|
Merayakan 100 Tahun Saparinah
Sadli Reza Maulana : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 18 September 2026
|
· Data PBB menyatakan hanya 0,0081 persen
populasi dunia yang mencapai usia lebih dari 100 tahun. · Saparinah Sadli, akademikus dan aktivis
kesetaraan gender, masuk golongan istimewa tersebut. · Tempo menyajikan cerita perjalanan
panjang hidup Saparinah dalam tiga tulisan. CUMA
segelintir orang yang mampu mencapai usia seratus tahun. Pakar demografi
Joseph Chamie, mantan direktur populasi dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa,
menyatakan, dari 8,3 miliar manusia yang hidup saat ini, cuma ada 672 ribu
orang centenarian. Artinya, hanya 0,0081 persen dari populasi dunia. Jepang
merupakan negara dengan jumlah centenarian terbanyak, 126 ribu. Amerika
Serikat dan Cina menempati posisi kedua. Indonesia tidak masuk daftar. Mendapati
orang lanjut usia dengan umur lebih dari seratus tahun saja sulit, apalagi
tokoh berumur itu. Maka, pada saat mendengar kabar Saparinah Sadli berulang
tahun ke 100 pada 24 Agustus 2026, kami di Desk Jeda memutuskan harus menulis
tentang dirinya. Dalam
rentang panjang usianya, Saparinah memiliki banyak dimensi. Di bidang
akademis, perempuan yang lahir pada 24 Agustus 1926 ini merupakan guru besar
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sejak 1980—suaminya, Mohammad Sadli,
adalah guru besar Fakultas Ekonomi UI. Pada 1990-an, dia mempelopori kajian
gender dan studi perempuan. Pada
usia 72 tahun, Saparinah turun ke lapangan sebagai anggota Tim Gabungan
Pencari Fakta yang mengusut kekerasan seksual terhadap perempuan dalam
kerusuhan Mei 1998. Kerja panjang tersebut mendorong lahirnya Komisi Nasional
Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan dan dia dipilih
menjadi ketua pertama. Dia juga pernah menjadi anggota Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia atau Komnas HAM. Di usia yang makin senja, Saparinah menaruh
perhatian pada isu pemenuhan hak orang lansia. Awalnya,
redaksi berencana menuliskan cerita perjalanan panjang itu dalam Memoar. Ini
rubrik khusus yang berisi kisah tokoh senior dengan sudut pandang orang
pertama. Dari raja dangdut Rhoma Irama, politikus dan sutradara Eros Djarot,
sampai raja sinetron Raam Punjabi pernah menuangkan kisah jatuh-bangun hidup
mereka dalam rubrik itu. Namun
usia membatasi aktivitas fisik Saparinah. Dia tidak lagi bisa bolak-balik
melayani permintaan wawancara seperti pada 1998. Dalam perayaan ulang
tahunnya di kantor Komnas Perempuan pada 26 Agustus 2026, misalnya, para
junior yang mewakilinya berbicara. Dengan
pertimbangan itulah redaksi memutuskan menuliskan kisah Saparinah lewat para
murid dan koleganya. Penulis
Aisha Shaidra pun menemui Myra Diarsi, Kamala Chandrakirana, dan lainnya.
Keterangan mereka Aisha verifikasi dengan saling-silang cerita dan buku.
Hasilnya, tersaji tiga artikel, yaitu “Saparinah Sadli, Suluh Gerakan
Perempuan Indonesia”, “Saparinah: Dari Gerakan Perempuan ke Pemberdayaan
Lansia”, dan “Hari-hari Saparinah Sadli di Usia 100 Tahun”. Selamat berulang
abad, Bu Sap. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-saparinah-sadli-2287828
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar