Rabu, 23 September 2026

 

Mencari Doktrin Kapal Induk Pertama di Indonesia

M Toto Suryaningtyas : Litbang Kompas

KOMPAS, 21 September 2026

 

 

                                                           

Babak baru pertahanan Indonesia dengan kehadiran kapal induk pertama.

 

Kehadiran eks kapal induk Italian Giuseppe Garibaldi membuka babak baru bagi Angkatan Laut Republik Indonesia. Persoalannya, bukan sekadar bagaimana mengoperasikan kapal besar sepanjang 180 meter yang mampu membawa puluhan helikopter atau jet tempur itu. Namun, pertanyaan lebih penting kapal induk perdana itu hendak digunakan seperti apa?

 

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026), menjadi saksi sejarah baru kekuatan laut Indonesia. Setelah pernah memiliki KRI Irian pada tahun 1960, kini Indonesia kembali memiliki kekuatan penggentar di lautan Nusantara. KRI Irian (bobot 16.600 ton) masih lebih berat dari Giuseppe Garibaldi 551 yang berbobot 13.850 ton.

 

Pada masa perjuangan Tri Komando Rakyat (Trikora) 1962, keberadaan KRI Irian dalam gugus tempur TNI AL memperkuat efek penggentar bagi RI. Kapal itu merupakan eks Uni Sovyet kelas Sverdlov yang merupakan bagian dari pembangunan kekuatan militer besar-besaran era Presiden Sukarno untuk meningkatkan kekuatan militer Indonesia.

 

Sejarah mencatat, kekuatan masif RI di laut dan udara pada masa itu, pesawat pengebom berat Tu-16, jet Mig 21, kapal selam, kapal torpedo cepat, hingga kapal tempur kelas berat telah ”memaksa” pihak sekutu khususnya Amerika Serikat untuk menekan Belanda agar melepas pendudukan Irian Barat dan mengakui kedaulatan RI di Irian.

 

Kini, dengan kehadiran kapal induk perdana di jajaran armada laut TNI AL, pertanyaan tentang arah penggunaan kapal itu menjadi strategis. Kapal induk itu baru mempunyai arti strategi apabila menjadi bagian dari suatu sistem, pesawat atau helikopter yang dioperasikan, kapal pengawal yang melindungi, sistem pengintaian, jaringan komando dan dukungan logistik yang memadai.

 

Dalam keterangan pers penyambutan di dermaga Tanjung Priok (18/9/2026), Kastaf TNI AL Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa kapal induk Giuseppe Garibaldi ini akan dipergunakan dominan untuk operasi militer selain perang (OMSP), seperti bantuan kemanusiaan, evakuasi, penanggulangan bencana hingga karhutla (kebakaran hutan dan lahan).

 

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas mengenai penanganan bencana di Jakarta, Senin, 7 September 2026, mengatakan, Giuseppe Garibaldi akan dimodifikasi untuk mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak (drone).

 

”Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran Angkatan Laut kita. Itu kita akan refurbish, kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone,” kata Prabowo saat itu.

 

Menurut rencana, kapal ini akan diserahterimakan secara resmi kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 24 September 2026. Setelah itu kapal akan memasuki tahap retrofit yang akan dilaksanakan PT PAL Surabaya bersama produsen kapal dari Fincantieri serta Leonardo dari Italia.

 

Kesadaran terhadap pentingnya doktrin yang matang juga sudah diantisipasi di lingkungan TNI AL. Pada 2 Desember 2025 Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) mengadakan seminar akhir pendidikan Reguler Angkatan ke-64 dengan tema yang sangat spesifik: ”Analisis Pengadaan kapal Induk Giuseppe Garibaldi bagi TNI Angkatan Laut: Implikasi Operasi, Diplomasi, dan Proyeksi Kekuatan Akhir”. Namun, naskah lengkap seminar tersebut belum tersedia bagi publik dan terlalu jauh apabila seminar tadi dianggap sebagai ”doktrin kapal induk” TNI AL.

 

Bagaimanapun, kekuatan militer dan pengaruh politik global berada di peringkat atas sebagai pemicu kebanggaan warga negara di negara-negara berkembang sebagaimana hasil riset International Social Survey Programme dari Gesis Leibniz Institute for Social Sciences tentang kebanggaan nasional. Rasa aman dan bangga karena mampu menjaga wilayah laut Indonesia yang sangat luas terbentuk dari sosok Angkatan Laut yang kuat.

 

Bukan ofensif

 

Jangan membayangkan kapal induk pertama Indonesia Giuseppe Garibaldi yang, menurut rencana, akan diberi nama KRI Sriwijaya adalah ”versi kecil” kapal induk Amerika Serikat yang ofensif. Kapal induk Amerika dibangun dengan tujuan menghadirkan kekuatan militer AS di belahan dunia yang jauh dari pangkalan-pangkalan militer AS.

 

Keberadaan kapal induk AS dengan total 10 kapal kelas Nimitz beroperasi yang rata-rata berbobot 100.000 ton atau tujuh kali lipat Giuseppe Garibaldi, dan 10 kapal induk berukuran lebih kecil, sesungguhnya merupakan kehadiran dari kekuatan militer AS itu sendiri. Dalam soal proyeksi kekuatan militer di luar teritori negara, AS adalah yang terkuat di dunia dengan total 20 kapal induk berbagai jenis yang mengangkut pesawat jet, helikopter, kendaraan tempur, rudal, hingga pasukan marinir.

 

Sebagai pusat carrier strike group, sekali armada sebuah kapal induk bergerak, ada puluhan pesawat jet tempur menjadi kekuatan utamanya dan sejumlah kapal-kapal lain mengelilinginya mulai dari jenis fregat, kapal jelajah, kapal selam hingga kapal logistik. Dalam peperangan di Selat Hormuz, misalnya, AS perlu mengerahkan dua gugus kapal induk untuk mengatasi kemampuan rudal balistik Iran.

 

Indonesia masih jauh dari konfigurasi ofensif militer kelas raksasa seperti itu, paling tidak dalam waktu dekat ini. Kapal induk yang dihibahkan oleh Pemerintah Italia itu memang pernah menjadi kebanggaan kawasan di Eropa pada masanya dan mengoperasikan belasan jet tempur AV-8B Harrier buatan Inggris serta berbagai jenis helikopter.

 

Namun, hingga saat ini, TNI belum memiliki satu pun pesawat jenis seperti jenis tertentu seperti Harrier atau jet stealth F-35B yang memiliki kemampuan meluncur dengan landasan pendek (V/STOL-Vertical/ Short Take-off and Landing) maupun naik turun secara vertikal (STOVL-Short Take-off and Vertical Landing). Yang paling realistis, menempatkan helikopter dan drone militer sebagai kekuatan utama kapal induk perdana tersebut jika dalam keadaan perang.

 

Garibaldi berpotensi menjadi tempat bertemunya kekuatan udara tiga matra. Pesawat atau helikopter tidak harus seluruhnya milik TNI AL. Penerbang AD dan AU dapat beroperasi dari kapal dengan prosedur yang diseragamkan. Dengan demikian, jika itu terjadi maka bisa terbentuk operasi gabungan dari laut.

 

Fungsi lainnya yakni komando dan pengintaian, di mana kapal induk tidak hanya membawa helikopter, tetapi juga pesawat UAV dan unsur lain. Hal ini sejalan dengan latihan TNI AL yang semakin menekankan ISR (intelligence, survelillance, and reconnaissance) serta pengiriman gambar situasi secara real time. Fungsi logistik dan diplomasi juga dapat dijalankan kapal induk Garibaldi. Kapal ini bisa menjadi sarana latihan bersama, evakuasi warga negara, bantuan kemanusiaan dan diplomasi pertahanan.

 

TNI sudah melakukan latihan Ship Board Operation menggunakan Super Puma TNI AU dan Bell 412 TNI AD di atas KRI Makassar pada Agustus 2026. Hal ini sesuai dengan pernyataan pada penggunaan sebagai pusat komando operasi udara gabungan di laut. Hal itu memberikan petunjuk penting bahwa Indonesia tampaknya akan lebih banyak menggunakan Giuseppe Garibaldi sebagai pangkalan udara bergerak di laut ketimbang pembawa pesawat tempur (fighter carrier).

 

Betapapun, Garibaldi akan bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung berupa pembiayaan, sumber daya manusia dan infrastruktur. Analisis sementara menyebut biaya operasi dan pemeliharaan bisa mencapai Rp 1 triliun hingga Rp 1,3 triliun per tahun. Anggota Komisi I DPR bahkan memperkirakan biaya operasional bisa tembus Rp 101 miliar per bulan, sementara retrofit mencapai Rp 7,2 triliun-Rp 16,8 triliun tergantung spesifikasi.

 

Negara lain

 

Saat ini ada 15 negara dengan total yang memiliki sekitar 50 kapal induk beroperasi dengan berbagai kategori kelas, mulai dari kelas kapal induk ringan (13.000-30.000 ton); medium carrier (40.000-65.000 ton) dan super carrier (di atas 70.000 ton).

 

Doktrin dasar kapal induk berkembang dari teori perang laut dan berbagai peperangan besar dunia, di mana sebuah kapal induk merupakan penyebaran kekuatan udara secara independen tanpa bergantung pada pangkalan di darat. Doktrin ini kemudian berkembang sesuai dengan kemampuan dan kepentingan negara pemilik kapal induk serta situasi geopolitik.

 

Paling tidak ada empat fungsi atau pola penggunaan utama kapal induk yang berlangsung di dunia, yaitu sebagai proyeksi/perpanjangan kekuatan militer negara pemilik kapal induk, sebagai sarana untuk efek penggentar (deterrence effect) dan kontrol laut (sea control), sebagai gugus tempur (carrier group strike) armada laut dan Diplomasi-Humanitarian berupa Operasi militer selain perang (OMSP) terutama di saat damai.

 

Sebagai efek penggentar misalnya, kapal induk bahkan bisa diperlakukan sebagai instrumen politik dan militer tertinggi mewakili sebuah negara atas negara lain dengan/untuk menguasai jalur laut strategis (choke points) sebagaimana yang saat ini sedang terjadi dalam konflik AS-Iran di Selat Hormuz.

 

Sejumlah negara memperlakukan kapal induk dengan cara berbeda. Di Italia, kapal induk Garibaldi bukan hanya menjadi landasan jet harrier untuk tinggal landas, melainkan juga fungsi komando dan kendali kekuatan laut dan udara. Kapal induk ini bahkan termasuk yang legendaris dan menjadi kebanggaan warga Italia ketika pertama diluncurkan tahun 1983.

 

Jepang dengan kapal induk kelas Izumo (27.000 ton) menempuh cara berbeda dengan kapal induknya. Izumo yang pada awalnya kelas pembawa helikopter kemudian dimodifikasi agar mampu mengoperasikan jet F-35B dalam konsep pertahanan lintas domain dan respons terhadap serangan udara. Ini berarti Jepang melakukan pergeseran doktrin atas Izumo dengan melakukan peningkatan/perombakan kemampuan secara besar-besaran.

 

Jepang merupakan negara dengan sejarah panjang memiliki kapal perang kelas berat dan pengangkut pesawat (aircraft carrier) yang menyamai bahkan beberapa melebihi Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Kapal perang Yamato dan Musashi meski bukan jenis pengangkut pesawat memiliki bobot 72.000 ton, lebih berat dari kapal perang kelas Iowa AS (57.000 ton) maupun 2 kali lipat berat kapal induk pesawat kelas Essex (36.000 ton).

 

AS sempat mendesain kapal perang kelas Montana dengan berat menyerupai kapal kelas Yamato Jepang, tetapi proyek ini dibatalkan pada tahun 1943 karena strategi AS yang memilih memprioritaskan pembuatan kapal induk pembawa pesawat. Kapal induk AS kelas Midway berbobot 60.000 ton baru meluncur pada September 1945, beberapa hari setelah Jepang menyerah kalah dalam PD II sehingga ”melewatkan” masa perang.

 

Kapal induk ”drone”

 

Berbeda lagi dengan kapal induk Turki, TCG Anadolu awalnya merupakan kapal serbu amfibi. Akibat Turki tak diizinkan memiliki F-35B oleh AS karena menerima sistem S-400 Rusia, negara itu mengembangkan konsep yang berbeda. Mereka mengubah Anadolu menjadi pusat operasi drone UAV. Maka jadilah Anadolu sebuah UCAV Carrier, dengan drone Bayraktar TB-3 sebagai salah satu unsur utamanya.

 

Dalam latihan perang Turki terbaru, drone TB3 tidak sekadar terbang tetapi melakukan serangan terhadap sasaran sebelum kembali mendarat di kapal induk. Hal itu disebut oleh militer Turki sebagai babak baru dalam peperangan laut, termasuk kemungkinan integrasi drone, operasi amfibi, dan wahana permukaan tanpa awak.

 

Pendekatan tersebut mengubah konsep ”berapa banyak jet tempur yang bisa dibawa kapal induk” sebagaimana lazimnya, dengan ”berapa banyak sensor dan drone serang yang dapat diproyeksikan dari laut”. Perkembangan drone dengan berbagai kemampuan yang sangat efektif dalam perang Rusia-Ukraina menempatkan kekuatan drone menjadi strategis dalam peperangan modern.

 

Bayangkan, kekuatan militer dan ekonomi sebuah negara bisa dihancurkan oleh negara lain yang lebih minor dengan bantuan armada nirawak. Ukraina saat ini menjadi contoh negara paling maju dalam pemanfaatan drone dalam pertempuran, dan memiliki kemampuan mengoperasionalkan drone hingga ribuan kilometer ke dalam teritorial lawan.

 

Pembanding terakhir adalah kapal induk negara tetangga, Thailand, HTMS Chakri Naruebet yang berdinas sejak 1997. Kapal induk satu-satunya angkatan laut Kerajaan Thailand itu pada awalnya juga membawa jet VSTOL Harrier, tetapi dalam perjalanannya hanya segelintir yang benar-benar bisa beroperasi. Kendala pendanaan dan teknis membuat kapal induk itu akhirnya lebih dominan membawa helikopter.

 

Selain itu Chakri lebih banyak digunakan sebagai kapal bantuan bencana alam termasuk membantu korban Topan Zita dan Linda tahun 1997 serta tsunami 2004. Sampai 2025, kapal Chakri masih berfungsi sebagai operasi bantuan bencana dan menjadi markas helikopter.

 

Pengalaman Thailand menunjukkan sisi lain kepemilikan kapal induk tanpa ekosistem penerbangan yang memadai, membuat fungsi kapal dapat bergeser jauh dari desain awal. Bukan berarti kapal kehilangan seluruh kegunaannya, tetapi menunjukkan bahwa nilai sebuah carrier pada akhirnya sangat bergantung pada apa yang berada di geladaknya dan seberapa efektif itu berlangsung. ●

 

Sumber : https://www.kompas.id/artikel/mencari-doktrin-kapal-induk-pertama-di-indonesia?open_from=Riset_Litbang_Page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar