Sabtu, 19 September 2026

 

Merayakan 100 Tahun Saparinah Sadli

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  18 September 2026

 

 

 

·      Data PBB menyatakan hanya 0,0081 persen populasi dunia yang mencapai usia lebih dari 100 tahun.

 

·      Saparinah Sadli, akademikus dan aktivis kesetaraan gender, masuk golongan istimewa tersebut.

 

·      Tempo menyajikan cerita perjalanan panjang hidup Saparinah dalam tiga tulisan.

 

CUMA segelintir orang yang mampu mencapai usia seratus tahun. Pakar demografi Joseph Chamie, mantan direktur populasi dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan, dari 8,3 miliar manusia yang hidup saat ini, cuma ada 672 ribu orang centenarian. Artinya, hanya 0,0081 persen dari populasi dunia.

 

Jepang merupakan negara dengan jumlah centenarian terbanyak, 126 ribu. Amerika Serikat dan Cina menempati posisi kedua. Indonesia tidak masuk daftar.

 

Mendapati orang lanjut usia dengan umur lebih dari seratus tahun saja sulit, apalagi tokoh berumur itu. Maka, pada saat mendengar kabar Saparinah Sadli berulang tahun ke 100 pada 24 Agustus 2026, kami di Desk Jeda memutuskan harus menulis tentang dirinya.

 

Dalam rentang panjang usianya, Saparinah memiliki banyak dimensi. Di bidang akademis, perempuan yang lahir pada 24 Agustus 1926 ini merupakan guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sejak 1980—suaminya, Mohammad Sadli, adalah guru besar Fakultas Ekonomi UI. Pada 1990-an, dia mempelopori kajian gender dan studi perempuan.

 

Pada usia 72 tahun, Saparinah turun ke lapangan sebagai anggota Tim Gabungan Pencari Fakta yang mengusut kekerasan seksual terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998. Kerja panjang tersebut mendorong lahirnya Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan dan dia dipilih menjadi ketua pertama. Dia juga pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM. Di usia yang makin senja, Saparinah menaruh perhatian pada isu pemenuhan hak orang lansia.

 

Awalnya, redaksi berencana menuliskan cerita perjalanan panjang itu dalam Memoar. Ini rubrik khusus yang berisi kisah tokoh senior dengan sudut pandang orang pertama. Dari raja dangdut Rhoma Irama, politikus dan sutradara Eros Djarot, sampai raja sinetron Raam Punjabi pernah menuangkan kisah jatuh-bangun hidup mereka dalam rubrik itu.

 

Namun usia membatasi aktivitas fisik Saparinah. Dia tidak lagi bisa bolak-balik melayani permintaan wawancara seperti pada 1998. Dalam perayaan ulang tahunnya di kantor Komnas Perempuan pada 26 Agustus 2026, misalnya, para junior yang mewakilinya berbicara.

 

Dengan pertimbangan itulah redaksi memutuskan menuliskan kisah Saparinah lewat para murid dan koleganya.

 

Penulis Aisha Shaidra pun menemui Myra Diarsi, Kamala Chandrakirana, dan lainnya. Keterangan mereka Aisha verifikasi dengan saling-silang cerita dan buku. Hasilnya, tersaji tiga artikel, yaitu “Saparinah Sadli, Suluh Gerakan Perempuan Indonesia”, “Saparinah: Dari Gerakan Perempuan ke Pemberdayaan Lansia”, dan “Hari-hari Saparinah Sadli di Usia 100 Tahun”. Selamat berulang abad, Bu Sap. ●

                                                                                

Sumber :  https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-saparinah-sadli-2287828

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar