|
Mencari Doktrin Kapal Induk Pertama di
Indonesia M
Toto Suryaningtyas : Litbang Kompas |
KOMPAS, 21 September 2026
|
Babak baru pertahanan Indonesia dengan kehadiran kapal induk
pertama. Kehadiran eks kapal induk Italian Giuseppe Garibaldi membuka
babak baru bagi Angkatan Laut Republik Indonesia. Persoalannya, bukan sekadar
bagaimana mengoperasikan kapal besar sepanjang 180 meter yang mampu membawa
puluhan helikopter atau jet tempur itu. Namun, pertanyaan lebih penting kapal
induk perdana itu hendak digunakan seperti apa? Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026), menjadi
saksi sejarah baru kekuatan laut Indonesia. Setelah pernah memiliki KRI Irian
pada tahun 1960, kini Indonesia kembali memiliki kekuatan penggentar di
lautan Nusantara. KRI Irian (bobot 16.600 ton) masih lebih berat dari
Giuseppe Garibaldi 551 yang berbobot 13.850 ton. Pada masa perjuangan Tri Komando Rakyat (Trikora) 1962,
keberadaan KRI Irian dalam gugus tempur TNI AL memperkuat efek penggentar
bagi RI. Kapal itu merupakan eks Uni Sovyet kelas Sverdlov yang merupakan
bagian dari pembangunan kekuatan militer besar-besaran era Presiden Sukarno
untuk meningkatkan kekuatan militer Indonesia. Sejarah mencatat, kekuatan masif RI di laut dan udara pada masa
itu, pesawat pengebom berat Tu-16, jet Mig 21, kapal selam, kapal torpedo
cepat, hingga kapal tempur kelas berat telah ”memaksa” pihak sekutu khususnya
Amerika Serikat untuk menekan Belanda agar melepas pendudukan Irian Barat dan
mengakui kedaulatan RI di Irian. Kini, dengan kehadiran kapal induk perdana di jajaran armada laut
TNI AL, pertanyaan tentang arah penggunaan kapal itu menjadi strategis. Kapal
induk itu baru mempunyai arti strategi apabila menjadi bagian dari suatu
sistem, pesawat atau helikopter yang dioperasikan, kapal pengawal yang
melindungi, sistem pengintaian, jaringan komando dan dukungan logistik yang
memadai. Dalam keterangan pers penyambutan di dermaga Tanjung Priok
(18/9/2026), Kastaf TNI AL Laksamana Muhammad Ali menyatakan bahwa kapal
induk Giuseppe Garibaldi ini akan dipergunakan dominan untuk operasi militer
selain perang (OMSP), seperti bantuan kemanusiaan, evakuasi, penanggulangan
bencana hingga karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas
mengenai penanganan bencana di Jakarta, Senin, 7 September 2026, mengatakan,
Giuseppe Garibaldi akan dimodifikasi untuk mendukung pengoperasian helikopter
dan pesawat nirawak (drone). ”Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk
ke jajaran Angkatan Laut kita. Itu kita akan refurbish, kita ubah untuk
menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone,” kata Prabowo saat itu. Menurut rencana, kapal ini akan diserahterimakan secara resmi
kepada Pemerintah Indonesia pada tanggal 24 September 2026. Setelah itu kapal
akan memasuki tahap retrofit yang akan dilaksanakan PT PAL Surabaya bersama
produsen kapal dari Fincantieri serta Leonardo dari Italia. Kesadaran terhadap pentingnya doktrin yang matang juga sudah
diantisipasi di lingkungan TNI AL. Pada 2 Desember 2025 Sekolah Staf dan
Komando Angkatan Laut (Seskoal) mengadakan seminar akhir pendidikan Reguler
Angkatan ke-64 dengan tema yang sangat spesifik: ”Analisis Pengadaan kapal
Induk Giuseppe Garibaldi bagi TNI Angkatan Laut: Implikasi Operasi,
Diplomasi, dan Proyeksi Kekuatan Akhir”. Namun, naskah lengkap seminar
tersebut belum tersedia bagi publik dan terlalu jauh apabila seminar tadi
dianggap sebagai ”doktrin kapal induk” TNI AL. Bagaimanapun, kekuatan militer dan pengaruh politik global berada
di peringkat atas sebagai pemicu kebanggaan warga negara di negara-negara
berkembang sebagaimana hasil riset International Social Survey Programme dari
Gesis Leibniz Institute for Social Sciences tentang kebanggaan nasional. Rasa
aman dan bangga karena mampu menjaga wilayah laut Indonesia yang sangat luas
terbentuk dari sosok Angkatan Laut yang kuat. Bukan ofensif Jangan membayangkan kapal induk pertama Indonesia Giuseppe
Garibaldi yang, menurut rencana, akan diberi nama KRI Sriwijaya adalah ”versi
kecil” kapal induk Amerika Serikat yang ofensif. Kapal induk Amerika dibangun
dengan tujuan menghadirkan kekuatan militer AS di belahan dunia yang jauh
dari pangkalan-pangkalan militer AS. Keberadaan kapal induk AS dengan total 10 kapal kelas Nimitz
beroperasi yang rata-rata berbobot 100.000 ton atau tujuh kali lipat Giuseppe
Garibaldi, dan 10 kapal induk berukuran lebih kecil, sesungguhnya merupakan
kehadiran dari kekuatan militer AS itu sendiri. Dalam soal proyeksi kekuatan
militer di luar teritori negara, AS adalah yang terkuat di dunia dengan total
20 kapal induk berbagai jenis yang mengangkut pesawat jet, helikopter,
kendaraan tempur, rudal, hingga pasukan marinir. Sebagai pusat carrier strike group, sekali armada sebuah kapal
induk bergerak, ada puluhan pesawat jet tempur menjadi kekuatan utamanya dan
sejumlah kapal-kapal lain mengelilinginya mulai dari jenis fregat, kapal
jelajah, kapal selam hingga kapal logistik. Dalam peperangan di Selat Hormuz,
misalnya, AS perlu mengerahkan dua gugus kapal induk untuk mengatasi
kemampuan rudal balistik Iran. Indonesia masih jauh dari konfigurasi ofensif militer kelas
raksasa seperti itu, paling tidak dalam waktu dekat ini. Kapal induk yang
dihibahkan oleh Pemerintah Italia itu memang pernah menjadi kebanggaan
kawasan di Eropa pada masanya dan mengoperasikan belasan jet tempur AV-8B
Harrier buatan Inggris serta berbagai jenis helikopter. Namun, hingga saat ini, TNI belum memiliki satu pun pesawat jenis
seperti jenis tertentu seperti Harrier atau jet stealth F-35B yang memiliki
kemampuan meluncur dengan landasan pendek (V/STOL-Vertical/ Short Take-off
and Landing) maupun naik turun secara vertikal (STOVL-Short Take-off and
Vertical Landing). Yang paling realistis, menempatkan helikopter dan drone
militer sebagai kekuatan utama kapal induk perdana tersebut jika dalam
keadaan perang. Garibaldi berpotensi menjadi tempat bertemunya kekuatan udara
tiga matra. Pesawat atau helikopter tidak harus seluruhnya milik TNI AL.
Penerbang AD dan AU dapat beroperasi dari kapal dengan prosedur yang
diseragamkan. Dengan demikian, jika itu terjadi maka bisa terbentuk operasi
gabungan dari laut. Fungsi lainnya yakni komando dan pengintaian, di mana kapal induk
tidak hanya membawa helikopter, tetapi juga pesawat UAV dan unsur lain. Hal
ini sejalan dengan latihan TNI AL yang semakin menekankan ISR (intelligence,
survelillance, and reconnaissance) serta pengiriman gambar situasi secara
real time. Fungsi logistik dan diplomasi juga dapat dijalankan kapal induk
Garibaldi. Kapal ini bisa menjadi sarana latihan bersama, evakuasi warga
negara, bantuan kemanusiaan dan diplomasi pertahanan. TNI sudah melakukan latihan Ship Board Operation menggunakan
Super Puma TNI AU dan Bell 412 TNI AD di atas KRI Makassar pada Agustus 2026.
Hal ini sesuai dengan pernyataan pada penggunaan sebagai pusat komando
operasi udara gabungan di laut. Hal itu memberikan petunjuk penting bahwa
Indonesia tampaknya akan lebih banyak menggunakan Giuseppe Garibaldi sebagai
pangkalan udara bergerak di laut ketimbang pembawa pesawat tempur (fighter
carrier). Betapapun, Garibaldi akan bergantung pada kesiapan ekosistem
pendukung berupa pembiayaan, sumber daya manusia dan infrastruktur. Analisis
sementara menyebut biaya operasi dan pemeliharaan bisa mencapai Rp 1 triliun
hingga Rp 1,3 triliun per tahun. Anggota Komisi I DPR bahkan memperkirakan
biaya operasional bisa tembus Rp 101 miliar per bulan, sementara retrofit
mencapai Rp 7,2 triliun-Rp 16,8 triliun tergantung spesifikasi. Negara lain Saat ini ada 15 negara dengan total yang memiliki sekitar 50
kapal induk beroperasi dengan berbagai kategori kelas, mulai dari kelas kapal
induk ringan (13.000-30.000 ton); medium carrier (40.000-65.000 ton) dan
super carrier (di atas 70.000 ton). Doktrin dasar kapal induk berkembang dari teori perang laut dan
berbagai peperangan besar dunia, di mana sebuah kapal induk merupakan
penyebaran kekuatan udara secara independen tanpa bergantung pada pangkalan
di darat. Doktrin ini kemudian berkembang sesuai dengan kemampuan dan
kepentingan negara pemilik kapal induk serta situasi geopolitik. Paling tidak ada empat fungsi atau pola penggunaan utama kapal
induk yang berlangsung di dunia, yaitu sebagai proyeksi/perpanjangan kekuatan
militer negara pemilik kapal induk, sebagai sarana untuk efek penggentar
(deterrence effect) dan kontrol laut (sea control), sebagai gugus tempur
(carrier group strike) armada laut dan Diplomasi-Humanitarian berupa Operasi
militer selain perang (OMSP) terutama di saat damai. Sebagai efek penggentar misalnya, kapal induk bahkan bisa
diperlakukan sebagai instrumen politik dan militer tertinggi mewakili sebuah
negara atas negara lain dengan/untuk menguasai jalur laut strategis (choke
points) sebagaimana yang saat ini sedang terjadi dalam konflik AS-Iran di
Selat Hormuz. Sejumlah negara memperlakukan kapal induk dengan cara berbeda. Di
Italia, kapal induk Garibaldi bukan hanya menjadi landasan jet harrier untuk
tinggal landas, melainkan juga fungsi komando dan kendali kekuatan laut dan udara.
Kapal induk ini bahkan termasuk yang legendaris dan menjadi kebanggaan warga
Italia ketika pertama diluncurkan tahun 1983. Jepang dengan kapal induk kelas Izumo (27.000 ton) menempuh cara
berbeda dengan kapal induknya. Izumo yang pada awalnya kelas pembawa
helikopter kemudian dimodifikasi agar mampu mengoperasikan jet F-35B dalam
konsep pertahanan lintas domain dan respons terhadap serangan udara. Ini
berarti Jepang melakukan pergeseran doktrin atas Izumo dengan melakukan
peningkatan/perombakan kemampuan secara besar-besaran. Jepang merupakan negara dengan sejarah panjang memiliki kapal
perang kelas berat dan pengangkut pesawat (aircraft carrier) yang menyamai
bahkan beberapa melebihi Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. Kapal perang
Yamato dan Musashi meski bukan jenis pengangkut pesawat memiliki bobot 72.000
ton, lebih berat dari kapal perang kelas Iowa AS (57.000 ton) maupun 2 kali
lipat berat kapal induk pesawat kelas Essex (36.000 ton). AS sempat mendesain kapal perang kelas Montana dengan berat
menyerupai kapal kelas Yamato Jepang, tetapi proyek ini dibatalkan pada tahun
1943 karena strategi AS yang memilih memprioritaskan pembuatan kapal induk
pembawa pesawat. Kapal induk AS kelas Midway berbobot 60.000 ton baru
meluncur pada September 1945, beberapa hari setelah Jepang menyerah kalah
dalam PD II sehingga ”melewatkan” masa perang. Kapal induk ”drone” Berbeda lagi dengan kapal induk Turki, TCG Anadolu awalnya
merupakan kapal serbu amfibi. Akibat Turki tak diizinkan memiliki F-35B oleh
AS karena menerima sistem S-400 Rusia, negara itu mengembangkan konsep yang
berbeda. Mereka mengubah Anadolu menjadi pusat operasi drone UAV. Maka
jadilah Anadolu sebuah UCAV Carrier, dengan drone Bayraktar TB-3 sebagai
salah satu unsur utamanya. Dalam latihan perang Turki terbaru, drone TB3 tidak sekadar
terbang tetapi melakukan serangan terhadap sasaran sebelum kembali mendarat
di kapal induk. Hal itu disebut oleh militer Turki sebagai babak baru dalam
peperangan laut, termasuk kemungkinan integrasi drone, operasi amfibi, dan
wahana permukaan tanpa awak. Pendekatan tersebut mengubah konsep ”berapa banyak jet tempur
yang bisa dibawa kapal induk” sebagaimana lazimnya, dengan ”berapa banyak
sensor dan drone serang yang dapat diproyeksikan dari laut”. Perkembangan
drone dengan berbagai kemampuan yang sangat efektif dalam perang
Rusia-Ukraina menempatkan kekuatan drone menjadi strategis dalam peperangan
modern. Bayangkan, kekuatan militer dan ekonomi sebuah negara bisa
dihancurkan oleh negara lain yang lebih minor dengan bantuan armada nirawak.
Ukraina saat ini menjadi contoh negara paling maju dalam pemanfaatan drone
dalam pertempuran, dan memiliki kemampuan mengoperasionalkan drone hingga
ribuan kilometer ke dalam teritorial lawan. Pembanding terakhir adalah kapal induk negara tetangga, Thailand,
HTMS Chakri Naruebet yang berdinas sejak 1997. Kapal induk satu-satunya
angkatan laut Kerajaan Thailand itu pada awalnya juga membawa jet VSTOL
Harrier, tetapi dalam perjalanannya hanya segelintir yang benar-benar bisa
beroperasi. Kendala pendanaan dan teknis membuat kapal induk itu akhirnya
lebih dominan membawa helikopter. Selain itu Chakri lebih banyak digunakan sebagai kapal bantuan
bencana alam termasuk membantu korban Topan Zita dan Linda tahun 1997 serta
tsunami 2004. Sampai 2025, kapal Chakri masih berfungsi sebagai operasi
bantuan bencana dan menjadi markas helikopter. Pengalaman Thailand menunjukkan sisi lain kepemilikan kapal induk
tanpa ekosistem penerbangan yang memadai, membuat fungsi kapal dapat bergeser
jauh dari desain awal. Bukan berarti kapal kehilangan seluruh kegunaannya,
tetapi menunjukkan bahwa nilai sebuah carrier pada akhirnya sangat bergantung
pada apa yang berada di geladaknya dan seberapa efektif itu berlangsung. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/mencari-doktrin-kapal-induk-pertama-di-indonesia?open_from=Riset_Litbang_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar