|
SUARA PARA PENULIS ACEH SOAL BENCANA 2025 -
Pengantar Buku Karya Satupena Aceh Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 19 September 2026
|
Di
sebuah mushala kecil, dua hingga tiga ratus orang berdesakan di atas atap,
sementara air mengepung mereka dan pertolongan belum juga tiba. Di
tengah ketakutan itu, seorang perempuan justru melahirkan. Bayi membuka mata
ketika dunia orang dewasa sedang kehilangan tanah tempat berpijak. Di tempat
lain, manusia bertahan berhari-hari di atas pohon, tiang listrik, dan atap
rumah. Mereka menunggu air kehilangan tenaga dan harapan menemukan jalan. Bencana
memang memiliki ironi paling purba. Ketika sesuatu dihancurkan, sesuatu yang
lain kadang dilahirkan. Di tengah maut, kehidupan diam-diam menyalakan lilin
kecilnya sendiri. Kisah
bayi itu membuat saya berhenti cukup lama ketika membaca naskah ini. Sebab
angka korban mendadak kehilangan kekuasaannya di hadapan satu kehidupan
manusia. Statistik
dapat menghitung rumah yang hanyut. Tetapi statistik tidak pernah sepenuhnya
mampu menghitung ketakutan seorang ibu, kehilangan seorang anak, atau
panjangnya sebuah malam. Di
situlah sastra mengambil alih pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan
tabel. Ia memberi nama kepada luka, wajah kepada angka, dan ingatan kepada
sejarah. -000- Buku
ini berjudul lengkap Suara Aceh Soal Bencana 2025: Antologi Puisi, Esai,
Puisi Esai, Cerpen dan Artikel. Penyelenggaranya adalah SATUPENA Aceh. Naskah
menghimpun 17 karya dari sepuluh penulis, terdiri atas sembilan puisi, empat
puisi esai, dua esai, satu cerpen, dan satu artikel. Kesepuluh
penulis itu datang membawa pengalaman, disiplin, usia, dan cara memandang
berbeda. Justru keragaman itulah yang membuat buku ini terasa hidup dan
berlapis. Antologi
ini menghadirkan sepuluh suara: Mahdalena, LK. Ara, Maulidar Yusuf, Yelli
Sustarina, dan enam penulis lain yang bergantian membawa puisi, esai, puisi
esai, cerpen, serta artikel dalam satu paduan suara Aceh. Mahdalena
menulis Sekapur Sirih selaku editor buku dan Ketua SATUPENA Aceh. Mahdalena
sendiri memberikan kunci pembacaan penting. Buku ini lahir untuk menangkap
pengalaman yang tersisa dalam lorong batin korban, penyintas, saksi, dan
masyarakat terdampak. Ia
menyebut tulisan sebagai ingatan kolektif menuju masa depan. Bencana dapat
menyapu benda, tetapi pengalaman yang dituliskan bertahan menjadi pengingat
dan sejarah autentik. Maka
buku ini sebenarnya bergerak pada empat wilayah sekaligus. Ia menjadi karya
sastra, kesaksian sosial, arsip ingatan, sekaligus percakapan ekologis
tentang manusia dan alam. -000- Ada
keluarga yang kehilangan ayah, ibu, dan adik. Ada anak menunggu ibunya. Ada
relawan. Ada rumah hanyut. Ada pula jembatan yang dibangun kembali. Ada
suara keras mempertanyakan penebangan hutan. Ada suara lembut berbicara
tentang mata air. Ada pula suara spiritual yang membaca bumi sebagai ruang
perjumpaan manusia. LK.
Ara, misalnya, membawa bencana menuju wilayah tasawuf ekologi. Manusia
diperingatkan bahwa dirinya bukan pusat semesta, melainkan penghuni sementara
dalam jaringan kehidupan. Maulidar
Yusuf mengajak pembaca melihat hubungan hujan dengan hutan, daerah resapan,
tanah, dan ruang sungai. Bencana akhirnya menjadi pertanyaan mengenai pilihan
manusia. Yelli
Sustarina menunjukkan dimensi lain. Rumahnya tidak terendam, tetapi listrik
padam, komunikasi lumpuh, ATM gagal, bensin sulit, dan kehidupan normal
tiba-tiba menjadi kemewahan. Dengan
demikian, bencana dalam buku ini bukan satu peristiwa. Ia menjalar seperti
retakan kaca, bercabang dari alam menuju keluarga, ekonomi, infrastruktur,
psikologi, spiritualitas, dan negara. -000- Keunggulan
pertama buku ini adalah kemampuannya mengubah bencana dari statistik menjadi
manusia. Ini terdengar sederhana, tetapi justru di sinilah kekuatan sastra
bekerja paling dalam. Angka
menjelaskan skala. Cerita menjelaskan makna. Seribu rumah rusak adalah
informasi, tetapi satu anak kehilangan rumah dan orang tuanya adalah
pengalaman kemanusiaan. Cerpen
Kisah Duka dari Lhok Bayu membuka dunia itu melalui Askar, yang kehilangan
ibu, ayah, dan adiknya setelah banjir menghancurkan kampungnya. Dalam
Ibu, Pulanglah, kehilangan bahkan belum mempunyai kepastian. Yang ada hanya
tiga hari tanpa kabar, listrik padam, sinyal hilang, dan doa menggantung. Sastra
membuat pembaca memasuki ruang yang tidak tersedia dalam laporan resmi. Kita
bukan hanya mengetahui penderitaan. Untuk beberapa menit, kita ikut tinggal
di dalamnya. Itulah
fungsi kesaksian. Ia mengembalikan martabat individual kepada korban yang
mudah lenyap ketika manusia hanya tampil sebagai persentase, grafik, atau
angka dalam laporan. -000- Keunggulan
kedua terletak pada keberanian buku ini menghubungkan bencana dengan ekologi.
Ini dilakukan tanpa mengurangi kenyataan bahwa penyebab setiap peristiwa
membutuhkan pembuktian ilmiah yang cermat. Beberapa
penulis mempertanyakan penebangan hutan, penyempitan sungai, perubahan
resapan, eksploitasi sumber daya, hingga pertambangan. Mereka menolak
memperlakukan alam sekadar sebagai latar pasif. Namun
buku ini paling kuat ketika pertanyaan ekologis disampaikan bukan sebagai
vonis tunggal, melainkan sebagai undangan untuk memeriksa hubungan rumit
antara alam dan tindakan manusia. Hujan
memang berasal dari langit. Tetapi risiko bencana juga dipengaruhi kondisi
bentang alam, tata ruang, infrastruktur, kesiapsiagaan, kerentanan sosial,
dan kualitas pengelolaan lingkungan. Di
sini muncul pencerahan penting. Bencana bukan hanya peristiwa alam. Dampaknya
juga merupakan pertemuan antara bahaya fisik dengan kerentanan yang dibangun
manusia selama bertahun-tahun. Kita
mungkin tidak mampu menghentikan hujan. Namun manusia dapat menentukan apakah
sungai masih mempunyai ruang, hutan tetap berfungsi, dan permukiman memiliki
perlindungan memadai. Alam
tidak membaca batas administrasi. Air tidak memeriksa izin pembangunan. Ia
hanya mengikuti gravitasi, topografi, ruang yang tersedia, dan jalan yang
kita sisakan baginya. -000- Keunggulan
ketiga adalah kemampuannya menyimpan ingatan kolektif. Sebuah masyarakat
bukan hanya dibentuk oleh apa yang dialaminya, tetapi juga oleh apa yang
dipilihnya untuk diingat. Ingatan
memiliki fungsi sosial. Ia memungkinkan generasi berikutnya mempelajari
penderitaan tanpa harus mengulang penderitaan yang sama sebagai biaya untuk
memperoleh pengetahuan tersebut. Aceh
memiliki hubungan khusus dengan ingatan bencana. Karena itu, buku ini terasa
seperti percakapan antara masa lalu, pengalaman 2025, dan masa depan yang
belum datang. Namun
yang disimpan bukan hanya kesedihan. Buku ini juga mengabadikan solidaritas,
gotong royong, relawan, bantuan antarkota, seniman yang melelang karya, serta
masyarakat yang saling menopang. Dalam
Enang-Enang: Asa yang Tak Binasa, jembatan yang terputus tidak dibiarkan
menjadi monumen kekalahan. Masyarakat bergotong royong membangun kembali urat
nadi kehidupannya. Di
sinilah buku ini menemukan cahaya setelah berjalan melewati lumpur.
Ketangguhan bukan berarti manusia tidak terluka. Ketangguhan berarti luka
tidak memperoleh kata terakhir. -000- Ada
yang mungkin mengajukan keberatan. Sastra bencana terlalu emosional. Ia dapat
menyederhanakan sebab, memperbesar kesedihan, bahkan mengubah tragedi menjadi
panggung bagi bahasa yang indah. Keberatan
itu penting. Bencana memang tidak boleh direduksi menjadi metafor. Klaim
mengenai penyebab ekologis juga harus diuji melalui hidrologi, tata guna
lahan, dan bukti empiris. Tetapi
justru karena itulah kesaksian sastra diperlukan berdampingan dengan ilmu
pengetahuan. Keduanya tidak saling menggantikan. Keduanya menerangi bagian
realitas yang berbeda. Ilmu
pengetahuan menjelaskan bagaimana bencana terjadi. Kebijakan menjelaskan
bagaimana risiko dikurangi. Sastra menjelaskan bagaimana rasanya menjadi
manusia ketika dunia yang dikenal tiba-tiba runtuh. Sebuah
masyarakat yang hanya mempunyai cerita dapat kehilangan presisi. Tetapi
masyarakat yang hanya mempunyai angka dapat kehilangan empati, memori, bahkan
alasan moral untuk bertindak. Buku
ini sebaiknya dibaca dalam keseimbangan tersebut. Kesaksian personal bukan
bukti kausal tunggal, tetapi ia adalah bukti pengalaman yang tidak boleh
dibuang. -000- Ketika
membaca buku ini dari Bangkok, ada jarak geografis yang terasa aneh. Di luar
jendela, sebuah kota bergerak normal, sementara halaman-halaman ini membawa
lumpur Aceh. Pengalaman
membaca semacam ini mengingatkan saya bahwa penderitaan manusia mempunyai dua
jarak. Ada jarak kilometer, tetapi ada pula jarak batin yang ditentukan
kepedulian. Seorang
pembaca dapat berada ribuan kilometer dari bencana, tetapi sebuah cerita yang
kuat mampu menghapus jarak itu hanya dalam beberapa alinea sederhana. Sebagai
penulis, saya selalu percaya tulisan mempunyai tugas yang lebih panjang
daripada berita. Berita memberitahu
apa yang terjadi. Tulisan terbaik mempertanyakan mengapa kita harus
mengingatnya. Karena
perhatian publik mempunyai umur pendek. Kamera pindah. Berita utama berganti.
Algoritma menemukan kegaduhan baru. Tetapi keluarga korban tetap bangun
setiap pagi bersama kehilangan. Di
situlah penulis dibutuhkan. Bukan untuk menggantikan relawan, insinyur,
dokter, atau pemerintah, melainkan menjaga agar pengalaman manusia tidak ikut
dikuburkan bersama puing. Dari
kejauhan ini, saya menyadari bahwa penderitaan Aceh bukan sekadar peristiwa
lokal, melainkan bagian dari gema tragedi kemanusiaan universal yang
melintasi batas geografis, budaya, dan zaman. -000- Dua
karya internasional membantu menempatkan Suara Aceh Soal Bencana 2025 dalam
tradisi lebih luas tentang sastra kesaksian, kehilangan, bencana, dan ingatan
manusia. Pertama,
Voices from Chernobyl karya Svetlana Alexievich, diterbitkan Dalkey Archive
Press pada 2005 dalam edisi Inggris, berdasarkan kesaksian ratusan manusia
terdampak bencana nuklir Chernobyl. Alexievich
membangun sejarah dari suara manusia biasa. Petugas pemadam, warga, keluarga,
dan mereka yang hidup setelah katastrofe berbicara melalui monolog yang
mengubah sejarah besar menjadi pengalaman personal. Kekuatan
buku itu terletak pada kesadaran bahwa tragedi mempunyai wilayah tersembunyi.
Dokumen mencatat radiasi dan kebijakan, sementara manusia mengingat
ketakutan, cinta, kehilangan, dan kesunyian. Di
titik itulah ia berkerabat dengan Suara Aceh. Keduanya memahami bahwa sejarah
bencana tidak lengkap sampai suara mereka yang mengalaminya memperoleh tempat
untuk berbicara. Perbedaannya
penting. Chernobyl adalah bencana teknologi nuklir, sedangkan antologi Aceh
berangkat terutama dari banjir, longsor, kerusakan lingkungan, kerentanan
sosial, dan pengalaman pascabencana. Namun
keduanya bertemu dalam satu prinsip: setelah sirene berhenti dan kamera
meninggalkan lokasi, bencana melanjutkan hidupnya di dalam ingatan
orang-orang yang selamat. -000- Kedua,
Wave karya Sonali Deraniyagala, diterbitkan Alfred A. Knopf pada 2013. Memoar
ini lahir dari tsunami Samudra Hindia 2004 yang menghantam Sri Lanka. Deraniyagala
kehilangan suami, dua putra, dan kedua orang tuanya. Ia sendiri selamat, lalu
menulis perjalanan panjang menghadapi duka yang hampir mustahil ditanggung
seorang manusia. Wave
memperlihatkan sesuatu yang juga terasa dalam antologi Aceh. Bencana hanya
berlangsung beberapa saat, tetapi waktu psikologis korban dapat membeku
bertahun-tahun pada satu kehilangan. Rumah
dapat dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Jembatan dapat disambungkan.
Tetapi tidak semua yang dihanyutkan air mempunyai pengganti, harga, ataupun
kemungkinan untuk dipulihkan. Karena
itu, Wave dan Suara Aceh sama-sama memperluas pengertian tentang pemulihan.
Rekonstruksi bukan hanya pembangunan kembali benda, tetapi juga pekerjaan
panjang merawat jiwa. Keduanya
mengingatkan bahwa sesudah air surut, manusia belum tentu pulih. Justru
ketika dunia kembali normal, sebagian penyintas baru memulai perjalanan
terpanjangnya menuju kehidupan. -000- Membaca
buku ini akhirnya membawa kita kepada satu pertanyaan besar. Apakah tujuan
menulis tentang bencana hanya agar manusia mengetahui apa yang pernah
terjadi? Saya
kira tidak. Ingatan yang hanya disimpan akhirnya menjadi museum. Ingatan
memperoleh makna ketika ia mengubah perilaku, memperbaiki kebijakan,
memperdalam empati, dan mencegah pengulangan. Mahdalena
merumuskannya sederhana: melihat, merasakan, memahami, lalu berbuat. Empat
kata itu sebenarnya dapat menjadi filsafat kebencanaan yang jauh lebih luas
bagi masyarakat. Melihat
berarti membuka mata terhadap fakta. Merasakan berarti mengizinkan
penderitaan orang lain memasuki hati. Memahami berarti mencari sebab. Berbuat
berarti mengubah masa depan. Karena
itu, nilai terbesar buku ini bukan terletak pada kesedihannya. Nilainya
justru terletak pada kemungkinan bahwa kesedihan tersebut dapat diubah
menjadi kesadaran. Kelak
bencana Aceh 2025 mungkin tinggal satu baris dalam kronologi. Tetapi melalui
buku ini, kita masih dapat mendengar manusia menangis, berdoa, menolong, lalu
bangkit. Itulah
kemenangan kecil sastra atas waktu. Air dapat menghapus jejak kaki dari
tanah, tetapi tulisan dapat membuat jejak pengalaman bertahan melampaui usia
manusia. Buku
ini meminta kita menjaga hutan, sungai, mata air, ingatan, dan terutama
kemanusiaan. Sebab semuanya sesungguhnya merupakan bagian dari rumah besar
yang sama. Air
boleh surut dan berita boleh berlalu, tetapi ingatan harus tetap mengalir,
agar generasi berikutnya tidak membayar dengan air mata untuk pelajaran yang
pernah kita terima. ● REFERENSI
BUKU Svetlana
Alexievich, Voices from Chernobyl, Dalkey Archive Press, 2005. Sonali
Deraniyagala, Wave, Alfred A. Knopf, 2013. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar