Tampilkan postingan dengan label Gubernur DKI Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubernur DKI Jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Gubernur dan Mimpi Historis Betawi


Gubernur dan Mimpi Historis Betawi
J.J. Rizal, PENELITI SEJARAH
SUMBER : KORAN TEMPO, 21 Maret 2012



Orang Betawi sejak dulu punya mimpi historis. Mimpi itu menjadi kenyataan. Akhirnya putra Betawi memimpin kampungnya sendiri. Fauzi Bowo naik sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Sekarang Foke hendak naik lagi.

Seperti pemilihan kepala daerah yang lalu, Foke masih berusaha tampil dengan dukungan partai yang luas. Tapi rupanya sekarang peta sudah berubah sama sekali. Partai-partai besar punya calonnya masing-masing. Adapun banderol yang dipasang partai untuk menyerahkan dukungan terlalu tinggi. Foke pun kudu puas di luar Partai Demokrat hanya dapat--meminjam ungkapan Betawi--restan alias sisa, yaitu partai-partai menengah dan kecil. Tapi Foke percaya ada satu kantong suara besar bernama Betawi, yang sekali lagi dia anggap dapat diandalkan dan jauh lebih murah ongkosnya, malah gratis.

Menggandeng Nachrowi Ramli, yang Ketua Umum Bamus Betawi, bisa karena kebuntuan negosiasi politik, tapi bagaimanapun ini jika dikaitkan dengan bagaimana membulatkan suara Betawi. "Kami lahir di Jakarta, karena itu kami bertekad membangun tanah kelahiran kami," kata Foke dalam jumpa pers pencalonannya bersama Nachrowi. Aha, sentimen kebetawian sejak dini sudah didengungkan. Tapi apa masih ampuh "mimpi historis Betawi" digunakan duo Betawi, Foke-Nara?

Suatu saat, pengamat politik R. William Liddle tak jemu-jemunya berteriak ihwal pentingnya memperhatikan sifat dan ciri partisipasi rakyat dalam kehidupan politik di aras lokal. Sebab, dengan begitu akan tampaklah persoalan-persoalan besar dan akan lebih lengkaplah gambaran perubahan sosial yang terjadi.

Sejak dulu orang Betawi memiliki persoalan-persoalan besar dalam partisipasi politik lokal. Lance Castles dalam Ethnic Profile Jakarta (1967) dengan tepat memperlihatkan persoalan orang Betawi, yaitu di tengah etnis lain di Ibu Kota, orang Betawi terkonstelasi sebagai orang yang inferior, dan proporsi elite politiknya kecil dibanding jumlah mereka yang besar. Orang Betawi di tanahnya sendiri harus menyaksikan semua peran elite disediakan untuk etnis lain. Pendidikan yang rendah menjadi musababnya dan itu dilihat sebagai dampak zaman particuliere landerijen, zaman tuan tanah yang luar biasa mencekik dan memerah. Dalam konteks itulah ada konotasi inferior pada kata "Betawi". Lantas menjadi ethnic stereotype yang diucapkan senapas saban menyebut orang Betawi. Karena itu, menurut antropolog Yasmin Z. Shahab, pada 1960-an hal yang biasa jika orang Betawi menyembunyikan kebetawiannya.

Castles memang dilaknat orang Betawi karena menyebut mereka keturunan budak. Tapi pendapatnya dianggap benar, "Kalau ingin dianggap eksis dan tidak terpinggir, perlu memperbesar proporsi elite politik." Orang Betawi harus napak jenjang politik tertinggi yang sohor, dalam kebudayaan Betawi disebut "orang pangkat-pangkat", orang yang punya kuasa dan kekuatan mengubah keadaan.

Pemikiran itu meraja di kepala orang Betawi ketika terjadi kebangkitan Betawi pada 1970-an. Di tengah masyarakat Betawi muncul dorongan-dorongan sosial-budaya-politik yang memacu kebanggaan diri sebagai Betawi, terutama dari Gubernur Ali Sadikin, yang menjadikan kebudayaan Betawi sebagai identitas budaya Jakarta. Termasuk peran orang Betawi sendiri, seperti Benyamin S. dan Firman Muntaco, yang membawa gaya dan tradisi budaya Betawi menjadi gaya hidup yang fenomenal. Sementara pada 1950-an orang Betawi merasa canggung menampilkan diri sebagai "anak Betawi", lebih bangga menyebut diri "anak Djakarta", pada 1970-an rupa-rupa organisasi Betawi dengan bangga menjembreng nama Betawi, misalnya Lembaga Kebudayaan Betawi, Keluarga Mahasiswa Betawi, dan Persatuan Wanita Betawi.

Di keramaian suara eksistensi Betawi yang menguat dan memunculkan solidaritas komunal itulah, jaringan elite Betawi yang mulai terbentuk terus diajukan masyarakatnya untuk jabatan Gubernur Jakarta. Namun elite Betawi dianggap Orde Baru, yang tak pantas menduduki kepangkatan itu. Paling banter mendapat kesempatan sampai pangkat wakil gubernur. Karena itu, ketika reformasi tiba dan mendepak budaya "main tunjuk" kepala daerah seraya mendemokratisasinya menjadi pemilihan langsung, seketika orang Betawi diliputi courage culture, kebudayaan si pemberani, si semangat yang dipanggang oleh emosi dan mau berbuat apa saja untuk itu. Walhasil, semodern apa pun pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, ketradisionalannya tetap berasa sebagaimana tecermin dalam sikap selon alias habis-habisan orang Betawi dalam menggotong jagonya yang masih bisa dilacak primordial kebetawiannya. Bagi mereka inilah saatnya mewujudkan mimpi historis yang akan menghapus konotasi inferior Betawi.

Solidaritas komunal diperkuat untuk kompetisi prestatif ini. Meskipun ramai nian para intelek sohor bicara sampai mulutnya meniran ihwal bagaimana sikap rasional yang kudu diambil para makhluk metropolis penghuni Jakarta dalam menghadapi pilkada, orang Betawi sudah "lurus mistar": sekali Betawi tetap Betawi. Sikap orang Betawi yang beginilah yang membikin pilkada Jakarta berasa persis pemilihan kepala desa di Jawa. Tak buang barang sepotong.

Benarlah kalau para sosiolog kota menyatakan, bagaimanapun modernnya, Jakarta tetap sebuah desa, sebuah kampung besar. Lazimnya kampung tentu punya tempat untuk yang irasional. Nah, di sini bahayanya. Di sinilah orang Betawi dan sang gubernur Betawi diuji. Banyak orang Betawi cuma menjadi loyalis buta gubernur Betawi. Tiada sikap kritis hanya melihat dia sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan jalan kebangkitan Betawi. Padahal kenyataannya terbukti tidak ada hubungan antara orang Betawi menjadi gubernur dan kemajuan serta perbaikan nasib mereka. Gubernur Betawi terbukti dengan gampang mengambil sikap "habis manis sepah dibuang". Gubernur Betawi bukan hanya tak tahu terima kasih dan khianat, tapi juga mengabaikan potensi dan momentum yang dapat dimanfaatkannya dari solidaritas komunal orang Betawi yang telah terbentuk saat pilkada itu.

Tak ayal orang Betawi pun gagal mempertahankan dan mengarahkan kohesi, kerja sama, serta solidaritas komunal-tradisional yang telah ditunjukkan dalam pilkada Jakarta untuk tujuan-tujuan baru atau basis inovasi. Otomatis orang Betawi gagal mendapati dirinya sebagai salah satu elemen masyarakat yang penting dari elemen-elemen masyarakat lainnya di Jakarta yang akan mendukung sang gubernur Betawi menjadi agen pembangun, inovator, atau protagonis perubahan, bukan hanya bagi masyarakat Betawi, tapi juga Jakarta.

Namun itu bukan mutlak kesalahan sang gubernur Betawi. Organisasi terbesar dan terpenting orang Betawi yang semula menjadi mesin pendorong gubernur Betawi pun kurang sekali memainkan peran sebagai mitra dialog. Malah, ketika gubernurnya orang Betawi, organisasi-organisasi Betawi itu jadi melempem, mengalami kejumudan, dan tidak punya kemampuan berkembang sebagai partner kerja yang kritis bagi gubernur Betawi. Sekarang, setelah berakhir kepemimpinan Foke sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Nachrowi sebagai Ketua Umum Bamus Betawi (organisasi Betawi terbesar dan paling berpengaruh), situasi itu malah bertambah parah.

Karena itu, kalaupun berhasil, tetap saja suatu ironi besar jika sekarang mimpi historis Betawi itu kembali digadang-gadang keduanya. Sementara itu, dalam kilas balik jelas sekali mereka kurang sekali peduli terhadap raison d'etre atau alasan-alasan orang Betawi punya mimpi historis menjadi orang nomor satu di kampungnya sendiri. Lupa bahwa mereka rindu akan M.H. Thamrin, sosok yang menyerahkan seluruh waktu, harta, dan energinya untuk mengikis keterbelakangan, kekurangan pendidikan, kemiskinan, dan semua yang buruk-buruk yang mendera bukan hanya kaum Betawi, tapi kaum urban miskin kota yang mayoritas penghuni Jakarta. Dialah sosok yang punya jurus-jurus maut untuk menghadapi persoalan-persoalan besar Jakarta, seperti banjir, kemacetan, polusi, sampah, nyamuk, sektor informal, kriminalitas, narkoba, aparatus pemerintah provinsi yang korup-malas-tak kreatif, dan lain-lain. Dan untuk kepentingan mulia itu, mereka tak gentar pada apa pun yang menghalangi. ●

Electing the Leader of Jakarta, the city of (no) joy

Electing the Leader of Jakarta,
the city of (no) joy
Fitrian Ardiansyah, A Native Jakartan, Doctoral Candidate at the Australian National University and Recipient of the Australian Leadership Award and Allison Sudradjat Award
SUMBER : JAKARTA POST, 21 Maret 2012



Recent news on the lead up to the Jakarta gubernatorial election has reminded people about the importance of the immediate future of this great big capital city and the people who live within its city limits.

Jakarta, for some, is considered as a source of economic opportunities, a stepping stone to living the “Indonesian dream”.

For others, it is a constant reminder of a harsh day-to-day life, facing the consequences of urban environmental mismanagement such as traffic gridlock, flooding, air and water pollution.

Yet, like a magnet, those who have left will likely return, new people will turn up and the majority who stay will continue to call this city their home.

Jakarta has a stunning history. From a small port on the estuary of the Ciliwung River around 500 years ago, Jakarta has significantly transformed itself into Indonesia’s economic and political hub.

The city is a busy and crowded melting pot and is now one of the biggest cities on Earth.

The latest statistics suggest that Jakarta’s population has reached 9.6 million (with a growth rate of 1.40 percent per year) — among the top 10 most populous cities in the world — while the Greater Jakarta Metropolitan Area is home to 27.9 million people (the growth rate is 3.6 percent per year).

Jakarta’s population density is estimated at around 14,500 per square kilometer, ranking 17th of 125 big cities in the world.

According to Prof. Tommy Firman of the Bandung Institute of Technology, the population growth in Jakarta and its greater area can be attributed to net migration and reclassification (i.e. change in rural localities to urban localities).

 The accelerating growth in population in the city is due to, among other factors, its significant economic growth. It was recorded that last year, economic growth in Jakarta reached 16.5 percent, the highest in Indonesia.

Although having the highest economic growth in the country, Jakarta still falls behind other big cities in the world, particularly when it comes to personal earnings and purchasing power.

A report released last year by UBS reveals that Jakarta has the lowest rank (number 73 of 73 big cities assessed) in terms of domestic purchasing power, even compared to Manila, Nairobi and Mumbai. It is, however, slightly better (number 70) than these three cities in terms of gross wages.

Its iPod index — a calculation on how long an employee would have to work to be able to afford an iPod nano with 8 GB storage in each city — ranks 65 in 2009, which is lower than Bangkok (much lower than Zurich or New York) but higher than Delhi, Manila and Mumbai.

This means that an average wage-earner in Zurich and New York can buy an iPod nano after nine hours of work. Workers in Jakarta, however, need to work 93 hours (or 10 nine-hour days) to purchase the same gadget.

Regardless of these figures, the economic spectrum of Jakarta is still very attractive to millions of people.

This tremendous economic boost, combined with decades of land-use and urban management (or the lack of it), however, also brings about unwanted consequences.

Jakarta has been well-known for its seasonal but intensified flooding. Flooding in 2007 affected 80 subdistricts, causing traffic chaos and paralyzing the city. The Indonesian government estimates that losses amounted to Rp 4.1 trillion (US$450 million).

Every year, the city government promises to make various efforts to prevent major floods from inundating the capital city.

Last year, the Jakarta city administration had to allocate Rp 1.36 trillion to support these actions.

With only 9.79 percent of green space in 2010, continuous overdevelopment inside the catchment areas and nearby rivers that cannot discharge water into the sea since they are clogged with waste, the city will have little capacity to absorb a high level of rainfall and prevent flooding.

Another major but daily headache for Jakartans is the continuous horror of its traffic. A 2011 study released by the Jakarta Transportation Agency estimated that traffic congestion costs the city up to Rp 46 trillion a year.

Another figure from the Transportation Ministry claims that congestion costs Rp 28.1 trillion each year, accounting for wasted fuel, productivity lost and traffic-induced health problems.

Promises after promises have been made by the city administration to address these issues and the people of Jakarta have waited long enough to see if these are going to be put into action.

With the upcoming election of their governor, Jakartans now have a greater chance to demand more and push the incumbent and other candidates further to not only promise a better Jakarta but also to come up with ambitious and clear action plans to improve the city.

Impossible is nothing, says one ad. Jakarta can be changed into a better and livable place. Jakarta’s citizens can ask their government — and the future government — to learn from the success of cities in other developing countries.

Mexico City, Bangkok and Rio de Janeiro, for instance, as part of the commitment by their political leaderships to improve the living conditions of their citizens, have gradually changed their images for the better by establishing environmental policies, programs and actions, developing innovative and creative modes of public transportation, and instituting a high degree of public participation and engagement in environment-related issues.

It is now the right time for Jakartans to voice their concerns louder, by ensuring that they elect the right candidate for the position of governor.

Being apathetic is not an option, since the immediate and possibly long-term fate of Jakarta will be decided in this upcoming election. ●

Sabtu, 17 Maret 2012

Gubernur DKI: Kreatif dan Problem Solver


Gubernur DKI: Kreatif dan Problem Solver
( Wawancara )
Andrinov Chaniago, Direktur Eksekutif Center for Indonesian Regional
and Urban Studies (Cirus)
SUMBER : SUARA KARYA, 17 Maret 2012



Empat bulan ke depan - tepatnya 11 Juli 2012 -, Jakarta akan menggelar hajatan akbar, pemilihan umum kepala daerah (Pilkada). Hiruk-pikuk politik menyambut pesta demokrasi tingkat lokal itu sudah sangat terasa. Bahkan, suhu politik terkesan kian memanas seiring dengan aksi dukung-mendukung pencalonan gubernur-wakil gubernur DKI periode 2012-2017.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta telah membuka pendaftaran calon gubernur-calon wakil gubernur (cagub-cawagub) sejak Senin, 13 Maret dan ditutup Senin, 19 Maret 2012. Namun, hingga menjelang hari terakhir, baru satu calon perseorangan/independen Faisal Basri-Biem Benyamin yang telah mendaftarkan diri.

Lalu, bagaimana dengan calon-calon dari partai politik? Koalisi Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Damai Sejahtera (PDS) yang mengusung pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono, kabarnya akan mendaftarkan diri pada Senin, 19 Maret 2012. Sedangkan, incumbent Gubernur DKI Fauzi Bowo yang telah mengantongi dukungan dari sejumlah parpol, PKB, PAN, Hanura, PDIP dan mengharap didukung Partai Demokrat belum mendaftar, bahkan lamban untuk mendeklarasikan bersama siapa pasangannya.

Terkait Pilkada DKI, lebih kurang 6,2 juta warga Ibu Kota akan memilih pemimpin, yang diharapkan mampu membawa Jakarta menjadi Ibu Kota Negara yang lebih baik, lebih maju, lebih bermartabat, sehingga sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Wartawan Harian Umum Suara Karya Yon Parjiyono mewancarai Direktur Eksekutif Center for Indonesian Regional and Urban Studies (Cirus) Andrinov Chaniago untuk memberi gambaran tipe gubernur seperti apa yang dibutuhkan untuk memimpin Jakarta dengan segudang masalah.

Dengan kompleksitas masalah Jakarta, figur gubernur seperti apa yang ideal untuk memimpin Jakarta ke depan?

Ya, menurut saya, figur gubernur yang memiliki tiga kriteria penting, di samping kriteria lain sebagai tambahan. Pertama, orang yang betul-betul paham persoalan Jakarta, dengan cara melihat yang benar. Artinya, dia punya wawasan tentang masalah kota besar, tahu mana yang akar persoalan, pucuknya yang mana, sampah persoalan yang mana.

Kedua, gaya kepemimpinan yang action dan problem solver (orang yang mampu memecahkan masalah). Tidak figur bergaya birokrat yang rutin rapat-rapat, minta tanggung jawab bawahan, marah-marah. Tapi, orang yang memang menggerakkan sebagai pemimpin. Tipe kepemimpinannya juga harus keras.

Ketiga, orang yang secara pribadi punya integritas bisa dipercaya, ini terkait godaan-godaan yang besar sekali sebagai pejabat publik termasuk tekanan dari partai politik. Dia itu harus bisa menyampingkan kepentingan pribadinya. Karena, uang yang akan dikelola, dan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah itu, besar sekali.

APBD DKI dari tahun ke tahun terus bertambah. Potensi sumber pendapatan daerah yang dapat digali jauh lebih besar daripada yang terealisasi. Komentar Anda?

Tahun 2012, besarnya APBD DKI mencapai Rp 36,2 triliun. Jadi, kalau terpilih menjadi gubernur, tinggal mematangkan konsep, dan membuat terobosan bagaimana supaya Jakarta ini bisa berubah. Sebagai pemimpin yang pandai melihat persoalan, ya tentu sekaligus pendengar yang baik. Dia juga ada keinginan untuk mengatasi sumber masalah, menjadi pendengar yang baik masukan. Gubernur juga jangan seperti seorang pengamat. Cuma bisa menjawab apa yang ada di pikirannya saja, tetapi juga bisa merealisasikan rekomendasi-rekomendasi untuk jalan keluar.

Sebagai seorang problem solver, dia harus lebih banyak turun ke masyarakat, ke kantor itu cukup 2-3 jam sehari. Sedangkan 5-6 jam di lapangan, ketemu masyarakat keliling lihat ke bawah, ya di samping menghimpun masukan, sekaligus memecahkan masalah. Mana yang kewenangannya diserahkan ke dinas, wali kota, camat, dan lurah, saat di lapangan itu juga bisa diputuskan. Minggu depannya dipantau untuk aplikasinya. Tipe gubernur seperti itu yang dibutuhkan.

Masalah Jakarta bukan saja tanggung jawab Pemprov DKI, tetapi juga pemerintah pusat dan pemda sekitar. Banyak problem krusial (kemacetan, banjir, urbanisasi, ketertiban umum) tidak terselesaikan karena kurangnya koordinasi. Benarkah?

Betul, memang belum ada pembagian urusan dan kewenangan yang jelas antara Pemprov DKI, pemerintah pusat dan pemerintah daerah khusus tentang Ibu Kota. Ya, memang tidak cukup hanya UU atau peraturan pemerintah. Itu harus dibuat aturan khusus. Tapi, sementara belum ada perundang-undangan yang menjadi pedoman, untuk menyelesaikan itu, mestinya bisa meyakinkan pemerintah pusat. Jadi, jangan hanya mengeluh, protes seperti sok pahlawan. Jangan juga seperti kepala negara dalam negara. Jakarta ini kan bukan negara dalam negara.

Jadi Gubernur DKI harus kreatif dan punya kemampuan melobi, sekaligus bisa mengusulkan perubahan perundang-undangan tentang kewenangan gubernur dan pemerintah pusat. Itu bisa dibikin, tapi jangan hanya melempar-lempar masalah, sambil menyembunyikan kelemahannya sendiri.

APBD DKI, sebagian besar untuk belanja aparatur (gaji, tunjangan, honor) dan perlengkapan pegawai. Untuk belanja modal dan peningkatan pelayanan masyarakat kecil sekali. Pendapat Anda?

Sebenarnya, persoalan mendasar Jakarta adalah pengelolaan anggaran. Bagaimana menghimpun potensi pemasukan pendapatan dan membelanjakannya dengan benar. Yang diperlukan bukan orang yang berani secara militeristik, berani menghadapi preman, bukan itu karena masalah keamanan sudah ada yang bertanggung jawab di lembaga lain. Yang diperlukan memang orang yang berani, tetapi berani bersikap terhadap masalah anggaran.

