesia sedang mengalami euforia sekaligus galau menyongsong datangnya Daud dari Solo. Joko Widodo, berpasangan dengan Jusuf Kalla, memenangi pemilu presiden (pilpres) 2014 versi hitung cepat lembaga-lembaga survei kredibel. Pasangan Prabowo-Hatta yang dikalahkan dengan skor tipis belum mau melempar handuk.

Pemilihan presiden kali ini memang pertarungan Daud menumbangkan Goliat. Setidaknya ini terlihat dari dukungan partai koalisi yang menyokong calon presiden masing-masing. Jokowi mewakili aspirasi rakyat jelata. Orang tuanya berasal dari Sragen dan Boyolali, Jawa Tengah. Sebelum menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI, Jokowi seorang pengusaha mebel. Tampilan sehari-harinya kurang ndayani (meyakinkan). Jangankan menjadi presiden RI, menjadi Wali Kota Solo saja bagi kerabat dekatnya sudah pencapaian mengejutkan.

Indonesia sedang memasuki babak baru sejarah kepemimpinan. Babak pertama, Sukarno berasal dari kultur aristokrat Jawa. Babak kedua, Soeharto mewakili junta militer. Babak ketiga, Jokowi merepresentasikan wong ndeso. Jokowi merupakan antitesis dari kepemimpinan gagrak lama yang bertumpu pada kekuatan priayi dan tentara yang cenderung disembah dan dilayani. Jokowi datang untuk melayani. Dia tipe servant leadership. Pemimpin pelayan ini bersenjatakan kejujuran, ugahari, dan ketulusan.

Jokowi mempraktekkan gagasan kelimpahan (abundance living). Rival-rivalnya berkukuh dengan gagasan-gagasan kelangkaan (scarcity). Jokowi memperlakukan orang lain sebagai mitra pelengkap (complement). Para kompetitor memperlakukan Jokowi sebagai orang yang akan menggantikan mereka (substitusi).

Pemilihan presiden 2014 sungguh menjalankan fungsi sirkulasi elite dan pendidikan politik. Jokowi menawarkan kesegaran baru. Wong climen lan prasaja (orang kebanyakan) bisa menjadi presiden. Inilah hikmah kemenangan rakyat jelata. Anak-anak dari latar belakang keluarga biasa (bukan anak pejabat) boleh membangun mimpi yang tidak bertepi. Asalkan punya otentisitas dan tahan menghadapi gempuran, mereka bisa menjadi presiden.

Siasat tidak terpuji dilakukan buat melaknat Jokowi. Air bah sejarah baru ini tak mungkin dibendung dengan sehelai jerami. Terlebih lagi bila jerami hasil kerajinan anyam lembaga survei abal-abal yang diekspos terus stasiun televisi penyebar kebencian dan kebohongan milik politikus.

Senin, 07 Juli 2014

Kursi Cadangan buat Yang Kalah

                             Kursi Cadangan buat Yang Kalah

J Sumardianta  ;   Guru SMA Kolese De Britto Jogjakarta,
Penulis buku Guru Gokil Murid Unyu (2013)
JAWA POS,  06 Juli 2014
                                                


REPUBLIK Mauritius merupakan preseden politik tidak lazim. Pulau kecil di Samudra Hindia, tempat bermukim lebih dari sejuta orang keturunan Afrika, Eropa, India, dan Asia Tenggara. Di sini pelbagai agama, bahasa, dan tradisi etnis bergabung dalam kultur harmonis. Tiada negeri lain di belahan dunia mana pun yang bisa seotentik Mauritius. Negeri mungil ini merdeka dari Inggris pada 1968. Sumber dayanya terbatas. Keragaman etnis mengancam kelangsungan perdamaian. Mayoritas penduduk keturunan India. Kaum minoritas khawatir dikesampingkan.

Sedari awal Mauritius diprediksi bakal hancur terjerumus kekisruhan politik, agama, ras, dan etnis. Namun, warga Mauritius, dengan komitmen dasar merayakan perbedaan, merancang konstitusi yang menyantuni semua warga. Sebagian besar kursi parlemen diberikan kepada para wakil terpilih dalam pemilu. Delapan kursi dicadangkan buat ”peserta kalah pemilu” yang menduduki peringkat terbaik. Kursi cadangan menjamin keterwakilan seimbang kaum minoritas.

Mauritius berhasil lolos dari konflik mendalam yang mewarnai banyak negeri multietnis. Rakyat Mauritius tidak sempurna. Mereka mempunyai masalah sosial pelik. Mereka sukses karena tidak membatasi prinsip keadilan dalam kerangkeng sempit kepentingan primordial-sektarian. Mereka mendongkrak semangat kesetaraan dengan cara baru yang kukuh. Navin Ramgoolam, pemimpin Mauritius, mengatakan, ”Kita semua tiba dari pelbagai benua dengan kapal berbeda. Sekarang kita semua berada di kapal yang sama.”

Mauritius, negeri mungil di Benua Afrika, teladan bagus politik berparadigma sinergis yang menyantuni para pihak yang bakal kalah dalam pemilu. Di Indonesia, pemilu presiden (pilpres), sejak diselenggarakan secara langsung pada 2004, baru kali ini terasa genting dan darurat. Maklum, kandidat yang maju hanya dua pasang.

Pilpres 2014 secara ekonomi biayanya lebih murah karena hanya berlangsung satu putaran. Namun, ongkos sosial-politiknya terkesan mahal. Masing-masing pasangan capres-cawapres didukung partai koalisi yang kepentingan politiknya berseberangan. Mereka memiliki pendukung setia dan fanatik. Tujuan meraih kemenangan lalu menghalalkan segala cara.

Badai pilpres 9 Juli mendatang dikhawatirkan bakal membuat persaudaraan membelasah berserakan hanya karena kedua pasang kandidat berikut tim sukses dan pendukungnya tidak sanggup menghadapi kekalahan. Bahagia mendapati kesuksesan dan kemenangan sudah biasa. Bisa menemukan kebahagiaan dalam nestapa kekalahan baru bisa disebut manusia luar biasa. Diktum inilah yang mesti diperhatikan capres-cawapres, parta peserta koalisi, tim sukses, dan pendukung fanatik masing-masing kandidat.

Pilpres dijamin lancar jaya tanpa rusuh dan nir gugatan ke Mahkamah Konstitusi jika selisih kemenangan telak atau relatif besar. Misalnya di atas 10 persen. Sejumlah survei memprediksi selisih suara kedua kandidat capres-cawapres sangat tipis: 3 sampai 7 persen. Kemenangan tipis, meminjam ungkapan Mohammad Hatta, bisa mengubah ”persatuan nasional” menjadi ”persatean nasional”.

Studi tentang aritmatika mental yang dilakukan Danah Zohar dan Ian Marshal, pasangan suami-istri filsuf-psikiater Universitas Oxford Inggris, pada 2004 menunjukkan bahwa individu maupun kelompok yang mengalami kekalahan dalam kontestasi politik cenderung mengamuk karena skala motivasi yang menggerakkan hidup mereka rendah (minus): 0 netral; –1 penonjolan diri; –2 kemarahan; –3 keserakahan; –4 ketakutan; –5 keresahan; –6 apatisme; –7 skrupelan; dan –8 depersonalisasi.

Individu maupun kelompok bisa tetap tenang, kalem, penuh percaya diri, dan menerima kekalahan bila mampu menggeser skala motivasi rendah mereka menjadi bermotivasi tinggi (surplus): 0 netral; +1 eksplorasi; +2 kooperasi; +3 kekuatan dari dalam; +4 penguasaan diri; +5 generativitas; +6 pengabdian demi kebaikan lebih tinggi; +7 jiwa dunia; dan +8 pencerahan.

Skala motivasi rendah bisa digeser dengan kecakapan atau keprigelan lunak yang secara naluriah melekat dalam kepribadian individu maupun kelompok. Ada 12 soft skill yang terus-menerus mesti diasah agar masyarakat sehat secara spiritual dan tidak gampang terjerumus dalam amarah amuk massa: memiliki kesadaran diri; spontanitasnya kuat; hidup terbimbing visi dan nilai; berjiwa besar; mampu berempati; bisa merayakan keragaman; independen terhadap lingkungan; berpikir mendasar; mampu membingkai ulang persoalan; mengambil manfaat dari kekalahan; kerendahan hati; dan keterpanggilan.

Mengambil manfaat dari kekalahan bagi capres-cawapres dan pendukung setianya berarti menerima fakta tragis tapi indah bahwa tidak semua masalah memiliki solusi, tidak semua perbedaan bisa didamaikan, dan tidak semua kompetisi bisa dimenangi. Mampu menanggung kesedihan yang bersemayam di jantung kreativitas. Tegar menerima tragedi dan kegagalan. Tetap kalem dan percaya diri untuk hidup bersama dalam ketidakpastian.

Individu atau kelompok kontestan yang tidak bisa mengambil manfaat dari kekalahan terperosok ke dalam sikap mengasihani diri sendiri, merasa dikorbankan, dan mengambinghitamkan pihak lain. Ketidakmampuan menerima kekalahan menimbulkan keputusasaan. Frustrasi dan depresi masal itulah yang mendorong terjadinya kegaduhan dan kerusuhan.

Almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) teladan negarawan yang menerima kekalahan tanpa harus menjadi pecundang. Gus Dur itu pemaaf dan cinta damai. Saat didongkel dari kursi kepresidenan, Gus Dur melarang kaum nahdliyin Jawa Timur nggruduk Jakarta agar tidak terjadi banjir darah. Gus Dur memaafkan rival-rival politiknya. Gus Dur bahkan menjenguk mantan Presiden Soeharto saat tergolek sakit. Padahal, pada zaman Orde Baru, Soeharto mempersulit Gus Dur.

Pribadi pemaaf melepaskan Gus Dur dari belenggu keterbatasan pada masa lalu dan membuatnya kembali kuat. Dia memaafkan keterbatasanya sendiri sehingga perasaan malu dan menyalahkan diri tidak terlalu berat ditanggung. Dia memaafkan juga orang lain atas peran mereka dalam menghadirkan kekecewaan dan kesedihan. Tujuan hidup Gus Dur bukan untuk memikul segala keluhan sesal, melainkan untuk terus tumbuh.

Mereka yang kalah dalam Pilpres 2014 mendatang bukanlah korban, melainkan pencipta masa depan demokrasi Indonesia yang damai dan bermartabat. Menang ora umuk (menang tetap rendah hati), kalah ora mabuk (kalah tidak anarkistis). Diktum itulah yang harus dihidup-hidupi kedua pasang capres-cawapres.

Selasa, 24 Desember 2013

Hikmah Natal Sepur Brantas

Hikmah Natal Sepur Brantas
J Sumardianta  ;   Guru SMA Kolese de Britto
TEMPO.CO,  24 Desember 2013

  

Sehari menjelang Natal, tiga tahun lalu, saya mudik dari Ponorogo menuju Yogyakarta menumpang kereta api Brantas rute Blitar-Jakarta. Di stasiun-stasiun kecil sepanjang Madiun, Barat, Paron, Miri, Kedung Galar, dan Sragen, kereta rombeng yang sudah tumpat pedat ini masih terus dijejali penumpang.

Semua berebut sejengkal tempat tersisa. Orang-orang jompo dan ibu-ibu yang membawa  anak balita harus beradu kuat dengan kaum lelaki dan pedagang asongan. Namanya juga stasiun gurem. Tak ada tangga untuk membantu penumpang naik-turun kereta. Semua harus berjuang keras berebut pintu sambil menenteng kardus, karung beras, keranjang, koper tua, dan tas lusuh.

Kondisi dalam kereta amat gerah. Udara lembap dipenuhi aroma keringat dan asap rokok. Lampu dan kipas angin hanya dinyalakan saat kereta berhenti. Penumpang meluber di lorong-lorong dan celah-celah sambungan gerbong. Toilet bahkan dikaveling manusia beralas koran bekas. Ironis memang. Di ruangan yang jamaknya tempat orang membuang limbah perut ini banyak pengasong menawarkan minuman, camilan, buah, dan nasi bungkus. 

Seorang kakek tampak kalut hendak buang hajat. Dia sudah hilir-mudik dari gerbong belakang ke gerbong paling depan mencari tempat peturasan. Tidak tahu bagaimana akhirnya kakek itu membereskannya.

Pedagang asongan paling bergairah. Minuman, buah, nasi bungkus, pecel, kipas, rokok, tisu, suvenir, dan minyak angin laris manis. Situasi makin terasa absurd. Saya sempat ditawari tempat duduk oleh petugas kereta. Di dekat tempat saya berdiri, ada seorang bapak berjongkok. Memakai sandal jepit dan batik pudar terus mengepulkan asap rokok kretek murahan. Ia tampak berusaha berdamai dengan segala ketidaknyamanan. 

Kawan seperjalanan saya tiba-tiba malu dengan semua simbol status sosial yang melekat dalam tubuhnya. Sepatu buatan Jerman. Celana panjang, baju, dan jaket buatan Amerika. Ikat pinggang mewah membelit perutnya yang membuncit. Semua mengalami peluruhan makna.

Peranti bermerek itu dikoleksi dengan maksud agar ia bisa tampil eksklusif. Barang-barang itu diproduksi dalam jumlah sangat terbatas. Kecil kemungkinan kawan saya bertemu dengan orang yang menggunakan barang sebagaimana yang dipakainya. Di kereta Brantas, pernak-pernik itu justru membuat kawan saya seperti warga pulau terasing yang mengapung di samudra keanehan. Kereta api ini bukan tempat untuk tampil prima dalam memelihara citra, melainkan tempat manusia merebut sekeping kemerdekaan dasariah di tengah panorama kemiskinan dan segala keterbatasan. 

Saya terpaksa naik kereta Brantas gara-gara tak kuasa menolak ajakan kerabat makan siang di warung sate ayam Ponorogo H Tukri Sobikun, sate kondang langganan keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pulang kampung ke Pacitan. Saya gagal menumpang KRD Madiun-Solo. Tapi saya tidak menyesal.  

Di  kereta Brantas, saya membeli kacang rebus yang dibungkus kertas bekas. Saya memperoleh kejutan hikmah Natal. Di kertas bekas majalah kampus itu terdapat kutipan Bunda Teresa, spiritualis India, "Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan sepi dan diabaikan. Cinta ditolak. Kasih tidak dipedulikan. Bagai memasuki lorong gulita panjang menyakitkan. Cinta sejati baru ada bila orang berani terluka. Karakter terbentuk justru bila orang berani terbanting."  

Sabtu, 12 Oktober 2013

Menyemai Calon Pemimpin

Menyemai Calon Pemimpin
J Sumardianta  Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta;
Penulis Buku Guru Gokil Murid Unyu: Pendidik Hebat Zaman Lebay (2013)
TEMPO.CO, 12 Oktober 2013


Indonesia sedang dimangsa "lucifer" keserakahan, ketidakpedulian, dan korupsi tak berkesudahan. Raja setan benar-benar menggerogoti sekujur negeri. Korupsi berjemaah dilakukan polisi, politikus DPR, hakim agung, bahkan petinggi Mahkamah Konstitusi. Kedelai, sapi, sengketa pilkada, bahkan Al-Quran, menjadi bancakan rasuah. 

Bagaimana lembaga pendidikan memaknai kebrutalan para pemegang kuasa ini? Pendidikan konvensional yang menyesaki murid dengan pengetahuan hafalan berujung ujian nasional jelas kedaluwarsa. Sekolah tidak bisa lagi mendidik murid zaman bejat ini dengan kurikulum dan didaktika model kemarin. Sudah saatnya sekolah mendidik calon pemimpin pengabdi yang cakap, berhati nurani benar, dan berbela rasa. 

Sekolah harus memberi perhatian khusus kepada pribadi-pribadi jujur, adil, utuh, optimal, berdisiplin, mandiri, kreatif, gigih, cerdas, dan seimbang. Murid mesti didik memiliki integritas, bertanggung jawab, berkeadilan, dan memperlakukan sesama dengan penuh hormat.

Program imersi (immersion week) merupakan contoh program mendidik murid menjadi pemimpin pengabdi (servant leadership) salah satu SMA di Yogyakarta. Ratusan siswa setiap tahun dikirim sebagai peserta ke Jakarta dengan bus non-AC, perjalanan yang tidak nyaman bagi peserta yang dalam kesehariannya hidup berkecukupan. 

Program imersi memang melatih peserta belajar bermati-raga (asketik). Lupakan segala bentuk fasilitas hidup mewah, apalagi hedonistik. Peserta disebar di sentra-sentra kaum miskin urban. Di pelbagai kantong perkampungan kumuh itulah peserta hidup bersama induk semang yang seluruhnya warga miskin perkotaan. Contohnya, kolong Tol Pluit, kolong jembatan Kampung Melayu, dan kuburan Kebon Nanas--semuanya di Jakarta.

Program imersi merupakan kegiatan untuk mendengar, melihat, merasakan, dan mengalami langsung kehidupan nyata orang termiskin di antara kaum miskin perkotaan. Orang miskin di Jakarta sungguh kecingkrangan. Rumah, tanah, penghasilan tetap, dan jaminan sosial tidak punya. Para peserta bekerja sebagai pemulung, penyortir sampah, pengamen, kuli pelabuhan, pedagang sayuran, nelayan, pengupas kerang, pengolah limbah ikan, dan tukang gali kubur. 

Eksperiensia (pengalaman) merupakan inti program imersi. Peserta diberi dua pengalaman berbentuk probasi (cobaan) dan eksperimentasi (latihan). Eksperiensia mendorong peserta sampai pada tapal batas mereka: perasaan paling tersiksa dan galau berada di zona tidak nyaman. 

Peserta yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu tidur dikerubuti kucing liar, tikus, dan kecoa. Perasaan waspada membuat mereka tidur tidak nyaman, karena banjir Sungai Ciliwung seminggu sebelumnya merendam kawasan ini. 

Pemulung ternyata bukan sampah masyarakat, melainkan pembersih sampah yang diproduksi masyarakat. Koruptor yang ditangkap KPK lebih layak disebut sampah masyarakat, karena merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Pemulung pekerja keras, ulet, dan tekun. Kerja berat mereka jalani dengan asyik dan senang-senang saja. Salah besar pandangan yang menganggap orang miskin itu malas. Mereka miskin karena korban ketidakadilan struktural.

Ada peserta yang mendapat induk semang suami-istri di kompleks pemakaman Kebon Nanas, kuburan tempat mengungsi para korban gusuran proyek Kanal Banjir Timur. Suami bekerja merawat kuburan dan menggali kubur. Istri bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Kuburan muslim dan Cina berada dalam satu kompleks. Kebon Nanas contoh nyata multikulturalisme Jakarta. Peserta program membantu induk semang menggali sekaligus menguruk liang lahad.

Seorang peserta yang kini bermukim di Amerika belajar pengendalian diri. Dia tidak bisa tidur karena suhu udara panas dan banyak nyamuk. Obat nyamuk yang dibeli dari hasil kerjanya sebagai penyortir sampah batal dinyalakan, karena induk semang tidak tahan asap obat nyamuk. 

Seorang peserta lain merasakan pengalaman buruk nyaris menjadi korban aksi cemburu buta. Preman mengancam menghantam kepalanya. Dia dianggap sebagai biang keonaran keluarga ibu induk semang. Preman menganggap peserta imersi membuat kakak kandung induk semang akan pindah ke Kebon Kopi. Jawara mengamuk karena pacarnya mau pindah. Peserta terjepit situasi konfliktual, karena warga kampung balik mengancam preman.

Program imersi diikuti remaja yang mengalami defisit afeksi di tengah keluarga mereka. Para orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Anak-anak terabaikan. Di lokasi, mereka tersentuh mendapati kenyataan keluarga induk semang, walau serba kekurangan, ternyata surplus perhatian, akrab, dan hangat satu dengan yang lain--sesuatu yang kurang mereka rasakan di rumah. 

Kehadiran peserta menjadi suri teladan nyata bagi dua remaja putri anak induk semang. Kedua remaja itu jadi bangga memiliki ayah seorang kuli pelabuhan. Soalnya, dua peserta yang menumpang di rumah mereka tidak canggung menjadi kuli pemindah semen dari truk trailer ke atas kapal di Tanjung Priok.

Peserta belajar kerendahan hati saat bekerja mengikuti bapak asuhnya yang memunguti sisa-sisa makan siang karyawan pabrik di kawasan berikat Cilincing. Sisa-sisa nasi dijemur untuk dijadikan pakan ternak. Di Poncol, ada murid yang demi menghormati induk semang harus makan dengan lauk bandeng yang dijaring dari empang yang sehari-hari berfungsi sebagai kakus. 

Peserta program imersi belajar bukan kepada guru dan orang pintar, melainkan kepada orang miskin yang dianggap bodoh dan tidak berpendidikan. Generasi muda zaman sekarang sedikit membutuhkan pengetahuan, mereka harus lebih banyak belajar kearifan (less knowledge, more virtue).

Saat menjadi pemimpin benar-benar, kelak semoga mereka tidak dirasuki setan konsumtif berujung keserakahan, ketidakpedulian, dan korupsi--sebagaimana diperagakan elite politik Indonesia bertudung kemunafikan dan bertopeng kesalehan yang sekarang menjadi tahanan KPK.

Minggu, 15 September 2013

Menjadi Orang Tua Filantropis

Menjadi Orang Tua Filantropis
J Sumardianta  ;   Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta,
Penulis buku “Guru Gokil Murid Unyu: Pendidik Hebat Zaman Lebay” (2013)
KORAN TEMPO, 14 September 2013


Memberikan hadiah mobil BMW, Jaguar, dan Lancer bagi anak-anak di bawah umur bukan limpahan kebaikan hati, melainkan rakitan bom waktu.
"Jangan biarkan orang datang 
menemuimu jika saat dia pergi 
tidak menjadi lebih baik dan bahagia." 

- Bunda Teresa
Sepasang suami-istri berkebangsaan Amerika bersama keluarganya berlibur di Italia. Liburan itu berubah menjadi petaka karena salah satu anaknya menjadi korban aksi penembakan penjahat brutal. Alih-alih berlarat dalam duka, kedua orang itu mendonorkan liver anaknya untuk seorang anak Italia yang sedang sekarat digerogoti sirosis. Pengidap kanker hati itu akhirnya selamat. Bapak-ibu murah hati ini menjadi inspirasi masyarakat di seluruh dunia. Banyak orang tergerak dan mengulurkan bantuan bagi yayasan yang berdiri berkat ayah-ibu dermawan itu.
Al Gore menjadi pejuang lingkungan hidup gara-gara anaknya tertabrak mobil. Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat itu menjadi tokoh anti-pemanasan global karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa anaknya. Kecelakaan itu tidak perlu terjadi bila, menjelang prahara, si bapak sigap mencegah anak menyeberang jalan. Kejadiannya spontan saat keluarga Al Gore sedang berlibur. Analoginya setali tiga uang dengan global warming. Pemanasan global tidak perlu terjadi bila bangsa AS tidak teledor. Bayangkan, 5 persen penduduk AS menyumbang 25 persen emisi gas buangan.
Al Gore dan turis murah hati itu preseden bagus bagi Ahmad Dani. Memberikan hadiah mobil BMW, Jaguar, dan Lancer bagi anak-anak di bawah umur bukan limpahan kebaikan hati, melainkan rakitan bom waktu. Tabrakan maut di Jagorawi, yang melibatkan AQJ, anak bungsu musikus masyhur itu, masuk kategori penyimpangan perilaku (deviasi sosial) berat. Deviasi sosial merupakan perilaku tercela yang sudah tidak bisa ditoleransi masyarakat. Pelanggaran hukum serius, karena merenggut banyak korban jiwa.
Perilaku menyimpang itu disebabkan oleh sosialisasi yang tidak sempurna. Dalam keluarga yang dirundung perceraian, anak-anak mengalami kesulitan membatinkan nilai-nilai dan norma-norma sosial akibat krisis keteladanan orang tua. Sosialisasi tidak sempurna menghasilkan anak-anak dengan kepribadian bermasalah yang gemar berperilaku menyimpang. Sebagai kompensasi atas ketidakmampuan orang tua menjadi suri teladan, biasanya anak-anak diumbar dengan fasilitas dan kemewahan.
Perilaku menyimpang bisa juga bersumber dari pergaulan berbeda. Penyimpangan dipelajari pelaku melalui proses alih budaya menyimpang (deviance sub-culture). Sudah menjadi pengetahuan umum, remaja dari kalangan menengah-atas hidup permisif, serba bebas dan serba boleh. Usia SMP sudah diperbolehkan mengemudi mobil, termasuk mendapatkan SIM dengan menembak. Inilah sub-kebudayaan menyimpang yang dipelajari kaum remaja dari keluarga tajir.
Padahal anak-anak SMP masih berada dalam tahap meniru dan bermain peran. Secara psikologis, mereka belum memiliki kematangan emosional untuk mengambil peran beneran sebagai seorang pengemudi profesional. Orang tua cenderung memperlakukan anak-anak sebagai fotokopi mereka. Kurang ada kesadaran dari orang tua bahwa anak-anak mereka yang masih remaja belum dewasa secara mental. Dengan demikian, semestinya ia tidak bisa dibiarkan begitu saja melenggang di jalan tol dengan mobil berkecepatan maksimum.
Perilaku menyimpang yang dilakukan seorang remaja yang menyetir ugal-ugalan di jalan tol itu adalah akibat. Sosialisasi yang tidak sempurna dalam keluarga dan proses alih budaya menyimpang itu adalah sebab. Keluarga dan teman sebaya (peer group) dengan demikian menyumbang peran besar dalam membentuk kepribadi­an remaja-sebagai konformis yang berperilaku sejalan dengan norma maupun devian yang menegasikan norma.
Deviasi sosial terjadi sebagai akibat tidak terelakkan dari adanya ketidakteraturan. Bencana di jalan tol bermula dari perilaku-perilaku menyimpang berskala kecil (broken window) yang terjadi di rumah dan di sekolah yang didiamkan orang tua atau guru. Seperti mengabaikan nasihat orang tua dan bolos sekolah. Perilaku vandalisme, menurut teori broken window, jika didiamkan pasti mengundang aksi corat-coret dan keonaran yang lebih masif, bukan? Penyimpangan primer yang didiamkan menimbulkan kesan ketidakpedulian. Seorang remaja yang sering bolos sekolah dan terus dimanja serta difasilitasi kemewahan, kelak ia pasti mendatangkan kesulitan bagi banyak orang. Tabrakan maut di Jagorawi terjadi sebagai akumulasi pembiaran penyimpangan primer.
Sudah menjadi salah kaprah umum bahwa seorang filantropis itu orang yang mendermakan banyak uang dan harta. Padahal filantropis berasal dari dua kata Yunani, philos (penuh cinta) dan anthropos (manusia). Orang yang berkelimpahan cinta. Setiap orang bisa menjadi filantropis tanpa kecuali orang tua. Remaja zaman sekarang hidup di era paradoksal. Bergelimang fasilitas tapi kering kerontang spiritualitas. Berkelimpahan materi tapi busung lapar rohani. Inilah manfaat limpahan cinta orang tua filantropis. Di dunia yang beritanya didominasi kekacauan yang mengerdilkan hati, kaum remaja tetap bisa merasa beruntung karena setiap hari penuh perhatian orang tua. 
Di masa ketika banyak terjadi skandal dan pelanggaran etika, kaum remaja tetap bisa merasa beruntung karena memiliki orang tua yang punya integritas. Di zaman ketika kejahatan, perang, bencana alam, dan penyakit merajalela, anak-anak masih bisa beruntung merasakan pengorbanan orang tua dan kelemahlembutan cinta yang merawat. 

Di era yang ditandai kedudukan orang tua serta ikatan keluarga tengah dirundung cobaan dahsyat, anak-anak tetap merasa beruntung karena memiliki orang tua berbudi pekerti luhur. Di kala kaum muda dibombardir pelbagai paham negatif dan dilema sosial sensitif, mereka tetap merasa beruntung memiliki orang tua penuh dedikasi. Dengan demikian, kasus BMW maut anak menteri dan Lancer maut anak musikus bisa dicegah dengan pola asuh keluarga filantropis. ●

Jumat, 16 Agustus 2013

Pola Asuh Keluarga Berkarakter

Pola Asuh Keluarga Berkarakter
J Sumardianta Guru SMA Kolese de Britto Yogyakarta,
Penulis buku Guru Gokil Murid Unyu (2013)
TEMPO.CO, 14 Agustus 2013



“Tidak semua orang bisa menghasilkan sesuatu yang hebat. Tapi setiap orang bisa mengerjakan sesuatu yang sederhana dengan cinta yang hebat."        (Bunda Teresa)

“Ayah temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya agar anaknya tidak digigit nyamuk. Apakah ayah juga akan melakukan hal yang serupa?” Sambil tertawa, ayah menjawab pertanyaan anaknya, “Tidak, Nak. Ayah akan memasang kelambu agar nyamuk tidak bisa menggigit semua anak ayah.”

“Aku pernah membaca kisah seorang bapak yang rajin berpuasa supaya anak-anaknya tidak kelaparan. Apakah ayah juga akan melakukan hal yang sama?” Si ayah menjawab tegas, “Ayah akan bekerja lebih keras guna memastikan keluarga ayah tidak ada yang kecingkrangan.”

Si anak tersenyum lega. “Terima kasih ayah. Aku bisa selalu bersandar di bahu ayah.” Sambil membelai rambut anaknya, ayah berujar, “Tidak. Ayah akan mendidikmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri. Anak-anak ayah tidak boleh ada yang tersungkur sepeninggal ayah nanti.”

Amor mundum fecit. Cinta itu menciptakan dunia. Amor vincit omnia. Cinta itu mengatasi segala-galanya. Daya-daya cinta transformasional pasangan suami-istri bersahaja tapi heroik dikisahkan amat menyentuh dan memikat dalam film 9 Summers 10 Autumns. 

Film yang baru saja diputar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia itu merupakan memoar pasangan suami-istri Abdul Hashim dan Ngatinah. Kisah tentang good parenting character. Realisme, spiritualisme, dan romantisme pola asuh keluarga berkarakter dimulai sejak masa pacaran, menikah, mendidik dan membesarkan anak, sampai saat anak-anak dewasa dan mandiri.

Film adaptasi novel Iwan Setyawan itu menawarkan cara terbaik koneksi mental guna memperoleh wawasan living in the family moment. Hashim dan Tinah, suami-istri bersahaja, teladan bagus nilai-nilai dasar: integritas, respek, tanggung jawab, fairness, dan kepedulian. Hashim, seorang pekerja kasar, setiap hari bergulat dengan kerasnya hukum rimba jalanan sebagai sopir angkot dan truk. Watak Hashim yang keras diimbangi hati Tinah yang lembut. Tinah ibu rumah tangga tangguh. Dia membalikkan mitos tentang sumur-dapur-kasur. Visiun tentang pendidikan menjadikan kelima anaknya bahagia dan terpelajar.

Tinah yang tegar menghadapi kesusahan total mendedikasikan hidup buat kelima anaknya. Kemiskinan tidak dipandang melulu sebagai penderitaan, melainkan titik awal perjuangan. Dia tidak tamat SD. She is not well educated but intellectually enlightened. Tinah istri visioner yang berani bercita-cita tinggi. Ia fokus mewujudkan cita-cita itu. Hashim sepanjang 40 tahun bekerja sebagai sopir angkot dan truk selalu mengobarkan semangat bagi keluarganya.

Tinah memperlakukan orang lain dengan penuh hormat. Tinah tidak mau dijodohkan dengan Ali, pedagang tempe di Pasar Batu, dan Lek Hari, saudagar dari Malang. Tinah memilih Hashim karena respek dengan ungkapan sang playboy terminal saat pertama kali mengajaknya pacaran, “Nah, kun gelem gak urip susah ambek aku?”

Hashim dan Tinah menyelamatkan anak-anak dengan pendidikan. Keduanya bekerja sangat keras dan bertahan dalam kesulitan. Mereka sesungguhnya megap-megap saat mulai membiayai kuliah Nani, anak kedua, di Universitas Brawijaya. Tinah gigih meminta surat keterangan miskin di kantor kelurahan, walau ditolak. Tinah bukanlah selebritas kaya dan berpengaruh. Ia ibu rumah tangga biasa yang menerapkan prinsip sinergi pada masa-masa sulit membesarkan dan mendidik anak-anak.

Tinah membagi lauk telur dadar merata buat kelima anaknya. Dua bungkus nasi goreng yang dibawa Hashim sepulang narik angkot dibagi adil. Kadang nasi goreng dicampur nasi putih. Dipastikan anak-anak tidak ada yang rebutan. Keindahan berbagi yang kelak mempengaruhi paradigma dan perilaku anak-anak sampai dewasa.

Cinta Tinah mengalir tanpa jeda. Pelayanan tulus buat orang-orang terkasihi. Tinah seorang profesional financial planner. Tinah membuat lauk tempe bervariasi setiap hari agar anak-anaknya tetap tumbuh bergizi sekaligus tidak mblenger: tempe goreng, penyetan tempe, sambel tempe, dan kering tempe. Tinah membuat suasana rumah hangat dan anak-anak terlindungi.

Iwan, berumur 23 tahun, menjadi lulusan terbaik Statistik IPB. Prinsipnya sesudah menjadi ekspatriat di Amerika: The higher your position is the bigger your responsibility you have. Cinta dan kesederhanaan Tinah yang memungkinkan Iwan Setyawan bertahan hidup di New York. Kota absurd yang mengalami kegersangan dan kebangkrutan spiritual. Kota metropolis terbesar di dunia itu wujud konkret ungkapan spiritual hunger in an age of plenty. Warganya busung lapar spiritual di tengah kemakmuran material. Spirit Tinah yang membuat Iwan bisa berdamai dengan kontradiksi, paradoks, dan ambiguitas saat lonely crowd. Keluarga yang jauh justru menjadi teman dekat. Semangat Tinah amat bersahaja: jangan takut!

Setelah makan siang, kelima anak Hashim dan Tinah langsung menggarap PR. Mereka membuat persiapan buat pelajaran esok hari. Isa, si anak sulung, guru les andal bagi adik-adiknya. Rengekan anak-anak sebatas: bayar SPP, seragam, buku, dan sepatu baru. Beda dengan remaja alay zaman sekarang yang ngambek minta iPhone, iPad, atau iPod. Bapak dan ibu yang kalang kabut terpaksa “iPaid”.

Iwan bertahan sepuluh tahun di New York karena obsesi membahagiakan orang tua dan keempat saudarinya. Dia baru berpelesir ke Paris, Venezia, dan Rio de Janeiro sesudah berbalas budi kepada keluarga. Ia rajin mentransfer uang setiap kali memperoleh bonus promosi untuk membangun rumah orang tua, membangun rumah keempat saudarinya, menikahkan keempat saudari kandungnya, menyiapkan pensiun buat orang tua, bikin rumah kos di Yogya, membelikan mobil bapak, dan melunasi utang kepada pamannya, Lek Tukeri. 

Iwan mempraktekkan kebajikan Mahatma Gandhi. Cara terbaik menjadi manusia berkarakter adalah dengan berbagi dan melayani sesama. Kemurahan hati Iwan buah pengorbanan Hashim dan Tinah.

Transformasi Iwan dari man for himself menuju man for others tergambar dalam aforisma berikut. Kebahagiaan akan terasa manis bila diperoleh melalui perjuangan mengalahkan penderitaan. Kebahagiaan akan menjadi lebih manis bila dibagikan.

Berikut ini pesan etis Iwan Setyawan yang amat mencintai ibunya. “Ketika ibumu semakin tua. Ketika sorot mata penuh cinta dan harapannya tidak lagi menatap seperti dulu. Ketika kakinya yang letih tidak bisa lagi menopang perjalanannya. Pinjamkan lenganmu buat memapah. Hiburlah dia sepenuh hati. Saatnya akan tiba ketika kamu harus menangis. Menemaninya berjalan-jalan untuk terakhir kali. Dan, jika ibu meminta sesuatu, berikanlah. Saatnya akan datang waktu paling getir. Ketika mulut ibu tidak pernah meminta apa-apa lagi.” ●