Tampilkan postingan dengan label Gunawan Raharja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunawan Raharja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2015

PK dan Menertawakan Keberagaman

PK dan Menertawakan Keberagaman

Gunawan Raharja  ;  Buruh Film
KOMPAS, 11 Mei 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

PK bukan singkatan dari istilah hukum pengajuan kembali. PK ini adalah judul film India yang baru-baru ini diputar di bioskop.

Menceritakan tentang seorang laki-laki yang dinamakan PK (diperankan oleh Amir Khan) yang artinya mabuk. Ia berasal dari planet lain dan turun ke Bumi. Masalah menjadi ruwet ketika remote control yang menjadi alat komunikasi dengan planetnya direbut orang. Jadilah dia luntang lantung di Bumi ini.

Pertemuannya dengan tokoh Jaggu (Anushka Sharma), seorang jurnalis TV membuat film ini semakin menelanjangi kehidupan masa kini. Ada praktik kebusukan dari tokoh polisi yang menerima suap, sampai bagaimana institusi agama yang dipuja ternyata tidak lebih dari sekadar manifestasi dari idiom Tuhan yang dikomersialkan.

Film ini mengaduk-aduk hakikat agama dan Tuhan. Awalnya bercerita tentang makhluk planet yang nyasar ke Bumi dan harus belajar tatanan hidup ala manusia. Dari bagaimana memakai baju-karena ia turun ke Bumi dalam kondisi telanjang-sampai mati-matian belajar bahasa.

Logika manusia tentang agama dan Tuhan diobrak-abrik oleh tokoh ini. Ia mencari Tuhan karena, menurut manusia, hanya Dia yang bisa menolong.

Sutradara dan penulis skenario Rajkumar Hirani genius untuk tidak menjadikan karakter PK sebagai manusia. Karena ia makhluk luar angkasa, dengan mudah ia bisa menjungkirbalikkan logika, menertawakan, bahkan membuat aturan-aturannya sendiri. Film ini mengalir dengan cerdas dan menjadikan manusia Bumi sebagai obyek ketololannya sendiri. Agama dan norma menjadi bahan dagelan.

Film adalah bahasa universal. Ia bisa menjadi jembatan perbedaan kebudayaan dan peradaban tanpa melihat batas wilayah. Dari zaman Hitler yang menjadikan film sebagai alat propaganda, sampai Hollywood yang memulai film sebagai industri hiburan bernilai jutaan dollar.

Film juga dianggap sebagai media cuci otak sampai penyebar ideologi tertentu oleh sebagian kalangan. Generasi yang lahir di Orde Baru tentu ingat ketika diharuskan menyaksikan film Pengkhianatan G30S PKI. Atau "ketakutan" badan sensor terhadap film Joshua Oppenheimer sehingga merasa perlu untuk melarang pemutaran filmnya, pun pada kalangan yang terbatas.

Memahami keberagaman

Bagaimana memahami sebuah diktum, agama atau ajaran dan sebangsanya yang sudah diyakini kebenarannya oleh umatnya?

Penjungkirbalikan atas kepercayaan tersebut akan memunculkan pertentangan atau chaos. Sudah terlalu banyak bukti bahwa ketika agama atau ajaran dipertentangkan, muncul perang besar atau kisruh.

Manusia cenderung untuk melihat perbedaan dengan makna baru, misalnya harmoni di atas ketidaksamaan atau berbeda satu-satu. Berusaha untuk memaknai sebuah perbedaan dengan mencoba untuk diam, tidak saling mengganggu. Jika muncul persoalan yang berkaitan dengan hal itu, cara yang paling mudah adalah dengan duduk bersama, mencoba untuk menahan diri. Biasanya persoalan tersebut akan selesai sementara. Akan tetapi, akar konflik tetap ada karena memang persoalan tidak diselesaikan secara tuntas.

Film PK memberikan keleluasaan wacana di antara berbagai persoalan keberagaman agama di India. Bagaimana PK bertemu dengan tokoh agama bernama Tapasvi-Ji (yang diperankan oleh Saurabh Shukla) yang menjadi pusat konflik film ini, beradu pendapat tidak untuk mencari siapa yang benar, tetapi demi mengedepankan berbagai pertanyaan sekaligus jawaban yang menarik. PK memberi istilah salah sambung terhadap berbagai interpertasi eksistensi Tuhan. Menurut dia, agama dan Tuhan tergantung kepada siapa yang menginterpertasikannya, dalam hal ini para tokoh agama.

Ini adalah salah satu cara untuk memahami keberagaman. India adalah bangsa negara dengan banyak suku dan agama. Hampir sama dengan Indonesia.

Dalam PK semua perbedaan agama dalam keberagaman itu menjadi sebuah cerita yang menarik. Penonton dalam berbagai perbedaan tidak merasa bahwa mereka hadir terwakili dalam film tersebut.

Memahami sebuah keberagaman menjadi hal penting dalam pluralisme agama, yang masih saja menjadi akar persoalan sejak Orde Lama dan eskalasinya semakin meningkat setelah era reformasi. Ini menarik karena dengan terbukanya banyak hal -termasuk agama-seharusnya perbincangan yang sifatnya dialogis dan praktis bisa dilakukan dalam berbagai forum. Tidak harus dalam bentuk forum lintas agama yang formal, tetapi juga dalam bentuk yang berbeda, misalnya dengan film atau model berkesenian lainnya.

Perlu kelegaan hati untuk sadar dan paham bahwa sebuah masalah bisa dikemas dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Film adalah bahasa yang gampang, tanpa mengenal batasan usia atau tingkat intelektualitas tertentu. Hanya memang harus ada keleluasaan paradigmatis, yakni tetap melihat urgensi film sebagai bentukan hiburan.

Film Hijab karya sutradara Hanung Bramantyo beberapa waktu lalu dihujat. Karena dianggap melakukan pencitraan terhadap hijab dengan cara yang salah. Tentu saja itu menjadi hak penonton untuk mengkritik film yang ditontonnya. Akan tetapi, yang perlu dilihat dari sisi yang positif adalah bagaimana seorang kreator berusaha untuk menangkap tren hijab ini sebagai bagian dari salah satu ritual beragama. Persoalan kemasan menjadi diskusi panjang, tergantung dari sisi mana melihatnya.

Tidak lepas hujatan

Film PK juga tidak lepas dari hujatan. All Indian Moslem Personal Law Board (AIMPLB) sebuah organisasi Islam non-pemerintah menyatakan bahwa komite sensor film seharusnya mempertimbangkan aspek non- estetika dalam film tersebut.

Kecaman juga dilontarkan oleh kelompok masyarakat Sayap Kanan Hindu, yaitu Janajagruti Samiti. Mereka mengatakan bahwa PK sudah menyakiti sentimen masyarakat mayoritas India yang beragama Hindu. Namun, film ini tetap beredar di bioskop India, bahkan meraih box office.

Mari mensyukuri keberagaman karena keberagaman bukanlah sebuah perbedaan dengan dimaknai secara kasat mata. Keberagaman adalah sebuah kekayaan teks dan wacana yang membuat peradaban berwarna.

Ungkapan menarik pernah dikatakan oleh pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie. Pasangan ini mengadopsi tiga anak dari tiga negara yang berbeda, yakni Vietnam, Kamboja, dan Etiopia, sehingga total mereka mempunyai enam anak. Brad Pitt menyatakan bahwa ketiga anak kandungnya akan banyak belajar agama dan budaya dari saudara-saudaranya.

"Anak-anak saya akan tumbuh menjadi manusia yang paling mengerti tentang siapa dirinya, bagaimana isi dunia dan beragam agama yang ada," katanya (People, September 2014).

Proses menikmati keberagaman bukan hal yang mudah. Awalnya rentan akan friksi dan berujung pada masalah. Namun, memahami keberagaman sebagai sebuah kekayaan akan membuat manusia paham bahwa inilah proses sebuah peradaban. Bahwa segala sesuatu lahir dan ada karena adanya perbedaan. Seperti hakikat manusia yang lahir dengan fitrah laki-laki dan perempuan, untuk kemudian saling jatuh cinta dan meneruskan keturunannya. Kita ada karena keberagaman.

Senin, 23 Februari 2015

Melahirkan Kreativitas

Melahirkan Kreativitas

Gunawan Raharja ;  Seorang Buruh Film
KOMPAS, 20 Februari 2015

                                                                                                                                     
                                                

DI tengah kisruh politik, Presiden Joko Widodo melantik Triawan Munaf sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, di Istana Negara, akhir Januari lalu. Presiden menyampaikan bahwa Badan Ekonomi Kreatif diperlukan untuk memaksimalkan pendapatan negara.
Ekonomi kreatif bukan hal baru. Pemerintahan SBY pernah menghasilkan konsep Rencana Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia tahun 2025.

Disusun oleh para pelaku industri kreatif, program ini sudah dijalankan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak tahun 2009. Memang hasilnya belum maksimal, tetapi setidaknya niat untuk memajukan ekonomi kreatif sudah dimulai.

Jika diibaratkan buah, kreativitas tidak bisa hadir tanpa pohon dan akar yang kuat. Maka, menjadi sia-sia jika badan ini hanya berdiri sendiri, tidak menjadikan satu gerakan dari akar sampai ke buah, dari hulu ke hilir.

Yang terlupakan adalah, kreativitas lahir dari perjalanan panjang sang kreator menempa diri dengan disiplin kreatif dan estetika, tetapi hanya berakhir pada target pendapatan negara.

Maka, setidaknya ada dua pekerjaan rumah yang harus dipikirkan badan ini, yakni bagaimana melahirkan kreativitas sebagai modal dasar dan melakukan kerja kondusif dalam industri yang spesifik.

Percuma apabila sebuah industri kreatif hanya menjadi bagian dari industri biasa yang menisbikan peran manusia di dalamnya.

Industri kreatif tidak sama dengan industri lainnya. Di dalamnya terkandung orisinalitas, estetika, sains, dan teknologi. Keempat unsur ideal itu akan memunculkan sebuah produk kreativitas yang sehat. Oleh karena itu, jika memahami kreativitas hanya sebagai sebuah produk akhir, jadinya seperti menyederhanakan masalah.

Kesadaran kreatif

Kreativitas adalah kesadaran yang dipicu oleh banyak hal. Secara individu, seseorang akan kreatif ketika mereka dihadapkan pada banyak persoalan.

Kreativitas bahkan didefinisikan sebagai cara untuk menemukan solusi persoalan (Kumar, Pujar, dan Naganur dlm ”Creative Thinking Ability Among School Children”, IOSR Journal of Humanities and Social Science, hal 30-32 : 2014). Laporan tersebut juga menuliskan bahwa sumber daya manusia yang berkualitas adalah ketika mereka mempunyai keahlian serta kreatif.

Kreativitas akan tumbuh jika sejak kanak-kanak setiap individu dipicu mengembangkan kemampuan imajinasinya. Ada kebebasan ruang untuk kreatif tanpa sekat-sekat. Dimulai dari keluarga sebagai elemen terkecil masyarakat, seorang anak harus dibebaskan dari keseragaman.

Kebebasan juga bisa diartikan sebagai keleluasaan untuk menyatakan salah dan benar. Karena kreativitas bukan hukum yang baku, pernyataan salah hampir nisbi dalam kreativitas. Artinya, setiap individu mempunyai kebebasan untuk menyatakan berbagai dimensi dan warna. Abu-abu bisa menjadi hitam atau biru dalam sebuah telaah interpretasi.

Maka, kebebasan menjadi keanekarupaan. Dunia adalah multiwarna dan bentuk. Kesemuanya sah dan bebas dari klaim apa pun. Setiap orang mempunyai keleluasaan menyatakan keinginan bersuara dan berteriak, membentuk dimensi dan mewarnainya. Ketika semua dipersatukan, chaos itulah sebuah kreativitas.

Pendapatan negara

Fokus dari pembentukan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia adalah peningkatan pada pendapatan negara. Artinya, sasaran dari kebijakan badan pemerintah baru ini adalah bagaimana menjadikan ekonomi kreatif sebagai motor penggerak ekonomi, di samping sektor industri lainnya.

Namun, selama masih banyak pelaku kreatif yang melihat kreativitas dalam bahasan sempit, yakni sekadar upaya subyektif, tujuan Badan Ekonomi Kreatif tidak akan tercapai.

Salah satu tugas penting dari badan ini adalah bagaimana ”menjual” olah kreativitas dari kreator menjadi sebuah brand atau merek dagang yang siap dan layak dijual. Sebagai contoh, banyak kreator bidang kesenian tradisi yang gagap saat menjual hasil kreativitasnya.

Mereka mampu berkarya secara produktif, dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi gagal ketika dihadapkan pada bagaimana memasarkannya.

Badan ini harus memicu setiap anak bangsa untuk berani melahirkan karya baru. Namun, tanpa memotivasi dan mengajarkan tata alur memopulerkan karya mereka, sebuah karya kreatif hanya akan menjadi artefak jika tidak bisa diapresiasi oleh khalayak.

Upaya lain adalah berusaha memberdayakan kantong-kantong kreatif yang banyak bermunculan di berbagai daerah. Bidang film, misalnya, dari Aceh sampai Papua ada banyak sineas muda yang melahirkan film dengan tema film sederhana dan orisinal.

Namun, selama ini mereka memproduksi sampai memasarkannya sendiri karena sering berbenturan dengan kekuasaan industri hiburan yang lebih besar, misalnya monopoli peredaran film.

Salah satu pekerjaan rumah dari badan ini adalah menjadi media bagi kreator daerah yang jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota untuk bisa eksis berkarya dan menjual karyanya.

Banyak kreator potensial yang mampu melahirkan bentukan kreatif yang produktif, tetapi tidak mampu menemukan jalur yang tepat untuk memasarkan hasil karyanya. Juga kreator yang seharusnya mampu menjadi juru bicara atas nama kreativitas bangsa ini di dunia internasional, tetapi punya banyak keterbatasan.

Maka, gagal dan berhasilnya Badan Ekonomi Kreatif Indonesia akan ditentukan oleh kemampuannya menjadikan kreativitas dan kreator eksis, sekaligus menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan.

Senin, 14 Juli 2014

Berkesenian Itu Sendiri dan Kesepian

                        Berkesenian Itu Sendiri dan Kesepian

Gunawan Raharja  ;   Pekerja Film
KOMPAS, 13 Juli 2014
                                                


...APALAH ARTI — Kesenian, jika terpisah dari masalah sosial (WS Rendra)

Beberapa awak panggung Ketoprak Klana Bakti Budaya mulai membenahi peralatan panggungnya tengah malam itu. Mic yang digantung mulai dirapikan, beberapa gamelan tua ditutupi plastik dan panggung dibersihkan. Para penabuh gamelan  yang sebagian besar bukan kru tetap kelompok ini pun sudah bersiap-siap pulang. Ada yang tinggal di Madukismo,  dua jam dari kelompok ketoprak yang berlokasi di Desa Kalimati, Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman.

Didik dan istrinya, Siwuh, bersiap pulang. Ia memasukkan sejumlah
uang honor sebagai penabuh gamelan dan istrinya yang kadang menjaga loket. Jangan berharap untuk tahu berapa honor para awak panggung ketoprak tobong ini. Tiket pertunjukan seharga lima ribu rupiah selembar dan
malam ini ada tiga puluh tiga penonton. Lima ribu rupiah dikalikan tiga
puluh tiga penonton dibagi enam puluh awak panggung. Itulah honor pemain dan awaknya. Berapa biaya minimal hidup di Indonesia abad ke-21 ini?

Kami sempat berbincang sambil bertukar nomor telepon. Sesaat sebelum jalan, ia sempat berkata sambil tertawa. ”Seniman berkesenian itu puasnya cuma di rasa Mas. Uang carinya di tempat lain. Kalau ada seniman kaya tapi tidak punya rasa, itu namanya perajin kesenian.” Lalu menstarter sepeda motornya dan bersama istrinya ia berlalu menembus malam.

Kredo

Seniman mengabdikan dirinya pada karya dan merespons pada konteks kekinian yang mengacu pada masalah sosial. Kesenian menjadi pemicu bagi masyarakat untuk memahami persoalan-persoalan dalam masyarakat dengan bahasa nurani dan estetika. Tidak semua persoalan kemasyarakatan dan sosial yang selama ini menjadi bahan diskusi utama dimaknai sebagai informasi yang mudah diterima dan direspons oleh masyarakat. Dalam kondisi kekinian, berbagai problem sosial dan politik saling berkelindan satu sama lainnya dan tidak dapat dipisahkan.

 Berkesenian adalah cara bagi seniman untuk meneriakkan kata-kata atau membentuk persepsi sebuah persoalan dengan kerangka kreativitas. Pemahaman akan persoalan ditentukan oleh personalitas dan latar belakang keilmuannya. Maka pemaknaan tersebut akan menarik karena sebuah persoalan pasti akan direspons dengan cara yang berbeda.

Berkesenian adalah alat ucap yang mempunyai kesadaran dan konteks tersendiri. Bagi para senimannya, berkesenian menjadi media yang multifungsi. Di satu sisi menjadikan media ekspresi atas responsnya terhadap berbagai gejala dan pergeseran nilai-nilai, sekaligus menjadi media aktualisasi diri. Penelaahan atas respons tersebut membuat dirinya selalu melakukan sikap kritis dan sensitif terhadap berbagai perubahan.

Pemahaman terhadap perubahan tidak selalu sama. Seniman selalu melihat semua persoalan dari sisi yang berbeda. Mereka mempunyai kacamata tersendiri ketika melihat ketidakadilan dan ketidakberdayaan. Sering kali perbedaan pemahaman dan keinginan untuk menyuarakannya menjadi sikap yang kritis dan memunculkan kritik. Sikap itu sering kali menjadi bentuk baru dari perlawanan terhadap ketidakadilan yang sudah mapan.

Orde Baru adalah masa suram dalam keterbukaan politik. Sikap represif pemerintah terhadap berbagai gerakan perlawanan disikapi dengan berbagai pola kesenian. Maka pada saat itu lahirlah berbagai bentuk kesenian yang memolakan sikap-sikap tersebut. Gerakan tersebut seolah-olah membingkai dinamika baru dalam konteks seni. Maka lahirlah karya-karya yang mewakili berbagai gerakan tersebut, dalam bidang sastra, teater, ataupun seni rupa.

Perlawanan tersebut memunculkan konsekuensi tersendiri bagi para seniman. Pemerintah Orde Baru melihat gerakan itu sebagai ancaman terhadap stabilitas politik dan keamanan. Sehingga berbagai gerakan kesenian yang dianggap bertentangan mendapatkan pengawasan, bahkan pelarangan. Masa Orde Baru adalah saat di mana kesenian mendapatkan perlakuan khusus dari aparat keamanan. Budayawan dan pekerja teater Butet Kartaredjasa mengatakan bahwa sebuah pentas teater harus melewati dua belas meja untuk mendapatkan izin.

Prosesi kesenian selalu berbenturan dengan realitas hidup. Tidak semua seniman mempunyai kemewahan untuk melakukan eksplorasi berkeseniannya dengan total dan ”menisbikan” kebutuhan hidupnya. Bahkan banyak kisah seniman yang harus rela untuk mempertaruhkan semua harta bendanya untuk prinsip kreativitas dan estetika meskipun taruhannya bersitegang dengan keluarga.

Sendiri dan sepi

Kesetiaan pada ide dan pikiran membuat seniman harus melewati proses panjang dalam mengungkapkan bahasa berkeseniannya.  Berkontemplasi dalam riuh-rendahnya peradaban, selalu berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan esensial yang tidak pernah selesai. Keanehan seniman bukan sekadar bagian dari gaya hidup, melainkan karena mereka selalu berusaha mencari esensi dari setiap gerak dan napasnya yang nantinya dibahasakan dalam konsep berkeseniannya.

Tidak semua orang akan mengerti bagaimana seorang seniman menghadapi kehidupannya sendiri. Selalu bertanya dan mencari, sampai mereka menemukan  ide dan bentuk. Tenggelam dalam mencari itulah yang kemudian membuat seorang seniman seperti menemukan hidupnya sendiri. Kadang-kadang sikap itu membuatnya seolah-olah anti sosial, sulit untuk melakukan interaksi dengan pihak lain, bahkan dengan keluarga sendiri.

Sikap tersebut membuat mereka menjadi ”terpinggirkan”. Seorang seniman seperti mencari dunianya sendiri dan bahkan seperti terasing dari kehidupan riil. Sikap berkesenian dianggap sebuah ketidakwajaran. Mengabdi pada estetika dan kebenaran yang sifatnya personal mungkin juga justru bertentangan dengan kaidah umum. Seorang seniman yang akan menghasilkan karya seperti seorang ibu yang akan melahirkan anaknya. Menjadi sensitif dan susah ditebak maksudnya.

Berkesenian adalah sebuah kerelaan. Rela untuk tidak dipahami dan rela untuk tidak dimengerti. Tidak ada definisi yang tepat untuk mengatakan mengapa seorang seniman rela untuk menghabiskan hidupnya untuk sebuah konsep kesenian yang diyakininya. Dengan mengorbankan nilai riil yang dipahami manusia lainnya sebagai sinyal kebahagiaan. Ada seniman yang rela untuk berpisah dengan keluarganya, menghabiskan banyak uang atas nama kesenian.

Laura H Chaplan dalam Instant Art, Instant Culture: The Unspoken Policy for American Schools (1982) mengatakan bahwa kesenian mempunyai fungsi memberi arti pencerahan bagi masyarakat. Sebuah pencerahan tidak selalu diresepsi dengan tepuk tangan dan penghargaan di atas panggung. Bisa jadi hanya menjadi serpihan daun di atas tanah, yang hancur perlahan tetapi menjadi penyubur bagi bumi. ●

Minggu, 01 September 2013

Riset di Balik Sukses Film

Riset di Balik Sukses Film
Gunawan Raharja ;   Pekerja Film
KOMPAS, 31 Agustus 2013


Beberapa saat lalu, penulis menjadi salah satu pembicara dalam forum diskusi di LIPI dengan tema ”Film tentang Nasionalisme di Perbatasan”. Pembicaraan melebar menjadi pentingnya riset dalam sebuah produksi film setelah Asvi Warman Adam, peneliti senior LIPI yang juga menjadi pembicara, mengomentari film Tanah Surga. Katanya.
Menurut Asvi, beberapa adegan dan dialog dalam film tersebut meleset dari perspektif sejarah. Sebagai salah satu pekerja film yang terlibat dalam film tersebut, penulis menjawab bahwa memang ada banyak keterbatasan terutama dalam risetnya.
Belakangan ini, bioskop kita dipenuhi dengan film-film dengan latar belakang sejarah. Misalnya Sang Pencerah, Soegija, Sang Kyai, dan yang sebentar lagi beredar adalah film Soekarno. Film-film tersebut memberi tantangan para kreatornya untuk melakukan riset agar bisa memvisualkan apa yang terjadi di Indonesia pada masa lalu.
Riset adalah salah satu unsur dominan dalam produksi film. Riset bahkan menjadi kebutuhan penting sebelum proses kreatif lain dilakukan. Riset akan berpengaruh besar terhadap konsep cerita dan pembiayaan. Riset pula yang akan meyakinkan penonton bahwa kejadian di film tidak berbeda jauh dengan kondisi sebenarnya.
Fungsi riset
Idealnya, setiap produk film didukung riset mendalam. Dalam konteks melihat dan merekonstruksi masa lalu, maka tim periset akan mencari data dan informasi sebanyak mungkin terkait dengan tema film. Yang menjadi fokus penelitian biasanya adalah bentuk bangunan, pakaian, gaya rambut, dan berbagai peralatan.
Riset mengumpulkan pula informasi tentang adat dan kebiasaan setempat, lokasi atau tempat yang sesuai dengan kebutuhan cerita, sehingga penulis skenario bisa mendiskripsikannya dalam bentuk adegan dan dialog.
Bagi pemain film, riset berfungsi memberikan impuls ketika mereka melakukan bahasa tubuh tertentu. Misalnya saja, kebiasaan cara duduk jongkok perempuan Timor, atau bagaimana masyarakat di sana selalu berbicara dengan volume keras. Teknik tatap muka bisa menjadi salah satu caranya.
Penulis pernah mendampingi Christine Hakim menjelang produksi film Daun di Atas Bantal yang disutradarai Garin Nugroho. Ia memerankan tokoh Asih, seorang ibu asuh dari beberapa anak jalanan di Yogyakarta. Dengan intens Christine Hakim masuk dalam kehidupan mereka, makan bersama, dan bahkan beberapa kali berada di perempatan jalan depan Kantor Pos Yogyakarta untuk mengamen.
Hal yang sama dilakukan Alexandra Gottardo sebelum melakoni tokoh Tatiana di film Tanah Air Beta karya sutradara Ari Sihasale. Ia tinggal di kamp pengungsian di Haliwen Atambua untuk tahu bagaimana ibu-ibu pengungsi hidup sendiri dalam lingkungan pengungsian yang serba depresif dan kekurangan. Dalam kesehariannya, ia makan apa yang dimakan oleh para pengungsi tersebut dan mencuci bajunya sendiri di tempat yang sama.
Kreator film yang menisbikan riset akan melihat semua bahasa kreatif lewat interpretasinya sendiri. Hal yang paling mudah kita temukan adalah ketika kita menyaksikan film atau tayangan audio visual yang selalu menampilkan warna masa lalu dengan sephia atau warna kecoklatan tua. Warna kecoklatan atau cenderung gelap adalah interpretasi personal kreator tentang masa lalu. Padahal, masa lalu pun pasti mengenal warna-warna cerah, seperti merah atau jingga. Atau lihat kostum para pemeran yang cenderung sederhana, misalnya atasan polos dengan kerah baju tegak. Jangan-jangan yang kita lihat di foto-foto kakek-nenek kita lebih modis dengan rimpel-rimpel atau model potongan lainnya.
Riset itu kebutuhan
Akan tetapi, banyak produser film yang belum melihat urgensi riset. Apalagi jika film yang akan diproduksi tidak berlatar belakang masa lalu atau sejarah. Mereka lupa, riset tidak hanya dibutuhkan oleh produsen film sejarah.
Dalih produser biasanya adalah waktu dan biaya. Riset membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Periset film atau bahkan kreator dan pemain film harus bertemu dengan nara- sumber, mewawancarai, membaca banyak literatur, atau melihat banyak footage. Ada analisis psikologis bagi pemain agar mereka mampu memainkan karakter lebih bagus.

Semua tuntutan itu idealnya harus dipenuhi. Itulah kemenangan industri besar perfilman di negara maju: setiap elemen filmis dalam film melalui tahapan riset yang detail dan terperinci. Sebuah bahasan visual dalam bentuk film tidak hanya akan sukses secara komersial, tetapi film pun akan menjadi sebuah rekaman sejarah dan media edukasi. ●  

Senin, 05 Maret 2012

Sekali Berarti, Setelah Itu Mati!

Sekali Berarti, Setelah Itu Mati!
Gunawan Raharja, BURUH FILM
SUMBER : KOMPAS, 5 Maret 2012



Tiba-tiba saja semua aspek di negara ini jadi tidak beraturan. Seperti ada keseragaman dan keserentakan dalam ruang dan waktu, semua dimensi kehidupan berantakan: dari urusan sepak bola sampai masalah hukum dan korupsi.

Banyak media massa jadi rebutan untuk beropini. Jika saat Orde Baru media massa jadi corong penguasa, kini corong pemilik modal yang sekaligus calon pemilik kekuasaan. Informasi pun jadi perlu dipilah: dari mana, oleh siapa, dan ditujukan buat siapa. Informasi bisa dipelintir sedemikian rupa untuk kepentingan sesaat. Obyektivitas informasi nomor ke sekian. Kepentingan partai atau pemodal jadi panglima.

Meskipun banyak yang berupaya membungkus, buat rakyat deretan kasus itu sudah transparan dan telanjang. Masyarakat menyikapi simpang siur itu dengan satu kesimpulan: ada banyak hal yang tidak selesai dan amburadul dalam tata kelola republik, masyarakat miskin jadi korban, dan ketidakpedulian mereka yang di pusat kekuasaan.

Kekuasaan juga kian memihak. Politisi dan penegak hukum menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi dan kekuasaan serta menginjak harkat dan martabat kemanusiaan. Tak ada lagi hukum kepantasan serta kesetaraan yang menghargai hak dan martabat. Adab dan etika adalah bahasan kata-kata saja. Menjadi sebuah pertanyaan yang susah dicari jawabnya jika di sebuah keluarga yang salah satu anggota keluarga jadi buron, ternyata buron itu justru dilindungi kepala keluarga dan anggota keluarga lain. Atau bagaimana menjelaskan kepada masyarakat luas jika seorang bekas pejabat publik yang jelas-jelas korupsi mendapat sanksi hukum kurang dari pencuri sandal jepit.

Ini masa saat ketidakberaturan jadi tren. Segala sesuatu bisa digerakkan dan diubah oleh kekuasaan dan uang, yang sekaligus juga jadi alat dan tujuan. Keduanya menyebabkan pranata hukum, sosial, dan politik layaknya mainan yang bisa dijungkirbalikkan oleh pemiliknya. Seperti film yang sudah ditulis skenarionya, kebobrokan jadi pemenang, sementara kebaikan dikalahkan. Sutradara pun sudah tak mampu mengubah adegan di dalamnya karena semua detail sudah dituliskan di skenario.

Keinginan untuk Benar

Saat ini kebenaran sudah tak lagi berwarna hitam dan putih. Kebenaran bisa dimaknai berbeda oleh banyak pihak. Pernyataan pejabat publik atau politisi di media membuat sebuah ungkapan kebenaran jadi multitafsir. Masalah yang dianggap salah oleh salah satu pihak dapat jadi subyek kebenaran dari pihak lain. Berbagai tragedi besar di republik ini membuktikan penegakan kebenaran laiknya menegakkan benang basah. Sulit dan hampir mustahil. Semua yang tampak di depan mata publik dan punya nilai ”benar” ternyata bisa diputarbalikkan jadi ketidakbenaran. Inilah kesia-siaan seperti digambarkan Albert Camus dalam mitos Sisifus tentang pencarian makna yang sia-sia oleh manusia dalam mencari kejelasan menghadapi dunia yang tak dipahami, tak punya Tuhan, dan kekekalan. Ia memberi jalan dari kebuntuan itu dengan satu kata: pemberontakan.

Semua bertolak dari keinginan melakukan kebenaran. Apakah itu polisi, politisi, ataupun birokrat. Mereka yang duduk di pusaran kekuasaan harus mengedepankan nurani sebagai tujuan utama dan menyatakan: kebenaran adalah hakikat menuju pengukuhan nilai-nilai kemanusiaan. Semua ketidakberesan ini berakar pada dilangkahinya nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Tak semua pengungkapan kebenaran mendapatkan hasil seperti diharapkan. Misalnya, Agus Condro sebagai pengungkap aib kasus cek perjalanan dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior BI 2004 divonis satu tahun tiga bulan. Hal sama mungkin akan menimpa siapa pun yang berusaha mengedepankan rasa keadilan dan kebenaran sebagai ujung tombak perbaikan moral.

Namun, semangat menyatakan sesuatu yang benar adalah perjuangan yang harus selalu ada karena kebenaran itu sendiri jawaban dari setiap nurani. Setiap sosok manusia pasti akan meyakini bahwa menyatakan kejujuran adalah bagian dari hakikat kemanusiaan itu sendiri. Manusia tak akan menjelma jadi individu tragik, istilah Lucien Goldman, seorang penganut neomarxis. Individu tragik adalah mereka yang sadar diri, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tak mampu membuat keadaan lebih baik.

Melakukan tindakan benar adalah ”ketidakpatutan” pada zaman yang serba salah ini. Berkata benar, dianggap tak umum. Sama halnya ketika kita kukuh tak mau memberi uang sogokan saat salah melanggar lalu lintas. Kita tetap tegas minta diproses di pengadilan yang sah karena kita salah. Atau pemain bola yang handsball di kotak penaltinya sendiri, lalu sportif mengangkat tangan dan menyatakan kepada wasit bahwa bola terkena tangannya.

Nilai yang Dikenang

Ada nilai yang hilang pada era yang semuanya berakar pada kekuasaan dan materi saat ini. Bahwa menyatakan kebenaran dengan segala risiko yang akan ditanggungnya adalah sebuah tindakan yang tak hanya akan dikenang, tetapi juga membawa sebuah pencerahan baru. Tindakan yang membawa pembaruan dan perubahan. Tumbangnya rezim Soeharto tak terlepas dari sebuah keberanian untuk menyatakan kebenaran baru, terlepas dari adanya intrik dari pihak lain.

Ini seperti ”keras kepala”-nya bekas Kapolri (almarhum) Hoegeng Imam Santoso dengan segala cara berusaha membersihkan institusi polisi dari sarang pungli dan kolusi. Ia sesaat berhasil membersihkan institusi yang sangat dibanggakannya itu meski akhirnya kalah. Namun, tersingkirnya seorang Hoegeng adalah kesatria yang kalah perang secara jantan. Terpentalnya seorang Hoegeng adalah jawaban bahwa memang tak mudah melawan tindakan yang bertentangan dengan hati nurani. Sepahit apa pun, Hoegeng tidak akan pernah menyesali tindakannya.

Sudah tak ada lagi semangat mengorbankan diri untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu berpulangnya jati diri manusia untuk selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan di atas segala-galanya. Di saat inilah kita diuji apakah kita akan selalu menjadikan kebenaran dan keadilan sebagai penghormatan atas kemanusiaan kita ataukah kebenaran sendiri hanya menjadi catatan tanpa harus dimaknai. Harus ada keberanian mengatakan tatkala napas masih dikandung badan, hidup haruslah berarti. Walaupun setelah itu mati, kata penyair Chairil Anwar. ●