Bagaimana mengejar pemasukan supaya masuknya benar. Bagaimana menertibkan pemasukan dan merencanakan belanja yang benar? Inilah persoalan dasar Jakarta. Kemudian, reformasi birokrasi, dengan itu semua, maka akan ada hasil mengatasi banjir, macet, urbanisasi, kemiskinan, pengangguran dan lain-lain. Kalau hanya mengulang-ulang masalah Jakarta, banjir, macet, kumuh dan lain-lain, hanya menambah daftar mimpi saja. Mustahil selesai masalah Jakarta, karena anggarannya digerogoti sana-sini oleh berbagai kepentingan yang tidak bisa dikendalikan. Maka, diperlukan gubernur yang berani menata anggaran.

Akibat tidak bisa menata anggaran, pelayanan birokrasi masih menjengkelkan. Aparatnya tetap arogan, mempersulit masyarakat.

Apakah sudah ada figur yang ideal dari calon muncul ke permukaan?

Kalau saya melihat, belum ada. Belum..., belum ada. Nggak tahu apa secara potensial ada atau tidak di antara nama-bana yang muncul itu, mendekati yang ideal.

Bagaimana melihat kinerja incumbent, Gubernur DKI Fauzi Bowo?

Secara umum penilaian saya terhadap kinerja Pemprov DKI, rendah ya. Ukuran terakhir adalah tingginya sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) APBD Tahun 2011 yang mencapai lebih kurang Rp 4 triliun. Itu menunjukkan rendah, tinggal belanja pun tidak bisa. Membelanjakan dengan benar, efisien, produktif, bermanfaat bagi masyarakat saja, tidak bisa.

Selasa, 20 Desember 2011

Menanti Gubernur Ideal

MENYAMBUT INDONESIA 2012
Menanti Gubernur Ideal
Sumber : SINDO, 19 Desember 2011



Publik Jakarta menginginkan figur yang tegas dan berani untuk memimpin Ibu Kota. Figur yang memiliki dua karakter tersebut diyakini mampu menyelesaikan persoalan Jakarta,terutama macet dan banjir.

Hasil survei dari Cyrus Network bersama Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia pada 24 November – 1 Desember 2011, terungkap bahwa publik menginginkan figur tegas, komitmen dan integritas moral. Hasil survei dari Median Survei Nasional dan The Future Institute pada 19- 25 September 2011 pun menempatkan sikap tegas dan berani pada posisi teratas ekspektasi publik.

Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk mengatakan, saat ini partai sebagai kendaraan bakal calon gubernur hanya melihat sisi popularitas dan elektabilitas seorang calon. “Padahal, dari hasil survei ternyata publik menginginkan figur yang memiliki integritas, ketegasan, serta komitmen bukan sekadar populer,” ujar Hamdi. Sedangkan Direktur Eksekutif Median Survei Nasional Rico Marbun menyatakan, warga Jakarta sudah semakin rasional dalam menentukan pilihan.

Karena itu, figur yang berani dan tegas dalam membuat program berpeluang besar pada Pilkada 2012. Terlebih sejauh ini masyarakat sudah dapat melihat dan menilai siapa yang seharusnya dipilih.“ Lebih baik orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual, kedisiplinan, keberanian, daripada figur yang lembek,” tekan Rico. Adapun pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bakti berpendapat, pemimpin yang ideal adalah memiliki power to lead.

Artinya,seorang pemimpin harus memiliki kekuasaan untuk menjalankan apa yang ada di dalam kepalanya. “Saat ini saya yakin Fauzi Bowo sudah memiliki solusi untuk permasalahan di Jakarta. Tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah dia benar-benar memiliki kekuasaan atau tidak,” ujarnya. Para petinggi partai politik pun setuju bahwa Jakarta butuh pemimpin yang tegas dan berani.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy mengatakan, tantangan Gubernur DKI Jakarta berbeda dengan gubernur di provinsi lain. Menurut dia, Jakarta memiliki kompleksitas persoalan yang membutuhkan langkah-langkah radikal untuk menyelesaikannya. PPP tak mempersoalkan latar belakang figur, bisa dari militer atau sipil.“ Tanpa langkah radikal dan terobosan yang inovatif, sulit untuk menyelesaikan persoalan di Jakarta,”katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan, keberlangsungan Pemerintah DKI Jakarta saat ini masih jauh dari gambaran yang mencerminkan Jakarta sebagai ibu kota. Selain masalah yang cukup kompleks mulai dari kemacetan, krisis air, hingga ancaman banjir, masalah pluralisme . “Untuk itu, ke depan dibutuhkan pemimpin yang tegas yang tidak mau berkompromi dengan siapa pun yang mengorbankan kepentingan rakyat,” tekannya.

Kendaraan Politik

Untuk ikut bertarung dalam Pilkada DKI 2012, ada dua cara yang bisa ditempuh. Melalui jalur partai politik (parpol) atau gabungan parpol dan independen. Jika menggunakan kendaraan parpol atau gabungan parpol, sekurang-kurangnya parpol pengusung itu memiliki 15% kursi DPRD atau 15% perolehan suara hasil Pemilu 2009. Jika melalui jalur independen,pasangan calon harus mendapat dukungan 4% dari jumlah penduduk DKI Jakarta.

Karena jumlah kursi DPRD DKI Jakarta sebanyak 94 kursi,syarat 15% setara dengan 14,1 kursi. Adapun komposisi kursi DPRD DKI Jakarta, yakni Partai Demokrat 32 kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 18 kursi, PDIP 11 kursi, Partai Golkar 7 kursi, PPP 7 kursi, Partai Gerindra 6 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) 4 kursi, Partai Damai Sejahtera (PDS) 4 kursi,Partai Hanura 4 kursi, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 1 kursi.

Dengan komposisi tersebut,hanya Partai Demokrat dan PKS yang bisa mengajukan pasangan calon.Parpol lainnya harus berkoalisi. Untuk memenangi pertarungan,para calon harus selektif memilih kendaraan politik. Sebab,jika belajar dari sejumlah kasus pilkada, justru mesin politik parpol tidak efektif karena ada pertentangan internal. Sejauh ini belum ada cagub-cawagub definitif.

Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009 belum juga menentukan kandidatnya. Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta Nachrowi Ramli yang sudah diputuskan dalam Musda, masih menunggu keputusan Majelis Tinggi.Dia harus berebut tiket dengan incumbent Fauzi Bowo yang juga anggota Dewan Pembina Partai Demokrat. Sementara, PKS sebagai pemenang kedua di DKI Jakarta, hampir pasti mengusung Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Triwisaksana.

PKS memastikan akan berkoalisi dalam menghadapi pilkada mendatang.Berbeda dengan Pilkada 2007,PKS dikeroyok oleh parpol lain. Hasilnya pasangan Adang Darajatun-Dani Anwar hanya memperoleh 1.535.555 suara atau 42,13%.Fauzi Bowo – Prijanto yang diusung oleh koalisi 19 partai politik memperoleh 2.109.551 suara atau 57.87%. PPP,Partai Hanura, Partai Gerindra dan PDS belum menentukan calon setelah Djan Faridz yang mereka dukung diangkat menjadi Menteri Perumahan Rakyat (Menpera).

Demikian pula koalisi parpol nonparlemen yang mendukung Djan Faridz harus putar haluan. Adapun Partai Golkar masih melakukan konvensi internal yang diikuti tiga calon, yakni Ketua DPD I DKI Prya Ramadhani, anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya, dan Wakil Ketua Komisi III M Azis Syamsudin.

Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto,yang belum memiliki kendaraan politik, terus menjajaki komunikasi dengan anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya untuk kemungkinan berpasangan. Sejauh ini,kedua tokoh tersebut sudah bertemu dua kali untuk membicarakan kemungkinan menantang Fauzi Bowo. PDIP sedang menyeleksi 16 tokoh yang mendaftar sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Meski pendaftaran sudah ditutup, PDIP masih membuka peluang bagi tokoh-tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi. Sementara, beberapa nama yang telah menjalin komunikasi politik dengan DPW PAN DKI antara lain Hasnaeni, Tantowi Yahya, Nono Sampono, Prijanto, Nachrowi Ramli, Fauzi Bowo, dan Lulung Lunggana. Figur dari internal di antaranya, Andi Anshar dan Wanda Hamidah.