|
Ternyata,
Tak Mudah Menjadi Fasis Robertus Robet : Sosiolog
Universitas Negeri Jakarta. Ia salah satu anggota tim evaluator editorial
Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 13 September 2026
|
· Benarkah pemerintahan Indonesia
sekarang sudah masuk tahap fasisme? Artikel ini mengulas dengan kritis cap
itu. · Bahkan rezim Soeharto sulit menjadi
rezim fasis, bukan karena ia tak mau, melainkan karena tak mampu. · Fasisme tidak sekadar menawarkan masa
depan, ia menawarkannya melalui pengorganisasian ingatan massal tentang
penderitaan, kekalahan, dan kepahitan masa lalu. TIDAK
gampang menjadi fasis. Fasisme mensyaratkan bukan hanya ideologi, politik,
dan teknik kekuasaan, melainkan juga estetika. Kata Susan Sontag, kita
terlalu gampangan memahami fasisme, menyederhanakannya sekadar sebagai
kekerasan, teror, dan rasisme. Padahal di balik semua itu ada estetika
politis: cita-cita tentang kesempurnaan tubuh, kedigdayaan, disiplin,
pengorbanan, kepatuhan, ritual, pemimpin yang mempesona, parade, dan
kematian. Fasisme memiliki
daya pikat yang tidak dapat semata-mata dijelaskan melalui rasionalitas
politik. Ia membuat politik menjadi karnaval megah, ritual yang sarat
pengalaman emosional. Kata Sontag, fasisme memiliki kemampuan mengambil alih
politik serta mengubahnya menjadi estetika. Massa ditransformasikan dari
kumpulan individu menjadi koreografi satu tubuh kolektif, patuh di bawah
pemimpin dalam ekstase ideologis. Fasisme
bukan sekadar pemerintahan yang keras, melainkan juga suatu proyek politik
komprehensif untuk menggantikan pluralisme dengan totalitas kesatuan nasional
di bawah pemimpin tunggal. Jangan bayangkan sebuah pemerintahan otokrat yang
inkompeten sebagai rezim fasis. Otoritarianisme
membatasi dan menekan oposisi, tapi fasis memandang oposisi sebagai elemen
yang haram secara ontologis. Seorang otokrat selalu punya obsesi untuk
mengkonsentrasikan dan mempersonalisasi kekuasaan—tapi ini bukan fasis. Fasis
lebih dari itu. Ia membutuhkan kemampuan mengkreasi, mengorganisasi secara
total, memobilisasi, mendisiplinkan, dan mengintegrasikan kehidupan
masyarakat dalam satu proyek politik bersama. Pengertian
fasisme paling pas diterangkan oleh Roger Griffin. Menurut dia, fasisme
adalah a political ideology whose mythic core in its various permutations is
a palingenetic form of populist ultra-nationalism. Ia bukan sekadar bentuk
pemerintahan, melainkan suatu ideologi yang terkonsolidasi di bawah naungan
mitos kelahiran kembali sebuah bangsa melalui revolusi dan pemurnian, dengan
melibatkan gerakan massa (populis). Ia tidak
sekadar menawarkan masa depan, ia menawarkannya melalui pengorganisasian
ingatan massal tentang penderitaan, kekalahan, dan kepahitan masa lalu.
Masyarakat dan manusia baru bagi fasisme bukan sekadar konstruksi sosial,
ekonomi, dan politik, melainkan juga fisik dan biologis. Itu sebabnya rasisme
adalah syarat mutlak fasisme. Fasisme
Hitler memiliki akar historis dalam kekalahan yang pahit di Perang Dunia
Pertama, diikuti dengan runtuhnya monarki dan munculnya demokrasi liberal
serta menguatnya kaum kiri. Semua pengalaman pahit itu bertemu dengan mitos
dolchstoßlegende, “tikaman dari belakang”, yang di tahun 1919 sudah
digembar-gemborkan oleh mantan panglima Angkatan Darat Jerman, Paul von
Hindenburg. Mitos
ini memberikan dalih politis bahwa kekalahan dan kepahitan Jerman tidak
disebabkan oleh musuh dari luar, tapi oleh pengkhianatan dari dalam. Dalam
konteks semacam itu, Hitler dengan mudah menemukan kambing hitam kegagalan
Jerman dalam figur historis kaum Yahudi. Mitos ini menemukan jalan yang mudah
mengingat di masa itu kebencian serta teori konspirasi tentang Yahudi dan
kaum kiri telah sedemikian rupa berkerak dan mengotori udara politik Jerman. Dengan
kata lain, selalu ada dimensi nostalgis dalam fasisme: ia dimulai dari tekad
untuk membawa seluruh bangsa mengatasi trauma, mencucinya dari ras yang tidak
“higienis”, membangun manusia baru yang tangguh dan estetik dalam kesatuan
total dengan pemimpin istimewa. Banyak
kritik menyebut pemerintahan sekarang adalah pemerintahan fasis. Ini julukan
yang “terlalu hebat”. Bahkan rezim Soeharto sekalipun sulit disebut sebagai
rezim fasis. Bukan lantaran ia tak mau, melainkan lebih karena ia tak mampu. Populisme
dan ultranasionalisme memang merupakan ideal yang by default ada dalam
sebagian politikus di Indonesia, tapi ketergantungan pada modal asing serta
fragmentasi sosial, budaya, dan politik menghasilkan biaya besar yang membuat
proyek totalisasi terlalu mahal dan menjadi tak mungkin. Setidaknya,
dalam 20 tahun terakhir, tidak ada “kepahitan” kolektif yang bisa dijadikan
justifikasi untuk mengklaim aib sejarah bagi sentimen politik nostalgis
fasis. Apalagi jika kita pakai kata-kata Sontag, elite Indonesia tidak
memiliki fantasi yang cukup sublim dan estetis untuk memenuhi syarat sebagai
seorang fasis. Indonesia
pernah punya Partai Fasis Indonesia yang didirikan oleh Notonidito di tahun
1933 yang bermimpi membangkitkan kejayaan Majapahit, Mataram, dan Sriwijaya.
Tapi, belum genap setahun, partai ini langsung dilabrak oleh Partai Nasional
Indonesia dan bubar dengan sendirinya. Partai Nazi Jerman (NSDAP) juga pernah
membuka cabang di Batavia tahun 1930-an, tapi ditutup oleh pemerintahan
kolonial Belanda pada Mei 1940. Dalam
sejarah, pemimpin humanis seperti Sutan Sjahrir juga pernah mengkritik
kecenderungan ultranasionalis yang menggebu-gebu serta kebiasaan
baris-berbaris di kalangan kaum muda. “Kita harus membersihkan pengaruh
fasisme Jepang dan feodalisme dari jiwa rakyat kita, sebab kemerdekaan tidak
ada artinya jika rakyat tetap terjajah oleh mentalitas diktator dan tirani.” Fasisme
di Indonesia lebih bersifat residual; mental fasis ketimbang struktur fasis.
Mental fasis mengendap bukan hanya di kalangan pemimpin dan alat-alatnya,
melainkan juga dalam semua politik yang mengagungkan orang kuat, kekerasan,
kejayaan masa lalu, dan kebencian rasial. Yang
pasti, politikus Indonesia lebih mudah untuk “anti-Barat”, lupa bahwa sikap
demikian jangan-jangan justru diwariskan oleh budaya imperialis fasisme
Jepang. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/pemerintahan-fasis-otoritarianisme-2286792 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar